Kate menatap suaminya yang sibuk dengan layar ponselnya. Dia ingin sekali menceritakan sesuatu yang memang perlu diketahui El. Tapi, suaminya masih saja tidak mengizinkannya dan membiarkan El yang tahu sendiri nanti.
“Kita tidak boleh ikut campur urusan orang lain, Kate.” Katanya memandang sekilas Kate.
“Tapi, aku ingin sekali El tahu tentang ini. Dia harus tahu kalau Austin itu adalah kekasih Camilla. Dia juga perlu berhati-hati dari Austin, bisa saja setelah Camilla target Austin selanjutnya adalah Charlotte.”
“Kamu terlalu memikirkannya. Aku rasa Austin itu tidak punya maksud apa-apa. Dia dan Camilla itu dekat karena memang mereka cocok kan.” Alan meletakkan ponselnya di atas meja. “Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya.” Lanjut Alan.
“Aku dengar Austin hari ini mulai bekerja di kantor.”
Alan mengangguk.
“Aku takut dia hanya bisa membuat El marah.”
“Memang itu kesukaannya kan. Dia suka membuat kakak tirinya marah dan membencinya.”
“Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita memberitahu Charlotte tentang Camilla dan Austin.” Jeda sejenak. “Oh, tidak. Ini akan membuat semuanya semakin repot.” Dia menimbang-nimbang kalau pemberitahuannya akan membuat Charlotte kepikiran.
“Kita berada di jalan kebingungan.”
Alan menghela napas. “Aku rasa El akan tahu dengan sendirinya cepat atau lambat.”
Kate mengangguk setuju.
***
Di kantor, Camilla menelpon Austin berkali-kali saat Austin sedang rapat bersama El dan karyawan lainnya. Austin kesal karena Camilla begitu posesif, cemburuan dan sering sekali menuntunya untuk menghubungi wanita itu sesering mungkin setiap hari. Dan jangan lupa Camilla juga menginginkan Austin menemuinya setiap malam. Bukan apa-apa tapi Austin sendiri tidak memiliki minat lebih kepada Camilla karena dia hanya ingin melihat El hancur karena cinta. Dan dia tentu saja berhasil, tapi bukan sekarang saat yang tepat untuk memberitahu El tentang hubungannya dengan Camilla.
“Aku lebih menyukaimu dibandingkan El. Kenapa tidak dari dulu aku dan kamu bertemu, Austin.”
Austin mengecup lembut bahu Camilla sebelum tersenyum penuh kemenangan karena dia sudah berhasil membuat Camilla bertekuk lutut semudah itu. Dia hendak meninggalkan Camilla tapi wanita itu memintanya untuk tidur di kamarnya.
“Besok aku mulai bekerja di kantor, Sayang. Aku harus bisa bekerja dengan baik dan menarik perhatian El, Daddy dan Mommy. Setelah itu, aku pasti dipercaya untuk memegang banyak proyek. Lalu aku akan memperkenalkan dirimu sebagai pasanganku di depan keluargaku termasuk di depan El.”
Camilla tersenyum semringah. Dia yakin akan perkataan pria yang hanya memanfaatkannya demi tujuan tertentu itu.
Austin akhirnya memilih mengetik sebuah pesan untuk Camilla agar wanita itu berhenti menelponnya.
Hai, Sayang. Aku sedang ada rapat. Aku mohon pengertianmu ya, aku akan segera menelponmu nanti selesai rapat. I love you.
“Tolong, perhatikan aku bicara, Tuan Austin.” Tegur El menatap tajam pada adik tirinya itu.
“Ma’af, Tuan El.” Mendengar kakaknya memanggil dengan panggilan ‘Tuan’ membuat Austin geli sendiri. Dia pun merasakan kegelian yang sama saat harus memanggilnya dengan sebutan yang sama seperti El memanggilnya.
Menggelikan.
El kembali menjelaskan evaluasi kerja bulan kemarin para divisi. Setelah selesai dia mendekati Austin dengan tatapan tajamnya. Austin yang berlagak bodoh hanya menatap kakaknya dengan tatapan acuh tak acuh.
“Selamat bekerja, Anak Manja.” Dia berkata sambil melipat kedua tangan ke atas perut.
“Terima kasih, Kakak. Aku akan selalu ingat kata-katamu tadi. Ngomong-ngomong, Charlotte jam segini sedang apa ya?”
Dahi El mengernyit. “Kenapa kamu menanyakan Charlotte?”
“Aku penasaran saja apa yang dilakukan kakak iparku saat suaminya bekerja. Dia tidak mungkin memotong rumput kan, memasak? Ah, rasanya kasian sekali seperti di kurung dalam sangkar. Dia tidak bisa keluar sembarangan, tidak melakukan apa-apa hanya menunggumu pulang dan melayanimu. Apa kamu tidak memikirkan tentang mentalnya?”
El merasa statusnya sebagai suami Charlotte diremehkan Austin.
“Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah ikut campur urusanku dengan Charlotte. Dia milikku dan aku berhak melakukan apa saja padanya. Urus saja dirimu sendiri, Anak Manja.” El meninggalkan Austin.
“Perkataanmu saja sudah menjelaskan apa tujuanmu menikahi Charlotte, El.” Sebelah sudut bibir Austin melengkung ke atas.
***
Charlotte membaca surat yang disampaikan penjaga rumah kepadanya. Surat yang berisi kerinduan ibu tirinya pada Charlotte. Sangat tidak mungkin kan kalau ibu tirinya merindukan Charlotte? Charlotte tahu ini hanya akal-akalan Marrie. Entah apa yang diinginkan Marrie dengan memintanya dan El datang ke rumah. Apakah Marrie butuh uang? Tapi, kenapa dia juga meminta El datang?
Charlotte masih mengingat perlakuan buruk Marrie padanya. Perlakuan saat Charlotte masih kecil ketika ayahnya pergi bekerja, Marrie menyuruhnya memasak dan saat masakannya tidak enak, Marrie menamparnya berkali-kali. Kekerasan, kata-kata kotor dan ejekan yang diterimanya sudah sepantasnya Charlotte membenci ibu tiri dan adik tirinya. Dia dan El memiliki latar belakang yang sama. Ibu yang meninggal saat mereka kecil tapi tentu saja perlakuan ibu tiri Charlotte dan El berbeda. Charlotte melihat ketulusan Aleda pada El namun El enggan mengakuinya.
Ayah Charlotte meninggal saat Charlotte berusia 17 tahun. Dia dibesarkan Marrie dengan penuh umpatan setiap kali pekerjaan yang Charlotte lakukan salah. Marrie bahkan berniat menjual Charlotte pada pria yang usianya bahkan lebih tua dari ayah Charlotte namun Charlotte tidak mau. Charlotte memberontak, Marrie agak takut karena Charlotte saat itu memegang pisau. Meskipun sekarang statusnya sebagai istri El juga hasil dari penjualan Marrie secara tidak langsung, tapi Charlotte bersyukur setidaknya menikah dengan El jauh lebih baik dibandingkan harus bersama pria yang jauh lebih tua darinya. Pemberontakan itu masih ada tapi El mengontraknya. Dia tidak punya kekuatan apa-apa kalau harus pergi nanti.
Saat semuanya selesai. Dia akan memulai hidup baru. Anaknya nanti akan hidup sebagai anak yang bahagia di rumah ini bersama ayahnya nanti. Charlotte akan memulai hidup baru dan akan terus mengawasi perkembangan anaknya nanti. Meskipun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda kehamilan, tapi dia berharap semua segera usai. Walau harus merelakan anaknya dan berpisah dengan anaknya nanti.
***
“Seharusnya aku memberitahumu sejak aku tahu siapa pria yang dekat dengan Camilla itu.” Bryan menyesap kopi.
El hampir saja bertanya kalau Austin tidak tiba-tiba masuk ke ruangannya.
Bryan melihat Austin masuk dan dia seketika merapatkan bibirnya.
“Hai, Bryan.” Sapa Austin.
“Hai, Bro! Wow, kamu semakin kinclong saja.” kata Bryan tampak takjub pada wajah Autin.
Austin terkikik geli mendengar perkataan Bryan.
Bryan seperti memiliki bakat untuk bisa melucu hanya dengan perkataannya yang spontan. Tapi, dibalik kelucuannya Bryan juga memiliki sisi gelap yang belum diketahui siapa pun kecuali El dan Xavier.
“Kamu sendiri makin kurus saja.”
“Ya, akhir-akhir ini aku tidak berselera untuk makan.”
“El tidak membuatmu tertekan kan?” Austin melirik El sekilas.
El dengan tatapan tajamnya tersenyum meremehkan Austin. Kebenciannya pada Austin sudah ada sejak Austin tinggal di rumahnya setelah sang ibu meninggal. Kebencian itu dipupuk sedari kecil oleh El. Bagaimana bisa ibunya meninggal dan ayahnya membawa wanita lain yang sudah memiliki anak darinya tanpa sepengetahuan ibunya?
Aleda dan Austin pantas untuk dibenci. Juga termasuk adik bungsu yang masih mengenyam pendidikan di Amerika. El bersumpah tidak akan mema’afkan apa yang dilakukan ayahnya pada ibunya dan dirinya sendiri. El akan berusaha untuk merebut semuanya dari Aleda. Semuanya yang tak tersisa. El merasa menikahi Charlotte adalah hal terbaik saat ini. Setidaknya, dia sudah memiliki istri dan kemungkinan besar untuk memiliki anak sehingga harta keluarganya akan lebih banyak jatuh kepadanya.
“Aku ke sini hanya untuk menyapa Bryan.” Kata Austin santai sebelum meninggalkan ruangan El.
“Aku harap Austin mau membagi tips untuk mendapatkan kulit wajah yang kinclong sepertinya.” Bryan berkata dengan nada bercanda kemudian dia terkikik geli. “Apakah Austin melakukan perawatan, El?”
El mengangkat bahu. “Pertanyaanmu itu konyol sekali. Dia bukan gay.”
“Iya, aku tahu. Tapi, sepertinya dia berusaha tampil setampan mungkin.”
“Mungkin dia metroseksual.” Komentar El tak berselera. “Kamu bilang tadi seharusnya kamu memberitahuku tentang pria yang dekat dengan Camilla. Siapa pria itu?” El bertanya dengan nada serius yang mungkin akan membuat Charlotte merinding kalau dia ada di sana.
Bryan menelan ludah. “Kamu sungguh-sungguh ingin tahu.”
“Kamu sama seperti Kate saat membicarakan soal Austin. Apakah Austin pria yang kamu maksud, Bryan.”
Hening.
“Tidak—“ jeda sejenak. “Tidak salah lagi, El. Dia Austin.”
Air muka El berubah seketika lebih mengerikan dari yang terpikirkan oleh Bryan.
***