“Mulai sekarang,” katanya. “Jangan membuat jarak di antara kita lagi.”
Charlotte tidak berkomentar apa-apa. Dia tidak mengerti maksud dari perkataan El.
“Di depan Austin nanti jangan kaget kalau aku sering melakukan sentuhan fisik padamu.”
“Aku tidak mengerti.”
“Berusahalah untuk terlihat bahagia denganku.” El berpikir kalau apa yang dikatakan Xavier ada benarnya. Setidaknya, itu cara balas dendam terbaik kan berpura-pura bahagia di depan Austin dan Camilla.
”Apa kamu sudah mengerti, Charlotte?”
Charlotte mengangguk ragu.
El meraih bibir Charlote dan melumatnya dengan caranya yang selalu sukses membuat Charlotte menangis dan meronta. Namun, kali ini Charlotte tidak melakukan perlawanan apa pun. Dia tidak merepons ciuman El. Dia hanya pasrah. Tidak melakukan apa-apa sampai tersadar kalau El tidak hanya mencium bibirnya. Sebelah tangan El meraih punggungnya dan tangan satunya menarik rambut Charlotte hingga wajah Charlotte mendongak.
Seseorang mengetuk pintu membuat El menoleh tajam ke arah pintu.
“Siapa?!” tanya El keras.
“Ini aku, Austin.”
“Berengsek!” El terpaksa melepaskan tangannya dari rambut dan punggung Charlotte.
Dia menatap Austin tajam. Austin memperhatikan El yang bertelanjang d**a. Dia menyeringai. “Aku minta ma’af telah mengganggumu, Kakakku tersayang. Tapi, ini darurat. Dad memintamu untuk pergi ke Liverpool.” Austin memperlihatkan layar ponselnya yang memperlihatkan pesan dari ayahnya.
“Dad sudah menghubungimu tapi nomormu tidak aktif.” Austin melihat Charlotte berdiri di belakang El. Wanita itu tidak menyadari sebelah gaunnya yang mulai turun karena aksi El.
“Kamu seharusnya membenarkan gaunmu terlebih dahulu kakak ipar sebelum muncul di depanku seperti itu.” kata Austin dengan senyum sinisnya.
Charlotte yang baru menyadari perkataan Austin buru-buru membenarkan gaunnya. El kesal saat mendengar sindiran Austin. Dia menatap Charlotte yang wajahnya mulai memerah karena malu dan dia menatap Austin.
“Pergi dari kamarmu, aku akan ke Liverpool sekarang juga.”
“Oke. Dad meminta sesegera mungkin. Kamu bisa melanjutkannya setelah pulang dari Liverpool kan.” Sebelah alis Austin melengkung. Dia segera menjauh dari El dan Charlotte. Diam-diam berharap agar El segera pergi dari rumah. Dia tidak ingin El menyentuh Charlotte entah kenapa dia menginginkan hal itu.
El mengambil pakaiannya dari lemari dan mengenakannya. Dia menatap Charlotte lamat-lamat sebelum kembali meraih bibir wanita itu, tapi, El urung. Austin sudah mengenyahkan keinginannya. Adik tirinya membuatnya muak. “Kalau Austin mencoba mengganggumu cepat hubungi aku.” Pesannya. Hanya itu.
Charlotte mengangguk.
“Kecuali kalau kamu suka digoda olehnya.” El menatap sinis Charlotte.
Kilatan di mata Charlotte memperlihatkan ketersinggungannya akan ucapan El. “Apa kamu pikir aku w************n, El, sampai kamu berkata seperti itu?” tanyanya dengan nada berani. Seperti wanita yang berada di hadapannya bukanlah Charlotte yang sesungguhnya. Charlotte yang lemah, rapuh dan tidak memiliki perlindungan apa-apa.
“Aku bilang kecuali, Charlotte. Dengar, kamu berhutang budi padaku. Aku telah menyelamatkanmu dari ibu tiri dan adik tirimu. Mereka menyiksamu kan. Jadi, turuti perintahku untuk tidak mempedulikan Austin.” El teringat sesuatu yang menyesakkan dadanya. Pria yang menjadi kekasih baru Camilla adalah Austin—adik tirinya. Kalau wanita seperti Camilla saja bisa jatuh ke pelukan Austin bagaimana dengan Charlotte yang tampak mudah untuk dibohongi?
“Perkataanmu tetap saja menuduhku.”
Mereka saling menatap hingga beberapa saat lamanya.
“Aku tidak menuduhmu. Kita akan selesaikan nanti setelah aku pulang.” El tadi sempat membaca pesan ayahnya dan dia kemungkinan akan berada di Liverpool selama lebih dari dua hari.
Charlotte hanya menatap suaminya.
El mendekati Charlotte, menempelkan jari telunjuk di hidung Charlotte, turun hingga ke tengah bibir Charlotte. Tatapan El makin tajam. “Ingat, jaga jarak dengannya dan jangan berbicara apa pun mengenai pernikahan kita dan kontrak yang kamu tanda tangani. Setelah kontrak selesai, kamu akan mendapatkan uang banyak dariku. Hiduplah sesukamu, Charlotte. Cari pria yang akan menjadi pasangan hidupmu dan hiduplah bahagia, tapi jangan pernah kamu jatuh pada pelukan Austin. Jangan pernah jatuh cinta padanya.”
***
Jangan pernah jatuh cinta padanya.
Kenapa El mengatakan hal yang—tidak mungkin terjadi kan? Charlotte tidak mungkin jatuh cinta pada Austin dan begitupun sebaliknya. Charlotte menyadari dirinya siapa dan dia tahu El pun tidak mencintainya. El hanya membutuhkannya—untuk melahirkan anaknya nanti. Hanya itu kan? Charlotte tidak menutup mata pada keinginan El tapi yang menjadi pertanyaannya kenapa dari banyaknya wanita, El memintanya. Kenapa bukan Rose? Kenapa harus dirinya?
Charlotte teringat akan pesan dari Marrie. Dia tidak sempat memberitahu El dan sekarang El pergi ke Liverpool.
“Aku jadi merasa bersalah.” Austin muncul membuat bahu Charlotte berjengit. “Mau kopi?” Dia menawarkan segelas kopi pada Charlotte.
Charlotte menggeleng.
“Rumah sebesar ini terasa sangat sepi tanpa El ya?”
“Kenapa kamu merasa bersalah?” tanya Charlotte hati-hati. Austin dan El sama saja sering mengejutkannya. Mereka berdua mengejutkan dengan datang di kehidupan Charlotte atau Charlotte yang datang ke kehidupan mereka.
“Mengganggu waktu kalian berdua.” Dia menyesap kopinya.
Tidak. Kamu menyelamatkanku dari malam yang mungkin akan membuatku menangis lagi.
“Aku tidak mengerti dengan kalian berdua.” Austin memiringkan kepala menatap wajah Charlotte. “Kalian beneran menikah atau apa sih? Aku tidak melihat sebagaimana layaknya pasangan kekasih—suami-istri. Kalian seperti dua makhluk asing yang terpaksa disatukan.” Kelakar Austin membuat Charlotte ngeri. Tak ada yang lebih baik dari El ataupun Austin.
“Kamu tidak ingin menikah dengan El? Atau El terpaksa menikahimu?” Lanjut pria itu dengan tatapan mengintimidasinya.
“Aku dan El saling mencintai.” Dia teringat perkataan El.
“Mulai sekarang,” katanya. “Jangan membuat jarak di antara kita lagi.”
“Di depan Austin nanti jangan kaget kalau aku melakukan sentuhan fisik padamu.”
“Aku tidak mengerti.”
“Berusahalah untuk terlihat bahagia denganku.”
”Apa kamu sudah mengerti, Charlotte?”
“Setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengekspresikan cinta kan.” kata Charlotte lagi seakan dia dan El benar-benar saling mencintai.
Austin tidak yakin dengan perkataan wanita di hadapannya itu. Dia berpura-pura setuju dengan mengangguk dan bertepuk tangan seakan Charlotte baru saja berkata tentang kebenaran di atas mimbar.
“Kamu benar, Charlotte. Kita punya cara masing-masing untuk mengekspresikan cinta kita. Mungkin cara El mengekspresikan cintanya dengan membuatmu tersiksa bersamanya.”
Mata Charlotte menyipit menatap Austin yang meletakkan cangkir kopinya. Dia mengeluarkan rokok dari saku celananya. “Mau merokok?” tawarnya mengulurkan rokok pada Charlotte.
Charlotte menggeleng.
Asutin menyalakan korek api pada ujung rokoknya yang kini diselipkan di antara kedua bibirnya. Dia menyesap dalam rokoknya dan membuang asap dengan mengerucutkan bibirnya. “Aku dan El tidak akur. Ya, aku tahu kamu pasti tahu itu. Jadi, saat El mencoba membuatmu tidak nyaman aku ada dipihakmu.”
Austin seperti memberikan harapan pada Charlotte kalau dia akan menjadi tameng bagi Charlotte kalau sampai El berbuat yang semena-mena.
Aku ada dipihakmu.
***