Episode 13

1562 Words
Author pov   'Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa mata Biru itu yang biasanya terlihat berbinar terang sekarang meredup dan sayu. Apa karena pria b******n itu?', batin Felix menatap mata biru milik Keysa. Setelah lama saling bertatapan, Felix segera mengalihkan pandangannya ke arah lain begitupun juga dengan Keysa. Keduanya sama-sama terdiam dan Keysa kembali tertunduk. ♥ Keysa terdiam di dalam kamarnya dan menatap keluar melewati jendela besar yang mampu memperlihatkan langit malam dan halaman belakang rumah Felix yang luas dan indah dengan lampu taman menghiasinya. "Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apa aku harus mengagalkan rencana Reno dan membatalkan pernikahan ini?" gumam Keysa. "Tapi bagaimana caranya? Bagaimana caraku untuk menjebak Reno, bahkan Papa sedang tak ada di sini." "Semua ini benar-benar membuatku bimbang dan pusing." Keysa membuang nafasnya kasar. Kenangan saat dirinya bersikap manja kepada Reno, saat masih kecil dia terus bermain bersama Sanas terus berputar di kepalanya seperti film yang sedang di putar. Hanya Sanaslah sahabat yang Keysa miliki. Hingga sekarangpun dia tak menyangka mereka berdua mengkhianatinya dan Papanya. ‘Aku sangat menyayangi kalian, kalian adalah separuh nafasku. Dan sampai kapanpun aku akan mencintai dan menyayangi kamu, Sanas. Saat ini aku benar-benar kecewa dan tak menyangka kalau kalian mengkhianatiku. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian melakukan ini? Apa kami pernah berbuat salah pada kalian berdua? Sampai kalian tega menipuku.’ 'Kenapa?' pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Semakin lama semakin membuatnya pusing, airmatanya sudah terurai membahasi pipi. Keysa beranjak dan berjalan ke arah balkon kamar menikmati angin malam yang langsung menerpa wajahnya. Keysa menatap ke langit gelap yang tak menampakan satupun bintang,  hanya cahaya bulan menghiasi malam ini. Seketika Keysa memegang cincin di jari manisnya, cincin pertunangannya dengan Reno. Flashback on Keysa tengah menikmati udara malam hari di taman belakang rumahnya setelah selesai acara pertunangan yang di laksanakan sore hari. Tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang dan menumpukkan dagunya di bahu Keysa. "Kenapa di sini sendirian?" tanya Reno. "Aku sedang ingin melihat bintang saja, tetapi bintangnya tidak muncul," ucap Keysa. "Ya pastilah tidak akan muncul," ucap Reno membuat Keysa menengok ke arahnya. "Kenapa?" "Bintangnya terlalu minder sama kamu, soalnya kamu lebih bersinar dan indah di bandingkan bintang-bintang di langit itu," ucap Reno dan berhasil membuat Keysa merona. "Apaan sih kamu, gombal banget tau," kekeh Keysa. Flashback off Keysa menghembuskan nafasnya kasar. Hatinya sungguh saat ini tidak dapat di gambarkan dan di ungkapkan dengan kata-kata. Dia kira hidupnya di penuhi orang-orang yang sangat menyayanginya hingga tidak akan pernah ada tangisan lagi. Tetapi ternyata Keysa salah besar, semua itu hanya kedok dan mereka menipunya. Keysa menundukkan kepalanya semakin terisak. Flashback on Keysa berlari hendak menyebrang jalan karena sudah terlambat untuk kuliah, saat hendak menyebrang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang sekali hendak menabrak dirinya. Tetapi tiba-tiba tubuhnya melayang dan terhempas ke pinggir jalan dengan posisinya di atas badan seseorang. Keysa menengadahkan kepalanya dan langsung bertemu dengan sepasang mata teduh berwarna abu milik seseorang. Cukup lama keduanya bertatapan hingga seseorang itu berdehem dan membuat Keysa tersadar dari keterpakuannya. Keysa segera berdiri dari atas tubuh pria itu. "Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu saat sudah berdiri di hadapan Keysa. "A....aku tidak apa-apa," ucap Keysa malu-malu. "Lain kali hati-hatilah," ucap pria itu membelai kepala Keysa, hingga mampu membuatnya mematung. ♥   Seminggu kemudian, Keysa sudah membuat janji bersama Sanas di sebuah cafe langganan mereka. Keysa sudah datang terlebih dahulu dan menunggu kedatangan Sanas. Cukup lama Keysa menunggu dan hendak memanggil waiter untuk memesan. "Mbak!" teriak 2 orang barengan membuat keduanya saling menengok dan membuat Keysa tersentak kaget. "Ka-mu?” ucap Keysa tampak kaget. "Heii,," sapa pria itu dengan cengirannya. Keysa masih mengingatnya, pria bermata abu yang teduh itu. Yang beberapa hari yang lalu pernah menolongnya. "Kamu sendirian?" tanya pria itu yang kini berjalan menghampiri Keysa. "Aku sedang menunggu temanku." jelas Keysa. "Oh iya, aku Reno." ucap pria itu menyodorkan tangannya yang kini berdiri di samping meja yang di duduki Keysa. "Keysa." Keysapun menyambut uluran tangan Reno di iringi dengan senyumannya. "Temanmu masih lama? Tidak keberatan kalau aku ikut duduk di sini?" tanya Reno setelah melepas jabatan tangan mereka. "Oh iya boleh, silahkan," ucap Keysa dengan tersenyum ramah dan Reno langsung duduk di hadapan Keysa. Mereka berdua mulai berbincang dan mulai akrab karena Reno tipe pria yang humoris dan ramah. Hingga cukup lama datanglah Sanas "Hai Key, sorri gue telat," ucap Sanas langsung cipika cipiki dengan Keysa. "Ya tidak apa-apa Sanas, oh iya kenalin ini Reno dan Ren, ini Sanas sahabat aku," ucap Keysa. "Reno," mengulurkan tangannya. "Sanas," Sanas menjabat tangan Reno sesaat dan langsung duduk di samping Keysa. "Pantes saja loe tidak marah gue telat, taunya ada yang nemenin," bisik Sanas. "Apaan sih loe." Keysa terlihat malu, apalagi ini pertama kalinya dia mengenal seorang pria. Karena sang Papa  begitu mengekangnya dalam pergaulan, jadilah hanya Sanas sahabat yang Keysa miliki. "Sepertinya loe bakalan seneng banget kalau sampe gue tidak datang yah," bisik Sanas. "Apaan sih loe, tapi iya juga sih," bisik Keysa diiringi kekehannya. "Tuh kan, tau deh dia ganteng banget makanya loe sampe langsung terpesona gitu," bisik Sanas. "Dia yang nyelametin gue waktu gue hampir ke tabrak mobil. Lagian gue memang suka sama matanya yang abu itu," bisik Keysa. "Ekhem!" deheman Reno berhasil membuat Keysa dan Sanas berhenti berbisik-bisik. "Kamu kuliah sudah semester berapa Key?" tanya Reno "Semester akhir, lagi nyusun skripsi," jawab Keysa dan mulailah percakapan mereka mengalir dengan diiringi tawa dan candaan. Flashback off ‘Aku benar-benar bodoh, harusnya aku sadar saat itu mereka berdua sedang beracting.’ batin Keysa. Airmatanya terus mengalir membasahi pipi, rasanya benar-benar sakit. ‘Kamu sudah tancapkan luka di hatiku, Reno. Perihnya masih terasa sangat menyayat hati. Aku sudah mencoba meredam semuanya tetapi tetap saja aku rasa sakit ini tak bisa pergi. Sekarang aku benar-benar menyesal sudah mencintamu, mempercayaimu dan bermimpi tentang hubungan kita untuk ke depannya. Semua ini bukan yang aku harapkan. Kamu memberikan cinta semu padaku, kamu membuatku jatuh cinta untuk merasakan sakitnya cinta itu. Ternyata aku sudah salah menilai kamu, Memang kamu tidak pantas untukku. Sekarang aku sudah tau siapa kamu sebenarnya, kamu penipu ulung! Kamu b******n Reno.’ ‘Semakin besar kebencianku padamu, musnah sudah semua harapan ku bersama dengan kamu dan sekarang adalah akhir dari hubungan kita, Reno. Aku tak ingin semakin terluka karenamu.’ Jeritan hati Keysa membuat dadanya semakin sesak dan hatinya seakan ditusuk-tusuk jarum tajam. Keysa terduduk dan memeluk lututnya sendiri, menenggelamkan wajahnya kesela-sela lututnya. "Apa yang harus aku lakukan? Aku harus apa? Hikz....hikzzz," isakan-isakan kecil keluar dari bibirnya. Tak jauh dari sana sepasang mata elang sedang memperhatikannya dari balik jendela kamarnya yang besar yang tak lain adalah Felix. 'Apa sesakit itu rasanya? Cinta benar-benar membuat manusia lemah dan menderita.’ ‘Dulu Papa sampai sakit-sakitan hingga meninggal, karena wanita jalang itu meninggalkannya dan sekarang wanita yang membuatku merasakan bahagia tengah tersiksa karena pria b******n itu!' Batin Felix terus menatap Keysa yang terisak. Felix juga merasakan sesak di hatinya melihat Keysa yang terpuruk. ♥ Sudah seharian kemarin Keysa terus mengurung diri di kamar, sampai kerjapun tidak mau. Semua itu benar-benar merusak mode Felix, hatinya ikut teriris dan ada perasaan tak rela kalau Keysa terpuruk gara-gara pria b******n itu. Felix baru pulang dari kantornya, dan segera beranjak ke kamarnya. Saat hendak membuka pintu kamarnya, dia menatap pintu kamar Keysa, Felix mencoba memegang knop pintunya dan ternyata tidak di kunci. Felix menerobos masuk ke dalam dan terlihat Keysa sedang tidur dengan posisi seperti bayi memunggungi Felix. Felix berjalan mendekatinya dan melihat makan siangnya masih utuh. 'Dia tidak memakannya lagi.’ Felix duduk di sisi ranjang membuat Keysa bangun dan langsung berangsung duduk. "A-ada apa?" tanya Keysa lirih. Felix menatap Keysa, matanya sembab dan masih ada sisa air mata di pipinya membuat beberapa helai rambutnya menempel di pipi. "Ck, sampai kapan kau akan seperti ini?" ucap Felix lembut tapi penuh penekanan dan Keysa hanya diam. "Kau terlihat sangat menyedihkan dan menakutkan!" "Cinta benar-benar membuat orang lemah," ucap Felix. "Ma-af," ucap Keysa terdengar serak dan lirih. "Makanlah, aku tidak suka lihat kamu seperti ini. Kemana Keysa yang suka makan dan yang selalu berisik," ucap Felix. "Sudah tidak ada lagi," ucap Keysa mantap, membuat Felix kesal mendengarnya. "Bukan tidak ada, tapi di sembunyikan. Ayo makan!" Felix menarik pergelangan tangan Keysa. "Aku tidak mau!" tolak Keysa. "Ck, dari kemarin kamu belum makan. Mau mati kelaparan hah? Aku tidak mau jadi tersangka nanti karena dituduh tidak memberi makan anak orang, ayo cepat!" Felix sudah kesal. "Aku mau makan di sini saja," ucap Keysa dan Felixpun berlalu pergi. Tak lama Felix kembali datang ke kamar Keysa dengan membawa nampan berisi makanan. "K-ok kamu yang bawain makanannya? Memang pembantu kamu kemana?" tanya Keysa kaget melihat Felix yang datang. "Kalau sama pembantu, kamu akan kembali menyuruhnya untuk menyimpannya," ucap Felix yang sudah duduk di samping Keysa. Tiba-tiba saja Felix menyodorkan sendok yang berisi makanan ke depan mulut Keysa. "Eh?" Keysa tersentak mendapat perlakuan dari Felix. "Ayo cepat makanlah," Dan akhirnya Keysa membuka mulutnya menerima suapan makanan dari tangan Felix 'Ternyata di balik sikap dinginnya, dia lembut dan penuh perhatian juga,' batin Keysa. Felix kembali menyuapinya hingga tanpa sadar sudah tandas. "Nah gini dong, laper kan dari kemarin tidak makan!" ucapan Felix  membuat Keysa merona malu dan hanya menampilkan cengirannya saja. "Sekarang istirahatlah biar besok bisa lebih baik," ucapnya membereskan nampan dan hendak beranjak tetapi di tahan oleh Keysa. "Kenapa?" "Terima kasih," ucap Keysa menampilkan senyumannya. "Ya sama-sama," jawab Felix tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan kamar Keysa. 'Senyuman manisnya jarang sekali dia perlihatkan,' pikir Keysa. ♥ Siang ini Keysa turun ke bawah karena mendengar ribut-ribut di depan rumah. "Ada apa Bi?" tanya Keysa pada salah satu pelayan yang ada di ruang tengah. "Tidak tau Non, wanita itu maksa pengen masuk dan ketemu tuan Felix. Padahal sudah di kasih tau kalau tuan besar sedang ada di kantornya tetapi dia ngotot ingin masuk. Jadi terpaksa saya panggil satpam saja," jelas pembantu itu dan pamit pergi. Keysa berjalan ke arah jendela, dan melihat seorang wanita mungkin usianya sekitar 45th ke atas tetapi masih terlihat cantik dan anggun.  "Siapa dia?" gumam Keysa ♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD