Bab 2-JADIAN

1292 Words
Aku masih termenung di dalam kamar, sambil memandangi kartu nama Aldo. Ya ... aku tak boleh sia-siakan kesempatan ini. Jadi model videoklip terkenal adalah impianku. Besok aku akan temui Aldo di kantornya. Akantetapi, aku tidak punya baju yang bagus. Tidak mungkin aku memakai baju-baju yang sudah usang, bisa-bisa Aldo tidak tertarik mengorbitkanku. Minta uang pada Ibu rasanya juga tidak mungkin, tidak akan dikasih maksudnya. Ibu pasti akan bilang, baju kamu kan udah banyak, masih bagus-bagus ngapain beli lagi dan bla-bla-bla .... Aku berpikir keras, bagaimana bisa mendapatkan baju baru tanpa harus meminta uang kepada Ibu. Apa aku harus kerja? Ah ... tapi kerja apa? Aku tidak punya keahlian apa-apa, bahkan setelah lulus sekolah aku belum pernah cari kerja. "Asti, ada Reza tuh. Buruan keluar!" teriak Ibu sambil menggedor pintu kamar, membuat lamunanku menguap entah ke mana. Ibu, kebiasaan kalau yang dateng Mas Reza, heboh banget. "Iya, tunggu," jawabku kesal. Huh, ngapain sih Mas Reza ke sini lagi, bikin mood-ku hilang. Dengan muka cemberut dan bibir manyun, aku melangkah keluar kamar. Aku males banget ketemu cowok yang satu ini, tetapi sepertinya dia tidak pernah menyerah untuk mendekatiku. Eitt ... tunggu dulu, Mas Reza bisa aku manfaatkan nih kayaknya. Hmm, muncul ide nakalku. Daripada dianggurin, mending dimanfaatkan. Setelah mandi dan berganti pakaian serta tak lupa pakai wangi wangian, aku keluar menemui Mas Reza. Dengan memasang senyum semanis mungkin, aku duduk di depan cowok itu. "Asti, kamu cantik banget," puji Mas Reza yang terpesona melihat aura kecantikanku. Kedua matanya tak berkedip sedetikpun ketika melihatku keluar dari ruang tengah dan duduk di depannya. Yaelah dari dulu kalee, kalau aku cantik. "Mas, maaf ya! Asti mau keluar cari baju buat interview besok," ucapku setelah duduk di depannya. "Lho, kamu mau kerja, As?" tanyanya heran. Yang dia tahu selama ini memang aku pengangguran, semenjak lulus SMK, aku tidak berniat mencari-cari kerja seperti teman-temanku yang lain. "Iya, Mas. Doakan mudah mudahan diterima, ya. Makanya Asti mau beli baju yang bagus biar menambah nilai plus nanti saat interview," jelasku dengan wajah berbinar. "Kalau gitu biar Mas anter, ya! Sekalian jalan-jalan, bagaimana?" tawarnya sambil berdiri dari tempat duduknya. Aku pun mengangguk dan mengikutinya keluar rumah. Yess ... kena kamu, Mas! Apa iya cuma nganter saja, pastinya kamu akan bayarin semua belanjaanku nanti. Mas Reza ... Mas Reza ... maafin aku, ya! Mas Reza memacu motornya pelan-pelan, aku melingkarkan tangan di pinggangnya serta menyandarkan kepalaku di belakang lehernya, biar dia bisa mencium aroma wangi rambutku. Aku ingin membuatnya mabuk kepayang hari ini, biar nantinya dia bayarin semua belanjaanku. Badannya terasa bergetar, mungkin dia grogi aku perlakuan seperti itu. Degup jantungnya yang tak beraturan bisa aku rasakan. Ah, biarlah, kalau dia senang pasti nanti akan dengan sukarela membayar belanjaanku. Ternyata benar saja, aku mengambil dua stel baju yang lumayan bagus dan agak mahal menurut kantong seorang waiter seperti Mas Reza, tapi dengan suka rela dia membayar semuanya. Selain itu, setelah belanja kami makan di sebuah rumah makan seafood kesukaanku. Hari ini aku seneng banget, tapi sepertinya Mas Reza tidak sebahagia aku, walaupun dia tetap mengukir senyum. Mungkin karena melihat saldo di dompetnya setelah jalan-jalan sama aku. Ah, bodo amat. Aku melirik sekilas wajah Mas Reza, cowok itu tampak gelisah, tapi dia berusaha terlihat bahagia. Pasti malam ini dia sudah menghabiskan separuh gajinya bulan ini untukku ... kasihan kamu, Mas. Maaf, ya. Ketika sampai di rumah, aku mengucapkan terima kasih. Tak lupa pula memberinya hadiah berupa pelukan dan ciuman di pipi. Dia lantas terkejut dengan perlakuan hangatku, cowok itu tersenyum dan memegang pipinya yang merona setelah kucium. "Asti ... tunggu!" ucap Mas Reza menghentikan langkahku. "Iya, Mas! Ada yang kurang?" tanyaku sambil berbalik ke arahnya. "Asti, aku ... aku cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?" Dengan menundukkan pandangannya, Mas Reza mengucapkan kalimat itu. Aku pun berjalan mendekati Mas Reza dan meraih kedua tangannya serta menggenggamnya erat. Pria itu mengangkat wajahnya dan memberanikan menatapku dengan intens. Terlihat ketulusan terpancar dari kedua matanya. "Iya, Mas. Aku mau," jawabku enteng karena tidak ingin membuat orang yang sudah membayar semua belanjaanku kecewa. Mas Reza langsung memelukku erat kemudian mencium keningku. Sepertinya dia sangat bahagia. "Terima kasih, As. Mas pulang dulu ya!" pamitnya setelah melepas pelukan. "Iya, Mas. Hati hati!" jawabku sambil melempar senyum. Jangan dikira aku beneran suka sama Mas Reza, ya! Aku hanya tak tega menolaknya, secara aku tadi udah manfaatin dia. Ih, kedengarannya aku kejam. Maafkan aku ya, Mas. Setelah sukses, aku janji tidak akan merepotkanmu lagi. Lagian aku cuma mau nyenengin Ibu. Beliau pasti seneng banget kalau tau aku pacaran dengan Mas Reza. Nah ... nyenengin orang tua termasuk pahala kan? Gak ada salahnya aku bersandiwara demi Ibu. *** Keesokan harinya aku mendatangi kantor Aldo sesuai alamat yang tertera dalam kartu namanya. Setelah sebelumnya aku menelepon dia. Penampilanku hari ini sudah aku buat secantik dan sewangi mungkin. Dengan menggunakan baju baru yang aku beli dengan Mas Reza tadi malam. Aku merasa percaya diri untuk bertemu Aldo hari ini. "Wah, anak gadis Ibu cantik sekali, mau kencan sama Reza ya?" goda Ibu saat aku keluar kamar. "Ih, Ibu ... tadi malam kan udah jalan-jalan sama Mas Reza. Hari ini Asti mau ngelamar kerja. Doakan supaya Asti diterima ya, Bu!" ucapku sambil memeluk wanita yang dua puluh tahun lalu melahirkanku itu. "Aamiin, Ibu pasti selalu mendoakanmu, Nduk" Ibu mengacak rambutku setelah melepas pelukan. *** "Silahkan masuk Asti ...!" ucap si Aldo yang tampan menawan bin tajir melintir itu dengan lembut. Dia mempersilahkan aku masuk ke ruangan kantornya. Kantor Aldo lumayan besar juga, ia menyuruhku duduk di sofa ruangannya, lalu dia duduk di sampingku. "Aku ke sini mau menerima tawaranmu tempo hari, Al," kataku tanpa basa basi. "Soal pekerjaan mah gampang, As. Kita ngobrol dulu ya!" Aldo mendekat tanpa jarak padaku, bahkan dekat sekali sehingga aku bisa mencium bau wangi parfumnya dengan jelas. Dadaku tiba-tiba bergetar, ada apa denganku. Ya, aku cewek normal, dekat dengan cowok setampan Aldo tentu ada gemuruh tak menentu di hati ini. Apakah Aldo juga merasakan hal yang sama? Kami pun akhirnya ngobrol sana-sini. Ternyata Aldo memang asyik diajak ngobrol, orangnya cool dan gaul. Dia bilang belum ada garapan video klip, jadi bila aku mau, sementara jadi backing vokal dulu sambil latihan tarik suara. Aku setuju saja asalkan bisa dapet kerjaan dan bisa selalu dekat dengan Aldo. Sepertinya dia juga tertarik padaku, beberapa kali dia kepergok mencuri pandang kepadaku. Ah, aku jadi tersipu malu. Sorenya sebelum pulang, Aldo mengajakku makan di restoran, hemm, sepertinya hari-hariku bakalan lebih berwarna dengan hadirnya Aldo. Setelah selesai semua urusan, Aldo mengantarku pulang dengan mobil mewahnya. Namun, dia menolak ketika aku suruh mampir. "Lain kali saja, As" ucapnya sembari menutup pintu mobil setelah aku keluar. "Bener ya! Lain kali mampir!" Aku mencubit lengan Aldo. "Iya, pasti." Cup ... Aldo mencium pipiku. Aku gugup dan menoleh kanan kiri siapa tau ada yang liat. Huff, aman. Kemudian aku berjalan masuk ke rumah, serta tak lupa mengucapkan terima kasih padanya. *** "Siapa cowok itu, Asti" Tiba-tiba ibu sudah menghadang jalanku masuk rumah. Gawat, jangan-jangan Ibu melihat Aldo menciumku tadi. "Dia bosnya Asti di kantor, Bu," jawabku mencoba santai. "Jadi, kamu beneran diterima kerja, atau jangan-jangan karena kamu pacaran sama bosnya? Ingat Asti, kamu anak gadis, harus pandai-pandai menjaga diri dan kehormatanmu." Nasehat Ibu panjang lebar. "Iya, Bu, Asti diterima jadi backing vokal kok di studio rekaman. Kalau Asti rajin berlatih, lama-lama ntar Asti bisa rekaman sendiri lho, Bu," jawabku bersemangat. "Iya, Nduk. Ibu cuma mengingatkan, jaga dirimu baik-baik, terutama kehormatanmu. Jangan karena uang kamu lengah, As." Tak bosan Ibu mengingatkan aku. "Iya, Bu." Aku masuk kamar dan membersihkan diriku. Gak tau kenapa hari ini aku bahagia banget. Apa benar aku jatuh hati pada Aldo. Dia memang sangat menawan. Tiba tiba aku teringat Mas Reza. Ya Tuhan ... kenapa aku jadi merasa jahat ya pada Mas Reza. Haduh maafin aku ya, Mas!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD