Tidur Seranjang

1084 Words
Edwin sekarang berada di balkon kamar fely duduk di ayunan  memandang jauh kedepan, langit malam sepertinya mendung bulan tak bersinar terang. Angin bertiup kencang menerpa kulit putih dan bersih itu membuat bulu-bulu halus itu  merinding seprtinya hari akan hujan. Edwin mengusap lenganya yang kedinginan tapi tidak beranjak dari tempat ayunan itu.      Tiba-tiba Edwin di kagetkan dengan suara fely, “Kenapa kamu berada di luar, anginnya dingin nanti bisa masuk angin” ucap fely dia membawa camilan, coklat dan buah – buahan segar.   “Tidak apa tan, aku hanya ingin menghirup angina segar”. ucap Edwin   “Tante bawakan buah-buahan di makan” duduk di kursi sofa fely menggigit buah apel yang di bawanya tadi. Edwin ikut memakan buah-buahan yang di bawa fely.    Mereka beruda hanya diam tercipta keheningan tidak ada yang bersuara angin malam semakin dingin. “Sepertinya hari akan hujan” ucap fely “Iya tan” ucap Edwin   “Kamu tidak menelpon orang tuamu pakai hp punya tante?” . Tanya fely   “aku tidak hapal nomor hp keluarga ku tan” mata merka beradu pandang.  Fely menatap bocah itu terlihat kurus tapi postur tubunya bagus dan wajahnya yang baby face. “tampan” guman Fely.   “Apa tante mengatakan sesuatu?”. Tanya Edwin.   “Tidak mungkin kamu salah dengar”.  ucap fely mengalihkan pandangannya.   “Nomor teman mu” Tanya fely lagi   “Sama aku tidak ingat juga” jawab Edwin.   Mereka berdua bercerita tentang kehidupan mereka masing masing tertawa bahagia dan tanpa butuh waktu lama mereka berdua sudah mulai akrab. Setiap apa yang di bahas selalu nyambung, “ternyata pengetahuan bocah ini cukup luas juga” batin fely. Fely merasa bahagia ada teman mengobrolnya yang nyambung dan mudah bergaul seperti Edwin sesekali mereka berdua berbeda argument. Perdebatan kecil mereka terlihat seru dan menggemaskan.   “Aduh cukup-cukup ed perut tante sakit ketawa terus”ucap fely seakan dia lupa akan masalah yang baru saja dia lewati.   “Hahahha iya tan” ucap Edwin   “Ketawa mu menular ed” ucap fely   “Haha tante pun sama”. Menatap wajah cantik wanita dewasa di depannya begitu cantinya dia di saat tertawa seperti ini.   “Sebaiknya kita tidur, sudah tengah malam” ucap fely ketika merasa  angin begitu dingin menusuk ke tulang belulang.   “Iya tan sepertinya hari sudah hujan rintik-rintik” ucap Edwin.   Mereka berdua beranjak dari balkon menuju kamar, Mencuci muka dan menggosok gigi. “Kamu tidur di kamar ini bersama tante karena kamar disini belum di bersihin”. Ucap fely.   “Iya tan” Edwin langsung berbaring di ranjang fely. Fely meletakkan guling di tengah mereka berdua. “Ingat jangan melewati batas ini awas kamu.” Ancam fely, “Iya   tenang tan aku tidak akan macam-macam”. ucap Edwin.   Edwin dan fely sudah terlelap mengarungi mimpi masing-masing hanya terdengan deru napas masing-masing.  Di luar angina bertiup kencang hujan semakin deras suara petir dan gemuruh  yang keras terdengar jelas  dan kilatan cahaya menyala terang. Tiba-tiba Edwin terbangun tubuhnya bergetar dan mulai menangis Huhuhu huumm hmmm, Edwin menangis sesegukkan membuat fely terbangun. “Kamu kenapa ed?” Tanya fely tapi tidak ada sahutan dari Edwin tubuhnya semakin bergetar ketakutan. Fely melihat itu dia tau Edwin ketakuta mungkin dia trauma ada kejadia di masa lalunya yang membuatnya takut. Kilatan petir menyala terang dan suara guntur yang menggelegar membuat Edwin meringkuk dan menutup telinganya dengan kedua tanganya.   Fely langsung memeluk tubuh Edwin yang bergetar hebat, “hei tenanglah, ada tante disini, kamu aman jangan takut.” Mengusap punggung  Edwin menenangkannya. Lama fely memeluk dan mengusap punggung remaja itu, sampai Edwin tertidur tenang.    Edwin merasakan pelukan fely merasa nyaman dan aman dia pun perlahan tertidur. Begitu pula dengan fely merka berdua tidur sambil berpelukan. Di luar hujan mulai reda tidak terdengar lagi guntur dan petir, hanya embun dari hujan membasahi dinding-dinding. Suasana sejuk setelah hujan yang menyegarkan dan menenangkan membuat dua insan yang tertidur semakin terlelap damai.   Kicauan burung-burung terdengar merdu menyambut pagi yang cerah, Kabut embun pagi perlahan menghilang.  Embun-embum membasahi dedaunan dan bunga-bunga, rumput-rumput terlihat hijau dan segar di terpa embun-embun pagi.   Sinar matahari mulai masuk lewat celah – celah gorden kamar, membuat fely terbangun karena merasa silau. Fely mengucek matanya perlahan-lah, dia kaget ada seseorang yang memeluknya dengan erat. Dia pun berbalik menghadap orang itu ternya Edwin yang memeluknya erat, kemana gulung yang dia jadikan pembatas tadi malam.   Ah dia baru sadar ketika mengingat tadi, Edwin yang ketakutan dia yang memeluk dan menenangkannya. Fely menatap wajah bocah kecil itu di sampingnya dia mengagumi setiap pahatan wajah tampan itu begitu sempurna.    Alis yang tebal dan tegas jidat yang pari purna, bulu mata lentik dan lebat, hidung mancung, wajah putih bersih dan mulus bibir seksi.  Tiba-tiba tangan fely menyentuh bibir seksi berwarna merah itu, dengan refleks fely mencium singkat bibir seksi itu cup,” manis dan lembut”. Batin fely.    Wajah fely memerah “bodoh hei fely kenapa kamu menciumnya dia masih bocoh” batin fely dia mengetuk dahinya, dia malu dengan kelakuannya sendiri bisa-bisanya dia mencium bocah kecil itu hanya karena melihat bibir merah seksi milik pemuda itu membuatnya tergoda.   Wanita dewasa itu masih diam menatap wajah bocah di sampinya yang tidak terusik dengan apa yang dilakukan fely. Cukup lama fely memandang wajah tanpan itu membuatnya tidak bisa berpaling dia baru melihat dengan jelas ciptaan tuhan yang satu ini begitu sempurna tidak ada celah.   “Ah kenapa bibir itu semakin menggoda” batin fely.  Peli menatap bocah kecil yang menggoda di depannya, dia sudah tidak sanggup lagi bibir seksi itu mampu mebuatnya panas dingin dengan gaya sensual bibr bocah laki-laki itu. Karena edwin tidak terusik dengan apa yang fely lakukan, edwin masih tertidur pulas sepertinya dia sedang bermimpi sampai bibir seksi itu bergerak sensual. Fely sudah tidak kuat dia memberanikan diri mengecup bibir seksi itu, cup bibir seksi fely menyatu dengan bibir edwin. Bibir mereka berdua masih bersentuhan, fely tidak melepasnya dia mendiamkannya saja. Dan ketika dia mencoba melumat bibir seksi warna merah yang kenyal itu, bibir edwin terbuka sehingga memudahkan fely memperdalam ciumannya.  "Ah ini sunggup gila, kamu p*****l fely melihat bibir bocah ini saja kamu sudah tidak kuat" batin fely sambil melumat bibir seksi itu.  "Aah sungguh manis dan lembut, gila gila sunggup bodoh tapi aku tidak ingin menyianyikan ini walau telihat gila tapi nikmat". batin fely dia mengagumi bibir seksi bocah itu. Hormonnya meningkat melihat pemandangan dan rasa kenyal itu.   "Ya tuhan aku tau ini salah maafkan aku sekali ini saja" batin fely dia masih belum berhenti melumat bibir lembut dan manis itu.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD