Little Angel

3752 Words
'Selamatkanlah malaikat kecil itu, Dari luka yang ditorehkan oleh sang Pangeran Iblis'.  Pagi ini terasa aneh di kediaman keluarga Hwan. Tidak, bukan itu.   Lebih tepatnya.. Semua orang di kediaman Hwan bersikap Aneh pada Arlen.  Meskipun pagi ini Kang Yemi sudah datang ke rumah dan menemui Jun. Namun yang mengalami keanehan adalah Arlen.  Untuk apa wanita itu pagi-pagi datang ke rumah orang?  Memangnya ia tidak ada kegiatan? Rumahnya kan jauh! Apa ia mau menumpang makan?  Memang tidak tahu lagi bagaimana jalan pikiran Yeoja satu itu. Yang jelas seisi rumah sangat tahu kalau Yemi ingin memanas-manasi Arlen.  Apa penghuni rumah itu akan membiarkan Yemi dan Jun menyakiti si kecil malaikat mereka lagi?? Jawabannya adalah tidak!!   Mereka muak pada Kang Yemi yang sering memerintah sesuka hati.  Beserta Jun yang sampai saat ini otaknya masih tumpul untuk menyadari kesalahannya.  Saat ini Jun, Arlen, Yemi dan Yeongi sedang sarapan di meja makan.  Yeongi duduk di dekat Jun, ia sengaja menjauhkan Arlen dari Jun dan Yemi.  "Jun Oppa.. Bukankah dia pelayanmu? Apa kalian sering makan bersama seperti ini?".  Yemi yang penasaran dengan keberadaan Yeongi, seorang pelayan yang dengan tenangnya makan bersama majikannya di meja makan yang sama.  "Ah.. Ne, Yeongi selalu makan bersamaku. Ia masih sekolah jadi setiap pagi kami akan makan bersama.  Yeongi sudah kuanggap adik kandung bagiku". Jun berkata santai sambil menyantap sarapannya.  "Hee.. begitu rupanya. Ah iya Oppa, tentang pernikahan kita nanti-".  "Ah iya Arlen! Aku baru ingat aku memasak beberapa Cupcake tadi pagi! Aku membuat banyak rasa keju!! Apa kau mau mencicipinya?!".  Yeongi langsung memotong ucapan Yemi dan dengan antusiasnya mengajak Arlen bicara.  Arlen yang awalnya mendengarkan Yemi kini fokusnya langsung tertuju pada Yeongi.  Matanya berbinar, Ia benar-benar suka Cupcake dengan krim keju. Apalagi yang memasaknya Yeongi!! lengkap sudah mood booster Arlen di pagi hari.  "Aku mau! Aku mau!". Ujar Arlen bersemangat.  "Astaga kau benar-benar seperti anak kecil. Baiklah akan kumasukkan sebagian ke dalam bekalmu!!  Pagi ini cukup makan satu saja! Nanti siang aku akan memberikan bagianmu yang lain.. Jadi habiskan sarapanmu sekarang!".  Sifat keibuan(?) Yeongi sering kumat ketika berada di dekat Arlen.  Kang Yemi tidak suka kalimatnya dipotong kini langsung menatap tajam pada Yeongi.  Sedangkan Yeongi? Ia membalas tatapan itu dengan senyuman meremehkan.  Terus berada di dekat Arlen membuat Yeongi sadar kalau ia adalah Kartu mati bagi para Yeoja yang mendekati Jun Hyung. Yeoja-Yeoja itu tak bisa melawannya.  Kini perhatiannya kembali pada Arlen. Yeongi gemas akan sikap Arlen saat ini.  Sejak ia bertemu dengan Heojin Appa, lalu melepaskan sebagian besar bebannya pada sang ayah, Sikap Arlen berubah menjadi lebih kekanakan.. Atau mungkin manja?  Apalagi akhir-akhir ini Jarang ada yang mengajak Arlen berkelahi.  Kadar anak berandalnya Arlen berkurang dan sekarang ia malah seperti bocah polos. Apa isi otak Arlen baru saja di reset oleh Heojin Appa?  Yeongi segera pergi ke dapur dan menyiapkan bekal mereka. Tapi bagaimana Yeongi tahu makanan kesukaan Arlen?  Tentu saja ia bertanya pada Heojin Appa beberapa hari lalu saat mereka berada di rumah sakit, ia bahkan menyimpan kontaknya untuk menanyakan hal-hal tentang Arlen.  Mendadak Yeongi sepertinya sudah jadi Fanboy nya Arlen.  "Jun Oppa.. kapan kau akan mengurus perceraianmu? Bukankah ini sudah terlalu lama".  "Nanti setelah Eomma dan Appa pulang..". Jun sebenarnya sudah jenuh mendengar kalimat yang sama dari Yemi.  Dan entah kenapa Jun kadang tidak suka ketika Yemi membahas masalah ini di depan Arlen.  ‘Benar juga.. Akhir-akhir ini aku semakin jarang berbicara dengannya,  Entah perasaanku saja atau ia memang jarang berbicara di hadapanku belakangan ini?,  Kalau dipikir kami memang jarang bertemu meskipun kami satu rumah.. Kenapa bisa begitu?  Sepertinya ini dimulai sejak hari pertama aku membawa Yemi.. Apa Arlen menghindariku?’. Jun terus berkutat dengan pikirannya.  "Hei Arl-...".  "Pagi Arlen... ". Rei datang dan langsung menyapa Arlen. Ia tak tahu kalau baru saja ia tengah memotong kalimat Jun.  Rei tersenyum lembut pada Arlen dan mengacak pelan rambutnya.  "Iisshh Hyung, jangan acak rambutku! Nanti Yeongi mengomel lagii..". Arlen menggerutu kesal.  "Ahaha.. Yeongi sudah seperti Eomma mu ne..". Rei hanya tertawa gemas melihat tingkah Arlen.  Ia bersyukur karena keadaan Arlen sudah lebih baik sekarang. Meskipun begitu banyak masalah menimpanya.  "Pagi Rei Oppa..". Yemi tersenyum manis pada Rei.  "Hm.. Pagi. Kau sudah ada di sini pagi-pagi Yemi ya? Apa kau ada urusan?". Tanya Rei yang penasaran dengan keberadaan Yemi sepagi ini.  "Ah.. Aku sedang membahas tentang pernikahan kami nanti Oppa, tak lama lagi aku akan jadi adik iparmu!". Yemi berujar senang.  Sementara Rei? Hanya membalasnya dengan gumaman dan senyuman palsunya.  'Yeoja tak tahu malu'. Batin Rei, Ia melihat ke arah Arlen yang agak murung.  Ah, sepertinya Rei salah mengambil topik. Namun wajah murung itu hanya bertahan sesaat.  Terutama ketika Yeongi membawakan Cupcake ke hadapan Arlen.  "Woaahhh.. Kelihatan begitu enak...".  "Tentu saja! Aku bersusah payah membuatnya untukmu!!".  "Gomawo Yeongi ya.. Hap.. Nyem~... Mwnis..(Maniss)!!!". Arlen kelihatan begitu senang..  "Astaga Arleh ah.. telan dulu makananmu baru bicara!".   "Ehehe, aku suka...". Arlen tersenyum begitu manis hingga menyisakan matanya yang tinggal segaris.  Ia begitu menikmati Cupcake buatan Yeongi.  Jun tertegun. Arlen jarang tersenyum seperti itu, terutama di hadapannya.  Atau mungkin ini yang pertama kalinya Jun melihat senyuman ceria Arlen?   Tanpa sadar ia ikut terkekeh pelan. Namun ekspresi itu tak bertahan lama, terutama saat Rei melakukan sesuatu pada Arlen.  "Hei Arlen, Makan krim itu pelan-pelan.. Mulutmu belepotan krim, benar-benar seperti anak kecil". Rei mencolek krim di bibir Arlen dengan jarinya.  Slurrph..   "Waahh.. krimnya enak! Benar-benar manis, Seperti yang membuatnya..". Rei tersenyum lembut, senyuman yang mengarah pada Yeongi.    Blusshh...   Yeongi dan Arlen blushing bersamaan. Jika Arlen gugup karena perlakuan Rei. Maka Yeongi Malu karena gombalan dari Rei.  Astaga Rei.. pagi-pagi sudah membuat dua uke salah tingkah.  Lebih tepatnya..  Dua uke salah tingkah...    Satu Yeoja menegak ludah...  Dan satu pria menahan amarah...    Siapa?  Siapa lagi kalau bukan si tuan angkuh bernama Hwan Jun Seon, dan orangnya sendiri masih tidak mengerti kenapa ia marah pada Rei dan Arlen.  Lihat!! Mahluk ini bahkan tidak peka pada dirinya sendiri!!  "Oh iya Rei Hyung, Kenapa belum bersiap? Apa kau tidak bekerja?".  Yeongi baru sadar kalau Rei yang biasanya sudah memakai setelan jasnya di pagi hari, kini hanya memakai pakaian santainya.  "Ah.. Mulai hari ini aku akan berangkat kerja lebih siang.  Paman Yuan Jang mengambil cuti untuk bertemu keluarganya. Jadi aku yang akan mengantar kalian".  "Ah, kalau begitu nanti siang kami akan pulang naik bis saja". Jelas Yeongi..  "Biar aku saja yang menjemput. Akan berbahaya jika kalian pulang sendiri". Jun tiba-tiba ikut menanggapi.  "Tidak apa Hyung, kami bisa pulang sendir, lagi pula akhir-akhir ini tidak ada yang mengganggu kami". Arlen berkata hati-hati.  "Bagaimana bisa aku percaya padamu?! Terakhir kali kalian pulang tanpa dijemput, kau sudah membuat Yeongi terluka". Jun berkata ketus.  "Ka-kalau begitu Yeongi saja yang pulang denganmu Hyung. Aku akan naik bis". Cicit Arlen.  Apa katanya? Sebegitu tidak maunyakah Arlen diantar olehnya? Hingga ia lebih memilih pulang sendiri?.  "Aku ingin pulang bersama Arlen!". Yeongi ikut berbicara.  "Tapi-".  "Sudahlah Jun ah. Kau terlalu menekan mereka, Arlen dan Yeongi itu sudah remaja. Ah iya, kalau begitu minta dijemput Dua teman Jae Joon saja.  Siapa namanya?? Aku lupa". Rei memotong kalimat Jun dan dengan tanpa rasa bersalah ia malah memikirkan hal lain.  "Maksudnya Yunho Hyung dan Seowon Hyung?". Tanya Yeongi, dan dibalas anggukan oleh Rei.  "Mereka Namja?". Tanya Jun.  "Ne.. Namja Hyung, Dari namanya saja sudah pasti namja kan?  Lagi pula tidak mungkin kan kami meminta Yeoja menjemput kami hanya untuk minta diantar pulang?!  Astaga.. membayangkannya saja sudah membuatku malu". - Yeongi.  "Tapi-".  "Oppa.. Ayo berangkat!!". Yemi yang sejak tadi kesal dijadikan kacang garing di sini, akhirnya ia pun mulai merengek.  'Sialan.. sudah berapa kali kalimatku dipotong pagi ini?!!'. Jun menggerutu kesal dalam hatinya.  'Astaga.. Noona ini awalnya saja terlihat dewasa, makin kesini dia makin manja! Dan juga menyebalkan!!'.  Yeongi merutuki keberadaan Yemi dan sikap menyebalkannya.  "Jun ah, Kau berangkat saja bersama Yemi, tidak perlu mengkhawatirkan Arlen dan Yeongi.  Lagi pula selama ini kau juga tak pernah menjemput mereka kan?".    JLEB!  "Mana sempat Hyung, Jun Hyung kan terlalu sibuk. Sibuk membuang waktunya dengan Yeoja tak jelas". Kalimat Yeongi cukup pedas untuk Jun dan Yemi.    Checkmate!!!  "Su-sudahlah, ayo Yeongi ya kita berangkat, nanti terlambat! Jae Joon pasti akan mengomeli kita nanti".  Arlen segera menarik Yeongi dan Rei agar segera berangkat, meninggalkan wajah keruh Kang Yemi dan juga Jun.  Arlen heran dengan tingkah Rei Hyung dan juga Yeongi, Karena biasanya mereka tak pernah menyindir-nyindir Jun Hyung dan Yemi.  Tapi yang tadi itu jelas sekali, Apa yang terjadi pada mereka?.    Saat di dalam mobil    "Emm.. Aku agak mengantuk... aku tidur sebentar...".  Arlen langsung tertidur di kursi belakang tanpa menunggu jawaban dari Yeongi dan Rei. Sementara Yeongi dan Rei duduk di depan.  "Hyung... Apa menurutmu sikap Arlen seperti berubah menjadi... polos?  Aku rasa banyak perubahan pada Arlen sejak ia berhenti melawan dan cari ribut dengan Jun Hyung, atau lebih tepatnya.. sepertinya ia menghindari Jun Hyung".  Yeongi mengingat kembali tingkah Arlen akhir-akhir ini.  "Hm?... Kalau menurut Hyung Arlen malah tidak berubah sama sekali..". Rei menanggapi Yeongi.  "Benarkah?"    "Pada dasarnya Arlen itu memang agak polos. Ia hanya nakal dalam hal berkelahi dan mengumpat kasar pada orang yang cari gara-gara dengannya.  Karena lebih banyak berkelahi , Hyung rasa ia sedikit tertinggal tentang pergaulan dan Asmara.  Jadi Arlen itu hanya fisiknya yang berkembang, otaknya tetap saja polos   Arlen sudah tak menganggap Jun musuh. Terutama akhir-akhir ini memang jarang yang mengganggu Arlen, sikap polosnya yang seperti anak kecil itu jadi keluar".  Rei terus menanggapi Yeongi sambil mengemudi.  "Ne Hyung, kau benar. Sikap Arlen itu sering berubah-rubah.  Kadang ia jadi anak berandalan, Kadang ia bersikap lebih dewasa dari umurnya, dan saat ini aku seperti melihat Arlen yang berumur lima tahun...".  Yeongi tertawa pelan mengingat tingkah laku Arlen.  "Sikap Arlen itu menyesuaikan kondisinya Yeongi ya. Tapi kita tahu satu hal, Arlen akan bersikap dewasa ketika masalah mulai menimpanya,  Dan ia akan bersikap seperti anak kecil ketika sudah tak kuat menanggung beban itu sendirian".  "Benar.. Arlen sudah cukup berjuang. Aku dengar keadaan Herly momma sudah mulai membaik.  Walaupun Herly momma belum juga terbangun, ia berhasil melewati masa kritisnya. Ini sudah lewat 5 hari sejak Arlen menangis.  Tangisan pertama Arlen setelah satu bulan pernikahannya..". Raut wajah Yeongi berubah sendu.  "Tangisan kalian..". Rei meralat kalimat dengan senyuman lembutnya.  "Mi-mian Hyung.. kau jadi melihat sisi lemahku..". Yeongi menunduk.  "Tidak masalah, Yeongi itu seperti kebalikannya Arlen. Kalian itu cocok untuk saling mendukung.  Karena saat Arlen menjadi manja, kau bersikap dewasa dengan menjaganya.  Dan ketika kau sendiri mulai jatuh, Arlen ada di sana untuk membantu menopang bebanmu..   Bagaimana mengatakannya ya.. Kalian seperti menjadi dewasa dan kekanakan secara bergantian.. Benar-benar persahabatan yang adil.. ". Rei terkekeh pelan.  "Hyung memperhatikan kami eoh?". Alis Yeongi terangkat sebelah, heran dengan semua kalimat Rei.  "Tentu saja, Hyung selalu memperhatikan kalian, terutama kau Yeongi ya..  Kau orang yang berharga bagi Hyung.. Sejak dulu". Rei mengatakannya dengan tulus, membuat Yeongi tertegun.  "Berhentilah... membuatku berharap Hyung. Aku.. hanyalah pelayanmu".  Sendu Yeongi dengan suara kecil yang tak dapat di dengar oleh Rei.  Mobil itu sudah tiba di gerbang sekolah. Seperti biasa Jae sudah menunggu mereka di sana.  "Arlen ah, Ayo bangun.. kita sudah sampai". Yeongi mengguncang pelan tubuh Arlen.  "Enghh... aku masih mengantuk..". Arlen keluar mobil dengan lesu.  "Kau kenapa Arlen ah? Sepertinya kurang tidur..". Jae menatap khawatir pada Arlen.  "Rmm.. aku hanya tak bisa tidur semalam". Gumam Arlen setengah bangun.  "Naik ke punggungku. Aku gendong sampai kelas, kau tidur saja.. ". Jae langsung berjongkok di depan Arlen.  "Jinja?! Gomawo Jae ah..!". Arlen tanpa ragu-ragu langsung naik ke gendongan Jae Joon. Kemudian tertidur di sana.  "Astaga anak ini... Umm Hyung kami sekolah dulu..". Pamit Yeongi pada Rei.  "Ne.. belajar yang benar". Rei mengacak pelan rambut Yeongi.  "Iisshh.. Jangan diacak!! Ne Hyung.. kami masuk dulu, Aaa!! Arlen ah pegangan yang benar nanti jatuh!".  Yeongi langsung menyusul Jae Joon yang tengah menggendong Arlen ke dalam gedung sekolah.  Banyak pasang mata yang diam-diam curi pandang pada ketiga sekawan itu.  Arlen tertidur di gendongan Jae adalah pemandangan yang begitu manis.  Terutama Arlen sekarang datang tanpa memar di wajah dan tubuhnya lagi, dan terlihatlah wajah mulus nan manis itu tanpa hiasan darah dan luka-luka..  "Maaf Jae ah.. Jadi membuatmu harus menggendong Arlen. Apa kau baik-baik saja?? Arlen pasti berat". Yeongi khawatir pada Jae.  "Emm.. tidak juga, Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku ingin bertanya sesuatu, apa akhir-akhir ini Arlen jarang makan?  Karena akan sangat aneh kalau Arlen sampai menolak masakanmu". Tanya Jae.  "Kalau dipikir.. memang akhir-akhir ini makanannya sering tidak habis.  Dan saat malam ia tidak mau dibuatkan makanan olehku, ia jarang mau makan kalau Jun Hyung belum tidur". Yeongi heran karena Jae bertanya tiba-tiba.  "Aku kadang sering menggendong Arlen ke ruang kesehatan, terutama saat ia selesai berkelahi..  Tapi... saat ini tubuhnya benar-benar ringan. Pastikan agar Arlen menghabiskan makanannya Yeongi ya..  Aku khawatir dengan kesehatannya, Dia sepertinya terlalu sering stres akhir-akhir ini".  Jae berkata pelan, tak ingin membangunkan Arlen yang tertidur pulas di gendongannya.  "Umm.. Ne.. " Yeongi menatap khawatir pada Arlen. Ia baru sadar tentang hal itu.    Waktu istirahat tiba, Seperti biasa Arlen, Yeongi, dan Jae Joon akan makan di kelas karena mereka sering membawa bekal.  "Arlen ah! Hari ini aku suapi saja, kau harus menghabiskan bekalnya!  Aku sudah susah payah membuatkanmu Cupcake juga! kalau tidak dihabiskan aku benar-benar akan marah!".   Yeongi langsung mengambil bekal di tangan Arlen.  "Eh... um.. ne..". Dan begitulah Arlen makan siang dengan disuapi oleh Yeongi.  Walaupun sebenarnya Arlen bingung kenapa Yeongi tiba-tiba masuk ke dalam mode emak-emak galak.  "Arlen ah, Apa pekerjaanmu di Cafe itu berat?".  Tanya Jae Joon. Arlen benar-benar mengambil pekerjaan paruh waktu saat ini. Itu sudah terjadi sejak Tiga hari yang lalu.  Mereka membantu Arlen mencari pekerjaan. Dan syukurlah karena pekerjaan di sana dibayar cukup banyak.  Karena sebenarnya, Cafe itu adalah milik temannya Kazue.  Orang-orang yang saat itu menemani Arlen di rumah sakit, sudah sepakat untuk membantu Arlen diam-diam.  Karena Arlen pasti akan menolak jika mereka terang-terangan membantunya. Karena itulah teman-teman Arlen merekomendasikan Cafe itu padanya.  "Pekerjaanku tidak berat Jae ah, lagi pula hanya setengah hari.  Kau tidak perlu khawatir, Appa juga membantuku membayar pinjaman Rei Hyung. Aku bersyukur Eomma sudah membaik sekarang" Jelas Arlen.  "Baguslah, semangat Arlen ah ". Jae dan Yeongi menyemangati Arlen, dibalas anggukan semangat dari Arlen sendiri.    Sepulang sekolah Arlen langsung diantar oleh Yunho ke tempat kerja, Sementara Yeongi diantar oleh Seowon pulang ke rumah.  Jae Joon sendiri memilih pulang naik bus seperti sebelumnya.  Selalu seperti itu sejak beberapa hari ini, dan kadang Yeongi datang untuk membawakan Arlen makanan.  Malam semakin larut, sekarang sudah memasuki Jam 1 pagi.  Jun terbangun dimalam hari, ia haus, dan hari ini ia lupa meminta pelayan membawakan minuman ke kamarnya.  Jun berjalan ke dapur. Namun matanya memicing karena ada seseorang di sana.  Siapa yang terbangun sepagi ini? Selain Jun sendiri tentunya, apa orang itu juga haus?.  Jun mendekat perlahan. Hingga sampai di dekat pintu, barulah ia tahu kalau itu Arlen, ia sedang makan.  Kenapa Arlen makan sendirian di jam seperti ini?? Apa ia tidak makan malam?  Ah.. bodohnya Jun. Ia lupa kalau Akhir-akhir ini ia jarang makan malam bersama Arlen, karena kadang Yemi sering datang.  Jadi mereka sering makan malam terpisah.  Tapi apa harus selarut ini?  Jun terdiam di sana tanpa ada niat mengganggu acara makan si remaja kecil. Dan Arlen sama sekali tidak menyadari keberadaan Jun.  'Perasaanku saja atau memang ia hanya makan sedikit? Seingatku porsi makan Arlen itu cukup banyak. Tapi sekarang makanannya tidak dihabiskan..'. Batin Jun keheranan.  Kini Jun melihat gerak gerik Arlen yang baru saja selesai makan. Ia mengambil minum dan mengeluarkan sesuatu dari kantong piamanya..  Apa itu?..  Obat?!  Jun tahu obat itu. Itu obat tidur, sejak kapan Arlen mulai minum obat seperti itu? Arlen kan jarang insomnia.  Lalu tanpa babibu lagi Jun segera mendekati Arlen dan menarik tangannya yang hendak meminum obat itu.  "Apa yang kau lakukan?!". Jun menatap tajam pada Arlen.  "Hyung?!.. Ke-kenapa Hyung masih bangun??". Arlen sangat terkejut, tidak biasanya Jun berkeliaran di dapur malam-malam begini.  "Untuk apa kau meminum obat itu?! Kau tahu dosis obat itu cukup tinggi!! Dari mana kau membelinya?!  Aku yakin kau tidak konsultasi dulu pada dokter!! Kau masih kecil, Kau bisa tidur tanpa harus meminum obat seperti itu!!".   Entah apa yang membuat emosi Jun meluap. Namun Jun begitu marah saat melihat Arlen meminum obat itu.  Ada yang aneh dengan anak ini, Arlen yang minum obat adalah hal yang langka!  Karena bocah ini benar-benar benci obat, Ia bahkan sering memuntahkan obat apa pun yang diberikan Yeongi. Meskipun itu untuk kesembuhannya.  "Apa kau... Tidak bisa tidur?". Jun bertanya lagi.  Arlen terkesiap, Tidak menyangka Jun akan menanyakan tentang itu.  Dan Arlen hanya bisa mengangguk pelan sambil menunduk. Ia takut melihat Jun yang tengah marah.  "Sudah berapa lama kau meminumnya?". Jun berkata dingin, namun Arlen enggan menjawab.  "Jawab!!". Jun meninggikan suaranya.  "D-dua minggu yang lalu..". Cicit Arlen.  Selama itu?!.. Tunggu... dua minggu yang lalu? Itu artinya.. Beberapa hari setelah Jun mengatakan akan menceraikan Arlen?  Apa anak ini benar-benar terpuruk karena ia mau menceraikannya. Jun mulai melunak.  "Apa kau...". Kalimat Jun terhenti saat Arlen kembali membuka mulutnya.  "Mi-mianhae Hyung.. A-aku akan segera tidur".  Arlen terus bicara sambil menunduk, ia enggan menatap Jun lalu kemudian ia langsung kembali ke kamarnya tanpa sempat Jun bertanya.  "Arlen.. menjauhiku?".  Ke esokkan Harinya Arlen minta diantar sekolah lebih awal.  Pagi ini Kang Yemi tidak datang ke rumah. Saat ini Jun dan Rei sedang berada di ruang keluarga.  "Hei Jun ah, kau tak berangkat ke kantor?? Tidak biasanya kau berangkat siang".  Rei yang penasaran dengan keberadaan sang adik akhirnya bertanya.  "Hyung.. Ada yang ingin aku tanyakan padamu".  "Hm? Katakan saja.." Rei menyeruput kopinya, duduk di sofa tepat di samping Jun.  "Apa yang terjadi pada Arlen?". Kalimat Jun membuat Rei menghentikan acara minumnya.   "Untuk apa kau bertanya?". Rei bertanya dengan nada yang dingin.  "Aku hanya ingin tahu. Lagi pula wajar kan aku menanyakannya, dia masih istriku".  Kalimat Jun membuat Rei mendengus kesal. Tentu saja kesal, ke mana saja otak tumpul itu berada.  Ia baru menyebut Arlen sebagai istrinya setelah banyak melukai anak itu.  "Baru sekarang kau menyebutnya istrimu??  Punya nyali juga kau masih menganggap Arlen milikmu setelah melukainya, mencampakkannya, mengkhianatinya, dan bilang akan menceraikannya.  Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu Jun". Rei menatap geli pada adiknya.  Kalimat Rei tepat sasaran, Namun masih ada yang mengganjal di pikiran Jun, jadi ia tak akan menghiraukan ucapan Rei dan kemudian bertanya lagi.  "Semalam, Aku menemukan Arlen di dapur sedang meminum sesuatu.  Itu obat tidur dengan dosis tinggi. Aku tahu Arlen meminum itu tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter, jadwal dan dosis obatnya saja sudah salah.  Dan ia bilang ia meminum itu sejak dua minggu yang lalu, Kau tahu obat itu berbahaya jika diminum dalam jangka waktu panjang untuk anak remaja sepertinya..".  Rei terkejut, Ia baru tahu tentang hal itu.  Arlen tak pernah bicara apa pun tentang kondisinya. Pantas ia sering terlihat mengantuk disiang hari.  "Hh..." Rei menghembuskan nafas berat.. Ia membuka ponselnya.. menyetel sebuah rekaman dan memberikannya pada Jun.  Jun yang tidak mengerti langsung saja menonton rekaman itu, Semuanya.  Tak ada satu pun yang terlewat.. Dan hasilnya, ia makin terkejut.  "I-ini..". Jun menatap tak percaya pada tayangan di layar kecil yang ia genggam.  Itu adalah rekaman saat Rei datang ke rumah sakit..  Awalnya ia hanya ingin merekam kondisi nyonya Herly untuk diberikan pada Eomma dan Appa nya ketika mereka pulang nanti.  Namun tidak menyangka akan mendapatkan rekaman itu dengan kedatangan Arlen lebih dulu di rumah sakit.  Semuanya terekam, Tak ada yang sadar kalau Rei diam-diam menghidupkan perekam video pada ponsel di saku jasnya.  Semua kejadian hari itu terekam jelas, dari sejak Rei datang..  Tangisan Arlen dan Yeongi.. Lalu, tentang Arlen yang berniat merahasiakan masalah yang menimpanya dari Jun.  "H-Hyung.. kapan ini diambil?". Tangan Jun gemetar. Ia tak tahu masalah yang ditanggung Arlen.  "Sekitar lima hari yang lalu, dan saat ini Arlen bekerja di Cafe milik temannya Kazue, Sekretarismu.  Ia bersikukuh ingin mengembalikan uang yang kuberikan untuk pengobatan Herly Momma".  Bahkan Kazue juga tahu. Hanya ia yang tidak tahu tentang semua ini.  Atau mungkin, Jun yang terlalu menutup matanya pada kehadiran Arlen, Semua masalahnya, dan semua beban yang ditanggungnya, termasuk dengan perasaan bocah itu.  "Penyebab utama semua keanehan Arlen, Dan semua rasa sakitnya, Itu kau Jun.  Dan kau menyia-nyiakan anak sebaik dia hanya karena ia seorang namja.  Ia menerima banyak rasa sakit darimu. tapi ia tak pernah mau membalasmu.  Jangankan membalasmu.. cukup beritahu rasa sakitnya padamu saja, aku yakin anak itu tidak sanggup”.  Rei kembali meminum kopinya, Saat ini Rei begitu khawatir dengan keadaan Arlen.  Mendengar cerita Jun, Rei semakin takut jika Arlen nanti semakin depresi. Rei hanya berharap semoga Herly Momma segera membuka matanya.  Jika saja makhluk menyebalkan di hadapan Rei ini bisa sedikit lebih peka.  "Kenapa? kenapa Arlen merahasiakannya dariku?". Jun menatap Rei dengan wajah pucat.  "Karena kau membencinya.. Karena Arlen berpikiran ia adalah kesialan bagimu.  Dan ia berpikir tak ada artinya jika memberitahumu. Ia yakin kau sendiri tak akan peduli, karena kau akan segera menceraikannya.  Arlen menganggap urusannya tak lagi ada hubungannya dengan keluarga Hwan. Jadi ia memilih menanggung semua itu sendirian.  Arlen memang kuat, Tapi Arlen tetaplah bocah remaja biasa. Ia butuh seseorang untuk berdiri di sampingnya, dan membantunya bangkit.  Meski aku tahu saat ini dalam dirinya Arlen sudah hancur berkeping keping. Dan yang menghancurkan Arlen.. Adalah kau Jun..".  Rei mengambil kembali ponselnya. Menatap dingin pada Jun, ia benar-benar kesal luar biasa pada sang adik.  Rei kemudian meninggalkan Jun yang merenung sendirian di sana.  Jun salah.. Jun terlalu menutup matanya dari Arlen. Mereka benar, hanya karena Arlen namja, ia tak seharusnya disalahkan.  Arlen tidak salah, Sejak awal dia juga hanya korban perjodohan ini.  Dan harusnya Jun bisa lebih menghargai Arlen. Karena bukan hanya Jun yang mendapatkan masalah akibat pernikahan ini.  Tapi Arlen juga...  Meskipun tidak bisa memberikan keturunan seperti para Yeoja. Tapi Arlen tak pernah menuntut apa pun padanya seperti para Yeoja yang ia kenal diluar sana.  Arlen hanya ingin keberadaannya diterima oleh Jun. Dan Jun menyia-nyiakan perasaan tulus Arlen yang selama ini bertahan di sisinya.  Karena jika memang Arlen tidak menerima Jun, Pasti sudah sejak awal Arlen memilih kabur atau langsung menyetujui perceraian itu.  Jun sudah.. mematahkan sayap seorang malaikat kecil. Dan membuat malaikat itu jatuh ke dalam jurang penuh rasa sakit.  Memaksanya memanjat sendirian tanpa sayap.  Berat.. dan penuh luka.. Ia hanya bisa bertahan, hanya untuk menggapai Jun.  Sang pangeran Iblis yang terus menerus menyakitinya.  Ponsel Jun berdering, Ia segera mengangkatnya dan terdengar suara familiar dari seberang sana.  "Sajangnim, Nona Kang Yemi saat ini sedang menunggu Anda di ruang kerja Anda".  Yang menelepon Jun adalah Kazue. Jun memang terlambat berangkat hari ini. Wanita itu pasti sudah menunggunya sejak tadi.  "Bagus, Katakan aku akan segera datang ke sana. Ada yang ingin aku bicarakan dengan wanita itu".  Jun segera menyambar kunci mobilnya. Melaju cepat menuju kantornya.   Ia harus segera menyelesaikan semua masalah ini.  Sebelum ia benar-benar kehilangan Malaikat kecilnya yang berharga.    ❖❖❖ TBC ❖❖❖
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD