Musuh Dalam Keluarga

1061 Words
Rambut sebahunya tergerai lurus. Camilla menatap layar ponselnya. Sebuah pesan bernada romantis dibacanya dalam hati dan senyuman dari bibir tipisnya mengembang membentuk magnet yang sampai saat ini sulit dilupakan oleh El.  El dan Camilla bertemu saat menghadiri pesta ulang tahun Kate tepatnya tiga tahun lalu sebelum Kate menikah dengan Alan. El yang terpikat sejak pertama kali bertemu meminta Kate mengenalkannya pada Camilla. Lalu mereka menjadi semakin dekat hingga akhirnya mereka menjalin hubungan. Hubungannya dengan Camilla membuat Kate gembira dan yakin kalau keduanya cocok. Sayangnya, Camilla akhirnya memilih untuk berpisah dari El.   Kate tentu saja kecewa tapi Kate tahu kalau perpisahan El dan Camilla memang jalan terbaik untuk keduanya. Toh, El sekarang sudah menemukan tambatan hatinya dan El memilih menikah dengan gadis biasa.   “Aku sudah menunggumu dari tadi.” Camilla tersenyum menyambut pria tampan yang datang ke kamarnya itu.  “Ma’afkan aku, Honey. Aku harus berurusan dengan El dulu.”  “Masuklah. Aku tidak ingin kamu berdiri di sana terus.”  Pria bemata hijau terang itu masuk dan memeluk Camilla dari belakang. Camilla mendongak dan menatap Austin dengan senyumnya yang memikat.  “Aku rindu padamu.”  “Aku juga.” Camilla menimpali. “Aku muak harus sembunyi-sembunyi seperti ini.”  “Ini jalan terbaik untuk sekarang. Kalau sampai dia tahu aku menjalin hubungan denganmu yang ada dia akan berusaha menyingkirkanku.”  “Tapi, aku ingin memulai hidup denganmu. Dia sudah menikah dengan Charlotte dan kamu seharusnya juga menikah denganku.”   Camilla tidak tahu rahasia besar Austin. Hanya El yang tahu rahasia besar Austin itu bahkan Aleda pun tidak tahu. Kalau sampai El mengetahui siapa kekasih adik tirinya saat ini maka yang ada adalah El akan membongkar rahasia Austin yang lain. Austin tidak ingin menyingkir saat dia belum mendapatkan apa yang harus didapatkannya dari ayahnya.  Austin melepas pelukannya dan memberi Camilla ciuman hangat.   ***  Esoknya El melihat Charlotte mengenakan make up sama. Lipstik warna terangnya menghiasi bibir indah Charlotte. El memang menyukainya mengenakan lisptik warna merah terang itu karena membuat Charlotte tampak angkuh dengan rahang tegasnya. Tapi, dia belum bersikap seperti yang ditampilkan. El takut hal itu hanya akan membuat Austin penasaran pada Charlotte.  “Kamu bisa tampil polos di rumah.”   “Bukannya kamu memintaku untuk berpenampilan seperti ini?” Charlotte tampak tidak mengerti dengan keinginan labil El.  “Ya, tapi kamu belum bisa bersikap seperti aku.”  “Maksudmu bersikap bagaimana?”  El menatap tajam Charlotte. “Bersikap arogan, angkuh dan mengerikan.”   Charlotte hanya mengerjap-ngerjapkan matanya menghindari mata biru itu membawanya ke dimensi lain. “A-aku...”  “Hapus make-upmu dan jangan mengenakan pakaian yang mencolok seperti itu.”  “Baiklah.” Charlotte tidak mengerti dengan keinginan El. Pria itu menyuruhnya seenaknya. Semalam dia bilang begini dan esoknya dia bilang begitu. Charlotte merasa kalau El belum dewasa dan cenderung labil.  “Selamat pagi kakak dan kakak iparku.” Austin menyeringai sebelum meraih apel dan menggigitnya.  “Kamu ingat kalau hari ini kamu mulai bekerja di perusahaan Daddy kan, Anak Manja?”  “Tentu. Aku sudah bangun.” Dia menggigit kembali apelnya.  Charlotte melihat Austin seperti seorang psikopat yang selalu menyembunyikan sesuatu darinya dan tampak menjadi manusia normal pada umumnya. Apalagi melihat senyum adik iparnya. Senyumnya manis sekali tapi terkadang ada seringai licik yang disembunyikan bibir Austin dengan senyumanannya. Hal itu membuat Charlotte cukup waswas.  “Apa aku terlihat tampan hari ini, kakak ipar?” Austin melirik Charlotte.  Charlotte menelan ludah.  “Oh, kamu cantik sekali hari ini, kakak iparku.”  Charlotte menoleh pada El yang menatap tidak suka sikap Austin. “Jangan banyak bicara, cepat berangkat ke kantor. Kamu menyusahkanku saja!” El kemudian menatap Charlotte. “Hapus make up di wajahmu atau kamu mau Austin terus menggodamu.”   Austin tersenyum kemudian menggeleng. “Cemburuan sekali kamu, El. Aku juga sadar diri siapa Charlotte, dia kakak iparku. Aku akan menghormatinya seperti aku menghormatimu kan.” Austin menatap El dengan senyum tipis.  El melesat pergi. Dia kesal karena sikap Austin. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman saat adiknya itu memuji Charlotte.  “El sangat tidak romantis.” Austin mendekati Charlotte. Dia menoleh pada Charlotte yang sedari tadi menatapnya sembari memperhatikan. Dia ingin tahu siapa sebenarnya Austin ini. Pria itu terkadang seperti malaikat saat menanyai Charlotte yang bermata sembab karena menangis. Tapi, kadang juga seperti vampir dengan pujiannya kepada Charlotte tapi memiliki niatan lain seperti ingin meminum darah Charlotte.  “Dengar, Charlotte. Kamu cantik. Tentu saja kamu cantik kalau tidak, tidak mungkin El menikahimu yang berlatar belakang biasa atau rakyat biasa atau sejenisnya. Tidak mungkin. Gunakan kecantikanmu dengan memperlihatkannya pada setiap orang. Jangan dengarkan El. Apa pun yang dia katakan semata-mata hanya untuk dirinya sendiri. Hanya untuk keegoisannya sendiri. Kamu memiliki kecantikan yang unik, Charlotte. Tidak ada yang memiliki perpaduan mata, hidung, bibir sepertimu.” Austin bahkan tidak menyadari saat matanya tertuju pada bibir Charlotte.  Dia mengerjap sekali dan membuang wajah saat Charlotte menjauh darinya.  ***  “Mom, ayo kita main ke rumah Charlotte.” Rose merengek. Rambut merah bergelombangnya beterbangan karena angin.  Marrie sendiri malu untuk bertatap muka dengan El setelah El hanya meminta Charlotte bukan Rose. “Sana, kamu saja. Mom tidak mau.”  “Kenapa, Mom? Kita bisa minta uang pada Charlotte kan. Aku iri padanya kenapa Prince El meminta Charlotte yang jadi istrinya sih. Aku menyesal telah membawa El ke rumah.” Tidak terhitung berapa kali Rose mengatakan penyesalannya karena El memilih Charlotte dibandingkan dirinya.  “Ya, padahal, Mommy sudah bilang kalau kamu jauh lebih baik dari Charlotte.” Dan entah sudah ke berapa kali Marrie mengatakan hal demikian setiap kali anaknya mengeluh soal El yang memilih Charlotte.  “Kenapa kita tidak membuat rencana saja agar Prince El dan Charlotte berpisah?”   “Rencana apa? Jangan main-main, Rose, yang kita hadapai bukan orang biasa.” Marrie memperingatkan.  “Tapi, aku ingin menjadi istri El, Mom. Coba bayangkan hidupku penuh dengan kekayaan, kebahagiaan dan aku hanya perlu menjadi istri yang baik untuk El kan.”  Marrie menggeleng. “Tolong jangan keras kepala, Sayang. Mommy juga ingin kamu yang menjadi istri El, tapi El itu tidak bisa melihat perbedaan antara kamu dan Charlotte sialan itu!”  “Ayo, Mom, kita temui Prince El dan Charlotte.”  “Kita tidak bisa semudah itu menemui mereka meskipun kita keluarga Charlotte.”  “Kalau begitu bagaimana kalau mereka saja yang ke sini. Nanti Mommy bawa Charlotte pergi dan beri aku waktu berduaan dengan El.”  Marrie tampak menimbang-nimbang saran dari putrinya.  *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD