Pura- pura Pacaran

1666 Words
Raniya yang berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya seorang diri sembari bersenandung. Karena mungkin masih pagi suasana masih sepi. Dia sengaja meminta kakaknya mengantarnya lebih pagi, karena ada bukunya catatannya yang tertinggal di bawah kolong mejanya. Langkahnya terhenti, ketika Dias berjalan ke arah berlawanan dengannya yang berarti berhadapan. Ingin berbalik arah, tapi akan ketahuan jika tengah menghindar. Apalagi sudah jelas terlihat, tapi kemudian memilih tetap berjalan ke depan walau pun akan canggung. Tangannya meraih ponsel di saku rok seragam sekolahnya, berpura-pura sibuk. Kemudian Raniya menghela napas lega, ternyata ketua OSIS itu hanya berjalan melewatinya. Raniya menoleh Sembari tersenyum kemudian melangkah dengan riang sembari kembali bersenandung. Bukannya apa-apa, tapi Raniya memang malas saja walau hanya sekedar menyapanya. Waktu itu kemarin bertemu saja sikap benar - benar jutek padanya. Raniya juga masih ingat betul jika dia harus keluar dari kepengurusan OSIS tahun lalu karenanya. Sementara itu, tanpa dia sadari ternyata Dias menoleh kearahnya sekilas. Tiba di kelasnya, Raniya mendapati buket bunga yang ada di atas mejanya.Perlahan mengambilnya dan membaca pesan yang ada di dalamnya. Ini bukan kali pertama, dia mendapatnya dan ujung-ujungnya yang memberikan sesuatu padanya itu akan menyatakan perasaannya. Raniya berpikir sejenak dan mengingat-ingat nama pengirim buket itu. Merasa tidak asing untuknya. "Ghe, bukannya Julian itu dari Tim basket sekolah kita, kan?" tanya Ghea ketika berjalan keluar kelas untuk pergi ke kantin. "Iya, kali!?" jawab Ghea mengedikkan bahunya. "Yeh! Soalnya tadi dia kasih bunga dan katanya mau ketemu di belakang sekolah jam istirahat !?" "Sekarang dong!?" tukas Ghea. "Iya. Tapi males, ujung-ujungnya akan sama !?" "Oh, iya. Soalnya kamu cantik Neng. Jadi banyak yang naksir. Tapi , ya..enggak usah datang ke sana !?" ujar Ghea seraya mencubit kedua pipi Raniya gemas. "Ya, benar. Ayo kita pergi makan di kantin saja, kangen siomaynya mang Didi, terus cilok juga !?" "Ayo !?" Sembari menunggu pesanannya, Raniya dan Ghea duduk di salah satu kursi di sudut kantin. "Eh, Ghe...itu si Orgil masih suka mencari kamu?" "Kayaknya masih, tapi sembunyi-sembunyi soalnya pas aku ngaku udah punya pacar, dia enggak nongkrong lagi tuh di pertigaan jalan." "Ah, bagus. Berarti kamu memang harus punya pacar. Biar dia enggak cari kamu lagi !?" "Enggak harus juga sih, jadi keinget kemarin masih malu sama Aa kamu. Di kira aku nanti perempuan apaan coba !?" "Ah,iya.Tenang, a Dalfi baik kok. Walaupun cuek banget orangnya, beda dengan a Dalfa saking sangat perhatiannya sampai apa pun dia teliti!?" cerocos Raniya. Ghea hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Raniya tentang kakak kembarnya itu. "Kalau perbedaan secara fisik apa? Soalnya melihat mereka secara bersamaan susah bedainnya !?" "Gampang! A Dalfi punya t**i lalat di bawah mata kanannya sangat kecil. Terus kalau a Dalfa motornya berwarna merah dan a Dalfi hitam." lagi-lagi Ghea hanya manggut-manggut saja. Beberapa menit kemudian, pesanan siomay mereka tiba, tanpa menunggu lama keduanya menatapnya. "Ke kelasnya duluan aja Ghe, aku mau ke toilet !?" ujar Raniya ketika keduanya sudah selesai dari kantin. "mau diantar?" tanya Ghea. "Enggak usah!?" Raniya pun pergi ke toilet seorang diri. Langkah terhenti, ketika hendak masuk toilet khusus perempuan itu karena mendengar seseorang menyebut-nyebut namanya dalam obrolan beberapa siswa laki-laki yang berada di luar toilet khusus laki-laki yang memang bersebelahan. "Berarti kamu kalah taruhan, Julian!?" celetuk temannya. "Ya, belum..tadi Raniya enggak datang. Jadi gue belum nembak dia!?" celetuk laki-laki yang di panggil Julian itu. Raniya yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya karena kesal, ternyata dia di jadikan taruhan oleh orang yang mengiriminya buket bunga tadi pagi. Dengan sengaja Raniya berjalan melewati mereka yang tampak terkejut. "Eh,Raniya ! Kenapa tadi tidak datang? Padahal aku nunggu loh !?" ujar Julian tersenyum. "Oh, memang ada apa!?" tanya Raniya pura-pura tidak tahu,sembari berjalan terus ke arah kopsis atau koperasi siswa. Padahal tadi niatnya Raniya akan pergi ke kamar mandi, tapi dia urungkan. Julian juga masih mengikutinya hingga Raniya kemudian menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Raniya lagi jutek. Julian melihat ke arah sekitar seolah tengah memastikan keadaan aman. "Ikut aku ke belakang sekolah yuk !?" ajak Julian. "Sebentar lagi masuk. Jadi bicara saja di sini !?" tukas Raniya menyilang kedua tangannya di d**a. Namun tanpa dia sangka ternyata laki-laki yang merupakan satu jurusan dengannya walau beda kelas itu malah menyatakan perasaannya. "Em..aku menyukaimu sudah lama, mau jadi pacarku !?"ungkapnya dengan lancar. Raniya sudah menduganya akan mengatakan perasaannya yang palsu demi taruhan. Sebenarnya dia ingin sekali menampar wajahnya walaupun tampan itu. Tapi dia juga akan memilih membalasnya dengan hal lain. "Maaf, tapi aku punya pacar!?" seru Raniya tersenyum dalam hati karena merasa dia berhasil membalasnya. "Benarkah? Siapa? Anak kelas mana? Atau bukan dari sekolah kita?" tanyanya memberondong pertanyaan. Raniya memutar bola matanya malas.Tapi sekarang dia harus berpikir lebih cepat untuk menjawab pertanyaan laki-laki tidak tahu malu itu. "Nah, itu pacarku!?" tukas Raniya menunjuk seorang laki-laki yang baru keluar dari koperasi siswa. "Eh!?" Raniya malah terkejut sendiri, karena orang yang dia tunjuk ternyata seseorang yang tengah dia hindari. "Dias?" ucap Julian tidak percaya. " Hah?" Raniya bengong sendiri karena yang menunjuk asal tanpa melihat dulu. Dalam hati dia merutuki kebodohannya, apalagi sekarang Dias berjalan kearahnya. "Eh, a. Memangnya kalian pacaran!?" celetuk Julian. Raniya meremat kuat ujung roknya sendiri sembari menggigit bibirnya cemas. " Kata siapa?" tanya Dias. "ini!?" seru Julian menunjuk pada Raniya yang sekarang salah tingkah. Dias menatap kearah Raniya yang tersenyum tipis. Kemudian terdengar bel berbunyi. Raniya tidak melewatkan kesempatan itu untuk memilih kabur. "Belnya sudah berbunyi. Permisi!?" seru Raniya berlalu pergi dengan langkah cepat. "b**o, b**o! matilah gue!?" umpat Raniya seraya memukul kepalanya sendiri sepanjang perjalanan menuju kelasnya. Sementara itu Dias dengan tanpa minat mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan Julian padanya dan malah berlalu pergi. Julian yang masih berdiri di posisinya tadi itu menatap kepergian Dias yang merupakan seniornya. Beralih pada Raniya yang berbeda arah yang telah jauh itu. Julian membuang napas kasar karena ternyata perempuan yang akan dia tembak sudah punya pacar. Kemudian datang kedua temannya tadi. "Gimana?" tanya salah dari mereka. "Memangnya Dias pacaran dengan Raniya?" ujar Julian malah bertanya. "Kata siapa?" tanya keduanya bersamaan. "Tadi Raniya sendiri yang bilang!?" seru Julian lagi. "Ha,ha,ha!?" kedua temannya itu tertawa ngakak. "Jadi Raniya nolak! Kau kalah! Traktir kita dong, sesuai perjanjian satu bulan penuh !?" "Enggak bisa gitu, lah. Karena ternyata Raniya sudah punya pacar, pasti bakal nolak saat aku tembak!?" ujar Julian tidak mau kalah berlalu pergi. Kemudian keduanya temannya pun mengikutinya. Dikelas Raniya mencoret-coret bukunya sendiri. Padahal pelajaran tengah berlangsung, di depan kelas juga ada guru yang mengajar. Ghea yang duduk di sebelahnya heran melihat tingkah temannya itu. Karena penasaran kemudian menanyakannya lewat tulisan pada buku yang tengah Raniya coret-coret itu. Ghea mengangguk ketika Raniya juga membalasnya di buku tadi yang mengatakannya saat pulang sekolah nanti. Raniya mendelik pada Ghea yang berjalan di sebelahnya tengah menertawakannya, setelah menceritakan kejadian tadi. "Sekarang gimana Ghe? Rasanya ingin pindah sekolah!?" ujar Raniya mengusap-usap wajahnya frustasi. "Ya, enggak gitu juga atuh Neng. Kan, bisa bicara baik-baik ke a Dias!?" seru Ghea memberi nasehat. Raniya menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menghela napasnya. "Bicara baik-baik gimana? Melihatnya saja sudah males duluan. Juteknya itu loh, menakutkan !?" "Dia tidak se-seram itu atuh. Ketua OSIS kita...eh, nanti bukan lagi.." "Maksudnya?" "Dia akan lengser dari jabatan bulan ini, karena kan sekarang dia udah kelas tiga, lebih fokus pada pelajaran!?" Ghea mengetahuinya karena dia memang termasuk pada kepengurusan OSIS. "Oh, gitu. Terus ini nasib aku gimana? Sumpah kesel sekaligus malu. Pasti dia berpikir aku ini cewek aneh!?" oceh Raniya lagi. "Atau.. pura-pura lupa saja, ya. Toh aku enggak bakalan ketemu Dias dan mungkin si Julian itu tidak akan menanyakan lagi padanya." "Tapi kalian bisa ketemu pas Ekskul, loh!?" seru Ghea mengingatkan. "benar. eh, enggak dong..kalau dia sudah tidak jadi Osis lagi!?" "Iya, sih. Tapi masih akhir bulan nanti. Berarti masih dua atau tiga pertemuan lagi !?" seru Ghea. Kembali Raniya menghela napasnya berat, walaupun bisa menghindar karena mereka di kelas berbeda tingkatan juga jauh. Tapi memang akan bertemu saat ekskul setiap hari sabtu nanti. "Ya...akan ku pikirkan nanti, setelah rasa malu ini hilang. Mungkin bakal absen ekskul saja!?" ujar Raniya. Ghea tersenyum lucu melihat tingkah temannya itu. Karena kejadiannya sama seperti dirinya yang sampai ngaku-ngaku pacaran. Tidak terasa obrolan panjang mereka telah membawa langkahnya keduanya tepat di depan gerbang sekolah. Kemudian menghampiri laki-laki yang duduk diatas motor hitam itu yang tidak lain adalah kakak Raniya. "Besok kerja kelompoknya di rumahku aja, ya !?" seru Raniya. "Boleh." sahut Ghea melirik kakak Raniya yang ternyata memperhatikannya. Ghea jadi ingat sesuatu ketika melihat motor yang dinaiki kakaknya Raniya. Tiba-tiba jadi malu sendiri dan memutuskan untuk segera pergi, karena ternyata yang menjemputnya adalah Dalfi yang terlibat tabrakan dengannya. Dan yang lebih parah adalah malah dengan percaya diri mengaku pacarnya pada orang lain. "Aku pulang duluan ya, Rani!?" seru Ghea melambaikan tangannya "Eh, angkotnya pada penuh tuh!?" seru Raniya melihat kearah dua angkot yang memang penuh oleh para pelajar yang memilih pulang dengan kendaraan umum itu. "Masih muat kok,dah!?" seru Ghea lagi seraya berlalu pergi. Kemudian naik angkot walaupun harus duduk dekat pintu. "Untunglah si Orgil enggak ngejar dia lagi!?" lirih Raniya namun masih dapat di dengar Dalfi. "Siapa?" tanya Dalfi. "Siapa? Oh,itu..Ghea namanya!?" seru Raniya memberitahu. "Si Orgil ? Itu laki-laki yang datang nyamperin temen kamu itu!?" ujar Dalfi. "Kok tahu? Ah,iya..Ghea pernah cerita. Kalau kalian pacaran, ya!?" goda Raniya dengan mode jahilnya. "Kenal saja enggak. Dia yang ngaku, aku ini pacarnya!" tukas Dalfi datar. "Oh,iya. Tapi kok tumben kepo!?" "Enggak tuh." bantah Dalfi masih dengan muka datarnya. "Itu buktinya, nanyain!?" "Aku nanyain laki-lakinya, karena sepertinya teman kamu sangat takut padanya!?" jelas Dalfi. "Benar a, selama ini dia harus terus kejar-kejaran kayak tikus yang mau di mangsa si kucing. Kasihan Ghea!?"oceh Raniya dramatis. "Itu bukan urusan kamu juga. Ayo pulang!?" ajaknya memberikan helm pada Raniya. "Tapi dia temanku. Kasihan atuh..em, tapi..katanya semenjak Ghea ngaku punya pacar jadi enggak ganggu lagi. Jadi .." "Lupakan!?" tukas Dalfi seolah tahu apa yang di pikirkan adiknya itu. "Ish.. a, aku belum selesai ngomong. jadi tolong.." "Tidak mau!?" "Ih, gitu deh. Dengerin dulu atuh!?" "Cepat naik, atau Aa tinggal!?" Sembari manyun, Raniya pun memakai helmnya kemudian naik keatas motor di bagian belakang sambil menggerutu tidak jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD