Keysa pov
Aku masih belum mengantuk, aku masih merenung di dalam kamarku. Sungguh aku tak menyangka Sanas dan Reno melakukan ini padaku dan papa. Apa salah kami pada kalian? Selama ini bahkan papa menyayangi Sanas seperti anaknya sendiri. Kenapa dia melakukan ini. Kamu sungguh jahat, Sanas!
Selama ini aku sungguh menyayanginya, bahkan sudah menganggapnya sebagai Kakak terbaikku. Tetapi ini balasan dia padaku, aku tidak marah padanya saat aku melihat dia bersama Reno melakukan hubungan intim itu di apartement. Aku pikir kamu hanya tergoda olehnya, makanya aku masih mempercayai kalian berdua dan memberi kalian kesempatan. Tetapi kenyataannya kalian memang bersekongkol untuk merebut harta Papa. Kamu menyuruh Reno berpura-pura menjadi pacarku. Apa aku bodoh, karena terlalu mudah percaya dengan sahabat sendiri? Apa masih pantas kamu aku anggap sebagai sahabat?
Sungguh rasanya kepala ini mau pecah dan d**a ini sungguh terasa sangat sesak. Aku harus menyelesaikan drama ini, kalian berdua tidak akan mampu melancarkan rencana kalian lagi. Aku akan mencari bukti kejahatan kalian berdua dan memperlihatkannya kepada Papa.
♥
Aku terbangun saat merasakan sinar matahari menerobos masuk ke celah jendela. Seperti biasa aku selalu merentangkan tanganku. "Ahh... Rasanya rileks sekali!"
Aku melirik jam di atas meja yang berada di meja nakas samping ranjang. Jam 07.00 sepertinya Papa belum berangkat, aku harus bicara dengan Papa sekarang. Aku tidak akan biarkan Reno dan Sanas merebut perusahaan Papa yang sudah di bangun dari hasil jerih payahnya sendiri. Aku mencuci wajahku dan menggosok gigi, kemudian keluar hendak ke meja makan. Aku bertanya ke salah satu pelayan di sana, dan mereka bilang Papa sedang pergi ke luar Negeri kemarin sore. Kenapa Papa tidak mengatakannya kepadaku. Aku meraih handphoneku dan menghubungi Papa.
"Hallo Pa,"
"....."
"Kenapa Papa tidak memberitahuku kalau harus pergi ke Jerman?"
"....."
"Apa akan lama? Keysa tidak mau sendirian di rumah."
"....."
"Baiklah, Papa jaga diri di sana yah. Kasih kabar selalu pada Keysa."
Aku menutup sambungan telpon dan duduk di salah satu kursi meja makan. Ini sangat aneh. Papa tidak biasanya pergi tanpa memberitahuku langsung. Ada apa ini sebenarnya?
Ya Tuhan, kenapa dadaku terasa sangat sakit sekali. Ada apa ini? Semoga Papa baik-baik saja, dan mungkin sekarang aku harus fokus ke penyelidikan Reno dan Sanas.
♥
Aku tengah menikmati makananku dengan malas, aku sengaja ijin kerja karena jujur saja aku masih patah hati. Kalau dalam bahasa gaulnya itu galau, dan itulah yang saat ini tengah aku rasakan. Sakit di khianati sahabat sekaligus tunangan sendiri. Papa juga tidak ada, Papa malah menghubungiku kalau dia akan pergi selama satu bulan. Aneh sekali, Papa tidak biasanya pergi dinas selama ini. Mana Papa malah menyuruhku tinggal bersama Sanas atau Reno.
"Non, di depan ada yang mencari." ucapan Bibi membuatku menengok dan mengernyit bingung.
"Siapa, Bi?"
"Saya tidak tau, tapi dia sangat tampan." Aku terkekeh mendengar penuturan Bibi yang sangat polos. Aku yakin pria ini bukanlah Reno. Karena kalau itu Reno, dia pasti akan menerobos masuk ke dalam. Aku yang hanya memakai hot pants hitam di balut dengan t-shirt longgar, berjalan dengan malas ke ruang tamu dimana pria itu menunggu.
"Pak Felix!" Aku tersentak melihatnya berdiri di depanku dengan melipat kedua tangannya di d**a.
"Kenapa tidak masuk kerja?" tanyanya seperti biasa tanpa basa basi.
"Saya kurang enak badan," ucapku seraya memilih duduk di sofa.
"Ck, tubuhmu terlihat segar bugar." Aku mendengus mendengar ucapannya, yang sakit kan hatiku bukan tubuhku.
"Tidak bisakah anda memberi saya ijin untuk menenangkan hati?"
"Memangnya perusahaan itu milik nenek moyangmu, seenaknya ijin. Kau juga masih karyawan baru!" Dia duduk di sofa yang ada di depanku, padahal aku belum mempersilahkannya tetapi dia kan memang arogant jadi tanpa di suruhpun dia akan melakukannya sendiri. "Kenapa sepi?"
Aku mengernyit ke arahnya, apa dia barusan bertanya. "Kenapa menatapku seperti itu? Aku dengar Papamu sedang ada perjalanan bisnis." Dia benar-benar berubah profesi sekarang menjadi seorang cenayang.
"Kalau sudah tau kenapa harus bertanya," jawabku.
"Kalau begitu menginaplah di rumahku."
"Whaattt?"
"Oh sial, gendang telingaku bisa pecah," keluhnya mengusap telinganya sendiri. Ck, berlebihan sekali. "Aku khawatir pria itu kembali datang kemari, dan berbuat sesuatu padamu." Aku semakin tersentak mendengar ucapannya. Apa dia mengkhawatirkanku?
Oh God! Aku bermimpi apa malam tadi, kenapa si Ceo galak ini berubah menjadi baik dan penuh perhatian? Apa kepalanya kepentok sesuatu, atau rohnya tertinggal di kamarnya dan yang di depanku sekarang adalah roh seorang malaikat baik hati? Apa mungkin seperti itu?
"Kenapa diam?" tanyanya membuatku kembali menatapnya bingung. "Aku tidak akan menawarkannya untuk yang kedua kali!" ucapnya seraya memalingkan wajahnya. Masih saja gengsi nih Ceo.
"Kau lama, ayo cepat!"
"Eh tunggu!” Dia langsung menarik pergelangan tanganku menuju keluar rumah. "Kok Bapak maksa banget sih, aku harus bawa pakaianku dan beberapa keperluan!"
"Kalau begitu cepatlah ambil dan segera turun. Waktumu hanya 5 menit dari sekarang!"
"Eh?"
"Cepat!"
"Aku belum mandi."
"Tidak perlu mandi, cepat berkemas. 5 menit belum turun, aku yang akan menyusulmu ke atas!"
Aku hanya bisa mencibir dan menggerutu dalam hati. Enak saja tuh Ceo galak memerintahku, dia pikir dia siapa berani menyuruhku. Aku terpaksa menurutinya dan berlari ke kamarku untuk mempersiapkan beberapa keperluanku.
Kini kami berdua sudah duduk di dalam mobilnya. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, aku sesekali melirik ke arahnya yang terlihat fokus menyetir mobil. "Apa tidak merepotkan anda?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
"Tidak, dan tidak perlu menggunakan kata baku," ucap Felix kembali datar. Aiisshhh... dia benar-benar bunglon, cepat sekali berubah.
"Apa orangtuamu tidak akan keberatan?" tanyaku tetapi dia terlihat menegang dan membeku, tampak sekali rahangnya mengeras dan cengkramannya ke setir mobil terlihat menguat, apa pertanyaanku salah?
"Orangtuaku sudah tidak ada." jawabnya terdengar dingin, akupun tak berani bertanya lagi.
Tak lama mobil yang ku tumpangi memasuki pekarangan rumah mewah, bukan rumah lagi sih lebih tepatnya sebuah istana bergaya Eropa klasik. Di pekarangnya terdapat hiasan kolam dan air mancur, sebelah kanannya banyak sekali mobil dan motor berjajar di sana. Aku pikir rumahnya merangkap menjadi showroom kendaraan. Itu mobil dan motor sampai tidak muat di garasi, dan di jajarin di luar seperti ini. Karena terlalu terkesima dengan pemandangan di sekelilingku, sampai aku tidak sadar kalau mobil sudah berhenti dan seorang pelayan membukakan pintu untukku.
"Silahkan nona," ucapnya dan akupun segera turun.
"Tolong simpan kopernya ke kamar tamu di sebelah kamar saya," ucapnya masih datar dan mengajakku untuk masuk.
Aku berjalan memasuki rumahnya, rumah ini sungguh mewah dan perpaduan warna abu-abunya semakin membuatnya indah. Setelah melewati ruang tamu lalu masih banyak lagi ruangan yang aku tidak tau ruangan apa itu. Saat hendak menaiki tangga, aku melihat sebuat ruang ruang keluarga dengan pembatasnya menggunakan kaca besar sehingga mampu melihat taman belakang yang terlihat luas dan indah. Banyak tanaman dimana-mana dan ada kolam renang juga. Sungguh pemandangan yang indah sekali, apalagi saat ini sedang turun hujan membuatnya semakin indah.
"Cukup mengaguminya? Ayolah ke kamar dulu kamu perlu mandi dan ganti baju, aku tidak suka berdekatan dengan wanita yang tidak mau mandi." ucapannya membuatku melongo.
Hey, siapa yang tadi memaksaku pergi begitu saja, dan sekarang malah mengatakan hal yang seperti ini. Dasar Ceo tak tau di untung!
♥
"Rasanya segar sekali setelah selesai mandi." Aku keluar dari kamar dan ternyata penghuni kamar sebelahpun baru keluar bersamaan denganku. Dia mengajakku turun ke bawah menuju dapur, Aku duduk di pantry dan dia membuatkanku s**u coklat panas.
"Minumlah," ucapnya menyodorkan segelas coklat panas. Aku segera meminumnya, terasa sekali hangatnya di tenggorokanku.
"Di rumah sebesar ini, kamu tinggal sendiri?" tanyaku.
"Tidak, di sini banyak pelayan dan kadang-kadang kedua sahabatku menginap di sini," ucapnya terdengar santai dan aku hanya ber-oh saja, lalu orangtuanya kemana,
maksudnya sudah tidak ada itu sudah meninggal atau apa yah?
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan pria itu sekarang?" dia bertanya dan menatapku sambil meminum minumannya membuatku kelu. Aku tidak tau bagaimana hubunganku bersama Reno sekarang. Sejak semalam aku terus mengabaikan telponnya. "Kenapa melamun?" tanyanya dan aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Jauhi dia, dia bukan pria yang baik untukmu!" ucapnya, dan aku hanya bisa terdiam.
Kami sama-sama larut dalam pikiran kami masing-masing. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku tidak sengaja menatap Felix, ternyata dia juga sedang melihat ke arahku. Mata kami bertemu, mata hitam legam yang tajam miliknya menusuk ke retina mataku, membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku ke arah lain. Mata hitamnya seakan menghipnotisku.
♥