Tiwi baru saja turun dari angkot ketika sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan halaman rumah miliknya. rumah petak yang sudah lama didiami Tiwi itu tiba-tiba saja memiliki seorang tamu dengan tampilan necis dan memiliki mobil mewah.
"Tamunya Siapa ya? datang di siang hari bolong seperti ini? apa tamunya ibu Iya?" tanya Tiwi heran melihat mobil terparkir di halaman rumahnya.
"Assalamualaikum," sapa Tiwi sambil masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam. ibundanya sedang berbincang dengan seorang pria Tamu mereka sementara kakaknya sepertinya berada di dalam kamar.
"nah kebetulan kamu sudah pulang. kamu Tiwi kan? Ayo duduk sini sebentar ada yang ingin saya bicarakan sama kamu,"ucap si pria bermata tajam itu yang nampak sangat galak itu menyuruh diri untuk duduk di dekat ibunya.
ibu melirik Tiwi mengangguk. Tiwi pun menurut dan duduk di samping ibunya.
" ada apa ya Pak? "tanya Tiwi langsung bertanya tak mengerti.
"Jauhi Darwin!"ujar nya singkat.
Tiwi sangat kaget. Tenggorokan nya tercekat. Tak mampu dia berkata kata. Sementara ibundanya makin bingung dan gundah.
"Tiwi, apa benar kamu pacaran sama Darwin?"tanya ibu tiri Tiwi.
Tiwi mengangguk lemah.
"Memangnya salah saya apa pak? Kenapa harus menjauhi Darwin?"tanya Tiwi makin tak mengerti.
"kamu masih nggak ngerti salah kamu Apa? kamu tahu tidak siapa Darwin? laki laki yang berpacaran dengan kamu. Untuk apa kamu berpacaran dengan Darwin? apa kamu menginginkan hartanya? berapa yang kamu minta? apa segini cukup buat kamu?" tanya pria bermata tajam sambil menaruh sejumlah cek didepan Tiwi dan ibunya.
Bu Maria, sangat terkejut melihat cek didepannya. Maria, ibu tiri Tiwi itu ingin segera mengambilnya.
" sudah Tiwi mending kamu ambil saja, uangnya juga banyak. uang yang cukup besar untuk kita,"ucap Maria ditelinga Tiwi.
" Apa kamu tidak tahu siapa ibunya Darwin? Aku pastikan, beliau pasti bisa memberi nilai lebih Jika kamu menurut. Tapi satu hal, jangan pernah mendekati Darwin. apapun kamu minta pasti akan diberikannya. tapi hanya satu permintaan Nyonya Kenia. Jauhi Darwin. Jangan pernah mendekatinya sampai kapanpun juga. Bila perlu kau harus pindah sekolah.pindah rumah sekalian," ucap Pria itu.
"Tiwi pasti akan melakukannya Pak. Bapak Tenang saja. ya kan Tiwi ?" ucap Maria. kemudian mengambil secarik cek didepannya tersebut.
"Saya tidak butuh uang dari ibunya. Saya hanya pacaran dengan anaknya dan tak menginginkan apapun darinya. Kenapa harus menjauhinya? apa itu sebuah kesalahan?"tanya Tiwi.
"kamu belum mengerti juga rupanya Tiwi. Apa kamu tidak tahu seperti apa Nyonya Kenia? Nyonya sama sekali tidak menyukai orang miskin. wanita seperti mu ini di matanya hanya menginginkan uang uang dan uang. Nyonya sama sekali tidak ingin Darwin lupa diri dan jadi tidak fokus lagi atas tujuannya. fokus sekolah dan kemudian meneruskan bisnis ayahnya itu tugas Darwin. tetapi jika kau menolak itu terserah padamu.Nyonya akan mengurusnya sendiri setelah ini. Tapi kau jangan menyesal. karena ia tahu persis seperti apa keluargamu. Kau tinggal dengan ibu tiri. Ayahmu sudah lama meninggal dunia dan meninggalkan banyak hutang. sementara ibu kandungmu, Entah di mana kan? begitu sangat mudah sekali nyonya akan bisa meluluhlantakkan keluargamu ini. biasanya tahu di mana keberadaan Ibu kandungmu itu tanda sakit apa kau ini Ibumu itu terluka? atau kau ini agar ibu tiri Ibu ini dipecat dari pekerjaannya hingga akhirnya dia tak punya pekerjaan dan tidak bisa bekerja di manapun? itu terserah padamu saja Tiwi, "pria itu tersenyum sinis.
"Hei apa-apaan ini Pak. Tiwi yang sudah membuat dan punya masalah dengan Darwin dan ibunya, lantas kenapa harus aku juga yang menjadi korbannya? bagaimana kalau aku bener-bener dipecat dari pekerjaan itu? Ah ini benar-benar tidak adil padaku. Heu kalau sampai aku benar benar berhenti dari pekerjaanku, Lihat saja kau. aku akan habisi kau Tiwi. kau lihat saja nanti,"maki ibu Maria di hadapan Tiwi dengan kasar.
"Jadi bagaimana?"tanya pria itu lagi.
"Sudahlah Tiwi. Ambil saja uangnya. daripada rentenir datang kemari dan marah marah, mending beri saja apa yang dia mau bukan? nah sekarang sudah ada jalannya. Terima saja. Nurut aja apa kata Nyonya Kenia itu. Benar bukan?"bujuk Maria.
Tiwi tetap bersikeras menolak.
"Aku hanay berpacaran. tak sepersen pun aku menginginkan harta Darwin,"ucap Tiwi.
Tiwi berdiri.
"Maaf sepertinya bapak harus pulang,"ucap Tiwi kasar.
"Waah kamu cukup berani juga ya. Pilihan kamu seniri. Jadi, baiklah kalau itu maumu. ya sudah. tapi jangan menyesal atas keputusan mu itu ya. Aku bisa menjamin semua ini, Nyonya pasti tidak ingin kau masih dekat dengan anaknya. Dan yang satu lagi, yang pasti nyonya pasti tidak akan tinggal diam dan membiarkan kau senang,"ancam pria itu lalu berdiri dan pergi dari rumah Tiwi.
Tiwi tertegun melihat mobil pria itu sudah menjauh.
"Wah wah kamu berani juga ya, Awas saja kalau aku diberhentikan dari pekerjaanku. Habis kau! Akan ku jual rumah reotmu ini dan membayar hutang ayahmu. Aku tak mau dikejar kejar terus,"ucap Maria kasar.
"Berisik!!"Teriak Willy, kakak tiri Tiwi dari kamar. Sepertinya Willy terbangun karena baru saja Maria melempar piring sampai ke ruang tamu tempat Tiwi masih melamun.
Tiwi hanya diam lalu membereskan pecahan piring. Dirinya sudah terbiasa. Maria nampak pergi lewat pintu samping rumah mereka.
"Kenapa ya? Kok begitu sekali sikap ibunya Darwin? Apa aku ini sebuah ancaman? Kenapa kisahku jadi seperti kisah di tivi tivi saja ya, astaga,"ucap Tiwi pusing sendiri. Lalu melangkah masuk ke kamarnya, karena pun dibawah tudung nasi tak ada apa apa yang bisa di makannya untuk siang ini.
Hidup Tiwi makin tak jelas sejak mendiang ayahnya tiada. Fahri, menderita sakit ginjal. Butuh biaya berobat dan cuci darah hampir tiap pekan untuk bertahan hidup.
Hutang sana sini, dari tak berbunga, hingga dengan pinjaman berkali kali lipat bunganya. Semua dilakukan agar Fahri bisa berobat dan berharap segera pulih. Namun bukannya sembuh, Fahri rupanya mengalami lain yaitu penyakit diabetes yang terlambat ditangani. Fahri pun tiada dan meninggalkan hutang yang harus segera dibayar.
Sementara Mega Lestari, ibu kandung Tiwi berpisah dari ayahnya saat Tiwi masih umur tiga tahun. Ibunya tak tahan dengan sikap Fahri yang tak tegas bahkan selalu memihak ibunya yang memang tak suka pada Mega.Nenek Tiwi ingin Fahri, agar menikah dengan wanita pilihannya, Maria, janda anak satu yang cantik dan kaya.
Maria memang kaya saat dahulu. Tapi semua itu dari bisnis haram. Maria dulu suka berdagang minum minuman keras dipinggir kota. Saat menikah dengan Fahri, Maria diajak Fahri bertobat dan berhenti berjualan miras.
Maria menurut, asal kan semua kebutuhan nya dan Willy di penuhi. Ya semua di penuhi, bahkan cenderung dimanjakan dan selalu ada.
Hingga sekarang Fahri tiada, Maria masih suka membeli barang mewah dan mahal, membuat semua hutang yang ada kian menumpuk bukannya berkurang.
Makin sudah larut, Tiwi belum bisa memejamkan matanya. handphone Tiwi pun berbunyi. Terpajang nama Amelia. teman Tiwi menelpon.
"Tiwi, kau akan pergi ke fomnight lusa nanti?"tanya Amel sumringah.
"Entahlah,"ucap Tiwi singkat.
"Hei kenapa? Bukankah Sekarang kau sudah ada pasangan? Mengapa malas tidak mau akan pergi tidak? kau jangan males ya? Yang ada besok bisa bisa Darwin jadi rebutan cewek cewek disana. Kau mau, kekasih baru jadian itu jatuh ke pelukan wanita lain?"tanya Amel.
"Amelll! Apa-apaan kamu? Aku juga tidak ingin pergi dan aku juga tidak tahu akan menggunakan apa ke san. Lagipula, kau tahu aku juga tidak pernah datang ke acara seperti itu m Sebelumnya. Makanya aku tidak bisa datang,"ucap Tiwi makin sungkan.
"Eh acara ini kan di khusus kan untuk anak anak kelas sepuluh, angkatan kita, masak kamu nggak mau datang, pinjam gaunku mau? Sekalian nanti aku make upin saja, oke?"tawar Amelia lagi.