Sering kali masalah dalam hidup datang bukan karena kita kurang mensyukuri. Tetapi masalah tersebut datang karena kita tidak mampu mengendalikan diri.
Dalam keadaan minim cahaya gadis itu terus menangis. Menutupi wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. Semua ini terjadi karena dia kembali lagi membuka luka lama. Luka yang dulu pernah begitu dalam menyayat hatinya.
Elva memang terlihat seperti perempuan bodoh. Bertindak tanpa berpikir lebih dulu. Tetapi manusia mana yang bisa berpikir ketika sudah bicara mengenai hati.
Dia juga punya hati walau sekuat apapun Elva menjaganya agar tidak kembali hancur. Namun hanya dengan melihat kembali sebuah undangan pernikahan, tangis itu kembali hadir.
Sakit itu terasa begitu dalam seakan-akan semua kejadian yang menusuknya baru terjadi kemarin ini. Padahal empat tahun sudah semua berlalu. Tetapi kenapa sakit tak kunjung hilang?
Senyuman di wajahnya, wangi harum tubuhnya masih mampu Elva rasakan, setiap gerakan tubuhnya masih jelas terasa. Mereka memang bukan dua orang yang ditakdirkan untuk bersama. Mereka hanya sepasang manusia yang dikisahkan untuk merasakan perjuangan dalam cinta.
Dia dengan perempuannya. Sedangkan Elva dengan dia.
Hatinya sudah lebih dulu terpaut hanya dengan sekilas senyuman.
Manusia mana di dunia ini yang bisa menolak kehadiran cinta disaat pandangan pertama. Elva adalah seorang perempuan yang ditakdirkan jatuh cinta pada senyuman pertama.
Kisah cinta yang tidak pernah dimulai itu harus dihiasi dengan luka. Luka yang membuatnya membekas dan selalu Elva ingat.
Apalagi ketika dia menceritakan dengan menggebu-gebu perempuan yang dimilikinya.
Elva bisa apa selain mendengarkannya. Memasang senyuman palsu agar terlihat bahagia. Padahal di lubuk hatinya terdalam, dia terluka. Luka yang bahkan si pembuatnya tidak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya.
"Lo bodoh, Va. Terlalu memuja perasaan yang tumbuh di hati lo," cicitnya sembari mengusap air mata.
Undangan berwarna gold dengan foto sang mempelai di depannya, membuat Elva sadar sudah tidak ada alasan untuknya menangis. Kejadian itu sudah begitu lama. Tetapi mengapa dia masih menyimpannya saja.
Sewaktu acara pernikahan itu berlangsung bahkan Elva tidak mampu menghadirinya. Dia memilih kabur, menjauh hingga tak tersentuh olehnya. Namun sakit itu tidak pernah menjauh dari hatinya.
Beribu-ribu kilometer dia berlari, Elva tetap seorang gadis yang patah sebelum pernah tumbuh.
"Benar kata Dimas, gue di sini nangis-nangis. Padahal di kamarnya dia lagi bahagia sama istrinya," tawanya pedih.
Buru-buru Elva memasukkan kembali undangan tersebut ke dalam sebuah tas kecil yang selalu dia bawa.
Mungkin memang saatnya dia melangkah maju. Memulai semuanya dari awal kembali.
Karena hati ini akan terus saja sakit bila Elva terus mengingatnya. Harusnya Elva sadar akan kemampuannya sendiri. Untuk apa Elva sedih, untuk apa Elva kesal, padahal dia di luar sana tidak tahu apa masalahnya dengan Elva.
Dia hanya mengenal nama Elvaria Ganendra. Namun tidak mengetahui isi hati perempuan muda ini.
Sekarang dia menyesal mengapa mengabaikan ajakan Dimas untuk melakukan hal gila dalam kehidupan mereka. Walau mereka baru saling mengenal, tetapi permintaan Dimas berbeda dari laki-laki kebanyakan. Dia meminta Elva untuk menjadi bagian hidupnya. Bukan hanya untuk dinikmati bagian tubuhnya.
"Gue bodoh. Gue bodoh kayak lo, Mas. Mungkin bodohnya gue terlalu diam. Namun bodohnya lo, terlalu banyak bicara." Kekeh Elva masih dengan tangisannya.
Setelah sadar apa yang dilakukannya salah, Elva ingin menemui laki-laki itu lagi. Dan bertanya apa permintaan itu masih berlaku.
Memang terkesan murahan, tapi bukankah seperti ini yang namanya penyesalan. Datangnya selalu diakhir.
Tetapi dari itu kita jadi berpikir, masih mau terpuruk pada keadaan yang sama. Atau merasakan hal lain ketika langkah pertama dimulai.
"DIMASSSS..." Jerit Elva ketika tubuh besar laki-laki itu terjungkal ke belakang.
Elva menatap Dimas yang meringis sakit. "Bilang kalau mau buka pintu, gue kan bisa geser." Seru Dimas kesakitan.
"Lo ngapain di depan pintu gue? Ini pintu, bukan bahu yang bisa lo jadiin sandaran," amuk Elva.
Bibir Dimas mencibir, perempuan memang paling bisa. Air mata di pipi saja belum kering, tetapi sudah bisa menyakiti orang lain.
"Apa?" Tantang Elva.
"Susah kalau lawannya cewek. Apalagi cewek model kayak lo," decaknya sembari menilai diri Elva dari atas sampai bawah. "Gue ingetin lagi. Yang namanya benar itu bukan hanya milik cewek!!! Benar atau salah itu adalah sudut pandang. Bukan dibuat hak paten sama cewek," cibir Dimas lagi.
Dan.. Bughhh
"Hyaaaaaaa..." Di luar dugaan Dimas, Elva malah menutup pintunya kuat-kuat. Untung saja wajah Dimas belum mencium pintu besar tersebut.
"Anaknya siapa sih lo? Nggak pernah diajarin sopan santun!!!!"
Akhirnya laki-laki itu memaki Elva juga atas sikapnya. Sejak pertemuan pertama mereka Dimas dibuat teraneh-aneh karena Elva berbeda dari perempuan kebanyakan.
Tapi kini, "aish," desis Dimas.
Tangannya sudah terkepal, ingin memukul pintu tersebut tetapi dia urungkan. Kedua sudut bibirnya malah terangkat tinggi, dia geli melihat tingkah dirinya dan Elva. Bagai anak kecil yang tidak pernah satu pemikiran.
"Lo harusnya tahu, Va. Tuhan kasih kita dua tangan dengan satu alasan. Jika lo udah kasih perasaan lo untuk dia, maka gunakan tangan satunya untuk menerima perasaan dari gue. Selamat malam calon istri," kekeh Dimas bahagia.
Kadang perempuan tidak perlu dikejar ketika sedang di dunia kebaperan mereka. Cukup beri mereka waktu untuk berpikir menggunakan otaknya bukan hatinya.
***
Pagi ini langit begitu cerah. Dimas sampai tidak rela beranjak dari balkon kamarnya hanya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Ya.. Yaa.. Siapa sih?" Gerutu laki-laki itu.
Tanpa dilihat lebih dulu, Dimas langsung membuka pintu kamarnya tersebut hingga tubuh gadis di depannya terlihat. Laki-laki itu mendadak salah tingkah. Bukan karena dia lupa memakai baju sebelum membuka pintu. Melainkan karena melihat gaya Elva yang tengah berdiri di depannya.
Menantang ego laki-lakinya yang sekian lama menghilang entah kemana.
"Bisa bicara?" Tanya Elva.
"Bis. Bisa.." Jawabnya terbata-bata.
Laki-laki itu mempersilahkan Elva masuk ke dalam, kemudian bergegas untuk berganti pakaian. Dimas sadar tidak pantas menyambut perempuan dengan pakaian tidur seperti tadi.
Sepeninggal Dimas, Elva nampak santai melihat-lihat kamar tersebut. Semua tertata rapi. Seakan bukan seorang laki-laki yang menempatinya. Bahkan tempat tidur dipagi hari begini saja sudah begitu rapi.
Jelas sekali bukan service room yang melakukannya.
"Mas, lo kemana sih? Gue kan mau ngomong." Seru Elva cukup kuat.
Tak lama Dimas kembali, dengan pakaian yang lebih sopan dengan dua gelas minuman di tangannya. "Secangkir kopi untuk wanita seksi sepertimu," kedip Dimas genit.
Elva tertawa. Memperhatikan Dimas yang memilih duduk di sofa. "Kenapa lo ganti baju?"
Dimas tersenyum, memperhatikan tampilannya. "Seburuk-buruknya gue, gue bisa menghargai tamu."
"Menghargai tamu? Apa takut gue napsu?" Balas Elva hingga membuat Dimas diam. "Asal lo tahu, Mas. Di rumah gue, lihat pemandangan kayak gitu udah biasa." Sambung Elva santai.
Dimas menjadi salah tingkah sendiri. Dia duduk di sofa yang empuk, tetapi bukan kenyamanan yang dia rasa. Gelisah dipikirannya sekarang menular pada seluruh tubuhnya.
"Lo.. Lo mau ngomong apa?"
"Ah," seru Elva ketika diingatkan niatnya datang ke sini. Gadis itu meletakkan cangkir kopinya, lalu tersenyum pada Dimas.
"Lo semalem tidur kan, Va? Kok pagi-pagi udah senyum begini," bisik Dimas.
"Jadi gue nggak boleh senyum?"
"Aarghh.. Salah lagi kan gue!! Ini yang gue males berhubungan sama perempuan," geramnya kesal. "Lo itu kalau ada orang ngomong, didengar untuk dimengerti. Bukan dikomentari balik," sembur Dimas.
Elva tidak menjawab, dia memilih diam. Mungkin gadis itu merasa menyesal datang ke Dimas untuk membantunya berdiri dari masalah. Ternyata Dimas si biang pembawa masalah juga.
"Va,"
"Apa tawaran lo masih berlaku?"
"Tawaran?" Ulang Dimas bagai pertanyaan.
Jelas sekali dia bingung, memangnya apa yang Dimas pernah tawarkan kepada Elva.
"Tawaran untuk jadi bagian dari hidup lo?" Ungkap Elva pelan.
Bibir yang selalu banyak bicara itu tersenyum geli. Dia membalas tatapan Elva sambil mengusap bulu-bulu di rahangnya.
"Itu bukan tawaran, Va. Gue bukan seorang penjual barang. Di sini gue meminta lo baik-baik sebagai istri gue."
"Tapi serius lo belum punya istri kan?" Tanya Elva melebar-lebar.
"Sebenarnya lo bukan perempuan pertama yang gue minta untuk menjadi bagian hidup gue,"
"JADI LO DUDA???" Desis Elva cepat.
Mimik wajahnya berubah jijik. Ya Tuhan, pengalamannya hidup bersama duda tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Tapi apa harus seorang duda yang menjadi jodohnya?
Benar-benar Ayahnya mewariskan sesuatu yang diluar logika!!!!
"Lo pikir tampang ganteng gue mirip duda-duda?"
Kedua manik mata Elva memicing, "tampang bukan tolak ukur lo duda apa bukan!!!"
"Susah ngomong sama cewek baper," sembur Dimas. "Sekarang gini, lo mau apa nggak? Intinya cuma itu!!"
"Gue ke sini ya karena..."
"Ya udah dengerin gue dulu," potong Dimas. "Lo bukan jadi yang pertama dalam kehidupan gue. Tetapi gue harap lo bisa jadi yang berbeda. Atau jika lo nggak bisa juga, lo pasti bisa jadi yang terbaik." Ucap Dimas kembali.
Elva tak menjawab kembali. Jika sudah dihadapkan atas pilihan, dia pasti akan lambat dalam menentukan.
"Gue tahu lo masih mikirin cinta pertama lo. Dan gue tebak lo terima gue juga karena ingin jadiin gue pelarian."
Kepala Elva yang tertunduk sontak terangkat kembali. Memandang Dimas yang tidak terlihat terluka sedikitpun.
"Lo nggak papa gue jadiin pelarian?"
Dimas menggeleng, "nggak papa. Asalkan lo larinya bareng gue. Nggak sendirian," balasnya.
"Lo boleh bodoh masalah cinta, Va. Hingga cowok itu bisa mempermainkan hati lo. Tapi, lo pasti menang dalam hal lain. Hal yang mungkin nggak akan pernah lo sadarin sebelumnya,"
"Maksud lo?"
"Lo menang atas diri lo sendiri karena udah ambil keputusan untuk berubah. Berubah membuat luka menjadi bahagia diatas kata yang lo sebut cinta," tutup Dimas.
Laki-laki itu berdiri, mengusap kepala Elva hingga gadis itu mendongak menatapnya.
"Kapan gue bisa ketemu Ayah lo?" Hanya satu kalimat singkat Dimas tetapi mampu membuat kedua pipi Elva memerah.
Kalimat yang dia harapkan keluar dari bibir laki-laki itu, tetapi ternyata kenyataan tak pernah sejalan dengan yang diinginkan.
****
Continue..
Selamat baca...
Jangan lupa follow jejaring sosialku
Wattpad : Shisakatya
Instagram : Shisakatya
Youtube : Shisakatya
Twitter : Shisakatya