BAB 9

1541 Words
Flashback on Andro baru saja mematikan mesin motornya, dia izin pulang ke rumah selain untuk mandi dan membawa perlengkapan pribadinya. Andra sedang sakit dan dirawat, jadilah dia dan kak Una yang menemani Andra di rumah sakit. Orangtua mereka sedang berada di luar Negeri untuk perjalanan bisnis. Ketika Andro hendak menutup pagar rumah, pria itu melihat ke arah seberang rumah Shabila. Kebiasaan Andro setiap pulang ke rumah, dia memastikan keadaan Shabila walau hanya melihat dari rumahnya saja. Kening Andro berkerut karena mendengar suara keras dari arah rumah Shabila. Suara seorang perempuan yang sedang marah. Karena khawatir, Andro menelusuri ke sana. "Berapa kali aku mengatakan kepadamu untuk setiap pulang sekolah datang ke rumah ku. Kau harus membantuku membersihkan rumah!" Teriak seorang perempuan. "Aku pulang sudah sore tante, kadang menjelang maghrib. Aku tidak sempat ke rumah tante," Suara lirih Shabila ketakutan. "Kau memang tidak tahu balas budi! Aku yang membesarkanmu! Aku yang merawatmu! Aku pula yang membiayai semua keperluanmu! Kau tahu itu! Aku hanya memintamu untuk membersihkan rumah dan menolongku tapi kau sengaja menghindar!"teriak tante Shabila keras. " Itu uang pensiunan mama, bahkan tante tidak memberikan semuanya untuk ku. Tante mengambil semua uang tabungan ku, semua pendidikan ku selama ini dibiayai oleh pensiuanan mamaku."Shabila mencoba membela diri. Satu tamparan keras menyentuh pipi Shabila, rambutnya juga dijambak keras oleh tantenya. Shabila meringis sambil memegang pipinya yang terasa panas. Kulit kepalanya juga tidak kalah perihnya, terlebih tantenya menarik sangat keras dan tidak peduli dengan kesakitan Shabila. "Jangan memukulku tante, setiap hari tante selalu memarahiku dan memukul ku." Shabila mencoba melepaskan genggaman tangan tantenya yang sedang memegang keras rambut gadis itu. "Diam kau anak sialan! Cukup mamamu yang sudah menyusahkan keluarga ini. Kau jangan coba-coba membangkang kepadaku! Kau dengar anak haram! Seharusnya kau bersyukur aku lah satu-satunya yang mau merawatmu. Kau dan mamamu sudah mencoreng nama baik keluarga ini." Shabila bukannya tidak melawan, tapi tenaganya yang tidak kuat menahan semua pukulan di tubuh nya. "Bukan tante yang merawatku tapi nenek, nenek yang merawatku!" Teriak Shabila berusaha membela diri. Dia mencoba menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Dia tidak ingin lagi disiksa oleh adik dari mamanya. Dia berusaha melawan, tapi tubuh tantenya yang tinggi membuat gadis itu tak berkutik. Jika Shabila menangkis atau menahan pukulan, maka tantenya akan membalas jauh lebih keras lagi. "Nenekmu sudah mati dan uangku yang membiayai pemakamannya. Seharusnya kalian berdua bersyukur aku masih memperhatikan kalian!" "Tidak!" Teriak Shabila. "Tidak! Bahkan tante tidak sedikit pun mengeluarkan uang untuk pengobatan dan pemakaman nenek. Tabungan nenek yang nenek berikan kepadaku tante juga yang mencurinya.! Mendengar hal itu tante Shabila menarik lebih keras rambut gadis itu sampai Shabila merintih kesakitan dan memohon ampun. "Aku ke sini tidak mendengar isi hatimu! Cepat berikan kepadaku dimana surat rumah ini!" "Aku tidak mau! Aku tidak akan memberikan surat rumah ini kepada tante. Tante telah mengambil kartu ATM uang pensiunan mama, jangan tante ambil rumah peninggalan mama. Bahkan aku menyerahkan uang tabunganku kepada tante," Suara Shabila memohon dengan tulus. "Kau memang sudah mulai membangkang Shabila! Kau berikan atau aku akan membunuhmu anak haram, kau dan ibu mu sama saja w************n. Ibu mu yang seorang pelakor itu meninggalkan bangkai kepada keluargaku. Kau pikir uang pensiunan yang sedikit itu cukup menutupi kelakuan murahannya yang menjadi seorang pelakor!" "Tidak! Rumah ini tinggal satu-satunya milik mama yang tersisa. Setelah tante merebut semuanya. Bahkan emas yang aku kumpulkan serta tabungan untuk masa depanku juga tante curi." Satu tamparan lagi melekat di pipi Shabila. Gadis itu bahkan di seret oleh tantenya sendiri. Shabila menangis memohon ampun agar tantenya berhenti menyiksanya. "Aku tidak mau tante,"raung Shabila. " Hentikan!" Suara Andro berteriak keras di ambang pintu. Cengkraman tangan itu lepas dari gumpalan rambut Shabila. "Kalau anda menyakitinya lagi saya akan melaporkan kasus ini kepada polisi!"seru Andro masuk dan mendekati Shabila. "Bang Andro,"lirih Shabila lega melihat kehadiran Andro. " Pergi dari sini dan jangan kembali ke rumah ini!"kata Andro mengancam dengan serius. "Kau tidak bisa melarang ku, ini rumah kakak ku dan anak haram ini masih di bawah pengawasan ku. Tidak ada alasan apa pun yang bisa melarang ku datang ke sini." "Saya yang bisa menghentikan anda untuk datang ke sini dan melakukan kekerasan kepada Shabila." "Keluar kau!" "Anda yang seharusnya keluar karena membuat keributan di kompleks ini! Saya bisa mengumpulkan para tetangga dan membuat Anda di usir paksa dari sini. Bukti kekerasan yang anda lakukan kepada keponakan anda sendiri masih terlihat jelas." Tante Shabila menatap gadis itu yang sudah acak-acakan. Bahkan ada darah segar mengalir di ujung bibirnya. Seketika ketakutan menghampirinya. "Dengar kau anak haram! Sekarang kau bisa menang, adakalanya aku kembali mengambil milik kakak ku yang seharusnya menjadi miliki ku bukan untuk mu sialan!" Andro tertawa mengejek." Ini terakhir kalinya anda bisa menginjakan kaki di rumah ini. Apa pun yang telah kau lakukan tadi aku sudah merekamnya. Sekali saja kau melakukan kekerasan kepada Shabila. Maka kau akan membusuk di dalam penjara!"seru Andra mengancam. Awalnya tante Shabila tidak percaya, lalu Andro memutar hasil rekamannya. Wajah tante Shabila pucat seketika, akhirnya dia takut dengan ancaman dari Andro. Dengan perasaan yang masih marah, wanita baya itu keluar dari rumah Shabila. Andro langsung berlari menuju Shabila yang tersungkur di lantai. Andro nampak membeku sejenak melihat keadaan Shabila. Luka lebam dan rambut nya yang acak-acak an tidak bisa lagi menutupi betapa tersiksanya gadis itu. "Bangun Dek!" Seru Andro memapah Shabila untuk berdiri. Dengan meringkuh menahan sakit, Shabila berusaha bangun. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Dia mengeluarkan semua emosi yang selama ini dipendam nya sendiri. Andro membiarkan Shabila menangis keras, dia tidak berusaha untuk meminta gadis itu diam dan tenang. Suara tangisan Shabila mampu memecahkan keheningan di rumah nya. Napas gadis itu juga terlihat tersendat karena sesegukan. Ketika Shabila sudah mulai tenang dan bisa mengendalikan emosinya. "Kita ke rumah, abang akan mengobati luka mu," ucap Andro dengan nada lembut. Shabila hanya mengikuti keinginan Andro, tubuhnya terasa sakit dan berjalan tertatih menuju rumah Andro. Sebelum itu, Shabila menuju ke kamar dan mengambil sesuatu. *** Andro mengeluarkan kotak P3K dan mulai mengobati sudut bibir Shabila yang luka. Andro menghela napas menatap sedih kepada Shabila. "Untung saja kak Una memaksa ku pulang ke rumah untuk mandi. Kalau tidak tante mu akan melakukan sesuatu yang lebih dari ini." Shabila meringis menahan perih saat kapas mengenai bibirnya. Lalu, mata tajam Andro menatap Shabila. "Kamu pikir selama ini abang tidak tahu apa yang telah kamu alami? Setiap kali kamu kembali dari rumah tante mu, kamu selalu mengenakan sweater untuk menutupi luka lebam di tubuh mu. Setiap kali kamu kembali dari sana kamu akan selalu terlihat murung. Setiap kali kamu pulang dari sana, abang bisa merasakan semua sifat ceria dan tawa mu begitu dipaksakan." Shabila hanya menunduk sedih, selama ini dia memang diperlakukan seperti b***k di rumah tantenya. Terkadang kalau kesalahan kecil yang dilakukan Shabila, maka tante nya tidak segan memukuli gadis itu. Padahal tante nya itu mempunyai anak gadis yang hampir seusia Shabila. Namun selalu Shabila yang selalu membersihkan mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal dia tidak tinggal bersama tante nya. "Kenapa kamu tidak melawan? Lalu nenek Leni bukankah berada di rumah tante mu, apakah dia membiarkanmu diperlakukan seperti ini?" tanya Andro sedikit emosi. Tanpa disengaja air mata Shabila menumpuk di kedua matanya. "Nenek sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, bang. Saat aku hampir satu minggu berada di rumah tante." "Apa? Meninggal! Kenapa kami tidak mengetahui itu?" Dengen sesegukan gadis itu menjelaskan." Keadaan di sana semakin kacau ketika nenek meninggal, tante yang dulunya selalu bersembunyi dari nenek ketika memukul ku, setelah nenek tiada dia semakin leluasa melakukan kekerasan kepadaku. Dia merampas uang tabunganku dan uang tabungan nenek yang ditinggalkan nenek untuk ku. Dia juga mengambil semua pemberian mama. Aku bingung saat itu, aku ingin menceritakannya kepada bang Andro dan kak Una. Tapi aku takut dikira menjual cerita sedih. Maka dari itu aku menyembunyikan yang sebenarnya, lagipula di sekitar sini hanya dengan keluarga bang Andro, aku dan nenek menjalin hubungan yang baik." Andro terdiam mendengarkan penuturan dari Shabila. "Bahkan uang jajan yang bang Andro, kak Una berikan juga diambil oleh tante. Dia tahu kalian sangat baik dan selalu memberiku jajan. Itulah mengapa tante mengatakan aku tidak perlu menyimpan kartu ATM milik mama karena pasti mendapatkannya dari kalian. Setiap kali bang Andro memberiku jajan, aku akan membeli keperluan dapur di rumah. Itu caraku agar uang itu tidak di ambil lagi,"ucap Shabila menangis. Lalu Shabila menatap lekat Andro. "Ternyata sebatang kara itu tidak enak ya, bang! Aku sudah tidak punya siapapun keluarga yang dekat denganku. Bahkan aku tidak mengenal papa dan keluarganya. Kenapa papa meninggalkan ku dengan mama hanya berdua saja. Kenapa papa tidak pernah mencariku? Apakah papa tahu anaknya seperti ini? Bahkan aku tidak punya saudara kandung tempat menyandar ku." Shabila menangis sesegukan di dekat Andro, dia sudah tidak tahan dengan perlakuan yang diterimanya selama ini. Teman tidak satu pun ingin berdekatan dengannya, tante Shabila pun ikut membenci dan mencacinya. Dia bingung dengan keadaanya hidupnya. Bullyan dari teman teman sekolah, siksaan dari keluarga kandung sendiri. Andro mengelus rambut Shabila dan menenangkannya."Sudah, jangan menangis lagi, abang janji wanita itu tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi. Dan untuk nenek Leni abang turut berduka cita. Kamu tidak sendiri Shabil, kamu punya kami di sini. Tidak perlu khawatir tentang Andra, jangan diambil hati perkataannya." Shabila mengangguk setuju, setidaknya dia punya Andro, Unna dan kedua orangtua Andra yang memberi perhatian kepadanya. Lalu Shabila menyerahkan map coklat kepada Andro. "Apa ini, Dek?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD