'Hatinya sudsh terkunci, bahkan mungkin terbelenggu.
Sampai ia tega melukai kucing kecil, yang selama ini menemaninya'.
Jun tengah duduk di sofa sebuah kamar rawat, ia baru saja mandi dan mengganti pakaiannya, Jun saat ini tampak begitu lelah.
Tentu saja lelah, setelah acara panik dadakan yang ia terima dari Arlen. Pemuda itu kini malah dengan nyenyaknya tertidur di ranjang rumah sakit dan masih tak berniat untuk bangun.
Jun dibuat lelah olehnya. Karena Arlen membuatnya dilanda panik luar biasa, baru kali ini ia harus menghadapi situasi semacam ini..
Kemarin ia berlari seperti orang gila, masuk ke dalam rumah sakit lalu di tatapi aneh oleh orang-orang.
Karena ada ketiga orang lelaki datang dengan bau parfum menyengat, lalu salah satu remaja tak sadarkan diri di dalam gendongan bridal seorang pria tampan.
Apa yang sudah ketiga orang lelaki itu lakukan?
Dua pemuda manis dan satu pria gagah nan rupawan.
Yang satu berpakaian Semi formal, Satunya berpakaian Pelayan, dan yang pingsan memakai pakaian rumah yang santai, dengan celana pendek dan kaos putih basah penuh cairan yang diduga pasti itu adalah parfum.
Tak lupa dengan aroma menyengat yang begitu mengganggu, menguar dari pemuda yang tengah pingsan.
Astaga apa ketiga lelaki itu baru saja 'bermain sesuatu' yang agak ekstrem hingga membuat seorang anak remaja tak sadarkan diri..?
Permainan apa yang mereka lakukan... ?
Begitulah pikiran orang-orang di rumah sakit yang di antaranya terdapat segelintir Fujoshi yang kebanyakan adalah para perawatnya.
Tak heran isi pikiran mereka jadi mengarah ke mana-mana.
Jun panik dan langsung mendatangi salah satu dokter yang kebetulan ada di dekat area masuk.
"Cepat tangani anak ini!! Ia alergi aroma Lavender!!". Panik Jun yang membuat dokter dan para perawat di sana shock dan langsung mengambil tindakan darurat.
Alergi Lavender dia bilang?
Mencium aromanya sedikit saja bisa membuat penderita nya menjadi sesak...
Lalu disiram parfum sebanyak itu?!!
Cari mati namanya!!!.
Dokter tak habis pikir dengan orang-orang ini, apa yang sudah mereka lakukan sebenarnya??
Tak ingin banyak bertanya atau pun membuang waktu, dokter pun langsung menangani Arlen.
Para dokter itu mengecek tubuh Arlen memastikan apa ia memang Alergi pada Lavender atau akibat penyakit yang lain ...
Dan ternyata benar bahwa anak ini memiliki Alergi yang berpengaruh pada pernafasannya.
Dan Alergi itu semakin bereaksi akibat cairan dari parfum beraroma lavender.
Dengan sigap mereka mengobati Arlen hingga kini kondisi Arlen sudah membaik seperti sekarang.
Jun sebenarnya ingin segera pulang dan pergi ke kantornya, ia tak tahan berlama-lama di rumah sakit.
Namun Arlen dianjurkan menginap paling tidak selama sehari setelah pemulihannya, karena kondisinya yang masih kesulitan saat bernafas.
Tak ada yang menjaga anak ini selain Jun, ke mana Rei??
Semalam setelah menjenguk Arlen ia bilang kalau saat ini ia ada meeting penting di Busan selama lima hari.
Lalu Yeongi?. Anak itu menangis sejak kemarin malam dan mengotot ingin menemani Arlen.
Namun Jun melarangnya dan memaksa Yeongi agar tetap pergi ke sekolah. Ia tak ingin Yeongi ketinggalan pelajaran.
Bolehkah kita sebut kalau Jun ini termasuk Brocon? Atau bisa disebut juga dengan Brother Complex.
Walaupun Yeongi bukan adik kandungnya, Ia tetap menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Jun hanya baik kepada Yeongi dan Lee Eun Momma saja. Yang lainnya? Nol!! tingkat kepekaannya menurun drastis terutama soal asmara.
Ia menganggap para wanita itu sebagai mainannya, karena itulah sang Eomma dan Appa mengkhawatirkan masa depan anaknya.
Harus ada orang yang cukup tangguh untuk mengimbangi Jun sebagai pasangannya. Dan mereka tidak tega jika orang itu Yeoja baik-baik.
Namun mereka juga tidak mau jika Yeoja itu sama tersesatnya dengan Jun, bisa kacau nantinya.
Dan pilihan mereka jatuh pada pemuda manis yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia tertidur lelap dengan dijaga oleh Jun.
Jun menatap tajam pada remaja yang tengah terbaring itu, remaja yang membuatnya kerepotan selama beberapa hari.
Dan tatapan mengerikan itu membuat Arlen seolah merasa bermimpi buruk.
Lihat, saat satunya tak sadarkan diri saja kedua pasangan ini masih tak mau akur!
Ngomong-ngomong tentang orang tua mereka. Jun tak mau memberi kabar buruk ini pada orang tuanya atau pun orang tua Arlen.
Karena dapat dipastikan yang nanti akan terkena masalah adalah dirinya sendiri.
Jun masih memperhatikan pemuda kecil yang tengah terbaring itu.
Tapi jangan salah, walau kecil, nyali pemuda ini lebih gila dari yang dibayangkan oleh Jun.
Meski begitu, ternyata anak ini bisa menunjukkan sisi lemahnya juga. Jika sedang sakit seperti ini, Arlen terlihat begitu rapuh.
Secara tak sadar, Jun mengusap lembut surai Arlen yang tengah berbaring lemah. Tangan itu bergerak dengan sendirinya.
Seolah ada medan magnet yang menariknya untuk menyentuh surai-surai lembut kecokelatan itu.
Jun sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
Ia hanya menganggap perasaan itu sebagai rasa simpati dan kasihan, walaupun ia tidak yakin dengan anggapannya sendiri.
Sampai Arlen terlihat membuka matanya perlahan...
"Kau sudah sadar Cebol..?? Ah bukan.. aku tahu kau sudah sadar sejak beberapa jam yang lalu, tapi kau tertidur lagi seperti kerbau mati".
Baru saja Arlen terbangun Jun sudah mengibarkan bendera peperangan.
"Tentu saja aku bangun jika ada seorang iblis yang berdiri di sampingku dengan tatapan seolah ingin mencincangku hidup-hidup".
Arlen menatap sinis pada Jun.. melihat wajahnya saat pertama kali bangun sungguh bukan hal yang bagus.
Terutama jika orang itu mengeluarkan aura mengerikan seolah Arlen itu adalah hama! siapa yang bisa tenang?!.
Katakan itu pada pemuda barbar yang tertidur nyenyak dengan mendengkur keras saat malam hari.
Padahal ada pangeran yang ia sebut seorang iblis tengah tidur seranjang dengannya.
Apanya yang tidak tenang?
"Aku bisa mencincangmu sekarang jika kau mau?".
Jun tersenyum mengejek pada Arlen, walaupun sedang sakit ternyata mental bocah ini masih cukup kuat untuk membalas perkataan Jun.
"Tidak, terima kasih! Aku lapar Hyung.. Di mana Yeongi?". Arlen mencoba bangun, ia mengalihkan pembicaraan mereka.
Perutnya harus diutamakan saat ini, dan orang yang bisa dimintai makanan hanya Jun.
Jika ia meladeni Jun dengan berdebat lebih lama, bisa dipastikan ia tak akan mendapatkan jatah makanan saat ini.
"Akan aku suruh perawat membawa makanan ke sini. Yeongi sedang di sekolah, aku sudah menyuruhnya meminta izin kepada sekolah karena kau sakit”.
"Padahal aku benar-benar menantikannya... pergi sekolah bersama Yeongi di hari pertama kenaikan kelas".
Arlen mengembungkan pipinya dengan wajah di tekuk.
"Jangan berpikir macam-macam! Kau hanya akan merepotkan Yeongi jika kau ikut sekolah dengan keadaan seperti itu!".
Jujur sebenarnya baru kali ini Jun melihat ada orang yang akrab dengan Yeongi.
Karena yang Ia tahu, di sekolah pun Yeongi cukup tertutup pada teman-temannya.
Dan tak sedikit dari mereka yang akan meledek Yeongi karena ia menjadi seorang pelayan.
Tapi bocah ini sudah akrab dengan Yeongi dalam dua hari.
Mungkin efek keduanya sama-sama bocah dan tinggal serumah, Jun tak ambil pusing.
"Kapan aku bisa pulang Hyung? Aku tak betah di sini...". Arlen tetap merengek
"Kau bilang begitu tapi kau tidur selama tiga jam dengan wajah pulas. Apanya yang tidak betah??" .
Mendadak wajah Arlen memerah ... Kalimat Jun benar-benar tepat sasaran.. dan ia tidak tahu kalau Jun terus memperhatikannya selama itu.
Ah.. mungkin karena merasa bersalah saja.
"A-aku hanya punya kebiasaan buruk... karena mudah tertidur di mana saja..". Suara Arlen mengecil di akhir kalimat namun masih terdengar oleh Jun.
"Hilangkan kebiasaan burukmu itu, kau bisa merepotkan orang-orang. Dan aku rasa kebiasaan burukmu bukan hanya itu". Jun tersenyum sinis.
"Haruskah aku mengambil sandal yang belum dicuci untukmu bercermin Hyung?. Karena aku rasa pijakan sandal itu sama kotornya denganmu.". Arlen membalas tajam kalimat Jun.
"Sialan kau bocah kecil". Jun menatap garang pada Arlen.
Jun hendak mengomeli Arlen namun niatnya terhenti ketika makanan yang dibawa perawat sudah tiba.
Arlen terdiam melihat makanan itu, ia sama sekali tak menyentuhnya.
"Kenapa kau diam saja.. cepat makan dan habiskan"
"Aku tak suka bubur Hyung, Aku ingin makan kimbab dengan semangkuk samyang dan tteokbokki...". A
rlen mengucapkan itu dengan wajah murung. Jun bengong mendengar permintaan bocah itu.
"Orang sakit jangan minta macam-macam. Seleramu cukup mengerikan untuk orang yang baru sembuh.". Jun tak tahu lagi jalan pikiran bocah ini.
"Tapi aku tak suka bubuuuurrr!!!". Arlen semakin merengek. Sementara Jun kehabisan kesabaran untuk menghadapi anak ini.
Dengan kesal Jun mengambil mangkuk bubur itu..
Ia mendekat pada Arlen..
"H-Hyung.. Kau mau apa?!.". Arlen kelihatan panik
Tiba-tiba Jun mencengkeram rahang Arlen dengan satu tangan..
kemudian...
"Hmmph?!!!!". Arlen tampak kaget dengan wajah memerah.
"Arlen.. aku membawakan makanan dari ru-.... Astaga Jun Hyung!!! Apa yang kau lakukan??!!". Yeongi datang dengan wajah yang berubah panik.
Yup! Jun menjejalkan sesendok bubur membuat Arlen hampir tersedak. Dan wajah Arlen saat ini memerah karena marah.
"Anak ini tak mau makan jadi aku masukan saja langsung". Jun mengatakan dengan nada santai tanpa rasa bersalah.
“Uhukk.. Uhuk uhukk..!!”.
"Jelas Arlen tak mau! Ia tak bisa makan bubur yang ada daun bawangnya, nanti ia muntah!!".
Yeongi dengan sigap memberi Arlen minum dan menepuk pelan punggungnya.
"Dari mana kau tahu itu?". Tanya Jun yang heran karena Yeongi cukup tahu banyak tentang Arlen.
"Kalau soal makanan, dua hari cukup untuk tahu selera makan Arlen. Karena kemarin dia banyak makan, jadi aku tahu apa yang sulit dimakan olehnya".
Jelas Yeongi sambil membuka bekal yang ia buat saat pulang sekolah tadi.
"Cih, merepotkan saja. Makananmu terlalu pilih-pilih". Jun mengejek Arlen sementara Arlen semakin menekuk wajahnya kesal.
"Hm?.. Jun Hyung juga dulu pilih-pilih soal makanan. Walau sekarang tidak separah dulu.
Hyung tak suka makanan terlalu manis, tak mau makan dengan banyak minyak, kalau pagi selalu ingin roti bakar, dan Hyung alergi pada kacang".
Yeongi menjelaskan dengan santai. Jun menatap horor pada Yeongi, apa orang yang ia anggap adik ini baru saja membela lawannya?
Astaga Arlen benar-benar sudah terlalu dekat dengan Yeongi, itu tidak baik untuk Jun! dan itu membuat Arlen tersenyum senang.
"Cih, tapi makananku tak se-ekstrim ia ketika baru sembuh. Ia meminta semangkuk tteokbokki dan samyang saat baru bangun tadi". Jun kembali membalas Arlen.
"Hah?! Arlen, apa itu benar?!". Yeongi menatap marah pada Arlen.
"Ti-tidak Yeongi!!! Jun Hyung hanya salah dengar!! Aku bilang aku ingin makan kimbab!". Arlen panik.
Yeongi yang sedang marah punya beribu ocehan untuk dikeluarkan.
Dan lagi Arlen tak mau jika harus berhenti memakan masakan Yeongi.. rasanya terlalu enak untuk dilewatkan.
"Aku tak berbohong.. Kau yang tak mau mengaku dasar bocah"
"Iishhh diamlah kau Hyung!". Arlen memelototi Jun, sementara Jun sendiri cuek-cuek saja. Atau mungkin malah senang?.
"Astaga Arlen.. kau itu tidak tahan pedas... Perutmu itu lebih sensitif dari yang kau kira. Walaupun nafsu makanmu memang besar..".
Yeongi menatap khawatir sang sahabat dan majikan yang baru ia kenal tiga hari yang lalu.
"Heh.. kau hanya bisa merepotkan orang-orang". Jun kembali menyindir Arlen.
"Aku tak mau mendengar kalimat itu dari mulutmu Hyung!". Arlen menatap tajam Jun.
Peperangan dimulai kembali, Yeongi hanya bisa menghela nafas lelah.
Ia merasa jadi seorang ibu dengan dua anak di sini, mau yang besar atau yang kecil.. keduanya sama-sama kekanakan.
"Astaga.. kapan suami istri ini bisa akur..". Gumam Yeongi.
Siang ini Arlen sudah bisa pulang... mereka sudah tiba di rumah beberapa menit yang lalu dan disambut oleh bibi Lee Suji, Ibunya Yeongi.
"Tuan muda Arlen sudah pulang.. Bagaimana keadaannya?". Bibi Suji mengambil barang-barang yang Yeongi bawa.
Itu adalah pakaian yang Yeongi siapkan kemarin untuk Jun dan Arlen saat menginap di rumah sakit.
Karena baju mereka begitu penuh dengan aroma parfum lavender, jadi Yeongi mencucinya memastikan agar Arlen tidak menghirup aroma itu lagi.
"Aku sudah sembuh bibi Suji.. Maaf karena membuat kalian jadi Khawatir.. ".
Arlen menatap bibi Suji dengan tatapan bersalah, membuat wanita tua itu jadi gemas pada anak manis di hadapannya.
"Sudah seharusnya kau minta maaf, karena dengan tidak tahu dirinya malah membuat kekacauan".
Jun berkata dingin lalu kemudian masuk ke ruang keluarga lebih dulu. ia lelah.. berada di dekat Arlen membuatnya merasa lebih lelah dibanding saat bekerja di kantor.
"T-tuan muda Arlen tidak perlu memikirkan perkataan Tuan Jun, mungkin ia hanya sedang lelah saja. Oh iya.. bibi akan siapkan makan siang untuk kalian".
Setelah membereskan barang-barang, Bibi Suji pun segera menuju ke dapur.
Yeongi melihat gerak-gerik Arlen yang mulai berubah. Isi pikiran Arlen itu mudah dibaca oleh Yeongi, dan ia tahu satu hal.
Arlen adalah tipe orang yang tidak mudah melupakan kalimat jahat yang ditujukan padanya.
"A-Arlen Ah.. tolong tenanglah.. abaikan saja Jun Hyung. Jangan bertengkar dulu.. kau baru sembuh". Yeongi mencoba membujuk Arlen.
Tapi bukan Arlen namanya jika tidak terjerumus ke dalam masalah. Dan sifat mendasar Arlen, ia tak akan mendengar apa pun kata orang ketika ia marah.
Jadi begitu Yeongi selesai dengan ucapannya, Arlen segera menuju ke tempat Jun.
"A-Arlen!! Hei!! Astaga.. aku merasa perdebatan kali ini tak akan berakhir baik. Di saat begini Rei Hyung malah tidak ada... aku harus apa??!". Gumam Yeongi yang tampak resah dan panik.
"Hoi, Tuan Es! Apa maksudmu aku tidak tahu diri hah??!". Arlen menatap sengit pada Jun. Ia berdiri di depan Jun yang tengah duduk di sofa.
"Sudah jelaskan, Keluargaku sudah bersikap baik padamu, tapi kau terus membuat masalah dan merepotkanku.".
Arlen kesal, ia tidak suka disalahkan seorang diri ketika yang berbicara sendiri sama saja dengannya.
Orang ini seperti tidak sadar akan kesalahannya.. semua ini kan gara-gara Jun membawa wanita lain ke rumah ini.
Yang pasti.. orang di depannya ini memang tak pernah menyadari kesalahannya.. tidak sedikit pun.
"Dengarkan aku ya tuan egois. Jika bukan karena kau yang terus bermain wanita, aku tak akan dinikahkan denganmu!
Dan jika saja kau tidak membawa wanita itu kesini saat itu, aku tak harus masuk ke rumah sakit! dan kau bilang itu semua salahku?!..
Tidakkah kau sadar kalau kelakuanmu sendiri sudah salah?!..
Membawa wanita lain ke rumahmu, membiarkannya bermanja padamu, membuatnya seolah-olah menjadi kekasihmu,
Padahal di rumah ini kau sudah memiliki pasangan hidupmu sendiri. Kau memang b******k!". Arlen tak lagi bisa memendam amarahnya.
Urat kesabaran Jun seolah terputus, kini ia berdiri dan menatap Arlen begitu dingin. Ia tahu itu salah tapi ia tak suka ditentang!
Baginya.. hidupnya adalah miliknya sendiri! Tak ada siapa pun yang boleh mengusik apa pun yang ia lakukan!.
"Dengar bocah.. sejak awal aku tak pernah menganggapmu sebagai pendampingku! Aku tak terima diatur-atur olehmu! Aku tak pernah menginginkan pernikahan ini!
Jadi berhenti bersikap seolah-olah kau orang yang penting dihidupku!.
Kau tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang menjadi mainanku! Kau hanya sampah!". Jun menekankan kalimatnya.
Arlen terdiam. Sementara Yeongi.. jujur ia sedih mendengar kalimat itu dari Jun.
Tak menyangka jika Hyung yang selalu baik padanya bisa sekasar itu pada Arlen. Ia menatap khawatir pada Arlen yang terus terdiam.
"Lagi pula harusnya kau berterima kasih padaku! Keluargaku rela membantu keluargamu yang berada diambang kehancuran!".
Jun melanjutkan kalimatnya. Yeongi dan Arlen merasakan firasat tak enak pada ucapan Jun setelah ini.
"Ayahmu sakit-sakitan, bisa apa ia dengan tubuh seperti itu! Keluargamu banyak bergantung pada keluargaku!
Salahkan orang tuamu yang memaksamu menikah denganku!.. Ah.. atau mungkin ibumu sudah kehabisan akal untuk menghidupi keluarganya,
Jadi ia menjualmu pada kami dan menutupinya dengan rencana pernikahan". Jun menatap rendah pada Arlen.
"Hentikan..". Arlen berkata pelan, ia tetap diam, ekspresi datarnya masih tak berubah. Hanya aura dingin yang semakin menguar dari Arlen.
"Kenapa? Apa kau tidak mau mengakui kalau ibumu yang sudah menjual dirimu demi hidupnya?!..". Jun tidak memperdulikan ucapan Arlen.
"Hentikan...."
" Mungkin saja ibumu sudah memohon-mohon pada kami agar menyetujui pernikahan ini... benar wanita muraha-
BUAAGHH..!!!
Satu bogeman mentah dengan kekuatan penuh mendarat telak di pipi Jun! Membuat Jun tersungkur kembali ke sofa dengan pipi lebam dan darah di bibirnya.
Tenaga Arlen yang sedang murka tak bisa dianggap remeh.
"Sudah kubilang untuk berhenti.. apa kau tuli?". Arlen menatap tajam ada Jun, namun kalimat yang ia ucapkan malah terdengar tenang.
Ingatkan orang-orang di sana jika ibu Arlen adalah hal paling berharga untuknya..
Ingatkan pada semua orang jika Herly Momma adalah nyawanya.. dan jika ada orang yang berkata buruk tentang sang Eomma..
Maka itu artinya ia tengah cari mati dengan Arlen.
"Aku tahu kau membenciku. Aku tahu kau tak suka dengan pernikahan ini, dan aku tahu seberapa kecil otakmu untuk mengucapkan sesuatu tanpa berpikir panjang.
Tapi aku tak menyangka bahkan otakmu terlalu kecil bahkan untuk menjaga kalimat buruk keluar dari mulutmu.
Kau seenaknya mengatai ibu orang lain tanpa sadar bahwa kau sendiri punya ibu".
Arlen yang biasanya akan marah-marah dengan berteriak, kini ia mendatarkan suaranya.
Namun tidak dipungkiri jika terasa begitu banyak penekanan di setiap kalimatnya. Ia benar-benar murka sekarang.
"Kau tahu apa yang sering ditanyakan oleh orang-orang pada keadaan seperti ini?
‘Apa tidak ada yang mengajarkan tata krama padamu?’, begitu umumnya. Tapi aku tak akan menanyakan itu padamu sekarang Hyung..
Karena aku tahu Lee Eun Momma pasti sudah mengajarimu banyak etika dan sikap baik sejak kau masih kecil.. itu tak perlu lagi di pertanyakan.
Yang ingin aku tanyakan adalah.. 'Di mana otakmu berada saat orang tuamu sedang mengajarimu, tentang tata krama menjadi manusia yang baik',
Apa kau menjualnya? Atau memberikannya pada kucing liar diluar sana?...
Karena sepertinya para kucing liar itu lebih tahu cara menghargai hidupnya dibandingkan denganmu Hyung.
Mereka tidak menyerang manusia secara asal-asalan, meskipun mereka diperlakukan kasar dan jarang diberi makan.. karena ada beberapa manusia yang masih baik pada kucing-kucing itu.
Sementara kau?.. Hidupmu lebih beruntung dari yang lain, keluargamu masih lengkap, kau punya harta dan pekerjaan, tapi sikapmu menyedihkan.
Aku memang bukan anak baik, aku juga sering berkelahi. Tapi setidaknya, senakal apa pun diriku..
Aku tahu bagaimana bertutur kata lembut di hadapan orang tua, aku tahu bagaimana menghargai wanita..
Karena Eomma ku yang mengajarkannya.. Karena Eomma ku juga seorang wanita.. dan karena ia juga yang memberikanku kehidupan.
Aku heran kenapa etika Lee Eun momma tak menerap padamu? Sampai kau memperlakukan wanita seperti itu.
Bagaimana jika aku tanya seperti ini.., Apa kau juga mau menganggapnya sampah, dan mengatakan murahan kepada ibumu sendiri?”.
Deg. Jun bungkam, ia tak bisa membalas kalimat Arlen.
“Sebenarnya siapa yang kau anggap ibu. Hyung??.. Lee Eun momma? Atau dunia malam itu..??”.
Arlen kesal melihat Jun yang bungkam. “Menggelikan”. Setelah mengatakan itu, Arlen berjalan menjauh.
Jun dan Yeongi terdiam. Arlen memang benar, sekasar apa pun ia..
Sikapnya ketika bersama orang yang lebih tua (kecuali Jun, karena ia sama kekanakannya dengan Arlen) .. seperti orang tua Jun, Bibi Suji, bahkan Rei sekalipun, ia selalu bersikap baik.
Arlen tidak memperlakukan wanita sembarangan, bahkan pada Park Hana.
Ia hanya memberikan gertakan pada wanita itu tanpa menyentuhnya sedikit pun, meskipun ia sudah dipermalukan olehnya.
Jun tak bisa menyangkal kalimat Arlen saat ini. Ia tahu, ia sangat tahu jika ada banyak hal yang begitu buruk pada dirinya.
Tapi pikirannya selalu menolak semua saran dan tanggapan yang orang berikan padanya.
Ia menolak, untuk disalahkan. Hatinya terlalu keras untuk menerima kenyataan bahwa ia salah.
"Yeongi.. Apa kau punya kunci kamar tamu yang ada di lantai bawah?". Tanya Arlen sebelum benar-benar pergi.
"A-ada Arlen ah, apa kau mau tidur di sana?".
Yeongi yang sejak tadi berdiri agak jauh di belakang Arlen hanya bisa menatapi perdebatan mereka, ia takut untuk ikut campur.
"Hn..”. Arlen mengangguk. “Aku tidak ingin tidur sekamar dengan manusia yang hatinya begitu keras, bahkan hanya untuk mengakui kesalahannya".
Arlen melenggang pergi meninggalkan Jun yang duduk termenung di sofa.
Kalimat Arlen tepat sasaran. Bocah itu tahu apa yang Jun rasakan.
"K-kalau begitu.. aku akan membereskannya..". Yeongi mengejar Arlen di belakangnya. Namun ia berhenti sejenak saat melewati Jun.
"Maafkan aku Hyung.. Bukannya aku tak ingin memihakmu, hanya saja.. yang Arlen ucapkan itu memang benar.
Jika saja, yang kau ucapkan tadi itu tertuju padaku.. aku juga akan sangat marah dan sedih.
Lain kali, berhati-hatilah dengan kalimatmu Hyung.
Manusia itu bukan boneka, mereka punya hati. Mau itu dari ucapan atau tulisan, kenyataan kalau Hyung menyakiti orang lain tetap tidak berubah.
Cobalah untuk menghargai orang lain, Hyung... aku permisi". Setelah itu Yeongi segera menyusul Arlen.
Jun terduduk dengan perasaan kaca, apa selama ini hatinya memang sekeras itu? hingga ia tak merasakan apa pun ketika mengeluarkan kalimat jahat seperti tadi.
Ia yakin jika ini bukan pertama kalinya ia berkata hal menyakitkan seperti itu.
Jun terus melamun hingga sebuah mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil disimpan di dekatnya.
Itu Bibi Suji, ia menatap Jun dengan tatapan sendu. Ia mendengar semua perdebatan tadi.
"Bibi.. maafkan aku.". Jun menunduk, ia ingat kalimat Yeongi. Ia juga akan sedih jika Bibi Suji ia hina begitu.
Karena secara tidak langsung, Bibi Suji dan Yeongi adalah orang yang bergantung pada keluarganya, sama seperti Arlen.
Tapi Jun masih menyayangi Bibi Suji sama seperti Ia menyayangi Eomma nya.
"Bersihkan dan obatilah luka di pipi Anda, Tuan Jun.. Bibi hanya berharap, semoga Tuan Jun bisa berubah menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit".
Bibi Suji berkata lembut, dan Jun hanya mengangguk pelan.
Iya.. Hatinya memang keras.. seperti balok es yang sangat beku.
Tapi sepertinya hati itu mulai sedikit mencair...
Dengan kehangatan kucing liar yang terus merecoki kehidupannya.
❖❖❖ TBC ❖❖❖