Kucing Liar dan Teman-Temannya

2715 Words
 'Kucing liar itu tak selalu sendirian, ia juga bisa punya teman'.   Pagi yang begitu tenang.. namun sekaligus mencekam. Suasana kediaman keluarga Hwan benar-benar mengerikan.   Semalam Arlen benar-benar pisah ranjang dengan sang suami. Arlen juga menolak untuk ditemani Yeongi.  Bibi Suji dan Yeongi benar-benar khawatir melihat keadaan kedua majikan mereka.  Jika biasanya rumah ini akan disambut dengan kehebohan dan keceriaan Arlen di pagi hari.  Hari ini anak itu tampak lebih tenang, namun Arlen yang tenang dengan wajah datar nan dingin seolah seperti badai salju bagi seisi kediaman ini.  Rumah ini benar-benar suram...  Jun dan Arlen kini tengah sarapan bersama di ruang makan, namun tak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan atau perdebatan lainnya.  "Yeongi ya, apa kau membuat bekal?". Arlen menatap Yeongi yang baru saja selesai sarapan bersama mereka.   "Eh?? Ne Arlen ah, Aku membuat bekal untuk kita, kau tidak bisa makan sembarangan di sana..". Yeongi tahu kebiasaan aneh yang ada disekolah mereka.  Di mana di kantin itu sebagian besar makanan dibuat begitu pedas, dan itu tidak baik untuk Arlen. Terutama ia sangat pilih-pilih makanan.  "Kalau begitu ayo berangkat.. ". Arlen segera beranjak dan mengambil tasnya.  "Ah.. Baik, akan aku panggilkan paman Jang untuk mengantar kita". Yeongi mulai membereskan bekas sarapan mereka.  "Biar aku saja yang mengantar". Jun berkata tiba-tiba.  "Tak perlu". Tolak Arlen  "Jangan menolak, Paman Jang akan menjemput Rei di bandara pagi ini, pekerjaannya di Busan selesai lebih cepat dari yang diperkirakan.  Jarak sekolah dari sini cukup jauh, Akan lebih cepat jika aku yang mengantar. Aku tak ingin Yeongi terlambat karenamu".   Rentetan kalimat dari Jun membuat Arlen tak bisa menolaknya.  "Baiklah.."   Kini mereka hendak memasuki mobil.  "Untuk apa kau duduk di belakang?! Aku bukan sopirmu".  "Tapi Yeongi duduk di belakang..".  "Yeongi hanya Bonus. Cepat duduk di depan!". Dan akhirnya dengan berat hati Arlen pun duduk di samping Jun.  'Astaga.. Jadi aku hanya dianggap bonus?! Nasib jadi obat nyamuk di antara sejoli aneh ini~ aku hanyalah remah-remah". Batin Yeongi.  Sebenarnya Ini hanya akal-akalan Jun untuk mencari kesempatan bicara dengan Arlen, karena sejak kemarin sore hingga malam Arlen terus menjauhinya..    Jun sebenarnya ingin meminta maaf, namun kalimat itu seolah terikat sesuatu di dalam sana dan membuatnya sulit untuk diucapkan.  Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah Arlen dan Yeongi.  Kedua pemuda berseragam SHS itu langsung keluar dari mobil Jun.  Jun tiba-tiba ikut keluar dari mobil dan membuat beberapa siswi menjerit tertahan melihat ketampanan seorang Jun  "Arl-..".   "HOOII ARLEENN...!!". Kalimat Jun terpotong oleh teriakan seorang pemuda dengan seragam yang sama seperti Arlen dan Yeongi".  "Oh? Jae Joon, apa kau menungguku?". Arlen bertanya pada pemuda yang berjalan mendekatinya dan pemuda itu langsung saja merangkul bahu Arlen.  "Hoho.. tumben sekali kau tidak datang sendiri. Dan lagi kau memakai mobil? biasanya aku akan melihatmu penuh luka pagi-pagi".  Pemuda itu tersenyum ceria menatap Arlen tanpa memikirkan sekitarnya.  "Ah.. Aku diantar Hyung ku.. ". Arlen menatap Jun.  Sementara Jun?.. Pria tampan itu tengah menahan rasa kesalnya. Ia menatap dingin pada Jae Joon..  Hatinya terasa begitu panas melihat Arlen dengan mudahnya dirangkul oleh pemuda dengan penampilan yang berantakan itu.  "Arlen, Pastikan kau tidak membuat Yeongi dalam bahaya karena kebiasaan burukmu itu".  Dan dengan kalimat itu Jun segera memasuki mobilnya, Ia menutup pintu mobil dengan keras.   Jun begitu kesal tanpa alasan yang jelas, ia mengendarai mobil dengan kencang menuju ke kantornya.  "Apa-apaan orang itu..??". Arlen menatap aneh mobil yang baru saja pergi.  "Jangan dipikirkan Arlen Ah. Jun Hyung hanya sedang berdebat dengan hatinya". Yeongi tersenyum diam-diam, ia sangat tahu gelagat Hyung nya.  "Jadi, siapa pemuda manis ini?". Tanya Jae sambil menatapi Yeongi. Yang ditatapi langsung merespons.  "Lee Yeongi imnida. Aku teman barunya Arlen". Yeongi membungkuk sedikit, itu kebiasaannya  "Oi.. tidak usah terlalu Formal padaku. Jika kau teman Arlen, berarti kau juga temanku!!  Ah iya, Aku Jung Jae Joon, panggil saja Jae atau JJ. Ngomong-ngomong.. aku seperti pernah melihatmu".  Jae kemudian mulai berpikir setelah memperkenalkan dirinya dengan ceria.  "Jae Joon ah, jangan macam-macam pada Yeongi".  Arlen menatap malas sahabatnya yang kadang sering berulah, walaupun Arlen juga sama.  Namun Jae bukan orang penindas seperti yang lainnya, ia hanya senang berkelahi saja.   "Jae Joon ah, Emm mungkin karena kelasku ada di sebelah kelas kalian". Yeongi tampaknya masih canggung.    "Hoo.. pantas terasa familiar. Ngomong-ngomong Yeongi ya, apa kau bisa berkelahi?". Tanya Jae dengan santainya.  "Be-berkelahi?". Yeongi bertanya lagi, memastikan apa ia tidak salah dengar.    "Iiissshh.. Jae, jangan mengajarkan hal aneh pada Yeongi, ia hanya murid biasa".   Arlen kadang sering bingung dengan Jae, ia suka sekali menghasut orang-orang untuk berkelahi dengannya.   "Bukan begitu Arlen ah. Tapi bukankah berbahaya untuk murid baik-baik sepertinya berada di dekatmu?? Mereka bisa saja melibatkan Yeongi juga".  "Tidak perlu mengkhawatirkanku Jae Joon ah, kalau berkelahi aku memang tidak pernah.  Tapi aku cukup kuat melawan jika aku berada dalam kesulitan" .  "Yeongi ya, Jangan memaksakan dirimu. Aku lebih senang jika kau tidak terlibat.   Jadi, jika kau melihat orang-orang yang mencari masalah denganku, segeralah sembunyi atau menjauh.  Pastikan kau tidak terlibat! Aku tak ingin Yeongi terluka, karena kau temanku". Arlen menatap Khawatir  "Baiklah Arlen ah, Aku akan menuruti perkataaanmu". Yeongi tersenyum lembut.  "Tunggu dulu!! Jadi menurutmu tak masalah jika aku yang terluka begitu?!". Jae memprotes kalimat Arlen.  "Untuk apa aku mengkhawatirkanmu Jae ya. Kalau kau sendiri yang sering minta untuk dihajar?!". Arlen berucap sinis.  "Sialan kau!. Kalau kau tidak manis, sudah sejak lama aku ingin menghajar wajahmu itu!!".  "Aku tidak manis!! Aku tampan!!!".  "Ya ya ya.. kau tampan, jika dilihat dengan mata tertutup".  "Sialan kau..!". Arlen menjewer keras telinga Jae.   "Hei hei.. sudahlah kalian berdua. Ayo cepat kita masuk! kelas akan segera dimulai".  Yeongi sadar kalau sejak tadi mereka jadi pusat perhatian.  Terutama dirinya, ia tahu jika berdekatan dengan Arlen akan seperti ini, jadi ia sudah siap.  Sementara itu di tempat lain..    Jun baru saja sampai di kantornya, ia memasuki gedung dengan aura mengerikan.  Baru beberapa hari para pegawai di sana tak melihat sang CEO kejam itu, kini ia malah kembali dengan aura seolah ingin membunuh seseorang.  "Apa Park Hana sudah berada di sini?". Tanya Jun saat ia tiba di ruangannya.  "Sebentar lagi ia akan datang Sajangnim". Kazue Kim, seorang sekretaris sekaligus sahabat Jun, atau bisa dibilang ia adalah Hoobae nya saat kuliah dulu.  Sejak pagi merasa heran dengan sikap sang atasan.  Saat baru tiba di kantor ia terus-menerus mencari Park Hana.  Namun dapat dipastikan itu bukanlah hal yang bagus, karena sangat jelas mood Jun saat ini benar-benar buruk.  "Jun, Sayang.. Aku dengar kau memanggilku? Apa kau merindukanku? Sepertinya kau sudah bosan dengan bocah kecil itu ya?".  Park Hana muncul dari balik pintu, ia segera masuk tanpa bertanya pada pemilik ruangan itu,  Melenggang menuju tempat Jun yang tengah berdiri di dekat mejanya.  Park Hana berjalan ringan mengabaikan keberadaan Kazue, kemudian dengan beraninya merangkul leher Jun disertai senyuman nakalnya.  "Jarang sekali kau memanggilku Jun, Tapi aku suka". Park Hana mendekatkan wajahnya pada Jun.   "Tolong jaga sikapmu selama di kantor Nona Park.  Dan satu hal lagi, aku memintamu kesini karena ada yang ingin aku sampaikan padamu". Jun menatap tajam Hana.  "Apa itu Jun?".  "Mulai hari ini, Kau dipecat!". Jun mengucapkannya dengan wajah datar.  "Hah?!.. A-apa? Kau tidak sedang bercanda kan Jun".  Hana benar-benar shock, ia melepas rangkulannya dan mundur selangkah, ia menatap tak percaya.  "Aku tidak suka mengulang kalimatku, Namun bisa kupastikan kalau kau tidak salah dengar". Jelas Jun tegas.  "T-tapi kenapa?! Apa jangan-jangan karena bocah itu?! Jun apa kau serius telah menikah dengan seorang remaja?! apalagi ia seorang namja?!  Dan kau tidak bisa mencampuri pekerjaan dengan masalah pribadimu Jun!". Hana marah, ia tidak setuju dengan keputusan yang diambil Jun.  "Memang sebenarnya ada sedikit perbuatanmu pada Arlen yang membuatku kesal, berkatmu aku harus mengalami banyak masalah kemarin.  Ia dilarikan ke rumah sakit karena alergi dengan aroma parfum milikmu. Kepalanya terluka akibat botol kaca yang kau lempar padanya".  Jelas Jun sambil memijat pelipisnya. Ia benar-benar stres dan lelah.  Kazue sendiri yang sejak tadi menyimak cukup terkejut dengan penjelasan Jun.  Ia baru tahu jika istri Jun yang ia lihat di pernikahan saat itu ternyata memiliki tubuh yang cukup rentan sakit.  Padahal ia kelihatan seperti remaja yang cukup aktif.  *Bagaimana jika Kazue tahu kalau istri mungil Jun itu hobinya menghajar orang?.  "Tapi bukan hanya itu saja masalahnya Hana.  Beberapa waktu belakangan kinerjamu semakin buruk saat aku tidak ada. Kau juga sulit bekerja sama dengan yang lain.  Dan kau lebih banyak menindas para pekerjaku yang lain hingga membuat mereka tak bisa fokus bekerja".  'Dan sisanya aku dibuat jantungan gara-gara ulahmu, membuatku bertengkar hebat dengan Arlen, dan terakhir seluruh penghuni rumah jadi ikut menyalahkanku’. Batin Jun.  "Tidak ada yang ingin kubicarakan lagi, silahkan keluar". Entah kenapa sekarang Jun jadi merasa semakin pusing setiap kali melihat Park Hana.  "Kau.... Dasar b******k!!!".  BLAM!!     Hoo.. Nyalimu besar juga Nona Park, berani membanting pintu di hadapan seorang Hwan Jun Seon.  Namun saat ini Jun terlalu stres untuk mengurusi hal lain.  Kenapa bisa begitu? Padahal ia baru saja kembali bekerja setelah beberapa hari libur untuk acara pernikahannya.  Jawabannya ada pada makhluk menyebalkan yang kini menjadi pendamping hidupnya.  Arlen bisa membuat Jun stres hanya karena anak itu marah dan mendiaminya selama seharian.  Astaga apa yang terjadi dengan isi otak Jun??! Kenapa setiap memejamkan mata rasanya selalu wajah bocah itu yang muncul dalam pikirannya?  Membuat kepalanya semakin pusing saja.  "Kazue ya... Tolong cancel semua meeting hari ini, rasanya otakku sedang tidak bisa bekerja dengan baik".  "Maafkan saya Sajangnim, namun meeting untuk hari ini tidak bisa dibatalkan.  Karena putri dari KN Corp yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan kita, akan tiba dalam beberapa menit.".  "Hm? Ah.. perusahaan itu? Mereka memang bukan perusahaan besar, tapi mereka cukup terkenal dan berpengaruh di dunia bisnis.  Aku tak tahu jika putrinya yang akan datang. Walau kudengar putri mereka memang akan mengambil alih perusahaan itu dalam waktu dekat.  Dan.. siapa nama wanita itu?".  "Namanya Kang Yemi Sajangnim, usianya dua tahun lebih muda dari Anda.. ".  "Hm... Kau tidak perlu formal ketika tak ada orang. Panggil seperti biasa saja tak masalah.  Aku tak ingin memikirkan pekerjaan terus menerus, setidaknya biarkan aku leluasa jika hanya ada kau di sini Kazue ya".  "Maafkan aku Hyung, aku jadi terbiasa memanggilmu begitu karena lebih sering bertemu di tempat kerja"  "Yah.. Akhir-akhir ini aku memang jarang keluar, kita juga jarang minum bersama lagi".  "Itu karena Hyung sudah memiliki istri, Hyung harus lebih sering meluangkan waktu dengan istrimu Hyung ...".  "Entahlah, aku bahkan tak yakin apa dia akan senang jika aku berada di dekatnya". Jun hanya menatap lurus ke luar jendela.  Arlen dan Jae sedang berada dikelas. Saat tiba waktu jam istirahat, orang-orang dikelas itu berhamburan keluar.  "Arlen Ah..?". Suara lembut menyapa pendengaran Arlen dan Jae. Yeongi datang dan kini ia berdiri di dekat pintu kelas Arlen.  "Kemarilah Yeongi!!". Arlen sedikit berteriak dan membuat beberapa orang di kelas menatap ke arah mereka, terutama menatap Yeongi.  Suara Bisik-bisik yang tak mengenakan mulai terdengar.  'Lihat itu.. Sepertinya Arlen menindas anak dari kelas lain dan menjadikannya b***k'.  'Kasihan sekali anak itu.. harusnya ia tak cari gara-gara pada mereka...'    "Hei kau.. Apa kau baik-baik saja?". Tanya seorang murid ketika Yeongi berjalan ke arah Arlen.  "Eh?.. memangnya aku kenapa?". Yeongi menatap bingung ke arah mereka.  "Lihat itu.. Arlen pasti sudah mengancammu agar tidak membantah mereka kan?". Orang-orang mulai asal menuduh Arlen.  "Huh? Maksudmu Arlen.. tapi ia tid-". Yeongi hendak menjelaskan namun kalimatnya langsung di potong.  "Hoi Arlen! Berhenti menindas anak-anak lain!! Kau selalu saja membuat masalah!". Salah satu anak kelas itu berteriak dan disahuti yang lain.   “Iya! Kau membawa nama buruk untuk kelas kita!”  “Arlen tukang Bully!!”.  BRAKK!!!    Meja digebrak dengan kencang..    Pelakunya?    Orang yang sejak tadi berada di samping Arlen. Jae menatap tajam anak-anak itu.  "Jaga bicara kalian!! Arlen bahkan tak pernah menindas orang lain!! Memangnya apa bukti kalian?!". Jae tampak begitu marah.  "Tentu saja kami punya bukti! Aku melihatnya kemarin bersama adik kelas di gudang belakang dan membuat anak itu takut!".  "Katanya Arlen juga menindas anak-anak dari sekolah lain!!". Anak-anak lain mulai ikut berbicara.  "Kau bilang 'Katanya'? Dan kau hanya melihatnya?, Apa kau bertanya pada orang yang kau lihat tengah ditindas oleh Arlen?   Apa ia mengatakannya padamu kalau ia tengah ditindas?!!". Kalimat Jae menghentikan tuduhan orang-orang tadi.  "Kalian bahkan tak punya bukti yang pasti, Tapi yang lebih buruk adalah kalian.  Kalian melihat orang ditindas tapi kalian tidak menolongnya, kalian menyebarkan berita buruk tanpa tahu cerita aslinya.  Dan sekarang kalian menuduh Arlen seolah kalian tak punya salah padanya.  Kalianlah yang menindas Arlen! Dan yang kulihat saat ini, kalian hanya makhluk menyebalkan yang menyebar omong kosong!!".  Jae menatap garang pada teman sekelasnya, Ia membungkam orang-orang dengan kalimatnya.  Hingga tepukan pelan di pundak Jae meredakan amarahnya. Arlen berdiri, dan mulai beranjak dari bangkunya sambil menarik Jae.  "Hentikan Jae ah.. Kau marah-marah pun tak akan mengubah keadaan. Ayo ke kantin!  Ah iya.. Yeongi ya, kembalilah ke kelasmu. Maaf sebaiknya mulai sekarang jangan dekat-dekat denganku, nanti kau terlibat masalah".  Arlen menepuk pelan bahu Yeongi dengan tatapan sendu.  Yeongi awalnya ingin menghibur Arlen, namun suaranya tidak bisa keluar.  Sampai sebuah kalimat dari Arlen, membuat Naluri keibuan Yeongi tiba-tiba aktif.  "Ahh.. Aku lapar, ayo makan samyang di kantin, Jae ah.. Pasti akan en- Adududuh.. Y-Yeongi ya?!!".  Kalimat Arlen terputus akibat jeweran sayang dari Yeongi. Ia tak bisa membiarkan kedua makhluk ini pergi.   Arlen kesakitan sementara Jae Joon terlihat kaget.  "No no no!! Aku tak akan mengizinkanmu makan-makanan pedas!! Aku sudah susah-susah membuatkanmu bekal dan kau mau makan diluar?!  Terlebih lagi samyang kau bilang??!! Apa kau mau membuatku harus menungguimu di toilet selama seharian hah?!!  Diam dikelas dan makan bekal yang kubuat!!". Yeongi menarik telinga Arlen dan itu membuat orang-orang di sana melongo.   "T-tapi Yeongi-". Arlen berhenti melanjutkan kalimatnya ketika Yeongi menatap tajam pada Arlen.  "Tuan Muda Hwan Ryeon il A.k.a Arlen Hwan!! Tak ada makanan pedas! Tak ada penolakan! Dan jika kau menolak lagi.   Selama seminggu ke depan aku tak akan memasak lagi untukmu!".  Yeongi memberikan tekanan pada kalimatnya, Arlen dan Jae terdiam kaku.  "B-baik.. aku menurut". Dan Arlen pun segera duduk di kursinya dengan tatapan takjub dari orang-orang termasuk Jae.  "Ah iya, Kalian sebaiknya bubar dan pergilah makan. Meskipun kalian diam, Jam makan siang tidak akan bertambah kalian ingat?".  Yeongi berkata santai seolah keributan tadi tidak pernah terjadi.  Kemudian Yeongi tersenyum manis sambil menatap seisi kelas, namun efeknya membuat orang-orang bergegas berlarian menuju kantin.  Mereka melupakan jam makan siang yang sebentar. Bagaimanapun urusan perut yang utama!.  Ternyata benar.. Orang yang lapar itu memang menyebalkan..  Kelas sudah lebih sepi sekarang, hanya ada ketiga sohib dan beberapa anak yang baru kembali dari kantin.   "Hei Arlen, Aku tak menyangka kau akan takluk pada perintah Yeongi". Jae membuka pembicaraan di tengah acara makan mereka.  "Jae ya.. Apa kau ingat aku pernah memasak bekal sendiri dan daging yang kubuat bentuknya menjadi hitam pekat?  Di rumahku sedang ada hal yang terjadi, dan aku sekarang tinggal dengan Yeongi. Lalu, masakan Yeongi itu benar-benar enak.  Jadi.. aku tak ingin kelaparan untuk seminggu ke depan hanya karena seporsi makanan pedas..".  Yup! Jatah makan Arlen bergantung pada Yeongi.  Ia tak ingin makan-makanan gosong karena nekat masak sendiri ketika Yeongi marah.  "Ahaha.. Benar juga, Arlen tak kuat makanan pedas". Jae tersenyum geli mengingat kelemahan lain dari sahabatnya.  "Ngomong-ngomong Yeongi ya, apa yang membuatmu suka memasak? kau kan laki-laki". Tanya Jae yang penasaran.  "Hm?.. Pertama karena tuntutan kerja sambilanku. Dan yang kedua, karena seseorang yang spesial... sangat suka makanan yang kubuat"  Tanpa sadar Yeongi tersenyum lembut seolah tengah mengingat seseorang.  "Hm?.. Siapa itu? kau tak pernah cerita padaku Yeongi ya!". Arlen cemberut.  "Kita baru kenal beberapa hari Arlen ah, bagaimana bisa aku bicara banyak hal padamu??"   "Kalau begitu mulai sekarang kau jadi sahabatku!! Agar aku banyak mendengar ceritamu!!".   "Hoi kalian tak boleh meninggalkanku dalam pembicaraan ini!!". Gerutu Jae.  "Aku lupa kau ada di sana Jae ya.."  "Sialan kau Arlen!, Kemarikan wajah yeoja mu itu!! Akan aku sobek!!".   “Sebelum itu akan kupatahkan dulu tanganmu!!  "Baiklah, baiklah!! mulai sekarang kita bersahabat!! Jadi berhenti berdebat dan cepatlah makan!!". Yeongi menengahi keduanya  Dan acara makan siang itu diakhiri dengan Arlen dan Jae yang berebut makanan Yeongi.    Di lain tempat  Seorang Pria memasuki mobil setelah keluar dari bandara, ia baru saja pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di tempat lain.  "Astaga melelahkan sekali".   "Apa perjalanannya menyenangkan tuan?"  "Apanya yang menyenangkan?.. Aku malah dibuat kelelahan dengan semua dokumen dan meeting menyebalkan itu.   Daripada itu, aku ingin segera pulang, Aku rindu masakan rumah.  Terutama.. Aku merindukan masakan hamster kecilku..". Hwan Rei Soo, Tersenyum lembut mengingat seseorang yang nanti akan ia temui di rumah.   ❖❖❖ TBC ❖❖❖
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD