'Ujian itu ada untuk membuatmu semakin kuat,
Walaupun harus menghancurkanmu terlebih dahulu'.
Suasana kediaman keluarga Hwan makin terasa suram. Padahal Tuan dan Nyonya Hwan belum pulang dari urusan pekerjaan mereka di luar negeri.
Namun rumah ini seperti kehilangan kehangatannya.
Dan sudah jelas pelakunya adalah si anak bungsu yang benar-benar tidak tahu aturan, padahal usianya sudah memasuki kepala dua.
Pengakuan yang baru ia lakukan kemarin. Tentang Kang Yemi yang menjadi kekasihnya.
Tentang Arlen yang akan diceraikan oleh Jun, dan membuat seisi rumah begitu sedih.
Alasannya?
Sudah jelas karena seisi rumah itu, bahkan para pelayan lainnya termasuk Bibi Suji dan Yeongi, sangan menyukai Arlen.
Walaupun nakal, anak itu memiliki sifat yang manis jika berada di area rumah.
Ia kerap menjahili beberapa pelayan dan membuat mereka tertawa.
Ia juga kadang memaksa para pelayan menemaninya bermain sesuatu ketika ia merasa bosan.
Namun kini seakan keceriaan itu sirna dalam sehari.
Arlen yang membuat rumah ini cerah beberapa hari lalu terasa seakan mimpi bagi seluruh penghuni rumah itu.
Apakah Tuan Jun benar-benar akan menceraikan Tuan muda Arlen?.
Apa ia akan menggantikan Arlen dengan wanita itu?.
Banyak orang yang tak terima dan tak habis pikir dengan kelakuan Jun, walaupun istrinya namja harusnya ia tak menyakiti Arlen seperti itu.
Bagaimanapun ia hanyalah anak remaja biasa yang punya perasaan.
Dua hari berlalu setelah kejadian itu. Jun dan Yemi makin sering terlihat bersama di kediaman Hwan.
Mereka kadang kerap bermesraan di hadapan Arlen. Walaupun itu lebih dominan pada sikap si wanita. Jun hanya merespons saja.
Sementara Arlen? Ia bersikap biasa saja walaupun Jun dengan terang-terangan meminta bercerai padanya.
Namun Arlen tak menanggapi lebih lanjut tentang hal itu. Ia memilih menunggu Lee Eun momma dan Yoon Soo Appa pulang,
baru memutuskan tentang semua masalah ini.
Karena ia tahu ia masih terlalu kecil untuk memutuskan sendiri.
"Arlen ah ... Ayo berangkat sekolah". Yeongi mendatangi kamar Arlen yang tadinya dipakai untuk kamar Tamu.
Sekarang Arlen juga sering minta diantarkan makanan jika Yemi sedang datang ke rumah,
Atau ia akan menunggu Jun tertidur, baru ia akan makan malam sendirian.
"Arlen ah, Kau tak seharusnya bersembunyi ketika ada Yemi Noona. Kau itu istri sahnya Jun Hyung.
Yemi Noona hanya perebut suami orang, Jadi kau tak perlu menghindarinya terus-menerus".
Yeongi menatap khawatir pada Arlen, terutama karena ia sering memilih menahan lapar saat malam hari, dan kadang membuat perutnya sakit karena ia telat makan.
Ia hanya akan makan jika Jun Hyung sedang tidak berkeliaran di sekitarnya.
Apalagi jika ada Kang Yemi.. Arlen bisa tak mau keluar dari kamarnya atau malah kabur dan pergi ke tempat lain.
"Aku tak menghindari Yemi Noona Yeongi ya. Aku hanya ingin tak terlihat oleh Jun Hyung.
Jujur saja aku tak begitu peduli dengan keberadaan Kang Yemi".
"Kenapa begitu? Kau kan istrinya .. itu hakmu untuk berada di dekat Jun Hyung".
"Itu memang benar, Tapi kami menikah karena paksaan.
Dan aku juga tidak kaget jika Jun Hyung akan memilih wanita lain. Aku tahu dia masih Straight ..
Bukan berarti aku sudah ‘belok’. Hanya saja.. pemikiran kami tentang pernikahan dan pasangan itu berbeda.
Jun Hyung menganggapnya hanya main-main dan ia berpikir bisa berganti pasangan kapan saja,
Namun Eomma membuatku berpikir serius tentang pernikahan. Jika aku di beri kesempatan untuk berhubungan dengan seseorang.
Maka aku akan sangat menghargai hubungan itu, aku akan mempertahankan semampu yang aku bisa.
Dan lagi, dalam hubungan itu.. mencari pasangan lebih mudah dibandingkan mempertahankan hubungan.
Aku tak suka berganti-ganti pasangan.. jadi aku akan bertahan".
"Kau menerima perjodohan ini meskipun kau tahu resiko Jun Hyung akan berpaling darimu?". Yeongi menatap tak percaya pada Arlen.
"Manusia bisa berubah kapan saja kan?.
Tergantung orangnya mau berubah atau tidak... dan aku percaya pada Eomma ku, mau bagaimanapun pilihannya.
Eomma selalu tahu apa yang bisa membuatku lebih baik. Walau harus membuatku sakit lebih dulu.
Dunia itu terlalu kejam untuk orang yang takut disakiti".
"Lalu.. apa alasanmu menjauhi Jun Hyung??
Kau selalu pergi atau mengunci diri ketika Jun Hyung datang, kau tahu Jun Hyung tak akan mencarimu meski pun kau bersembunyi darinya".
"Aku tahu itu, itulah sebabnya aku bersembunyi. Jun Hyung tak akan berpaling jika ia tak membenciku.
Rasanya aku juga sudah jahat padanya karena harus menerimaku yang masih bocah ini sebagai istrinya..
Aku tak ingin ia melihatku, jadi itu akan memudahkannya untuk segera terbebas dariku”.
‘Dan juga.. itu memudahkanku untuk melupakannya saat ia menikah dengan Yemi Noona nanti’. Lanjut Arlen dalam hatinya
"Maksudmu kau menjauhi Jun Hyung karena kau pikir ia akan menderita jika kau berada di dekatnya?". Yeongi menatap tak percaya pada Arlen.
Arlen mengangguk pelan.
"Astaga Arlen ah, kenapa kau berpikiran seperti itu??
Apa kau berniat melarikan diri dari masalah ini, dan membiarkan Jun Hyung menjadikan Kang Yemi istri keduanya?".
"Memangnya apa yang kau pikir bisa aku lakukan?
Aku hanya bocah labil, tak tahu apa pun tentang dunia orang dewasa.
Aku tak bisa menghadapi masalah rumit seperti ini. Jadi wajar saja jika aku kabur-kaburan.
Tapi soal menjadikan Kang Yemi istri kedua itu.. aku tidak mau.
Aku akan menyetujui perceraian itu ketika Jun Hyung memutuskan tanggal pernikahan mereka.
Kemudian kami akan bercerai sebelum hari pernikahan Jun Hyung dan Yemi Noona.
Kalau bisa aku akan menunggu Lee Eun momma dan Yoon Soo Appa pulang, baru meminta izin mereka untuk memulangkanku pada Eomma ku".
"Bagaimana jika Lee Eun momma dan Yoon Soo Appa menolak pernikahan mereka?
Kau tahu kan, kau yang dipilih oleh keluarga Hwan, bukan Kang Yemi. Aku tak yakin mereka akan mengizinkannya".
"Itu tergantung pada Jun Hyung, jika ia memaksa ingin menikahi Yemi Noona,
maka aku akan memilih berpisah meskipun Eomma dan Appa menolaknya".
Yeongi memeluk Arlen yang baru selesai memakai seragam sekolahnya.
"Arlen Ah.. Maafkan aku.. Bahkan saat kau kesulitan seperti ini aku masih tak bisa menolongmu.
Aku tak tahu kenapa Jun Hyung bisa begitu. Ia sudah membuatmu marah saat itu.. bukannya meminta maaf, pulang-pulang ia malah membawa wanita lain.
Jun Hyung kejam!". Yeongi memeluk erat sahabatnya.
"Ahaha.. mungkin isi pikiran Jun Hyung masih tersesat, dan dia masih belum menemukan jalan pulang.
Kau juga sudah banyak membantuku Yeongi ya, kau menemaniku saat aku butuh teman.
Terima kasih.. dan Aku sangat suka masakanmu!". Arlen kembali bersemangat, ia kembali mencandai Yeongi.
"Menyebalkan! Yang kau pikirkan tentangku hanya makanannya saja..". Yeongi mencubit pinggang Arlen.
"Auh! sakit.. Ah! Tapi aku tak keberatan jika nanti kau mau menikah denganku ketika aku single nanti.. ". Arlen mulai menggoda Yeongi.
"Aigoo.. anak nakal ini!. Aku tak mau menikah denganmu!
Kalau kita menikah memangnya siapa yang mau jadi posisi bottom??! Kau sendiri kan Bottom nya Jun Hyung!".
"Tentu saja kau yang jadi bottom nya Yeongi ya.. Aku kan lebih kuat darimu.
Dan lagi aku bukan bottom nya Jun Hyung! Tidur sekamar saja hanya dua kali, itu pun jaga jarak! Aku tak pernah melakukan ‘hal itu’ dengannya!". Arlen memprotes.
"Kasihan sekali Arlen.. Belum sempat honey moon sudah diceraikan duluan..". Yeongi mengejek Arlen.
"Sialan kau Yeongi ya, Kau harus dihukum!”. Arlen segera menggelitiki pinggang Yeongi.
"Aaa!! Ahahaha! Jangan! Hentikan Arlen ah!! Cepatlah berangkat sekolah dan berhenti menggoda ku!!!
Paman Jang sudah menunggu kita!!". Yeongi berusaha keras menahan tangan Arlen.
"Baiklah Eomma...". Arlen melepaskan Yeongi kemudian berjalan keluar kamarnya.
"Aku Namja! Aku bukan Eomma mu!". Yeongi mencubiti pinggang Arlen.
"Auh! Aduh! ahahaha sakit Yeongi! aw! hentikann.. Ugh!!". Arlen dan Yeongi bercanda tanpa melihat jalan.
Hingga tanpa sadar Arlen menabrak tubuh tegap yang terasa cukup familiar baginya. Jun berdiri di hadapannya.
"Perhatikan langkahmu jika kau sedang berjalan! Matamu itu untuk melihat! Bukan untuk pajangan!". Jun menatap dingin Arlen.
"M-Mian Hyung...". Jun dan Yeongi tertegun mendengar permintaan maaf Arlen.
Tak biasanya Arlen tidak membalas Jun dengan segala kalimat mutiaranya. Ataupun beradu ocehan dengan Jun.
Jun memilih mengabaikan sikap Arlen dan berjalan ke arah Yeongi.
"Yeongi ya, Hyung akan pulang telat. Yemi mengajak Hyung makan malam di luar, jangan tunggu Hyung pulang ne.. ".
Nada bicara Jun berubah saat bersama Yeongi.
"Um.. Ne.. Arasseo Hyung.. ". Yeongi melirik Arlen, ia benar-benar tak enak padanya.
Sebenarnya apa yang membuat Jun Hyung sangat membenci Arlen?
Bahkan ia dengan santainya membicarakan kencannya dengan wanita lain di hadapan Arlen yang berstatus istrinya!
Apa karena pernikahan itu akibat paksaan?.. Tapi kenapa harus Arlen yang disalahkan, Arlen juga sama-sama dipaksa menikah kan.
"Arlen ah, ayo!!" Yeongi langsung menarik tangan Arlen yang sejak tadi terdiam.
Ia tak akan membiarkan Arlen terlalu lama berada di dekat Jun Hyung jika situasinya masih seperti ini.
"Eh.. ah iya.. Bibi suji, kami berangkat. Em Hyung.. kami berangkat".
Arlen melirik sebentar Jun. Sementara Jun hanya mengabaikannya dan melenggang pergi.
"Hati-hati disekolah.. Yeongi ya, Tuan muda Arlen.". Bibi Suji menatap iba pada Arlen, lalu memberikan senyuman lembut pada anak itu.
Arlen dan Yeongi membalas senyuman itu lalu pergi dengan diantar oleh Paman Yuan Jang ke sekolah.
Arlen dan Yeongi baru saja sampai di sekolah, namun mata mereka memicing melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka.
"Hei Arlen ah, Bukannya itu Jae Joon? dia dengan siapa?".
Yeongi menunjuk ke tempat di dekat pagar sekolah, di mana ada dua orang pemuda yang baru saja turun dari motor sport hitam yang terparkir di sana.
"Huh?! Bukannya itu si ketua yang kemarin?! Kenapa dia bersama Jae...? Mereka ada hubungan apa?". Arlen ikut Heran.
"Kalau tidak salah di antara gerombolan yang mengejar kita kemarin..
Hanya Ketuanya yang tidak ada iya kan? mungkin dia mengejar Jae Joon". Yeongi mengira-ngira kejadian kemarin.
Kwan Yunho, si ketua yang dimaksud Arlen dan Yeongi langsung pergi setelah berbicara sebentar dengan Jae Joon.
Tampaknya Jae Joon baru saja diantar oleh pemuda yang kemarin cari ribut dengan mereka.
Jae langsung menunggu di dekat gerbang sekolah. Saat itu pun Arlen dan Yeongi turun dari mobil.
"Yoo Arlen ah!! Yeongi ya!! Kalian baru sampai". Seperti biasa Jae langsung mendekati mereka dengan senyuman lebarnya.
Jae Joon segera berlari ke arah dua sahabatnya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat tatapan tajam dari Arlen dan Yeongi.
"Ada yang ingin kami tanyakan padamu..". Arlen dan Yeongi mengeluarkan aura yang mengerikan.
"Apa hubunganmu dengan Ketua menyebalkan itu?! Kenapa kau bisa berangkat dengannya?
Padahal orang menyebalkan itu sepertinya seorang mahasiswa! Kau tahu universitas itu jaraknya jauh dari sekolah kita!".
Yeongi memelototi Jae Joon. Aura emak-emak garangnya keluar.
"I-itu... Namanya Kwan Yunho, kemarin dia mengejarku. Tapi karena ada hal yang terjadi.. untuk saat ini ia jadi te-temanku.. mungkin?".
Jawab Jae Joon ragu-ragu sambil menelan kasar salivanya.
Tenggorokannya terasa kering ketika di interogasi oleh dua uke di hadapannya.
Ia benar-benar gugup.. Bagaimana tidak gugup?! Dua pemuda manis di depannya menatap tajam ke arah Jae Joon seolah ingin membotaki kepalanya.
"Teman.. atau b***k?". Arlen to the point.
"Te-teman kok! Sungguhan!... Dia juga bilang tidak akan mengganggumu lagi Arlen ah.. ".
Jae mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah, meyakinkan Arlen dan Yeongi bahwa ia tidak berbohong.
"Hmmmm.........". Arlen dan Yeongi masih belum percaya.
"Aku tidak bohong. Tapi.. aku memang punya perjanjian dengannya. Yunho Hyung tidak menjadikanku budaknya.
Aku belum bisa cerita sekarang.. tapi nanti aku janji akan menceritakan semuanya pada kalian".
Jae menatap takut pada kedua sahabatnya. Ia harap mereka mau mengerti.
"Hmm.. baiklah.. kami percayakan padamu, tapi pastikan itu tidak membuatmu dalam bahaya!
Aku akan menghajarmu jika kau berbohong padaku!". Arlen mengancam Jae.
"Jangan menyembunyikan apa pun dari kami Jae Joon ah!!". Yeongi masih mengomelinya.
"Arasseo... ". Jae mengangguk pelan.
"Oke! Kalau begitu ayo kita masuk!". Arlen tersenyum dan merangkul pundak Jae Joon.
"Benar.. Ayo masuk sebelum bel berbunyi!". Yeongi tersenyum lembut pada Jae Joon.
"Ayo!!". Jae Joon kembali tersenyum ceria. Ia bersyukur memiliki teman seperti Arlen dan Yeongi.
Mereka tidak mempermasalahkan segala pilihannya.. mereka hanya akan mempercayakannya pada Jae, dan sisanya..
Hanya akan tetap berada di sisi Jae, terus menemani, mendukungnya, menghiburnya, seperti itulah sahabatnya.
Di Tempat Lain..
Jun baru saja sampai di kantornya, Kang Yemi ternyata sudah ada di ruang kerjanya lebih dulu.
"Ah! Jun Oppa.. kau sudah sampai". Yemi menampilkan senyum manisnya.
"Hmm.. ". Jun langsung mendekati meja kerjanya lalu duduk di kursi. Kang Yemi pun mengikuti langkah Jun dan mendekatinya.
"Jun Oppa, kau tampak tidak baik. Apa Arlen berulah sesuatu pagi ini?".
"Hmm.." Jun Hanya menjawab seadanya.
"Apa Oppa masih memikirkan tentang Orang tua Oppa ketika pulang nanti? karena Oppa bilang mau menceraikan Arlen?".
Kang Yemi mengusap punggung tangan Jun.
"Begitulah..".
"Tenanglah Oppa, seperti yang aku katakan saat pertama kita bertemu.
Orang tuamu tidak akan keberatan jika kau menikah denganku. Asalkan Oppa tidak mendekati wanita lain diluar sana lagi.
Mereka akan bahagia jika kita memberikan mereka keturunan yang manis.
Dan kerja sama perusahaan kita juga cukup membawa hasil yang bagus.
Eomma dan Appa Hwan pasti akan mengerti kalau Oppa itu masih Straight..
Arlen tak akan bisa memberikan keturunan untuk kalian karena ia namja.
Mereka pasti akan bahagia dengan pernikahan kita dan Hyung tidak akan tertekan oleh mereka lagi...".
Kalimat Kang Yemi seolah seperti bisikan yang membuat Jun mematuhinya..
Namun pikirannya saat ini sungguh tak bisa fokus pada Yemi.
Ia ragu apakah pilihannya benar. Kang Yemi terus meyakinkannya untuk memberikan keturunan pada keluarga Hwan.
Agar orang tuanya senang dan ia akan terbebas dari Arlen, ia menolak untuk menyentuh sesama namja. Ia bersikukuh bahwa wanita lebih baik.
Tapi ada perasaan mengganjal di hatinya. Apa ia benar-benar ingin terlepas dari Arlen?..
Setelah ia melihat sikap Arlen beberapa hari ini. Arlen terus menjauhinya, Ia tak ada saat Kang Yemi datang ke rumah.
Saat bertemu pun ia tak membalas kalimatnya dengan amukan seperti dulu.
Terlebih lagi.. Ekspresi Arlen ketika ia mengatakan bahwa ia akan menceraikannya.
Tercetak jelas Rasa sakit di wajah manis Arlen.. Ia tidak bodoh untuk menyadari raut wajah bocah itu, Jelas sekali jika Arlen tengah hancur saat itu.
Apa ia.. begitu jahat pada Arlen?.
Jam telah menunjukkan waktu pulang sekolah. Arlen, Yeongi, dan Jae Joon berjalan riang keluar gerbang.
Seharian ini mereka merasa cukup aneh ketika berada di kelas.
Tak ada yang mengatai Arlen lagi, orang-orang yang mengganggu Arlen pun semakin berkurang.
Ketiga Remaja itu tidak sadar, jika orang-orang terkadang refleks ikut tersenyum ketika melihat Trio absurd itu bercanda dikelas.
Terutama saat Jam istirahat. Ada bagian yang menjadi favorit para murid ketika Arlen mulai memakan masakan Yeongi.
Arlen tampak dua kali lebih manis dan mereka baru menyadari sisi indah dari Arlen yang selama ini mereka abaikan.
Namun tetap saja ketiga Trio itu tidak cukup peka untuk menyadari tatapan itu.
Pandangan orang-orang pada Arlen sudah berubah sejak kejadian Yeongi menjewer Arlen untuk makan siang saat itu.
Mereka juga mendengarkan kalimat Jae Joon, dan beberapa orang mulai berhenti mengganggu Arlen.
Mereka ingin memastikan, Apakah Arlen benar-benar sekejam yang didengar mereka?
Namun kenyataannya.. Arlen tidak mengganggu mereka sama sekali jika mereka tak mengganggunya lebih dulu.
Mereka malah menemukan kebiasaan baru Arlen yang tampak Lucu bagi mereka. Berkat Yeongi. Ya! Berkat Yeongi!.
Yeongi memang malaikatnya Arlen..
Kini semua tatapan benci yang tertuju pada Arlen, telah berubah menjadi tatapan diam-diam mengagumi.
Meskipun para trio itu tidak tahu tentang keadaan di sekitarnya.
Saat ini Arlen, Yeongi, dan Jae Joon sudah berada diluar gerbang. Mereka menunggu jemputan.
Akibat kejadian kemarin, Arlen, Yeongi, maupun Jae Joon kapok untuk pulang sendiri.
Mereka tertimpa begitu banyak masalah akibat kejadian kemarin.
Suara dering telepon dengan nada Lullaby yang dinyanyikan Park Jinyoung menginterupsi candaan ketiga remaja itu.
"Ponsel siapa itu?". Jae bertanya dan membuat ketiganya saling tatap.
"Ah! aku lupa.. itu suara ponselku".
Si empunya malah lupa dengan nada deringnya dan tak sadar ponselnya terus bergetar di saku seragamnya.
"Oh... ini dari Appa, tidak biasanya Appa meneleponku..".
Arlen langsung mengangkat teleponnya, dan suara di seberang sana langsung terdengar. Namun bukan suara sang Appa yang ia dengar.
"Apa ini dengan Arlen Hwan?"
"Ne.. aku Arlen.. kau siapa? Di mana Appa?".
"Ah, aku Kazue Kim. Saat ini aku berada di rumah sakit. Kedua orang tuamu mengalami kecelakaan.. "
Deg!!
"Rumah sakit mana?!! Beritahu aku di mana tempatnya! Aku segera menuju ke sana! Lalu bagaimana keadaan orang tuaku..??!".
Percakapan itu mengalihkan perhatian Jae dan Yeongi.
Terutama saat Arlen mengatakan tentang rumah sakit dan orang tuanya, kontan saja kedua sahabatnya langsung mendekati Arlen .
"Aku akan mengirimkan alamatnya ke ponselmu, ada yang harus aku urus sekarang, dan maafkan aku.. Keadaan Nyonya Herly Han saat ini.. sedang kritis".
Kalimat terakhir yang disampaikan si penelepon membuat Arlen membeku.
Jantungnya seolah ditikam oleh pedang tak kasat mata. Wajah Arlen mendadak pucat dan tubuhnya lemas.
Tak ada kalimat yang terucap lagi sampai sambungan telepon ditutup dari pihak seberang.
"Arlen ah.. ada apa?". Yeongi menatap Arlen khawatir. Arlen terlihat shock dan keringat membasahi pelipisnya.
"Y..Yeongi... Orang tuaku... mereka.. kecelakaan". Sontak saja Jae dan Yeongi ikut terkejut.
"Dan.. Eomma... Eomma ku... ia kritis...". Tubuh Arlen tampak bergetar ketakutan.
"Kalau begitu kita harus cepat ke sana!!". Jae terlihat panik namun ia masih merespons dengan baik.
"T-tapi Paman Jang akan terlambat karena urusan lain..". Yeongi sendiri ikut cemas.
"Cih.. tak ada pilihan lain". Jae mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Ada Apa Jae Joon ah?". Kwan Yunho lah yang dipanggil oleh Jae.
"Halo.. Yunho Hyung! Aku minta jemput kami secepatnya!
Lalu tolong bawakan dua temanmu untuk tumpangan Arlen dan Yeongi! Ini darurat!
Kau memakai motor jadi aku yakin kau bisa cepat, Kami menunggumu!".
Jae mengatakannya dengan penekanan, memastikan agar ia tak terdengar bercanda.
"Arayo, Aku akan segera ke sana". Dan sambungan telepon pun dimatikan.
Arlen sejak tadi terdiam. Yeongi tahu kini perasaan Arlen sedang kacau luar biasa.
Masalah Jun Hyung saja belum selesai, dan kini ia malah dihadapi dengan kondisi mengerikan seperti ini.
Yeongi pun segera memeluk Arlen yang tampak pucat.
"Tenanglah Arlen ah, kami ada di sini. Kami akan membantumu, dan kami akan selalu menemanimu..". Yeongi berbisik pelan menenangkan Arlen.
'Tuhan... Aku mohon berikanlah Hadiah pada sahabat baikku jika ia berhasil melewati semua ujianmu..
Setidaknya aku tahu, ia punya hak untuk bahagia..'. -Yeongi.
❖❖❖ TBC ❖❖❖