Asisten Tuan Muda

1055 Words
        Kalimat itu membuat sudut hati Charlotte menghangat. Tapi, mungkin saja Austin hanya mengelabuhinya. Dan Charlotte ingat akan pesan El padanya untuk tidak jatuh cinta pada Austin. Ya, tentu saja dia tidak akan jatuh cinta pada Austin.          “Ucapanku bisa dipercaya, Charlotte. Aku hanya tidak suka kalau El memperlakukanmu semena-mena.” Austin kembali menyesap rokoknya dalam. Menatap dan memperhatikan Charlotte dari mata wanita itu hingga ke bawah.           “Terima kasih, tapi aku sangat menyukai El. Aku suka sikapnya padaku. Dia memang dingin di luar tapi dia sangat hangat saat menghabiskan waktu denganku.”          Sebelah sudut bibir Austin tertarik ke atas. Dia tersenyum sinis, membuang wajah sebentar kemudian kembali menatap Charlotte. Dia seperti ingin tertawa mendengar perkataan Charlotte. Dia tidak bisa menahan rahasia yang disembunyikannya dari semua orang. Dia ingin mengatakannya pada Charlotte.           “Kamu tahu, sampai sekarang El masih mencoba menghubungi Camilla—mantan kekasihnya. Dia masih berusaha mendekati Camilla.”          Dahi Charlotte mengernyit. Sekarang dia mengerti akan perubahan wajah El saat makan malam bersama Kate dan Alan.          “Dan perlu kamu tahu kalau Camilla sekarang menjadi kekasihku.” Dia menyesap kembali rokoknya. “El tidak tahu itu.” dia tersenyum dengan sebelah sudut bibirnya.          Ya, oke. Charlotte paham. El masih mencintai Camilla dan pria yang dekat dengan Camilla adalah Austin—adik tiri El. Jadi, itu sebabnya perkataan-perkataan misterius Kate yang dikatakannya pada El. Lalu, kenapa mereka membicarakan Camilla tepat di saat Charlotte ada di sana? Kenapa mereka seakan tak punya hati meskipun tidak menyebut secara langsung kalau Camilla adalah mantan kekasih El yang dekat dengan Austin. Seharusnya pembicaraan itu bukan mengenai Camilla kan.          Charlotte terdiam dan Austin merasa senang.          “Alangkah lebih baiknya kalau kamu masuk ke kamarmu dan tidur. El pasti akan marah kalau dia tahu kita mengobrol malam-malam begini berdua.”          Charlotte menatap Austin dan dia sadar Austin sudah membuatnya kalah. Dia tidak bisa berbicara apa-apa selain hanya bisa mengulum semua perkataannya.          Austin mendekati Charlotte dan dengan gerakan tiba-tiba dia menepuk bahu Charlotte lembut. “Aku berada di pihakmu, kamu harus ingat itu.”          Charlotte melihat senyum Austin yang mengembang. Senyuman yang berbentuk bulan sabit.  ***           El bertatap muka dengan Aleda Grisshman saat memasuki mansion ayahnya. Sang ibu tersenyum ramah namun El tak pernah berminat untuk membalas senyum Aleda. Bagi El, Aleda tak lebih dari wanita sinting yang memacari ayahnya. Dia tidak akan pernah mema’afkan ibu tirinya dan kedua adiknya. Tidak akan pernah. Sumpah itu dia ucapkan sesaat sebelum meninggalkan pusara ibunya yang belum mengering.          “El, aku senang kamu datang. Lihatlah, banyak yang mempercayakan kita. William Thorne, Damian Garver, Peter Grand dan lain-lainnya. Kerja bagus, El.” Ayahnya tersenyum bangga.          “Itu semua berkat Mommy. Mommy yang dengan kerja kerasnya berusaha membangun citra perusahaan kita, Dad. Andai dia masih hidup pasti dia tak kan rela kalau Austin bekerja di perusahaan yang dibangunnya bersama Dad.” El mengatakannya dengan dingin, gelap dan penuh dendam namun dengan nada suara yang bisa dibilang santai.          Aleda menundukkan wajah. Edward merasa kesal dengan perkataan putranya tapi putranya memang benar. Mendiang istrinya adalah kunci keberhasilan perusahaan yang dibangunnya meskipun dia tahu tanpa perusahaan itu pun kekayaannya sudah di atas rata-rata karena warisan kerajaan turun temurun yang diberikan kepadanya. Uang pajak rakyat yang diterimanya tiap bulan dan tip dari para konglomerat kelas atas yang mengajaknya bertemu, bekerja sama atau hanya untuk makan malam sebagai tanda pertemanan agar mereka diakui di kehidupan sosial sebagai orang yang terpandang.          “Sebentar lagi kita akan memasuki musim dingin. Aku rasa mungkin lebih baik kalau kita menghabiskan natal di sini.” Ucap Ed. Entah ditujukan kepada siapa ucapannya. Aleda tak menanggapinya begitu juga El.          “Di sini lebih tenang, El. Ajak Austin dan Charlotte kemari.”          El merasa dadanya tertumpuk sesuatu. Ajak Austin dan Charlotte kemari? Apa maksud dari perkataan ayahnya.          “Aku akan menyuruh Austin membawa Charlotte kesini. Bagaimana ideku, Aleda?” dia menatap wajah cantik istrinya. Aleda sangat cantik di masa muda. Dia memiliki bibir tipis nan menawan seperti Audrey Hepburn. Tubuhnya langsing dan memiliki mata indah. Persis Audrey Hepburn.          “Biar aku yang membawa mereka ke sini kalau Dad menginginkannya.” El tidak akan membiarkan Austin dan Charlotte berduaan apalagi di waktu mendekati musim dingin. Tidak!          “Hei, Nak, tugasmu di sini banyak. Bella akan menemanimu. Dia yang akan mengurus jadwalmu.”          Bella adalah salah satu asisten pribadi Aleda. Wanita muda berumur sekitar 26 tahun itu mengangguk patuh. Dia sudah lama menyukai El. Sikap dingin pria itu membuatnya jatuh hati. Dan dia sangat gembira saat Aleda menunjuknya sebagai asisten pribadi El selama mereka di Liverpool.          “Memangnya sampai kapan aku di sini?” tanya El mengabaikan Bella yang berharap ditatap oleh mata biru El.          “Sekitar seminggu lebih.” Ed menjawab asal. Dia masih belum sepenuhnya menerima Charlotte sebagai menantunya. El terlalu terburu-buru saat meminta menikahi Charlotte hingga Ed berasumsi kalau Charlotte hamil karena percintaan semalam entah dimana. Yang jelas, Charlotte tampak seperti wanita asing yang kemunculannya sepergi alien.          “Aku baru menikah dan aku harus disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak henti-hentinya menggangguku.” Keluh El.          “Setelah musim dingin ini selesai aku akan menyewa resort mewah William Thorne untuk kamu dan Charlotte. Setelah semua pekerjaanmu selesai tentu saja.”          “Aku bisa memilih sendiri resort manapun yang ingin aku habiskan bersama Charlotte.” Kata El sebelum dia pergi ke ruangan kerja yang disediakan di mansion keluarganya.          “Aku minta ma’af atas perkataan putraku, Aleda.”          “Tidak apa. Tak usah dipikirkan.” Dia menggeleng seakan El tidak begitu menyakiti perasaannya dengan perkataannya yang begitu membanggakan ibunya.          Aleda menatap Bella kemudian menyuruhnya menyusul El dengan isyarat mata. Wanita muda itu mengangguk dan segera menyusul El.          “Tuan, besok malam  kita akan menghadiri pesta Damian Garver tepat jam sembilan malam. Dia meminta Tuan hadir dan mereka akan menyediakan ballroom untuk kita.” Bella memberitahu berharap El menatapnya barang sedetik saja. Apa mungkin sikap El kepadanya ini dikarenakan dia adalah asisten Aleda?          El menghentikan langkah dan menatap Bella. “Kenapa kamu mengikutiku?”           “Aku hanya memberitahu dan semua yang Tuan butuhkan aku yang menyiapkan. Mulai sekarang aku asisten pribadimu.”          “Kamu mata-mata Aleda kan?”          Bella menggeleng. “Bukan—tidak. Aku benar-benar ditunjuk Tuan Ed untuk menjadi asisten pribadi Tuan selama di sini.” Kata-katanya runtun, nadanya rendah teratur persis seperti seorang yang sudah dilatih kurang lebih selama setahun.          “Apakah aku harus pergi bersamamu besok malam?”                                                                                              ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD