Ketika Makhluk Absurd bersatu

2234 Words
 'Sahabat adalah teman seperjuangan. Senang bersama, Sedih bersama, Usil juga bersama'  Arlen, Yeongi, dan Jae Joon saat ini berada di depan gerbang sekolah. Jam pelajaran baru berakhir sekitar 20 menit yang lalu.  "Arlen ah, sepertinya hari ini Paman Jang akan terlambat menjemput, apa kau mau langsung pulang atau mau menunggu?  Aku juga tak keberatan jika kita jalan bersama sampai ke rumah".   Yeongi baru saja menerima telepon dari Paman Jung, mengabarkan kalau ia akan terlambat menjemput.  "Emm.. Baiklah, kita jalan saja. Aku tak suka menunggu lama, kabari saja Paman Jang agar tidak perlu menjemput kita.".  "Kalau begitu aku ikut!! Kalian bilang kalau kalian pulang lewat arah sana iya kan? Kalau begitu kita searah!".  Jae langsung memberi usulan kala kedua pemuda manis di depannya hendak pulang bersama.   "Baiklah, kita pulang bersama". Arlen cukup lelah dengan pelajaran hari ini. Jadi ia tidak begitu memikirkan tingkah Jae.    Baru beberapa meter dari sekolah, sekelompok remaja dari sekolah lain yang tampak tidak bersahabat mulai mendekati mereka dari kejauhan.  "Hei Arlen, Mereka.. Musuh yang sering bertemu denganmu kan?". Jae berbisik pada Arlen.  "Aku tak ingat. Tapi seharusnya orang yang cari gara-gara denganku sudah berkurang setengahnya". Arlen menatap ke arah yang Jae maksud.  "Kau apa kan mereka?". Tanya Jae curiga.  "Hm?.. Hanya membuat beberapa dari mereka masuk ke rumah sakit agar mereka jera menggangguku". Jelas Arlen dengan santai.  "Dasar bodoh! Itu malah membuat jumlah mereka bertambah!! Harusnya kau perbanyak jumlah kabur!  Apa kau lupa bagaimana reaksi Paman Heojin ketika terakhir kali kau pulang dengan penuh luka hah?!!  Kau ingin membuat Appa mu pingsan lagi?".  "Aku tak ingin mendengarnya darimu! Kau sendiri sering menghajar orang sembarangan,  Dan membuat orang tuamu kerap kali mencarimu ke mana-mana karena sering kabur dari rumah!!".  Arlen tak terima ia disalahkan sendirian.  "Tapi aku tidak sampai membuat musuh sebanyak itu, kau gila!". Yup!,  Meski Jae sering menantang orang-orang untuk berkelahi, tapi entah kenapa musuh Arlen malah lebih banyak dari Jae.  "Kalian berdua hentikan! bukan waktunya berdebat! Mereka makin mendekat..  Memangnya menurut kalian 10 orang itu bisa dilawan bertiga huh?!".  Yeongi tidak begitu terbiasa dengan keadaan seperti ini, namun dua makhluk ini malah berdebat.   Antara panik dan kesal, Yeongi tak tahu lagi harus apa.  "Hoi Arlen ah, berapa banyak yang bisa kau hadapi sekaligus?". Jae seperti mulai mengira-ngira sesuatu.  "Maksimal 4 bisa kutangani sendirian. Lebih dari itu, aku tak yakin".  "Cih sial, Aku 3.. lain kali akan aku tambah rekorku".  "Kenapa kalian malah membahas rekor baku hantam sekarang?!!". Yeongi mengomel kesal.  "Kalau Yeongi, Berapa yang bisa kau tangani?". Jae dan Arlen menatap Yeongi bersamaan.  "Eh? Huh? S-satu?". Cicit Yeongi.  "Eh?". Arlen/Jae.  "Tak masalah! Tanganmu tidak cocok untuk menghajar orang. Aku tak ingin makanan lezatku berlumuran darah nantinya!". Bela Arlen.  "Arlen benar! Aku juga tak Ingin jatah makananku berkurang karena kau sibuk menghajar orang!". Dukung Jae.  "Kalian pikir aku ini apa?!! Aku ini namja! Aku bisa berkelahi!   Pekerjaanku bukan hanya di dapur dan aku bukan koki kalian tahu!!".  Yeongi sama sekali tidak senang dengan pembelaan Arlen dan Jae.  "Memang kenyataannya pekerjaanmu di dapur kan?!". Arlen/Jae.  "Sshh.. Astaga.. Dua makhluk menyebalkan ini minta dicincang rupanya...". Yeongi mendesis kesal.  "Oi Arlen!! Akhirnya kau muncul juga! Ternyata nyalimu cukup besar, Kau tidak lari ketika melihat kami bergerombol!".  Seorang pemuda memotong acara debat Arlen dan kawan-kawannya, diperkirakan ia adalah ketua mereka. Kemudian ia mendekat lebih dulu.  "A!.. Aku tak terpikirkan cara itu..". Ucap Arlen dengan poker face nya yang baru menyadari kalau mereka tak memikirkan rencana kabur.   "Arlen b**o!!". Jae dan Yeongi merutuki kelambatan otak Arlen.  "Sialan! Kalian juga tidak terpikirkan rencana itu kan!!".  Arlen menatap ganas pada kedua sahabatnya. Sementara Jae dan Yeongi sama-sama memalingkan wajah mereka.  Tak ingin disalahkan oleh Arlen.  "Aku akan membalas perbuatanmu karena telah membuat anak buahku terkapar di rumah sakit".   "Itu salah mereka karena membuang sepedaku ke dalam parit! Jelas aku marah". Arlen membela diri.  "Sudah salah malah mau main hantam?! Menggelikan!". Jae menatap geli pada orang-orang itu sambil berlindung di belakang Arlen.  "Tidak tahu malu". Yeongi ikut menatap jijik pada mereka, kemudian ikut menjadikan Arlen sebagai tameng mereka.  "Itu pasti karena Arlen memulai sesuatu yang membuat mereka marah!! Sepedamu tak akan dibuang tanpa alasan!!".  Sang Leader tetap mempertahankan wajah garangnya meskipun ketiga makhluk di hadapannya bertingkah absurd.  "Arlen ah, Apa kau menjahili mereka?". Yeongi  "Apa kau mencuri sesuatu dari mereka?" Jae.  'Astaga sejak kapan Yeongi dan Jae begitu kompak ketika menistakanku..??’. Batin Arlen.  "Aku rasa aku tidak melakukan itu! Hanya saja..."  "Hanya saja?". Jae/Yeongi.  "Tiga orang dari kalian yang kuhajar itu, sebelumnya pernah menyatakan cinta padaku dan.. Mereka aku tolak".  Arlen mengucapkan dengan santai dan datar.  "Hah?!". Si ketua dan Duo Penista Arlen shock bersamaan, sementara anak buahnya yang lain hanya menyimak.  "Astaga.. Jadi kalian itu para makhluk penganut 'Cinta ditolak Otot bertindak' ??!! menggelikan.. ". Jae memperkeruh suasana.  "Aku tidak mendengar bagian itu?! Apa kau mau menipuku?!".  "Tanyakan saja pada anak buahmu itu! Sebagian dari mereka mengajakku berkencan!!  Karena kutolak dan akhirnya malah berujung baku hantam".  Jelas Arlen menatap ke 9 orang anak buah Kwan Yunho, Si Ketua.  "Hah.. Kalian?!". Yunho langsung menatap tajam semua anak buahnya, yang sebagian malah memalingkan wajah mereka menghindari tatapan sang Leader.  Yeongi dan Jae Joon Speechless.  'Jadi sebagian besar musuh Arlen itu sebenarnya adalah Fanboy nya Arlen?'. Batin Yeongi  'Sepertinya Haters adalah ungkapan lain dari Para Fans Korban Patah Hati’. Batin Jae Joon  "Lalu... Apa jangan-jangan Kau juga termasuk dari mereka? Leader-ssi..  diam-diam kau menyukai Arlen. Lalu memakai jalan kekerasan hanya untuk mendekati Arlen?". Tuduh Yeongi pada Yunho.  "Atau jangan-jangan kau mau melakukan pelecehan seksual pada Arlen sebelum dia menolakmu juga?". Jae ikut menistakan sang Leader.  "Ehh? Apa benar begitu?!. Hiii Kau m***m!".  Arlen menatap geli sang Leader dengan pose kedua tangan menutupi dadanya.  "Iyuuhh.. ". Jae/Yeongi.  "A-aku tidak! Tch! Sialan kau!". Yunho berjalan mendekati ketiga Trio absurd itu.  "Hei.. Jae Joon Ah.. Sepertinya kau sudah memperkeruh suasana". Yeongi mulai panik.  "Jangan menyalahkanku! kalian juga ikut serta membuat mereka marah kan!". Jae Joon mundur selangkah.  "Kita kan Sahabat, Jika satunya usil.. Yang lain harus ikut kan!". Jelas Arlen yang ikut-ikutan mundur.  "Yeongi ya, Arlen ah, sekarang masuk ke rencana cadangan!!".  Jae Joon menatap serius pada dua sahabatnya.  "Eh? Rencana cadangan?!". Yeongi bingung sendiri.  "Itu benar!! Itu adalah Satu-satunya rencana ketika kita terpojok..". Jelas Arlen.  "Langkah seribu!!!". Jae langsung berbalik dan Lari.  "Kabuuurr!!". Arlen dan Yeongi mengikuti.  "Hah?!! H-Hoi Jangan Lari!!". Dan otomatis mereka semua mengejarnya.  Ketiga remaja itu terus berlari memutar lewat jalan belakang sekolah, karena jika langsung menerobos ke depan.. sama saja minta dihajar!!.  Hingga mereka hampir tiba di sebuah persimpangan, daerah itu memang agak sepi.  Namun tempat langsung mengarah ke jalan raya.  "H..hoi Arlen!! hah hahh.. Rumahku.. lewat sini... hahh.. kita berpisah.. di persimpangan..".  Jae Joon mengatakannya sambil terus berlari dengan nafas tersenggal sebelum mereka sampai di persimpangan.  "Baik!... Jangan sampai.. tertangkap!". Dan dengan begitu Arlen dan Yeongi, mengambil arah yang berbeda dengan Jae Joon.  "Mereka mengambil arah berbeda! Kalian ikuti Arlen!  Akan sulit menghadapi bocah itu sendirian, apalagi dia membawa teman! Aku ke arah yang satunya".  Jelas Yunho yang diangguki semua anak buahnya. Mereka mulai mengambil arah berbeda.  "Astagaa.. kenapa mereka.. masih mengejar.. hahh.. hahh". Arlen merutuki kegigihan orang-orang itu.  "A-Arlen.. aku.. lelahh.. ".  Yeongi itu tak seaktif Arlen, dan jelas kalau staminanya kalah jika dibandingkan dengan Arlen. Lari Yeongi pun semakin melambat.  "Y-Yeongi??!!".  "Uwaaa!!!!!". Yeongi ditarik oleh seseorang di belakang.  "Sial! kenapa tempat ini sepi sekali". Arlen merutuki jalan yang mereka ambil.  "Arlen ah.. Bukan kah akan lebih baik kita hentikan saja main kejar-kejaran ini. Kau bahkan membawakan mangsa manis pada kami".  Dua dari mereka terus memegangi Yeongi.  "A..Arlen...". Yeongi ketakutan, ia tidak suka dengan keadaan seperti ini.  "Jangan macam-macam padanya! Kuhajar kalian jika berani menyentuh Yeongi!". Arlen menatap tajam pada orang itu.  "Kalau begitu bagaimana jika kau menyerah, dan menjadi b***k kami? Mungkin saja kami akan dengan suka rela melepaskan Teman kecilmu itu..".  Ucap Pemuda itu sambil menarik dagu Arlen menghadap padanya.  Pemuda itu menyeringai melihat respons Arlen yang tetap diam meski ia sentuh, sampai kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Arlen.  5 centi..  3 centi..    2 centi...    dan...    BUAGHHH...!!  "Ughh... "    "AAARRRGGHHH!!!".  Satu pukulan kuat dari Arlen tepat di wajah itu, bahkan ia sampai tersungkur.  Kemudian Arlen melayangkan satu injakan manis tepat di s**********n pemuda tadi.  ughh.. Ngilu rasanya..    "Maju lah, akan kubuat kalian merasakan bagaimana rasanya terbang ke surga seperti dia..".  Arlen mengeluarkan Smirk nya . Benar-benar manis.. dan Sadis  "Sialan kau!!". Otomatis beberapa orang lainnya mulai maju.  Buaghh  Arlen terkena beberapa pukulan di wajah dan tubuhnya. Namun itu tak cukup untuk membuatnya Tumbang.  Dan kini, setiap orang di sana sudah ia tandai untuk diberikan Hadiah.  Arlen Menendang kuat s**********n orang-orang itu hingga membuat mereka tersungkur kesakitan, dan kini tinggal sisa 3 orang.  Ternyata kaki Arlen lihai juga rupanya.  "Berhenti!!! Atau temanmu akan kami lucuti!!!". Kalimat itu membuat semua orang di sana melongo.  "Iyuuhh.. m***m". Arlen menatap geli pada remaja yang berdiri di belakang Yeongi, sementara kedua tangan Yeongi dipegangi oleh dua pemuda lainnya di sisi kanan dan kiri.  Yeongi tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan..  Dughh!!  Sebuah tendangan mendarat di selangkangkan remaja di belakang Yeongi.  "Ohoho.. bisa juga kau Yeongi ya". Arlen membanggakan tingkah sahabatnya.  "Kan Arlen sendiri yang mengajariku". Yeongi tersenyum bangga.  "Sialan kau!". Buaghh!!. Orang di samping Yeongi menghajar pipi Yeongi dan itu menyisakan luka lebam di sana.  "Kau!!!". Arlen marah sekarang. ia tak suka melihat Yeongi terluka. Dan benar saja..  Setelahnya Arlen menghajar dengan membabi buta.  "Hentikan kalian para bocah!! atau aku akan meminta polisi datang kemari!".  Suara berat terdengar menginterupsi kegiatan baku hantam di sana.  Hwan Rei Soo.. Datang dengan wajah datar nan dinginnya.  Yang otomatis membuat para pemuda yang mencari masalah itu langsung kabur.  "Lee Yeongi, Arlen Hwan,.. Pulang!".  'Matilah aku.. Ada macan yang akan mengamuk'. Yeongi/Arlen  Rei sebenarnya berada tak jauh dari tempat itu, berada di dalam mobil yang dikendarai paman Yuan Jang.  Ia baru saja ingin pulang dan sengaja melewati area sekolah Yeongi dan Arlen, mungkin saja keduanya masih ada di daerah itu.  Namun matanya memicing ke arah Gang sepi di mana ada segerombolan remaja berbeda seragam yang tengah berkelahi.  Dan Rei cukup shock melihat dua bocah yang ia kenal ada di sana dengan kondisi babak belur.  Maka ia pun segera turun dari mobil dan menghampiri para remaja nakal itu.  Rei, Yeongi dan Arlen sudah tiba di rumah.  Disambut dengan wajah panik bibi suji, Wanita paruh baya itu pun langsung mengobati kedua anak nakal itu di ruang keluarga.  "Maafkan aku Bi.. Yeongi jadi terlibat. Harusnya aku suruh Yeongi pulang sendiri saja tadi". Arlen menyesal.  "Tak apa tuan muda Arlen, bibi tahu Tuan muda juga pasti sudah melindungi Yeongi sebisa mungkin."  "Lukamu itu lebih banyak dariku Arlen Ah. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku..  Lagi pula itu keinginanku karena memaksa ingin pulang bersama denganmu". jelas Yeongi.  "Tapi lain kali kalian harus segera pergi jika ada yang mencari gara-gara!!!  Dan Arlen ah, kau bukan lagi tinggal di rumah keluarga Han. Jadi kau harus menghentikan kebiasaanmu yang sering berkelahi...   Hyung sih tidak terlalu mempermasalahkannya.. Tapi kalau Jun.. Aku yakin ia akan marah.  Lalu Eomma akan sangat mengkhawatirkanmu..".  "Mian Hyung... ". Arlen semakin menunduk.  "Aku juga minta maaf Rei Hyung.. tolong jangan salahkan Arlen". Yeongi menatap Rei.  Rei memasang senyum lembutnya kemudian mengusap pelan kepala Arlen.  "Terima kasih sudah melindungi Yeongi.. Arlen ah..". Rei berkata tulus.  "Ne.. Hyung..". Arlen ikut tersenyum. Saat itu juga Jun sudah pulang ke rumah.  Mereka tidak sadar Jika matahari hampir terbenam.  "Ah.. Jun Hyung pulang!". Yeongi hendak berdiri namun dicegah oleh sang Eomma.  "Biar Eomma saja yang buka, kau obati lukamu dan tuan muda Arlen..". Jelas bibi suji dengan lembut kemudian berjalan menuju pintu.  "Selamat datang, Tuan Jun". Bibi Suji menyambut Jun dan membungkuk pelan.  Jun mengangguk dan langsung menuju ke ruang keluarga. Namun setibanya di sana..  Baik Jun maupun ketiga orang yang ada di ruangan itu sama-sama kaget.  "Apa yang kalian lakukan sepulang sekolah?! Kenapa kalian babak belur begitu!!!".  Jun mendekati Arlen dan Yeongi. Sementara Rei, Yeongi dan Arlen kaget karena ada kehadiran makhluk lain di rumah itu.  Bisa dibilang.. Jun membawa wanita lagi.    'Wanita baru lagi...'. Batin Rei/Yeongi/Arlen.    "Arlen!! Apa yang kau lakukan?! Kenapa Yeongi bisa terlibat begitu?! Kau membuatnya terluka!". Jun begitu marah pada Arlen.  "J-jun Hyung hentikan! Aku tak apa-apa! ini bukan salah Arlen!!".  Yeongi menatap tak enak pada Arlen.. Pasalnya Luka Arlen lebih parah dari Yeongi tapi yang dikhawatirkan malah Yeongi.  Arlen yang mengerti tatapan Yeongi hanya memberikan isyarat dengan mengibaskan tangannya dan tersenyum lembut.  Mengatakan kalau ia tak apa-apa.  "Lalu Jun, bisa kau perkenalkan siapa wanita yang kau bawa itu?". Rei segera memotong acara mengomel Jun.  Ia penasaran dengan sosok wanita yang sejak tadi tersenyum ke arah mereka.   "Ah .. iya.. Namanya Kang Yemi".    "Anyeong haseyo.. Kang Yemi imnida..". Wanita itu membungkuk pelan, memberi salam dengan sopan..  "Dan dia.. Adalah kekasihku sekarang".  "Hah?!". Kalimat Jun membuat seisi rumah kaget.  "Oi Jun! Bagaimana bisa kau mengatakan itu sementara istrimu ada di hadapanmu??!!".  Rei tak habis pikir dengan kelakuan adiknya, Kenapa ia punya adik yang gila seperti ini?!.  Yeongi dan bibi Suji sependapat dengan Rei, Mereka menatap khawatir para Arlen yang sejak tadi terdiam.  Tak ada Ekspresi candaan di wajah Jun. Yang artinya ia serius mengatakan jika Yemi adalah kekasih barunya.  "Tentang itu, Arlen ah, Aku berniat untuk menceraikanmu". Ujar Jun dengan tenang.  "Eh...??". Arlen shock.. tak tahu harus berkata apa.. begitu juga ketiga orang lainnya.  Sementara Jun, ia melenggang pergi begitu saja ke ruang kerjanya bersama Kang Yemi.  Wanita itu tersenyum sebelum melewati Arlen. Senyuman yang bagi Arlen terlihat seperti sebuah Ejekan.    ❖❖❖ TBC ❖❖❖
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD