Istri Kontrak

1102 Words
“Apa malam ini kamu tidak bisa ke rumahku, Sayang?” Camilla sama seperti wanita lainnya jika sedang dimabuk cinta. Posesif, cemburuan dan takut kehilangan. Entah mantra apa yang diucapkan Austin hingga dia rela kehilangan El dan memilih adik El yang awalnya tak pernah terpikirkan sebagai tipe pria idamannya.  “Aku baru pulang, Sayang. Dan pekerjaan ini melelahkan sekali.” Austin melepaskan kancing kemejanya.  “Tapi... aku sangat merindukanmu. Datanglah dan temui aku barang sebentar saja.” Camilla berkata dengan nada mengemis.  Austin mengangkat wajahnya dengan lelah. Camilla selalu meminta, menyuruh dan menuntut. Benar-benar menyebalkan sekali! Apakah dia tidak bisa merasakan perasaan Austin yang sebenarnya kepadanya?  “Sungguh, aku benar-benar kelelahan, Camilla. Tolong mengertilah.” Ini kali pertama Austin menolak permintaan wanita yang baru beberapa bulan menjadi kekasihnya itu.  “Bagaimana kalau aku kesana?”  “Jangan gila—“  “Austin...” Suara dari balik pintu mengejutkan Austin.  “Sebentar, Sayang.”  Austin melihat Charlotte berdiri di depan pintunya.   “Apa El masih sibuk di kantornya?”  “Emmm—aku kurang tahu. Kenapa kamu tidak menanyakan langsung pada El?” Sebelah alis Austin melengkung ke atas.  “Ya, kamu benar. Aku hanya tidak ingin mengganggunya. Mungkin dia masih sibuk.” Charlotte berbalik badan tapi Austin mencegahnya. Pria itu menarik lengan Charlotte hingga Charlotte terkejut. Pupilnya melebar dan kedua daun bibirnya terbuka.  “Kamu tidak berani bertanya langsung pada El?” tanya Austin menatap intens mata kakak iparnya.  Bibir Charlotte terkatup beberapa detik kemudian terbuka lagi. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi kosa katanya lenyap.  Menatap mata Charlotte membuat Austin lupa tentang Camilla.  Mata mereka saling bersitatap lama. Charlotte merasa terintimidasi dengan tatapan mata hijau terang Austin dan Austin merasakan sensasi aneh saat menatap mata Charlotte hingga lupa kalau Camilla sudah memanggil namanya berkali-kali dari balik telepon.  ***  Austin melepaskan pergelangan tangan Charlotte saat menyadari kalau kakak iparnya itu mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari tangan Austin. Austin merasakan sensasi yang berbeda saat menatap wajah Charlotte. Dia memiliki kecantikan yang berbeda dari wanita lainnya. Keanggunan berbalut keliaran yang Austin tangkap dari wajah Charlotte.  Charlotte melangkah menjauh dari Austin. Satu sisi Charlotte takut pada Austin setelah tatapan menuntut jawaban dari pria itu, tapi di sisi lain dia menyukai mata hijau terang Austin. Mata yang indah mengingatkannya pada seseorang yang pernah dilihatnya dalam serial televisi.  Austin menempelkan ponselnya pada telinganya. “Hai, Sayang.”  “Aku hampir saja berniat mematikan ponselnya.”   Ya, aku juga ingin kamu segera mematikan ponselnya, Camilla.  “Jadi, kamu bisa kan ke rumahku.”  “Tidak. Aku minta ma’af. Aku lelah sekali tapi aku janji akan ke sana besok. Aku mau tidur, Sayang. Good night. I love you.” Austin buru-buru mematikan ponselnya. Pikirannya kembali berpusat pada Charlotte. Wanita berambut lurus cokelat itu menarik keinginan liar Austin.  Ada sesuatu yang membuatnya penasaran pada Charlotte. Mata indahnya ataukah bibir wanita itu? Tidak. Semua yang ada pada Charlotte membuatnya penasaran. Austin tak pernah sepenasaran ini pada wanita manapun apalagi Camilla. Dan dia mencari rasa penasaran ini pada semua wanita yang pernah ditemuinya. Dia tidak menemukannya kecuali pada Charlotte. Pada kakak iparnya. Istri El yang datang dari antah berantah.  Austin ingin melihat Charlotte lagi. Memperhatikan gerak-gerik wanita itu dan menangkapnya saat dia lengah. Membawanya ke dalam kamarnya dan melucuti pakaian Charlotte.  “Astaga!” Austin tersadar akan pikiran kotornya. “El bisa membunuhku kalau aku melakukannya.” Austin menggeleng dan merebahkan diri di atas ranjangnya. Memejamkan mata berharap esok pikirannya lebih jernih lagi untuk menghadapi Camilla.  ***  Marah, kecewa yang teramat dalam, kesedihan, kemurkaan semua bercampur di d**a El. Rasanya dia ingin membunuh Austin sekarang juga. Kenapa harus Austin yang jadi kekasih Camilla? Kenapa harus adik tirinya? Apa keunggulan Austin yang tidak El miliki sampai Camilla lebih memilih ‘anak manja’ kurang ajar itu?  El menenggak wine-nya sekali lagi. Bryan dan Xavier menontonnya. Di tengah kesibukan Xavier dia selalu berusaha menyempatkan diri untuk mendengarkan permasalahan El dan Bryan. Meskipun nanti dialah yang akan lebih dulu pulang karena waktunya sempit. Dia selalu teringat akan istri dan anak-anak kesayangannya.  “Berengsek!” umpat El.  “Dia sudah mengatakannya lebih dari tiga puluh kali sejak aku duduk di sini.” Kata Bryan memandag Xavier.  “Keluarkan saja uneg-unegmu, El.” Kata Xavier tenang. Matanya setenang danau kivu. Tenang namun mematikan lawan.  “Kenapa harus Austin yang menjadi sainganku. Aku benci sekali bocah itu!” El menatap tajam botol wine seakan botol itu menampilkan wajah Austin.  “k*****t! Akan kubunuh dia!”   “El, dengarkan aku. Kamu sudah menikah dengan Charlotte dan Camilla lebih memilih Austin, itu artinya memang seharusnya kalian mengakhiri kisah kalian kan. Maksudku, kamu memulai lembaran baru dengan Charlotte terlepas dari kontrak sintingmu itu dan melepaskan Camilla dengan Austin. Biarkan saja Camilla dengan Austin kalau itu membuatnya bahagia.”  Bryan bertepuk tangan takjub. “Xavier benar, El.”  “Mudah saja berbicara seperti itu.” El kembali menenggak winenya.  “Lalu, sekarang apa rencanamu?” tanya Bryan.  “Aku ingin membunuh Austin. Hanya itu.”  Xavier menggeleng. “Pikirkan Charlotte, El. Pikirkan dia. Kamu sudah memilihnya untuk menjadi istrimu—“  “Kami hanya menikah di atas kertas.” Potong El.  Xavier menarik napas perlahan. “Begini saja, berpura-puralah kamu tidak tahu apa-apa. Berlagak bodoh saja dan buat kehidupan rumah tanggamu bahagia. Aku yakin Camilla dan Austin akan penasaran. Mereka tentu sering membicarakan soal pernikahanmu dengan Charlotte kan.” Xavier berdiri dan melesat pergi.  “Dia seperti diburu waktu.” komentar Bryan.  Mengabaikan Bryan, El memikirkan perkataan Xavier.  Apa aku harus berpura-pura bahagia bersama Charlotte di depan Austin?  ***  El pulang dengan bau wine menyengat dari napasnya. Charlotte terbangun saat El mengetuk pintu kamarnya. Dia membuka pintu kamar dan melihat El dengan wajah merah dan bau manis wine menyengat indera penciumannya.  Dengan mata kantuk khas orang bangun tidur, Charlotte bertanya. “Apa kamu mau mandi, El?”  El menggeleng. “Apa Austin mengganggumu?” tanya El duduk di tepi ranjangnya.  Charlotte teringat saat Austin meraih pergelangan tangannya. “Tidak.”   “Beritahu aku kalau dia mencoba mengganggumu.”  Charlotte mengangguk.  “Kamu yakin dia tidak mengganggumu?” El kembali bertanya seakan curiga akan sikap Charlotte.  “Tidak. Dia tidak menggangguku.” Charlotte menggeleng.  El berdiri melepaskan kemeja kerjanya. Charlotte hanya memperhatikannya, dia ingin sekali keluar dari kamar dan berlari entah lari kemana. Tapi, El sudah mendorongnya ke dinding. Kedua tangan pria itu di menempel ke dinding di kanan dan kiri kepala Charlotte. Pria itu menatapnya intens, lama dan cukup mengerikan untuk bisa membuat Charlotte memekik ketakutan. Charlotte berusaha menghindari tatapan mata El.  *** Menurut kalian apakah El dan Charlotte akan saling mencintai dan takut kehilangan? Jangan lupa buat ninggalin komentarnya ya :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD