BAB 8

1361 Words
"Andra,"panggil Shabila cukup keras karena suaranya berpacu dengan suara hujan yang deras. Setengah tubuhnya sudah basah karena terpaan air hujan. Dia sedikit mengigil saat menemui Andra di parkiran sekolah. " Boleh aku menumpang motormu sampai ke rumah? Rumah kita searah, sekali ini saja,"pinta Shabila memohon. Andra memperhatikan Shabila dari sudut matanya. "Kau hubungi saja bang Andro, kan dia selalu ada di saat kau butuhkan,"ketus Andra sambil sibuk mengenakan mantel hujan. " Aku lupa bawa mantel hujan dan payung, sekali ini saja, Andra,"kata Shabila memohon. "Tidak! Jika aku membiarkanmu ikut denganku, maka besoknya kau akan mencari alasan yang lain untuk menumpang untuk kedua kalinya." Shabila nampak berpikir. "Kalau begitu boleh aku titip tas dan sepatuku di jok motormu. Ada banyak buku pelajaran di dalam, aku takut basah dan rusak." Andra mendengus kesal. "Lalu bagaimana dengan tas dan barangku yang lain?" "Kamu kan mengenakan mantel dan kamu bisa menyimpan sepatumu di dalam tas." "Enak sekali kau mengatur ku atas barang kepunyaan ku sendiri!"seru Andra sudah mulai emosi. Shabila melihat ada mantel lain di dalam jok motor Andra. Dia berkata dengan penuh harapan." Kalau begitu aku pinjam mantel mu yang satu itu, boleh kah?" Belum sempat Andra menjawab, suara Nadira terdengar di belakang tubuh Shabila. "Andra aku nebeng boleh?" tanya Nadira dengan suara yang dimanjakan. Lalu Nadira berkata lagi, "Oh! Kamu pulang dengan Shabila, kalau begitu tidak usah." Wajah Andra berubah lebih lembut lagi. "Kebetulan aku pulang sendiri, Nadira. Kamu kalau ingin bersama tidak apa-apa." "Tapi aku takut menyusahkanmu, arah rumah kita berbeda. Aku bisa minta tolong papa ku untuk menjemput ku." "Tidak perlu! Aku tidak keberatan, ini pakai mantelnya kebetulan aku membawa dua mantel,"ucap Andra menyerahkan mantel satu lagi kepada Nadira. Shabila langsung memutar tubuhnya meninggalkan Andra dan Nadira. Dia tidak ingin lagi melihat apa yang dilakukan Andra kepada Nadira. Gadis itu sedang mengamati langit yang semakin gelap. Warna langit yang gelap mustahil akan berhenti beberapa saat lagi. " Hujan seperti ini akan lama berhentinya, aku tidak bisa menunggu sampai hujannya berhenti,"lirih Shabila berbisik kepada dirinya sendiri. Gadis itu memasukan sepatu ke dalam tas nya, dengan memeluk tas Shabila mulai berjalan menembus hujan yang sangat lebat. Daerah tempat sekolahnya memang mudah banjir. Jadi Shabila tidak mungkin diam menunggu di halaman sekolah. Shabila memperhatikan motor Andra yang baru saja berjalan mendahuluinya. Gadis itu hanya melirik sekilas Nadira yang diboncengi Andra dan akan diantarkan ke rumahnya. Dengan senyuman yang kecil Shabila berjalan sendiri dengan memeluk tasnya agar tidak basah. *** Shabila berjalan mondar-mandir di depan pagar rumah Andra. Ketika melihat mobil Una, nampak wajah Shabila sedikit lega. "Shabil," Panggil Una menurunkan kaca mobilnya. "Kak, Andra bagaimana keadaanya? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada penyakit parah kan?" tanya Shabila dengan penuh kekhawatiran. "Dia hanya demam biasa, karena kehujanan kemarin sepertinya. Tapi, suhu tubuhnya sangat panas sehingga mama dan papa meminta dia di rawat saja di rumah sakit." Jelas Una. "Andra di rawat jadinya?"tanya Shabila membeo. " Iya, kakak ke rumah karena menjemput beberapa pakaian dan keperluan Andra." "Sekarang siapa yang menemani Andra di rumah sakit?" tanya Shabila khawatir. "Ada Andro di sana," "Baiklah kalau begitu kak, aku hanya ingin tahu kepastian keadaan Andra. Kalau begitu aku pulang," "Kamu mau ikut kakak ke rumah sakit, Dek?"tanya Una. Wajah Shabila berubah ceria dan semangat. Namun, dia teringat kalau dia ke sana dan Andra melihatnya. Shabila takut Andra marah dan mengganggu kesehatan Andra. " Tidak usah, Kak. Nanti kalau Andra sudah pulang saja aku membesuknya. Unna nampak jelas perubahan wajah Shabila dan memahaminya. Gadis itu sebenarnya ingin sekali ikut, tapi dia tidak ingin membuat suasana hati Andra semakin parah. "Baiklah Shabil, kalau begitu kakak ke dalam dulu." "Iya kak," "Nenek Leni masih di rumah tante mu? " Shabila mengangguk gugup."hmm." "Tidak mengapa kamu sendirian di rumah?ikut saja dengan kakak. Lagipula kalau kamu kenapa-napa kami juga tidak di rumah. Rumah kosong, Andro dan kakak berencana menemani Andra di rumah sakit," ungkap Una khawatir dengan Shabila. "Tidak apa-apa kak, kak Una dan bang Andro fokus saja kepada kesehatan Andra. Kalau Andra cepat pulih aku juga sudah sangat senang." "Baiklah kalau begitu, kamu hati- hati ya." "Terima kasih kak Una cantik karena selalu mengkhawatirkan keadaanku. Aku pulang dulu." Shabila berlari menuju rumahnya dengan perasaa lega. Mendengar kabar Andra yang baik baik saja sudah cukup baginya. *** "Andra bagaimana keadaanmu?"tanya Shabila ketika Andra sudah berada di rumah setelah tiga hari di rawat di rumah sakit. Pria itu sedang beristirahat di ruang tamu rumahnya. Karena Shabila mengetahui Andra sudah pulang, segera gadis itu menghampiri Andra setelah pulang sekolah. " Kata wali kelas kita kalau besok kamu masih belum masuk sekolah, teman-teman akan membesuk mu bersama." "Aku sudah baikan," Jawab Andra singkat. "Empat hari ini kamu banyak ketinggalan pelajaran, aku sudah mengirimkan beberapa photo catatan dari Riri. Aku yakin kamu lebih bisa membaca tulisan Riri dibanding tulisanku. Tapi, sepertinya WA mu tidak aktif, karena masih ceklis satu," ungkap Shabila. "Kau tidak perlu sibuk, Nadira baru saja mengirimkan photo catatannya melalui WA,"kata Andra ketus. " Oh!"Shabila mengangguk pelan. Gadis itu mengambil ponsel di saku rok nya. Dia ingin menghapus photo yang dikirimnya tadi kepada Andra. Namun, Shabila tertegun karena pesan yang dikirim olehnya masih ceklis satu. "Kamu ganti no WA, Andra?" tanya Shabila pelan. "Bukan, hanya saja nomormu yang ku blokir," Jawab Andra enteng tanpa memperdulikan perasaan Shabila. Shabila terdiam membisu, lalu gadis itu mencoba mencairkan suasana dan mencoba mengalihkan pembicaraan "Kamu membutuhkan sesuatu? Aku saja yang bergerak, kamu istirahat saja Andra," Kata Shabila ketika Andra bergerak dari tempat duduknya. "Tidak perlu! Ada kak Una, sudah aku katakan aku tidak butuh bantuan apa pun dari mu. Tapi alangkah baiknya kamu pulang saja, karena kau menggangu waktu istirahatku!" Shabila mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu Andra. Aku pulang dulu, semoga kamu cepat sembuh,"lirih Shabila menahan dadanya yang mengernyit perih. Dengan langkah gontai Shabila mengambil tas yang dia letakan di atas meja ruang tamu Andra. Saat di halaman depan dia bertemu dengan Andro yang baru saja mematikan mesin motornya. " Kenapa wajahmu masam seperti itu, Dek? Pasti Andra mengatakan sesuatu hal yang menyakitimu?"tebak Andro menatap sedih kepada Shabila. Shabila berdecak dan melupakan kesediahnnya. "Itu sudah biasa Bang, memangnya kapan dia bisa bersikap baik kepadaku,"ucap Shabila bercanda. " Ada masanya nanti, saat dia tahu kamu lah yang selalu mengerti tentangnya,"jawab Andro pelan. "Banga Andro darimana? Pulang kuliah?" "Yoi, pulang kuliah dan baru pulang mengantarkan ibu negara," Jawab Andro dengan bercanda. "Duh perhatiannya dengan sang kekasih, kapan noh adek abang yang sakit itu bisa se perhatian kayak bang Andro." Seketika Shabila melupakan kesedihannya. "Sudah! Kita tidak usah membahas Andra, jadi kamu bekerja besok?"tanya Andro. Shabila mengangguk semangat. " Jadi lah, bang Andro juga sudah capek menolongku supaya mendapatkan pekerjaan ini. Mana mungkin aku sia-sia kan. Sekali lagi Terima kasih ya bang atas bantuannya mencarikan pekerjaan untuk ku setelah pulang sekolah. Bulan ini terakhir les tambahan di sekolah. Jadi setelah pulang sekolah nanti aku bisa segera bekerja part time." Andro mendekati Shabila lalu mengacak rambut gadis itu. "Kalau kamu belum bisa membagi waktu atau kelelahan kamu bisa berhenti. Nanti abang dan kak Una mencoba membantumu untuk membiayai keperluanmu di ujian akhir nanti." "Duh, Terima kasih loh bang, pokoknya aku semangat bekerja. Bang Andro, kak Unna, mama dan papa sudah banyak membantuku dan begitu perhatian kepadaku. Aku tidak ingin terus-terusan bergantung kepada kepada bang Andro dan keluarga. Ini saja, aku merasa senang sekali karena bang Andro sudah membantuku mendapatkan pekerjaan yang tidak menggangu sekolah." Lalu dengan rasa sayang kepada adik perempuan Andro mengelus pelan rambut Shabila. Menatap lekat ke arah gadis itu dengan senyuman tipis dan tulus. "Jangan lagi pergi ke rumah tante mu, hubungi abang atau kak Unna kalau kamu butuh sesuatu Shabil. Jangan menyiksa hatimu dengan pergi ke sana. Jika kamu tidak diterima di sana, maka kamu sangat diterima di rumah kami. Masalah Andra, kamu tidak perlu memikirkan tentangnya." Mata Andro berkaca- kaca. Seketika air mata Shabila mengalir di pipinya. Bibir gadis itu mencebik menahan air matanya. Tapi, dia tidak bisa menahan lagi ketika Andro menyebutkan tentang tantenya. Gadis itu menanggangguk sambil mengukir senyuman yang berusaha dipaksanya. "Sudah, jangan menangis lagi," Ucap Andro membujuk. Andro memeluk tubuh kecil Shabila, bukan tubuhnya saja yang rapuh, hati Shabila sangat rapuh. Bahkan Andro tidak menyangka gadis kecil itu memikul beban hidup yang sangat berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD