Matahari mulai tenggelam suasana menjadi lebih dingin, suara binatang-binatang terdengar jelas membuat bulu kuduk merinding. Ditambahnya cahaya matahari tidak masuk karena terhalang oleh pepohonan semakin membuat hutan itu menjadi gelap.
Angin bertiup lembut dan dedaunan dari pepohonan melambai-lambai, alam yang masih terjaga keasriannya mampu memberikan kenyamanan dan kesejukan.
“Nah sekarang kita sampai” ucap fely lalu turun dan menggendong Edwin lagi masuk kedalam.
“Open” ucap fely pintu gerbang langsung terbuka lebar. Sampai pintu rumah fely tinggal memencet tombol yang berada di samping pintu langsung terbuka. Ketika mereka melewati pintu secara otomatis tertutup sendiri.
“Kamu mandi dulu ya, nanti kita bersihkan luka mu takutnya nanti basah.” ucap fely mendudukkan Edwin di kursi kamarnya.
“Iya tan”. Edwin melihat kamar fely berdinding kaca, dia kagum karena bisa melihat alam luas. Langit berwarna jingga matahari mulai tenggelam dalam peraduan sungguh indahnya ciptaan sang pencipta.
“Tante bantu keramas ya, nanti kakimu basah” ucap fely.
“Tapi tan, aku malu”. Wajahnya memerah kenapa tidak wanita dewasa mau memandikannya dia malu aah dasar Edwin.
“Kenapa harus malu tante hanya membantu kamu keramas saja”. Ucap fely bingung.
“hmm”dia merasa malu dan canggung.
“Oke sekarang kamu duduk di bathub” fely membantu Edwin duduk dan melepaskan bajunya.
Fely membasahi rambut Edwin dengan shower perlahan-lahan mengelus rambut yang kusut itu dengan lembut. Lalu menuangkan shampho memijat lembut rambut Edwin penuh dengan busa.
“Sudah selesai” ucap fely membantu mengeringkan rambut Edwin dengan handuk.
“Kalau kamu mau mandi merasa badan lengket boleh saja tapi pelan-pelan”. Ucap fely.
“Iya tan terima kasih”. Ucap Edwin tulus.
“Tante keluar dulu nanti kalau butuh sesuatu panggil tante saja jangan sungkan anggap saja seperti tempat sendri ”. Uap fely beranjak keluar dari kamar mandi.
Edwin mulai mandi tubuhnya yang kucel sudah bersih dan wangi sekarang, di berjalan tertatih – tatih keluar kamar mandi.
Dia masih menggunakan handuk, duduk bersandar di kursi. Ceklek pintu kamar terbuka fely mebawa s**u hangat dan kotak P3K untuk Edwin. “Kamu sudah selesai mandi”. Tanya fely meletakkan napan di atas meja.
“sudah tan, tapi aku tidak mempunyai baju ganti.” ucap Edwin
“Kamu pakai baju tante dulu, besok asisten tante bawa baju untuk kamu. Pasang bajumu dulu nanti tante bantu membersihkan luka mu”. Fely menuju walk-in closet mengganti bajunya.
Edwin mengganti bajunya di bathroom, baju fely yang besar terlihat lucu dipakai oleh Edwin. Fely membantu Edwin membersihkan membuka kotak berwarna putih dan mengambi kain kasa, ia membersihkan luka pada kaki Edwin dengan kain kasa yang telah diberikan cairan alcohol dan menutupnya dengan plester dan perban.
“Sudah selesai” ucap fely membersihkan kotaknya.
“Terima kasih tante” ucap Edwin.
“Sama-sama, jangan lupa minum susunya, tante mau ke bawah dulu mau masak makanan untuk kita berdua. Kalau kamu ingin turun ke bawah gunakan lift saja agar kamu ga cape-cape turun naik tangga”. Fely keluar dari kamar menuju dapur meninggalkan Edwin sendiri.
Fely memasak sup ayam bening dengan cekatan fely memotong sayuran dan membuat bumbu halusnya, Fely merebus ayam dengan api sedang menyaring kaldu dari rebusan ayam dan menyisihkannya. Lalu dia menumis bumbu halus yang di buatnya tadi sampai harum, dan menuangkan ke rebusan ayam. Memasukan garam dan kaldu ayamnya setelah airnya mendidih dan ayamnya mulai empuk baru lah dia memasukan sayurannya.
Sup ayam bening buatanya sudah siap tersaji di meja makan, “Akhirnya selesai juga”. Baru saja dia ingin memangil Edwin makan, anaknya sudah muncul dia duduk di kursi
.
“Ayo mari makan”. Fely menyendokkan nasi dan sup ayamnya untuk Edwin.
“makasih tante”. Ucap Edwin tulus, dia terharu matanya memerah mulai berkaca-kaca karena kedua orang tuanya terlalu sibuk jarak memperhatikannya seperti ini. Bahkan untuk waktu berkumpul saja hampir tidak ada.
“Selamat makan, jangan malu-malu” fely menyantap makannya.
“Selamat makan tante”. Uap Edwin menyuapi makannya, dia menyukai masakan fely yang tidak kalah dengan chef bintang lima.
“ah mantap makan yang berkuah-kuah seperti ini di tambah sambal yang pedas”. Wajahnya yang putih memerah dan keringanya bercucuran.
“ah menggemaskan, kenapa dia begitu cantik dan sensual”. Batin Edwin tersenyum, apa lagi melihat tubuh fely dan baju yang dikenakannya . Mungkin pikiran anak kecil tidak seperti Edwin dan masih polos tidak ada pikirannya sampai kesana tapi lain halnya dengan edwin. Dia diharus lebih dewasa dari umurnya karena tuntutan dari kedua orang tuanya yang terkadang membuatnya lelah dan tersiksa.
Tidak ada yang tau bukan bocah laki-laki itu pernah melihat adegan dewasa sampai terekam dalam memori ingatannya, Dia pernah menonton film dewasa saat berumur 8 tahun, waktu itu dia sedang iseng-iseng mengotak-atik computer daddynya karena penasaran dengan file yang terlihat aneh dimatanya. Dia membukanya matanya melotot melihat adegan itu, tapi tidak mematikannya malahan dia menonton sampai selesai. Semua koleksi film dewasa dadynya dia copy untuk di tontonya. Ya edwin adalah sosok seorang anak laki-laki yang jenius menurun dari kedua orang tuanya sehingga di usianya yang masih terbilang anak kecil pemikirannya seperti orang dewasa tidak heran jika dia terlalu penasaran dan ingin mencoba apa yang dia lihat dan dengarkan.
Sungguh merusak pikiran dan menodai anak yang masih kecil dan polos itu. Ya kesalahan orang tuanya anak yang masih kecil dia suka meniru dan penasaran dengan setiap apa yang dilihatnya dan mencari tau. Makanya setiap anak harus dijaga dan di awasi setiap apa yang dilakukannya.
Mereka makan dengan diam dan tenang tidak ada yang berbicara sampai makan merka habis, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saja.
“Makasih tante, makannya enak sekali” ucap Edwin sekarang dia tidak cangguh atau pun merasa sungkan kepada fely karena merasa fely orang baik dan menerimanya dengan terbuka.
“Sama-sama, kamu duluan saja nanti tante nyusul, mau mencuci bekas makanan kita” ucap fely.
“Iya tante, maaf tidak membantu tante” sesal Edwin.
“Tidak apa-apa”. Fely mencuci piring mereka berdua.
Dua insan manusia yang berbeda usia tinggal seatap di villa mewah itu, tidak ada orang lain hanya mereka berdua. Sebuah cerita baru akan mucul yang hanya mereka berdua yang tau dan merasakan, entah itu berkesan atau hanya sebuah cerita yang berlalu yang hanya akan terlewatkan oleh waktu belaka.