Dimulai dari NOL

1551 Words
Cinta sejati bukan mencari yang sempurna. Melainkan menerima yang kurang untuk jadi yang sempurna berdua. Setelah berhasil mengajak Elva keluar untuk berbicara berdua dengannya, kini Dimas dibuat kaget atas kelakuan Elva.        Gadis berwajah dingin itu sengaja memesan banyak makanan yang harganya memang tidak seberapa mahal. Tetapi Dimas tidak yakin Elva mampu menghabiskannya. Bukannya perempuan sekarang lebih suka menderita karena tidak makan dibanding tubuhnya yang melebar kemana-mana. Akan tetapi ketika Elva mulai mencicipi semuanya satu persatu, semakin membuat Dimas bungkam. Apa cuma Elva, gadis yang tanpa jaim-jaimnya memakan banyak makanan di depan calon suaminya sendiri. Calon suami? Memangnya Dimas sudah diterima? "Va, lo seriusan kuat makan segini banyak?" Tanya Dimas. Gadis itu tidak menjawabnya, berusaha memakan semua tanpa repot-repot mendengar komentar Dimas. "Va, elah. Gue ngajakin ke dinner buat ngomong serius." "Ngomong aja, gue dengerin." Jawabnya tanpa peduli tatapan Dimas. Bibir Dimas berdecak kesal, dia mengambil beberapa helai tisu kemudian mengusapnya pada sudut bibir Elva. Seketika gerakan Elva terhenti. Dia memperhatikan tangan Dimas yang masih setia mengusap sudut bibirnya. "Lo usia berapa sih, kayak bocah aja." Sembur laki-laki itu. Elva mengangkat pandangannya dengan segala tanda tanya yang ada. Kok bisa Dimas masih bergaya sesantai itu. Padahal baru saja gerakan peduli Dimas merasuki perasaan terdalam Elva. "Lo kenapa?" Tanya Dimas kembali saat dia sadar Elva sedang menatapnya. "Kenapa sama muka gue? Ganteng ya. Baru sadar kan lo. Pasti lo bahagia banget di lamar sama orang ganteng," kekehnya geli sendiri. Namun Elva, si gadis yang terlalu cuek itu, memilih tidak peduli. Dia mengunyah makanannya terus dengan tatapan menusuk ke manik mata Dimas. Cukup lama mereka saling pandang, sampai Dimas yang lebih dulu merasa gerah. Menghisap minumannya, sembari membuang arah pandangan. "Kenapa?" Tanya Elva menggoda Dimas. "Gerah Mas?" "Lo panggil gue apa? Mas? Anjir, gue berasa kayak cowok-cowok pakai belangkon gitu!!!" Tawanya masih dengan sedotan di mulut. "Apa gue segitu manisnya, Va. Sampai lo panggil Mas?" "Maksud lo apa? Salah kalau gue panggil Mas? Kan emang nama lo Dimas? Jadi laki-laki kok baper banget," celetuk Elva pedas. Dimas meletakkan minumannya diatas meja. Memandang Elva dengan rasa tidak percaya. "Gue pikir emang karena gue manis lo panggil itu. Ternyata, ngeselin juga lo. Tapi bener juga sih, nama gue kan Dimas. Nggak salah lo panggil Mas. Gue aja yang terlalu baper. Maklum udah lama nggak ada suara cewek yang panggil gue begitu," ucapnya dengan ekspresi seperti orang berpikir. "Istri lo?" "Istri gue? Kapan gue punya istri? Kan cuma lo calonnya?" Rasa lapar yang sejak tadi menyerang Elva, seketika lenyap. Dalam hatinya dia sibuk menerka-nerka apa yang Dimas katakan benar atau tidak. Yah wajar saja Elva menjadi waspada. Pengalamannya melihat laki-laki penggombal dan pembohong, sudah banyak. Bahkan Elva tidak perlu jauh-jauh mencari contohnya. Karena di rumah mereka pun ada. "Tunggu.. Tunggu. Jadi lo nuduh gue punya istri? Gitu? Emangnya gue ada tampang ya? Gue masih muda Va. Kejam lo," tanya Dimas sembari memamerkan bentuk wajahnya pada Elva. "Gue nggak nuduh. Lo aja yang ngomong," balas Elva seperti gaya Dimas yang suka membalasnya. "Hohoho.. Udah bisa bales gue ya." Kekehnya geli. "Tapi gue suka cara lo, Va. Lo unik. Lo asik. Lo..." "Tapi gue jahat," potong Elva cepat. "Lo ja.. Hat..? Lo nggak habis bunuh orang kan?" Tanya Dimas terbata-bata.         Elva memasang wajah malas. Dia memperhatikan tubuh besar Dimas dari ujung rambut sampai sepertiga badannya. "Ternyata di dalam badan yang besar tidak menjamin ada otak besar juga," Dimas sontak tertawa terbahak-bahak. Sungguh dia baru sekali ini mendengar kalimat menggelikan itu. "Lo pikir tubuh manusia sama otaknya berbanding sama? Nggak lah. Ngaco aja lo kalau lagi aneh begini." "Iya emang gue aneh, makanya dia nggak pernah ngelirik gue sedikitpun." Gumam Elva frustasi. Tawa kencang Dimas tadi seketika lenyap. Dia ragu-ragu memandang wajah Elva yang dibaringkan di atas meja. Gadis itu terlihat murung. Walau tak ada air mata tapi Dimas yakin hatinya tengah menangis. Bukannya Dimas sok tahu dalam mengerti keadaan Elva. Dia hanya merasa keadaan Elva mirip dengannya dulu. Dulu saat rasa sakit adalah kawannya setiap hari, Dimas juga seperti ini. Sakit yang bahkan Dimas sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Tapi itu dulu, kini semua rasa sakit itu sudah dia tinggalkan. Dan mencoba membiasakan rasa sakit yang perlahan memudar. "Lo kenapa sih? Jangan buat gue salah nebak. Lo lagi patah hati ya?" Dengan sebuah tetesan air mata dipipinya, Elva tersenyum. Kepalanya masih begitu nyaman bersandar pada meja. Meja kecil yang berusaha kuat untuk menopang kesakitan Elva. "Gue benci, Mas. Gue benci karena menjadi pengecut. Dan nggak berani menghadapi kenyataan." Cicit Elva pelan. Dimas tidak langsung menjawab. Dia memasang wajah serius, memperhatikan wajah Elva yang meringis kesakitan. "Gue bodoh mas, gue pergi tanpa kata sedikitpun. Padahal gue pengen banget dia tahu walau nggak ada kata yang keluar dari bibir gue." Ungkap Elva tanpa sadar. Biasanya dia paling anti yang namanya berbagi cerita dengan orang lain. Namun entah kenapa dengan Dimas, laki-laki yang banyak sekali omongannya, membuat Elva bisa menceritakan semuanya. "Gue salah nggak sih, Mas?" Semua kalimat ajaib yang sering kali keluar dari bibir Dimas, menghilang tanpa jejak. Jemari besar laki-laki itu mendekat. Mencolek-colek jemari tangan Elva yang begitu kecil dan terlihat lemah. "Lo tahu Va. Bukan karena benci yang membuat kita menjauh dari seseorang. Tetapi karena kecewa. Dari apa yang gue denger barusan, lo kecewa sama dia yang nggak pernah peka atas kehadiran lo. Apa gue bener?" "Lo salah Mas. Dia tahu gue ada. Tapi dia mencoba melupakan kalau gue pernah ada di sekitarnya." "Jadi maksud lo, dia?" "Dia punya yang lain. Dan mungkin dia nggak mau perempuan itu tahu ada gue disekitarnya," rintih Elva. "Tapi apa dia tahu kalau lo cinta sama dia?" "Nggak. Sampai kapanpun dia nggak akan tahu," Dimas tidak bisa berkomentar apa-apa. Dengan sigap dia menarik jemari tangan Elva. Menautkannya dengan jemarinya hingga tubuh Elva tegak kembali. Memandang tangan mereka saling bertautan satu sama lain. "Kenapa? Gue nggak boleh pegang tangan lo?" Tanya Dimas kebingungan. "Nggak, nggak papa." Dimas mengusap-usapnya perlahan sembari menatap Elva dengan senyuman. "Mau mulai sama gue dari nol? Kayak di pom bensin gitu." Kekehnya geli. Tapi seperti biasa, Elva tidak tertawa sedikitpun. Mungkin baginya, Dimas seperti semut hitam yang sedang keringetan dan dijadikan bahan candaan khas waktu kecil dulu. Hitam, kecil, keringetan? "Ya ampun ini cewek satu. Udah nggak punya selera humor banget," gerutu Dimas. "Abis lo nggak lucu!!" "Issh, setidaknya ketawa kek. Ini mah pasang muka serius mulu. Cepet tua loh," Satu bagian sudut bibir Elva tertarik tinggi. Perempuan itu menggeleng cepat. Batinnya bertanya-tanya, kenapa bisa dia merasa geli melihat wajah Dimas yang kesal karena sikapnya. Rasanya Elva bukan perempuan jahat. Namun kenapa semua perlakuannya pada Dimas seakan memberitahunya bahwa begitulah Elva yang sesungguhnya. Perempuan mengesalkan yang sayangnya ingin sekali dicinta. "Dengerin gue, sampai kapan lo mau begini? Nggak bisa move on, malah jalan di tempat. Padahal itu cowok yang buat lo begini mungkin lagi doggy style sama ceweknya. Tapi lo? Oh gila banget lo Va. Cinta nggak sebodoh ini juga, say!! Lo harus lebih maju dari cowok itu. Dari segi perasaan harusnya lo sadar, dia kehilangan perempuan yang tulus cinta sama dia. Karena jika dia pilih lo, dia sudah pasti akan bahagia. Kenapa gue bisa bilang begini? Karena lo cinta sama dia. Sedangkan sama perempuan itu? Dia belum tahu apa-apa. Dan dia masih harus berjuang untuk membuktikan," "Jadi gregetan gini gue lihat lo menderita," gemas laki-laki berbadan kekar ini. "Pikir baik-baik, Va. Melepaskan itu berarti mengikhlaskan bukan melupakan. Gue nggak minta lo lupain cowok bodoh itu. Tapi di sini, sebagai seorang laki-laki yang mau nikahin lo gue cuma mau bilang, ikhlasin dia. Ikhlasin dia dari hati lo," "Apa gue bisa? Gue aja nggak yakin, Mas." Tanya Elva melemah. Selemah keyakinannya kini kalau dia akan baik-baik saja setelah berjuang untuk mengikhlaskan. "Yang penting lo yakin dulu!!! Gagal itu urusan nanti. Kenapa sih cewek susah banget dinasihatin!!!" Kesalnya sedikit memaki. "Mungkin karena ini semua cewek di dunia bilangnya, semua cowok sama aja!!!" Gumam Dimas pelan. "Gue nggak bilang gitu ya," sahut Elva ketika mendengarnya. Gadis itu berusaha melepaskan tangannya yang sejak tadi Dimas genggam. "Risih gue mas, pegang-pegang segala." "Udah lama baru risih gue pegang. Tadi kemana aja," gerutu Dimas. "Dasar cewek. Untung gue nggak suka sama cewek," sambungnya begitu pelan. "Ngomong apaan lo?" "Nggak ada. Cepat mau dimakan lagi nggak?" "Kok jadi galak gitu sih?" Tanya Elva tidak suka. Dimas menggaruk kepalanya kuat. Salah lagi dia dimata Elva. Kenapa perempuan paling bisa menyalahkan laki-laki? "Karena gue belum jawab pertanyaan lo, makannya lo galak?" Tanya Elva lagi. "Iya. Makannya dijawab. Jawabnya yang jelas. Jangan idem doang," Elva lagi-lagi tanpa sadar tersenyum geli mendengar gerutuan Dimas. "Dua kali aja gue lihat lo senyum, kan jadinya lo lebih cantik. Masa calon istri gue cemberut mulu," Perasaan hangat tiba-tiba menjalar dalam diri Elva. Perempuan itu berusaha memandang hal lain, selain sosok Dimas yang ada di depannya. "Jadi apa lo bersedia jadi istri gue? Jadi sahabat hidup gue? Jadi apapun yang bisa berbagi bersama gue?" Tanya Dimas bertubi-tubi. "Lo kalau ngomong nggak bisa satu-satu ya. Bikin kesel aja," sembur Elva kasar. Perempuan itu berniat untuk pergi meninggalkan Dimas, karena entah kenapa Elva menjadi malu sendiri mendengar pertanyaan Dimas tadi. "Mungkin lo bisa pergi dari gue, Va. Tapi lo nggak bisa pergi dari kesakitan lo tanpa gue. Karena gue tahu lo lebih memilih menyerah pada keadaan. Padahal menyerah bukanlah sebuah pilihan," ucap Dimas sebelum Elva memilih pergi. Sempat Elva terdiam memandang wajah Dimas yang berbias dengan cahaya terang lampu tempat makan itu. Rasa aneh yang semakin menjadi, kini seolah membuat Elva penasaran sendiri. Ada apa dengan dirinya? Kekacauan dihatinya masih jelas terasa akibat cinta masa lalunya. Tetapi kini mengapa tiba-tiba saja otaknya ikutan kacau? Apa ada yang salah dengan Dimas? Atau dia yang salah tingkah karena kehadiran Dimas? "Gue emang menyerah pada keadaan karena gue sadar, dalam sebuah kehidupan telah dituliskan dengan jelas. Kapan ada pertemuan dan kapan ada perpisahan," balas Elva sebelum melangkah pergi. **** Continue.. Jangan lupa taplovenya.. Jangan lupa follow jejaring sosialku Wattpad : Shisakatya Instagram : Shisakatya Youtube : Shisakatya Twitter : Shisakatya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD