Pangeran Yang Sombong, Angkuh dan Arogan

1305 Words
“Malam ini kita akan ke rumah Kate dan Alan.”  “Sepupumu itu?”  “Ya. Dia mengundang kita makan malam di rumahnya.”  El yang sudah mengganti pakaiannya mendekati Charlotte dan menatap istrinya. Tatapan itu membawa Charlotte ke dimensi lain untuk beberapa saat sebelum El bersuara dan bertanya dengan serius. Dia mengangkat dagu Charlotte dan menatap mata istrinya intens.   “Apa Austin sering mengganggumu?”  Charlotte menggeleng. “Hanya baru kali ini dia memegang bahuku dan aku rasa itu hanya semacam keakraban seorang adik kepada kakak iparnya saja.” perkataan Charlotte terlalu naif di telinga El.  Sebelah sudut bibir El tertarik ke atas. “Kamu tidak tahu siapa dia, Charlotte. Aku akan menyuruh Lilly untuk sering menemanimu selama Austin di rumah. Dan ingat, jangan katakan apa pun mengenai kontrak kita.”  Charlotte mengangguk paham.   El melepaskan tangannya dari dagu Charlotte sebelum dia kembali melesat pergi.  “Ya, Mom,” Austin berpapasan dengan El. Mata mereka bersitemu beberapa saat.   “El baik-baik saja, Mom.” Austin tersenyum simpul pada El saat ibunya menanyakan El. “Ya, menantumu juga baik-baik saja. Tapi, ya, aku pernah melihat mata Charlotte merah mungkin El membuat kakak iparku tertekan.”  “Berengsek!” El meraih ponsel Austin. “Untuk apa kamu  menanyaiku dan Charlotte?”  “El, Mommy hanya khawatir.”  “Lebih baik Anda dan ayahku tetap di sana dan jangan pulang sampai Charlotte mengandung putraku dan coba kita lihat bagaimana Austin bia mendapatkan warisan dari ayahku yang bodoh itu.”  “El, aku tidak—“  El mematikan ponsel dan memberikannya pada Austin yang tersenyum tipis. “Pikiranmu itu kotor sekali, El.”  “Oh ya? Bagaimana dengan pikiranmu, Austin. Oh ya, aku punya bukti kalau kamu sudah memiliki seorang anak dari wanita yang pernah menjadi teman dekatmu. Ingat itu, aku bisa bilang pada ibumu kapan saja.”  Wajah Austin memerah.   Kali ini El yang tersenyum. Dengan senyuman paling menawan sekaligus mengerikan.  “Berengsek, kamu, El!”  “Jangan mencoba mengganggu Charlotte atau aku bongkar rahasiamu.” Ancam El dengan mengangkat wajahnya angkuh.  ***  El menatap Charlotte dari atas sampai bawah dan kembali ke atas—tepatnya ke wajah Charlotte. Rambut cokelat lurusnya diberi jepitan berbentuk kupu-kupu di bagian kirinya. Dia mengenakan gaun berwarna hijau tua yang menutupi seluruh tubuhnya.  Charlotte mengenakan lipstik warna merah tua yang membuatnya wajahnya tampak seksi sekaligus tidak ramah, tapi El menyukainya. Dengan wajah dan penampilan seperti ini Charlotte mirip seperti dirinya. Tidak jauh dari keangkuhannya meskipun sebenarnya wanita yang di depannya ini lemah dan rapuh.  “Bisakah kamu tetap menjaga ekspresi wajahmu seperti itu?”  “Apa?”  El menarik tangan Charlotte di depan cermin. “Lihat wajahmu.”  Charlotte menatap pantulan dirinya di cermin.   “Kamu tahu, kamu harus bisa menampilkan wajah seperti ini pada setiap orang.”  “Aku tidak mengerti.” Charlotte tidak mengerti karena yang dia lihat wajahnya memang sama saja.   “Kamu selalu tampil polos tanpa make up. Dan lipstik ini membuatmu cocok bersanding denganku. Kamu tahu, orang-orang menganggapku sombong, angkuh dan arogan. Aku ingin kamu seperti yang aku tampilkan di depan orang.”  Charlotte menoleh pada El yang berada di sampingnya. Wajah El begitu dekat dengannya.  El tersenyum tipis kemudian dia menoleh pada Charlotte yang menatapnya. Wajah mereka begitu dekat hingga Charlotte dapat merasakan detakkan jantungnya yang tak keruan.  “Perlu aku jelaskan lebih detail lagi, Sayang?” tanya El yang membuat ledakan balon di d**a Charlotte.  El ingin meraih bibir Charlotte tapi dia harus ingat kalau mereka akan pergi ke rumah Kate dan Alan.  Charlotte membuang wajahnya. Dia tidak bisa berlama-lama menatap mata biru tajam El yang bisa membuatnya lemas seketika tanpa melakukan apa pun. Austin benar. El bisa saja menerkamnya dan El memang punya semacam bakat untuk bisa menerkam siapa pun. Terkaman yang bukan hanya melalui sentuhan fisik tapi juga emosional. Dan El bukanlah pria biasa. Dia bisa memilih wanita mana saja. Lalu kenapa dia memilih Charlotte untuk mengandung putranya sebagai pewaris keluarga Grisshman?  ***  Kate adalah anak dari adik ayah El—Tante Louisa. Kate memiliki hati yang lembut seperti ibunya dan Alan adalah suami yang sigap dan tegas. Mereka dua orang dengan kepribadian yang serasi. Kate tidak memandang Charlotte seperti keluarga El yang lain. Dia memandang Charlotte sebagai saudaranya meskipun Charlotte adalah gadis miskin yang tak memiliki apa-apa.  Kate sengaja memasak berbagai hidangan untuk Charlotte dan El demi bisa membuat wanita cantik itu merasa diterima setelah gunjingan yang menyudutkannya saat pesta pernikahan mereka. Kate tersenyum ramah pada Charlotte.  “Kamu cantik sekali, Charlotte.” Puji Kate.  “Terima kasih.” Charlotte membalas senyuman ramah Kate.  “Semua masakan istriku adalah makanan favoritku silakan dicoba, Charlotte.” Alan berkata ramah.  “Kapan kalian mau merencanakan bulan madu?” tanya Kate. “Aku punya referensi tempat-tempat eksotis di dunia.”  “Akan aku pikirkan nanti.” Kata El cuek.  “Astaga, kamu ini tidak merencanakan bulan madu apa?” Sebagai seorang wanita Kate kesal dengan pernyataan El.  “Akan aku pikirkan nanti, aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Austin tidak bisa diandalkan dan aku tidak mau mengandalkan anak pemalas itu.”  “Ah, anak itu memang tidak punya tujuan hidup apa-apa selain menikmati kehidupannya.” Alan mengiris daging sapi dan melahapnya.  “Aku dengar Austin sedang dekat dengan seseorang, El.” Kate menimpali.  “Dia dekat dengan siapa pun.” Kata El acuh tak acuh.  Charlotte merasa tak berguna dengan hanya mendengar El, Kate dan Alan berbicara. Dia tidak tahu menahu tentang keluarga ini.   Kate tersenyum misterius. “Kamu ini tidak tahu saja siapa seseorang itu.”   “Aku tidak peduli.” El meraih gelas wine dan menenggaknya sampai habis.  “Kamu bisa bilang seperti ini karena kamu belum tahu siapa wanita yang dekat dengan Austin itu kan.”  Dahi El mengernyit. “Apa maksudmu, Kate?”   Charlotte merasa ada ketidakberesan. Kate menyembunyikan sesuatu dari El. Mungkinkah wanita yang dekat dengan Austin adalah wanita yang memiliki hubungan dengan El?  Charlotte melirik pria yang memandang sepupunya dengan serius itu.  “Tidak, El. Kate hanya asal bicara. Wanita yang dekat dengan Austin memang banyak kan. Anak itu suatu saat nanti akan menyadari kalau dia sudah dewasa dan akan memilih salah satu dari wanita yang menjadi kekasihnya untuk menjadi pasangan hidupnya kelak. Seperti kamu kan, El?” Alan mencoba mengalihkan topik pembicaraan tapi Charlotte yakin ada yang disembunyikan dari mereka berdua.  “Masakanmu benar-benar lezat, Kate. Aku suka.” Charlotte mencoba menetralisir atmosfer kecanggungan di meja makan.  “Terima kasih, Charlotte. Aku senang kamu menyukai masakanku.”  “Kapan-kapan aku ingin belajar memasak denganmu. Aku merasa kemampuan memasakku sangat pas-pasan.”  Kate menanggapi keinginan Charlotte dengan gembira. “Oh, tentu saja, Charlotte. Rumahku akan selalu terbuka untukmu.”  “Aku harap kalian bisa memasak dengan akur. Sesekali Kate seperti kucing yang suka mencakar. Aku khawatir padamu, Charlotte.” Alan tertawa renyah. Istrinya menyenggol lengan pria itu dengan tatapan mata menegur.  “Aku hanya mencakarmu, Sayang. Aku tidak akan mungkin mencakar Charlotte, bisa-bisa El akan membunuhku nanti.” Kate terkikik geli.  El tampak sibuk sendiri dengan pikiran-pikirannya. Dia tahu ada yang disembunyikan  oleh Kate dan Alan. El ingat poto Camilla bersama pria asing yang mengenakan masker, kacamata dan topi. Seharusnya dia tidak perlu memikirkan Camilla lagi karena dia sendiri sudah mencoba untuk melepas wanita itu dengan mengikat janji suci bersama Charlotte. Tapi, bayangan tentang Camilla belum bisa dimusnahkannya meskipun Camilla sendiri sudah tak berminat lagi dengannya.  Dia melihat Charlotte yang sedang menatapnya dan dengan cepat Charlotte membuang wajah.  “Charlotte, cobalah puding buatanku.” Kate menyodorkan sepotong puding dengan topping cokelat dan buah stroberi.  “Terima kasih, Kate.” Charlotte mencicipinya dan dia tampak menikmati puding buatan Kate.  “Enak sekali!” pujinya jujur.   “El, cobalah!” Kate berkata pada El yang tak berselera dengan makanan.  Begitu cepat moodnya berubah hanya karena mengingat Camilla dan betapa murkanya dia kalau Camilla adalah wanita yang dimaksud Kate.  *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD