My Love Isn't Mine

3015 Words
'Jika kau terserang penyakin bernama Jatuh Cinta, Itu artinya hatimu telah diambil olehnya'.   Saat ini Arlen, Yeongi, dan Jae sedang menunggu Kwan Yunho dan kawan-kawannya, sudah lewat beberapa menit sejak Jae menelepon Yunho.  Kini Yeongi dan Jae sedang fokus memperhatikan ke arah jalan.. menanti jemputan yang datang.  Sementara Arlen terus bersandar memeluk Yeongi, menumpukan kepalanya di pundak sang sahabat.   Saat ini ia butuh tempat untuk bersandar.  Yeongi tak keberatan, meskipun banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.  Namun bagi Yeongi yang penting saat ini adalah, ia harus membantu meringankan beban Arlen semampunya.  "Ah itu mereka!". Jae langsung melambaikan tangannya pada ketiga motor yang baru saja datang.  Yeongi melihat ke arah yang ditunjukkan Jae.  Yunho benar-benar muncul bersama teman-temannya, mereka berhenti tepat di depan Jae.  "Jae Joon Ah, Apa yang terjadi? Kau membuatku kerepotan mencari orang yang senggang memberi tumpangan, kenapa mendadak sekali?!".  Yunho mengoceh sambil memberikan Helmnya pada Jae.  "Orang tua Arlen, mereka kecelakaan. Dan saat ini ibunya Arlen sedang kritis, kami ingin langsung pergi ke sana..". Jae segera meraih helmnya.  "Kenapa baru mengatakannya sekarang?! Arlen ah.. kau mau naik denganku?". Tanya Yunho pada Arlen yang masih memeluk Yeongi.  "Arlen ah.. Ayo pergi, kau harus segera pergi.. Eomma mu menunggu di sana. Sepertinya kita tidak bisa dibonceng berdua.  Apa kau tidak apa-apa sendirian? Aku khawatir kau jatuh..". Yeongi melepas pelan Pelukan Arlen.  "Emm.. Yunho Ya, mungkin sebaiknya Arlen pergi denganku. Kau yang menuntun jalan.  Akan berbahaya jika Arlen dibonceng olehmu. Kau naik motor lebih brutal daripada aku".  Choi Seowon, Sunbae sekaligus sahabat Yunho di universitasnya, memberikan saran pada si ketua.  "Kau benar Hyung, Sebaiknya Arlen ikut denganmu. Arlen ah.. Kau naik dengan Seowon Hyung ya".  Jelas Yunho yang berbicara lembut pada Arlen.  "Arlen.. ayo naik..". Seowon menarik pelan tangan Arlen, remaja yang ada di hadapannya kini seperti baru saja kehilangan separuh nyawanya.  "Ayo cepat bergegas! Aku dan Yunho Hyung di depan. Ah iya Arlen ah, aku pinjam ponselmu. Alamatnya ada di sana kan?".  Arlen hanya mengangguk pelan menjawab Jae. Orang-orang di sana tampak begitu khawatir melihat Arlen.  "Tak Apa Arlen Ah. Kau harus kuat untuk menghadapi masalah, karena kita tidak tahu berapa banyak masalah yang akan datang.  Jadi jangan jatuh dulu ketika satu atau dua masalah menghadangmu.  Lagi pula kau punya teman-teman yang bisa diandalkan di sekitarmu". Seowon tersenyum lembut dan mengusap kepala Arlen.  "Umm.. Ne.. Gomawo Hyung..". Arlen merasa lebih tenang berkat Seowon.  "Yunho Hyung.. Apa jangan-jangan Seowon Hyung menyukai Arlen?.." Bisik Jae pada Yunho.  "Hm? Tenang saja, itu tak akan terjadi. Tidak akan, karena Seowon Hyung itu seorang bottom, uke, dan tipenya adalah pria dewasa.  Arlen hanya akan dianggap adik baginya.. ". Yunho balik berbisik pada Jae.  "Hoo.. begitu".  "Arlen ah.. Jangan jatuh ne, pegangan yang erat pada Seowon Hyung". Yeongi berucap dengan nada yang terdengar khawatir.  Arlen yang tengah terpuruk, terlihat seperti anak kecil yang tersesat baginya,  dan ia takut jika saja tiba-tiba sahabatnya itu menjatuhkan dirinya dari atas motor karena depresi atau semacamnya.  "Jangan macam-macam ne.. Arlen ah, kau tidak sendirian.. aku selalu menemanimu". Yeongi mengusap kepala Arlen.  "Aku tak apa Yeongi ya, aku tidak akan berbuat nekat. Eomma masih membutuhkanku di sini.. Gomawo Yeongi ya".  Arlen mencoba kembali tersenyum, dan membuat Yeongi mau tidak mau harus mengangguk.  Kemudian Yeongi menaiki motor teman Yunho yang satunya.  Arlen tahu Yeongi Khawatir, dan ia tahu apa yang ada di pikiran Yeongi saat ini. Ia tidak akan bertindak senekat itu...  Iya...    Tidak akan..    Kecuali...  Jika semuanya..    Semakin berat untuk ia tanggung...    Ketiga sahabat itu, beserta Yunho dan Seowon, sudah sampai dan memasuki rumah sakit yang tertera di alamat yang Arlen dapat.  Sementara teman Yunho yang satunya pergi karena ada urusan lain.  Para pemuda itu sekarang langsung mencari kamar tempat kedua orang tua Arlen di rawat. Mereka mulai bertanya dan berkeliling.  "Apa Anda.. Kazue Kim?". Arlen bertanya pada pria yang tengah duduk di depan sebuah ruangan.  "Ah ne.. Kau pasti Arlen Hwan". Pria itu langsung berdiri.  "Bagaimana keadaan orang tuaku?".  "Ibumu baru selesai ditangani. Seperti yang kau tahu.. Beliau kritis dan saat ini masih terbaring di dalam sana".  Kazue menunjuk ruangan yang sejak tadi ia tunggui.  "Lalu.. Appa?"  "Appa mu baik-baik saja, ia hanya terkena beberapa luka sobek. Sepertinya ibumu melindunginya tepat saat kecelakaan terjadi".  Arlen dan yang lainnya sedikit bernafas lega, walaupun mereka masih khawatir dengan keadaan ibu Arlen.  "Arlen!! Yeongi!!.. Bagaimana keadaan Eomma dan Appa Han?". Rei tiba-tiba muncul dan berlari ke arah mereka.  "Rei Hyung?? kenapa ada di sini? Seingatku aku belum mengabari Hyung..". Yeongi dan Arlen kaget dengan kedatangan Rei.  "Kazue meneleponku saat ia selesai membawa orang tua Arlen ke rumah sakit...  Namun aku telat datang karena sedang ada meeting tadi" Jelas Rei.  "Kalian... saling kenal?". Tanya Arlen yang keheranan.  "Ah, Sebenarnya aku datang di pernikahanmu Arlen ah.. Aku sekretaris pribadi Hwan Jun Seon, suamimu".  Jelas Kazue yang tidak hanya membuat Arlen kaget, tapi juga Jae, Yunho, dan Seowon.  "Tunggu dulu..! Menikah?! Arlen.. Apa maksudnya?! Kau tak menceritakan apa pun padaku..". Jae menatap penuh tanya pada Arlen   "Ah.. tadinya aku mau menceritakannya padamu saat di sekolah.. tapi aku sering lupa.  Emm.. Aku memang sudah menikah Jae Joon ah.. Dengan seorang Namja, tiga minggu yang lalu..". Arlen berkata pelan.  "Dan aku.. pelayan di rumah itu". Yeongi ikut berbicara..  "Astaga.. kenapa kalian tidak menceritakan hal penting seperti itu lebih cepat?! Aku ini sahabat kalian.  Kalian harusnya lebih terbuka padaku". Jae memijat pelipisnya lelah.  "Mian.. Jae ya..". Arlen dan Yeongi menunduk..  "Tenanglah Jae ya, Arlen dan Yeongi mungkin tak bisa menceritakannya karena banyak permasalahan di rumah, tolong maafkan mereka.. ".  Rei mencoba menenangkan sahabat dari kedua adiknya.  "Um.. Ne.. Arasseo Hyung.. Lalu.. Hyung, kau siapanya Arlen?".  Tanya Jae yang sejak tadi bingung dengan keberadaan Rei. Sementara Yunho dan Seowon memilih mendengarkan.  "Ah Maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Aku kakak ipar Arlen, Hwan Rei Soo imnida..". Kalimat Rei membuat Jae, Yunho, dan Seowon kembali terkejut.  "J-Jung Jae Joon imnida. Mereka temanku, Yunho Hyung dan Seowon Hyung. Mereka yang mengantarkan kami kesini".  Dan keduanya mengangguk pelan setelah Jae memperkenalkan mereka.  "Kazue-ssi.. boleh aku melihat keadaan Appa ku?". Tanya Arlen yang memecah suasana.  "Tentu saja Arlen ah, Appa mu dirawat di ruangan lain. Dan jangan terlalu formal padaku, panggil saja Hyung.  Aku teman Jun saat masih kuliah. Kalau begitu ayo aku antar ke ruangan Appa mu". Kalimat Kazue dibalas dengan anggukan pelan dari Arlen.  Arlen, Yeongi, Rei dan Kazue memasuki kamar tempat Appa Heojin dirawat. Sedangkan tiga lainnya memilih menunggu diluar.  "Appa..?". Arlen mendekat perlahan , Appa nya tengah duduk di tepi ranjang dengan tubuh penuh luka.  Wajahnya juga tampak pucat. Arlen segera menghampiri sang Appa dan kemudian memeluknya.  "Arlen ah?... Kau datang?" Sang Appa balas memeluk putra kesayangannya.  "Hiks.. Ne Appa, Arlen datang menjenguk, Arlen rindu Appa".  Tangisan Arlen pecah saat berada di dalam dekapan sang ayah.   Masalah yang terus menimpanya membuatnya tak bisa menahan tangisnya lagi, terutama ketika ia bisa memeluk sang Appa setelah beberapa minggu tak bertemu. Mereka jarang terpisah lama.  "Arlen ah, maafkan Appa, Ibumu.. ibumu terluka karena Appa”.  Sang Appa memeluk erat Arlen, melepaskan kesedihan mereka satu sama lain.  "Tak apa.. Itu bukan salah Appa, Appa tak perlu menyalahkan diri.. Arlen senang Appa selamat. Hiks.. Arlen senang.. itu saja sudah cukup..".    ‘Ah.. Benar, sudah cukup dengan semua ujian ini..’    "Sudah cukup... Hiks..".. Arlen meremat kuat punggung sang Appa.    ‘Aku sudah cukup merasakan sakit’.    "Hiks.. Semua ini sudah cukup...!".  Arlen menumpukan kepalanya pada bahu sang Appa, menangis tertahan menahan sesak di dadanya.  Rasa sakit, Kesedihan, Emosi.. Semuanya seolah menusuk hingga ke dalam jantungnya, benar-benar menyakitkan..    Lelah...  Ia Lelah..  Namun ia tahu semua masalah ini tak akan segera berakhir di sini.    "Appa... hiks..". Arlen menggumamkan nama sang Appa dengan tubuh bergetar.  Sang Appa tahu jika anak kesayangannya tengah mengalami ujian berat. Ia sangat tahu sifat Arlen.  "Arlen ah, Kau sudah berusaha keras. Kau kuat.. Seperti Eomma mu..".  Sang Appa mengecup pelan pucuk kepala Arlen. Lalu mengusap pelan punggungnya.  Arlen langsung berpindah menyembunyikan wajahnya di d**a sang Appa.  Tangannya terus meremat kuat punggung sang Appa hingga membuat kuku-kukunya memutih. Membuat pakaian sang Appa bisa saja sobek karena kuatnya rematan Arlen.  "Hiks... HUWAAAAAA....!!!!!". Dan detik itu juga pertahanannya runtuh. Tangisannya benar-benar pecah.  Ingatkan Yeongi dan Rei jika Sikap Arlen akan berubah jika ia berada di dekat orang yang ia sayangi.  Dan inilah Arlen yang sebenarnya.  Dibalik sikap nakal anak berandalan itu. Arlen Hanyalah remaja biasa yang begitu menyayangi keluarganya.  Ia terlihat kuat diluar, namun ada banyak kelemahan di dalam sana.    Sakit...    Sangat sakit...    Tangisan pilu Arlen seolah bukan hanya tangisan lega melihat Appa nya baik-baik saja.  Namun tangisan itu disertai banyak rasa sakit. Arlen melepaskan semua bebannya di dalam dekapan sang Appa.  Menangis kencang hingga dadanya terasa sakit...  Meremat kuat punggung sang Appa seolah ia tengah ditikam pedang tanpa henti..  Tangisan pilu Arlen membuat Ketiga orang yang menemaninya tertegun.  Mereka ikut bersedih. Bahkan Kazue yang tidak tahu masalah yang di tanggung anak itu, merasakan ada beban yang begitu berat di sana.  Yeongi menunduk, air matanya ikut tumpah.  Ia yang selama ini melihat perjuangan Arlen untuk bertahan, dan ia tahu tangisan itu murni dari segala kesedihan Arlen.  Rei menarik pelan tubuh mungil Yeongi yang bergetar, mendekap lembut tubuh rapuh itu, menanamkan wajah Yeongi di d**a bidangnya.  "Kau sudah menjadi teman yang baik Yeongi ya. Terima kasih, Kalian sudah berjuang dengan baik..".  Rei mengusap pelan helaian rambutnya, tersenyum lembut pada Yeongi.  "Hiks..". Dan yang terdengar hanya suara tangisan kecil Yeongi, yang teredam di balik dekapan itu. Yeongi meremat pelan Jas yang dipakai Rei..  Dan hari itu.. untuk pertama kalinya, mereka melihat kerapuhan Arlen dan Yeongi yang selama ini mereka pendam.    Beberapa menit berlalu. Kini tangisan Arlen sudah mulai reda. Begitu juga dengan Yeongi.    Srrroottt..     Sang Appa membersihkan hidung Arlen dengan tisu.  "Anak Appa Jorok! Sudah besar tapi masih menangis seperti anak kecil.  Mana anak nakal yang sering membuat Appa sakit kepala, hm?". Appa Heojin tersenyum melihat tingkah anaknya.  "Arlen kan cengeng karena turunan Appa... Appa kan lebih cengeng dari Eomma..".  Arlen tak terima disebut anak kecil. Akhirnya mengeluarkan kalimat mutiaranya pada sang Appa.  "Astaga anak ini... ". Heojin Appa kini mencubit pipi Arlen dengan gemas, itu membuat Yeongi dan yang lainnya ikut terkekeh lucu melihat interaksi mereka.  "Appa harus berterima kasih pada Kazue-ssi. Dia yang menolong Appa ketika kecelakaan itu terjadi..".  "Sama-sama, Saya hanya sekedar lewat, orang-orang juga akan melakukan hal yang sama jika mereka di posisi saya".  Kazue yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya menjawab kalimat Tuan Han.  Han Heojin mengangguk menerima respons dari Kazue. Kini ia menatap penuh pada sang anak, seolah ingin menyampaikan sesuatu.  "Arlen ah, Maafkan Appa.. Appa tahu kau masih sedih, tapi ada hal yang harus Appa sampaikan...”.  Heojin Appa menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas sebentar.  “Ada masalah yang sedang menimpa keluarga kita. Perusahaan Appa, saat ini mengalami kebangkrutan..".  Deg..  Arlen dan Yeongi tahu masih ada hal buruk yang akan terjadi. Masalah itu kadang datang seperti badai yang tak kurun berhenti.  Mereka hanya harus bertahan sampai menunggu badai itu reda, Entah seberat dan selama apa badai itu akan menerjang.  "Kenapa bisa bangkrut Appa?? Bukankah keluarga Hwan membantu kalian menanganinya?". Tanya Arlen. Rei juga sama herannya dengan Arlen.  "Awalnya begitu... tapi Eomma mu bersikeras menolaknya. Appa tak tahu apa yang dipikirkan Eomma mu.  Tapi Appa hanya akan menurutinya.. Kau tahu Eomma mu selalu memikirkan banyak hal ketika memilih keputusan".  Sang Appa hanya tersenyum lembut pada Arlen dan diangguki oleh sang anak.   "Tapi.. Masalahnya tidak sampai di situ kan?" Tanya Arlen hati-hati, ia sudah menyiapkan hatinya jika saja masalah masih bertambah.  "Ne.. Masalahnya adalah. Kita kekurangan uang untuk menutupi biaya rumah sakit ibumu...". Appa menatap sendu pada Arlen..  "Kalau begitu, aku akan bekerja Appa!!". Kalimat Arlen membuat orang-orang di sana terkejut.  "Tidak perlu Arlen ah, biar Appa yang akan mencari pekerjaan lain.  Sebenarnya kita masih punya uang simpanan, tapi ternyata masih belum cukup".  "Tapi bukankah itu akan memakan waktu? Nyonya han perlu penanganan secepatnya..". Kazue membuat orang-orang terdiam.  "Kalau begitu biar aku yang membayar biaya rumah sakitnya". Rei menawarkan.  "Tidak!". Arlen dan sang Appa menjawab bersamaan.  "Tapi jika tidak begitu.. Eomma mu akan dalam bahaya Arlen ah..".  Yeongi cukup kagum dengan kekompakan ayah dan anak ini. Tapi mereka keras kepala!!  "Kalau begitu kami pinjam! Aku akan mengembalikannya padamu nanti Hyung!".  Arlen menatap tajam Pada Rei, kalau sudah begini Rei tahu Arlen tak ingin dibantah. Lihat kan? Arlen itu keras kepala!  "Ne.. Arayo.. Tapi cukup setengahnya! Anggap saja itu potongan pelajar".  Rei tersenyum menang dan hanya membuat Arlen mengembungkan pipinya, mau tak mau Arlen harus setuju.  "Tapi Arlen ah, Appa tak ingin sekolahmu terganggu". Sang Appa menatap khawatir pada Arlen.  "Tenang saja Appa, Aku akan bekerja paruh waktu. Kegiatan sekolahku tak akan terganggu!!" Jelas Arlen dengan yakin.  "Kalau begitu Appa akan bekerja di perusahaanku saja.  Dengan begitu bisa membantu mengurangi pekerjaan Arlen kan?". Rei tersenyum melihat tingkah keduanya.  Rei tahu apa yang dipikirkan Arlen. Ia menolak tawaran Rei karena Jun sudah mengatakan kalau ia akan menceraikan Arlen.  Ia pasti berpikir kalau ia tak memiliki hak untuk meminta bantuan keluarga Hwan lagi.  Dan alasan lainnya adalah.. Ia tak ingin membuat Jun semakin membencinya.  "Baiklah..". Arlen dan Heojin Appa akhirnya setuju.  "Ah iya.. Yeongi, Kazue Hyung, dan Rei Hyung, ada yang ingin aku bicarakan diluar. Appa.. kami tinggal dulu ya".   Arlen menatap Appa nya sebentar. Setelah mendapat persetujuan dari sang Appa, barulah mereka keluar.  Setelah menjelaskan apa yang terjadi di dalam pada Jae dan yang lain.  Karena beberapa orang di luar sempat mendengar suara tangisan Arlen.  Kini semuanya memulai pembicaraan di tempat yang sedikit jauh dari ruangan Appa Heojin.   "Apa yang ingin kau bicarakan Arlen?". Tanya Rei  "Aku.. ingin meminta kalian dengan sangat. Tolong Rahasiakan masalah ini dari Jun Hyung". Arlen berkata dengan pelan dan sendu.  "Hah?!! Kenapa Begitu?! Dia kan suamimu. Jelas ia harus tahu situasimu!". Jae tampak keberatan dengan permintaan Arlen, Begitu juga Seowon dan Yunho.  "Aku hanya tidak bisa memberitahu hal ini padanya.. Siapa pun, Selain orang itu.". Arlen menunduk.  "Arlen Ah.. tapi kau tidak bisa begitu, bagaimanapun ia suamimu". Kazue mencoba membujuk Arlen.  "Tidak!". Arlen mempertegas kalimatnya. Sementara Yeongi dan Rei yang mengerti situasinya, hanya bisa diam.  "Apa yang membuatmu begitu keras kepala?! Kau tahu kondisi ibumu tidak sedang main-main!!  Berhenti kekanakan dan minta bantuan pada suamimu!!". Jae yang geram pun refleks meninggikan suaranya.  "ITU KARENA IA AKAN MENCERAIKANKU!!!”.  Arlen berteriak dan membuat semuanya terkejut. Ia menarik nafas berat dan melanjutkan kalimatnya.  “Jun Hyung akan menikahi wanita lain, dia normal.. pernikahan ini karena paksaan, dan aku akan ditinggalkan...". Suaranya bergetar diujung kalimatnya.  Ucapan Arlen membuat semuanya bungkam. Jae merasa bersalah sekaligus shock pada masalah yang tengah menimpa Arlen, begitu juga Yunho, Seowon, dan Kazue.  Kazue sepertinya mulai mengerti dengan hubungan Arlen dan Jun.  Selama ini ia memang sering bingung dengan kedekatan Jun dan Kang Yemi, karena setahunya Jun itu sudah punya seorang istri namja.  "Maaf karena meneriaki kalian..". Arlen berujar Pelan..  Jujur ia ingin..     Ia sangat ingin...  Ia ingin berbagi keluh kesahnya pada Jun....    Ia ingin Jun menjadi orang pertama di mana ia bisa bernaung..    Ia ingin Jun ada di sini dikala ia sedang termenung...    Sekali saja..  Sekali saja, Andai ia bisa...  Ia ingin Jun ada di sini menghiburnya...  Mendekap lembut tubuhnya..  Memberi semangat padanya..    Dan menunjukkan satu senyuman tulus padanya..    Tapi apa kenyataannya?.. Saat ini bahkan pria itu tengah bersama wanita lain di luar sana..  Arlen kini mengakuinya. Ia mengaku telah jatuh di dalam perangkap sang singa b******k.  Ia Jatuh Cinta pada Jun.. Entah sejak kapan perasaan itu muncul.  Cintanya bukanlah lagi miliknya Sendiri. Dan orang yang dicintainya..  Tak bisa ia miliki untuk dirinya sendiri..    -    Jae sedang berjalan di taman dekat rumah sakit, ia cukup shock setelah pernyataan Arlen yang bilang kalau ia akan diceraikan.  Suaminya akan menikah dengan wanita lain. Mereka baru menikah selama 3 minggu, dan pernikahan itu akibat perjodohan.  Ia yang tak tahu apa-apa malah bicara seenaknya.  "Hahh.. Astaga kenapa jadi rumit begini".  Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang di sana..  "Hyung! Apa yang sedang kau lakukan..??". Jae mendekat ke tempat orang itu. Orang yang Jae lihat adalah Kazue.  "Hm??.. Kau rupanya? Kalau tidak salah namamu Jae Joon? Aku baru saja akan menelepon Jun.  Kalau Arlen bilang begitu, Jun harus segera diberi tahu.  Arlen tak akan mudah melewati semua masalah ini sendirian, Jun juga harus segera disadarkan kalau dia salah”.  Namun Jae langsung merebut ponsel Kazue.  "Hei! apa yang kau lakukan?!".  "Tak ada gunanya jika orangnya sendiri tidak menyadari kesalahannya kan.  Dia harus sadar tanpa bantuan orang lain.. Apa kau pikir dengan memberitahu suami Arlen tentang hal ini, ia akan langsung peduli?  Pria itu sendiri yang ingin mengakhiri hubungannya dengan Arlen, Ia bahkan mengkhianati Arlen.  Orang yang seperti itu tidak akan sadar, jika tidak dia sendiri yang lebih dulu bertanya kondisi Arlen pada kita Hyung.  Kau hanya akan membuat Arlen semakin terluka." Jawab Jae santai, namun matanya dengan jelas menatap serius pada Kazue.  "Soal itu...". Kazue yang sedang kacau tidak terpikirkan tentang hal itu.  "Hyung, Aku tahu Arlen bisa, jika kau ingin membantunya cukup bantu apa yang bisa kau bantu.  Tapi jangan campuri urusan pribadinya. Aku minta kau hargai keputusan sahabatku, kita hanya perlu terus menjaganya". Jae berkata pelan.  Sejenak Kazue tertegun melihat sikap remaja di hadapannya.  Ia pikir Jae Joon hanyalah remaja nakal seperti penampilannya, Tapi ternyata ia lebih dewasa dibanding dengan yang terlihat.  Tanpa sadar tangan Kazue bergerak dengan sendirinya, mengusap pelan kepala Jae Joon.  "Kau juga harus kuat menghadapi masalahmu". Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Kazue.  Jae melongo diperlakukan seperti itu oleh Kazue.  "Hoi Jae Joon ah!! Apa yang kau lakukan di sana?!". Yunho datang tiba-tiba dan menarik tangan Jae mendekat ke arahnya.  "Ka-kami hanya bicara..". Jae terlihat gelagapan.  "Bicara?.. Apa yang kalian bicarakan?.." Yunho menatap tajam Kazue.  "Hm?.. Hanya mengobrol biasa, Yang pastinya itu tak ada hubungannya denganmu".  Kazue balik menatap tajam Yunho. Kazue merasa ia tak akan akur dengan orang ini.  "HHOOIII KALIAAANN AYO CARI MAKANAN UNTUK ARLEN!! Eeh?? Ada apa di sini?". Datanglah si tukang rusuh dengan wajah polosnya. Seowon menatap ketiganya bergantian.  "Ohoho... Apakah aku mencium aroma-aroma cinta segitiga di sini?". Seowon menggoda ketiganya.  "Bukan!!!". Jae/Yunho/Kazue. Ketiganya langsung saling tatap dengan Seowon yang mulai tertawa.  Dan Hari itu berakhir dengan tingkah absurd ke empat makhluk aneh di taman rumah sakit.   ❖❖❖ TBC ❖❖❖
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD