48. Malu-malu

859 Words

Keduanya masih saling berpelukan erat, meluapkan kerinduan yang bagaikan lahar panas, siap meluluhlantakkan rasa sesak yang selama empat tahun ini sangat menyiksa. Tak peduli ada begitu banyak mata yang memperhatikan keduanya, isakan dan pelukan keduanya adalah bukti bahwa cinta mampu membuatmu menjadi orang yang lupa diri. Jaja membiarkan Yasmin menumpahkan tangis harunya di dadanya, baju kaus yang basah pun tidak ia hiraukan. Tangan kirinya yang kekar, masih setia memeluk pinggang kekasihnya, sedangkan tangan kanan naik mengusap sayang kepala, kemudian turun membelai surai hitam pelipur lara. “Sudah, Bu. Jangan menangis lagi. Saya sudah di sini, saya tidak akan ke mana-mana,” ujar Jaja penuh kesungguhan. Yasmin merenggangkan pelukannya perlahan, masih menunduk tak sanggup menatap mata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD