Bella melirik ke arah lain seakan memikirkan jawaban. “Itu... itu terserah Tuan saja. tapi, karena pertemuan nanti berurusan dengan pekerjaan jadi aku rasa Tuan bisa meminta bantuanku.”
El mengangguk. “Terserah sajalah. Tapi, kalau kamu mata-mata Aleda, aku tidak akan sungkan untuk menghabisimu.” Kata El tajam.
Bella mengangguk patuh.
Meskipun sikap El membuatnya ngeri tapi dia senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan Prince El. Tak ada yang lebih diinginkannya selain bisa dekat dengan El. Dia tentu saja tidak bisa berharap lebih pada El asal bisa menemani dan membantu pekerjaan pria itu Bella akan dengan senang hati menerimanya.
***
“Pagi, kakak ipar.” Austin menyapanya sembari mencolek bahu Charlotte dan Charlotte selalu terkejut akan sentuhan yang Austin berikan. Pria itu selalu saja mengejutkannya dengan menyentuh bahunya seperti memberi kode keakraban ganjil yang kurang disukai Charlotte. Namun, Charlotte tentu saja tidak menampik pesona Austin yang bisa dibilang hampir sama dengan El. El lebih ke versi sadis sedangkan Austin lebih lembut sekaligus berbahaya.
Charlotte masih menatap pria itu waswas dan mematri perkataan El dalam dirinya. Jangan jatuh cinta pada Austin. Jaga jarak dengan pria itu.
Austin melirik Charlotte sembari menggigit roti selai cokelatnya. “Kenapa?” tanyanya. “Kenapa kamu selalu melihatku seperti itu?” dia terduduk sembari masih terus menatap Charlotte.
Charlotte membuang wajah. Mata hijau terang Austin mengganggunya. Dia segera melahap makanannya dan memilih pergi untuk menghindari mata hijau terang Austin.
“Mau kemana? Kamu belum menghabiskan makananmu.”
“Aku sudah kenyang.” Kata Charlotte tanpa menatap Austin.
“Kemarilah, Charlotte. Aku bisa diomeli El kalau kamu tidak menghabiskan makananmu.”
“Berhentilah memperlakukan aku seperti anak-anak.” Charlotte berkata sembari menoleh pada adik iparnya.
“Aku hanya bercanda.”
“Aku tidak suka bercanda denganmu.” Charlotte pergi memelesat ke kebun belakang rumah dimana dia bisa meneduh di bawah pohon maple sembari memikirkan kenapa dia merasakan sesuatu yang perih saat menatap mata hijau terang milik Austin.
Austin hanya menatap wanita itu pergi tanpa mau mencegahnya lagi. “Dia kenapa sih?” gumamnya heran. “Apa El bilang aku pria kurang ajar yang bisa masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.” Sebelah sudut bibir Austin tertarik ke atas. “Cih!”
“Bibi Ann, kemari!” Austin melambai-lambaikan tangan pada Bibi Ann—juru masak keluarga.
“Ya, Austin.” Bibi Ann memanggil anak tuannya itu hanya dengan nama karena Austin sendiri yang memintanya. Austin tidak suka dipanggil Tuan oleh Bibi Ann. Sewaktu kecil dia memang sering menghabiskan waktu dengan Bibi Ann dan menganggap kalau Bibi Ann adalah ibu keduanya.
“Charlotte suka makan apa ya?” tanya Austin penasaran.
Bibi Ann memasang ekspresi seakan sedang berpikir. “Nyonya suka sekali makan fish and chips dengan banyak kentang goreng. Ya, dia sering membuat fish and chips tengah malam saat semua orang tidur dan memakannya sendirian. Aku pernah melihatnya beberapa kali di dapur.”
Dahi Austin mengernyit. Satu fakta membuatnya yakin kalau Charlotte dan El memang tidak saling mencintai. Kalau mereka saling mencintai kenapa Charlotte sering membuat fish and chips sendirian tengah malam.
“Bibi Ann, masak fish and chips untuk siang nanti dan saat makanannya sudah matang beritahu Charlotte untuk segera makan.” Kata Austin menyeringai.
Bibi Ann tersenyum dan menggangguk. “Ay... Ay... Kapten!” Balas Bibi Ann pada bajak laut yang sering dimainkan Austin saat kecil dulu.
Austin tidak mengerti kenapa dia menyuruh Bibi Ann memasak makanan kesukaan Charlotte. Dia tidak tahu kenapa dia melakukan ini. Dia tidak mengerti. Lagian apa pedulinya terhadap wanita yang datang dari antah berantah itu. Austin menyesap rokoknya dalam-dalam sebelum menyalakan mesin mobilnya.
Pertama kalinya dia melihat Charlotte saat El membawanya ke hadapan orang tua dan memperkenalkan Charlotte sebagai calon istrinya, Austin tahu ada yang tidak beres dengan Charlotte. Dia gugup, memandang Aleda lalu Ed lalu lebih sering memandang El. Lebih banyak diam dan diam-diam melirik ke arah Austin yang lewat dan menyindir El.
Austin tahu El tidak memperlakukan Charlotte dengan baik seperti dia memperlakukan Camilla. Mata Charlotte sembab, menghindari tatapan mata Austin dan tidak mau siapa pun tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan El.
“Astaga... kenapa aku terus memikirkannya?” Austin memukul setir kesal karena terus memikirkan Charlotte.
Ketika jam menunjukkan pukul 12 siang, Bibi Ann mengetuk pintu kamar Charlotte. Charlotte sedang menjahit syal untuk musim dingin nanti yang tinggal beberapa hari saja. Dia menjahit syal untuk El.
“Ada apa, Bibi Ann?”
“Makan siang, Nyonya. Aku membuatkan fish and chips untukmu.”
Charlotte terdiam beberapa saat dan berpikir kenapa Bibi Ann membuatkannya fish and chips. Dulu sewaktu kecil Charlotte harus sembunyi-sembunyi mencicipi fish and chips milik Marrie dan Rose. Saat dia sudah dewasa dan bisa memasak, Marrie malah melarangnya membuat fish and chips. Apalagi kalau membuat makanan itu untuk dirinya sendiri.
“Austin menyuruhku membuat makanan ini untukmu.” Kata Bibi Ann dengan senyum ramahnya.
“Austin...” Bibir Charlotte keluh menyebut nama adik iparnya itu.
Bibi Ann mengangguk. “Dia menanyaiku makanan kesukaanmu, Nyonya. Aku bilang kalau Nyonya sering membuat fish and chips tengah malam dan memakannya sendirian. Lalu, dia menyuruhku membuat fish and chips.”
Charlotte merasa bersalah atas sikapnya tadi pagi pada Austin. Tapi, dia harus mengingat perkataan El. Austin mungkin memiliki tujuan lain kan.
***
El melempar kertas setelah melihat Aleda yang muncul di kamarnya membawakan sarapan. El muak dengan senyum palsu yang Aleda berikan padanya. Senyuman yang dari dulu selalu diperlihatkan Aleda.
Bella memunguti kertas yang dilemparkan El ke lantai. Dia menatap wajah El yang kesal, anehnya dia malah menginginkan untuk bisa menyentuh wajah El. Dia ingin bilang kalau dia ada di pihak El meskipun dia adalah asisten pribadi Aleda.
El terdiam beberapa saat menatap Bella yang kembali meletakkan kertas yang dilemparnya di atas meja. “Apa Anda butuh kopi, Prince El?” tanya Bella hati-hati. Dia menyiapkan diri jika El akan membentaknya. Tak apa jika El membentaknya dia akan menerimanya. Itu konsekuensi sebagai asisten pribadi sementara El kan?
“Kopi minuman yang bagus untuk meredakan amarah?” El melirik Bella. Wajahnya tampak terkontrol suaranya tidak meninggi.
Bella mengangguk.
“Oke, buatkan aku segelas kopi dan bantu aku menyelesaikan tugas-tugas k*****t ini.”
Seulas senyum terukir di wajah Bella, El tidak memperhatikan senyuman itu dia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Hatinya belum membaik karena salah satu fakta terkonyol yang didengarnya soal Camilla dan Austin, membuat hatinya terasa disayat.
***