Felix pov
"Maaf pak,, saya harus pergi."
Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Apa sih sebenarnya yang dia pikirkan, sudah jelas jelas di selingkuhi masih saja mau menikah. Aku sungguh tak memahami cara berpikir wanita kecil itu. Aku terus mondar mandir di ruang tengah rumahku, aku terus memikirkan gadis itu. Sungguh mengkhawatirkan.
"Yak, sampai kapan loe nyetrika lantai begitu? Terus saja bolak balik, bikin gue pusing ngeliatnya," teriak Remon yang duduk di sofa tetapi aku tidak menghiraukannya.
Fokusku masih kepada gadis itu. Astaga ada apa denganku ini. Felix, dia hanya sekretarismu kenapa kau harus merasa sekhawatir ini. Dia yang menginginkan pergi, kenapa kau begitu memperdulikannya. Ayolah mana Felix yang selalu masa bodoh.
"Biasa Mon, penyakit cinta lagi kambuh," sahut Devan yang sedang memakan cemilan. Langkahku terhenti mendengar ucapan Devan barusan.
"Loe sudah mulai jatuh cinta yah sama sekretaris loe?" ucapan Remon membuatku mengernyit. Apa benar aku jatuh cinta? Aghh,, itu tidak mungkin.
"Gue tidak jatuh cinta!"
Yah memang aku tidak jatuh cinta padanya, aku hanya perduli pada gadis itu karena dia pegawaiku dan aku melihat sendiri saat dia memergoki kekasihnya tengah berselingkuh. Aku tidak bisa melihat senyumannya hilang. Kenapa harus di katakan jatuh cinta? Apa semudah itu yang namanya cinta?
"Yaelah masih saja belum sadar, sudah jelas-jelas sangat mengkhawatirkannya," ucap Remon.
"Gue gak jatuh cinta Remon! Ini hanya perasaan khawatir seorang Bos kepada bawahannya.”
"Ada gitu Bos khawatir sampe segitunya kepada bawahan?" goda Devan membuatku mendengus jengkel.
Aku malas menjawab pertanyaan mereka yang terus berbicara soal cinta. Hanya bersikap seperti ini saja kenapa harus di bilang cinta? Aku tidak pernah mencintainya dan tidak ingin mengenal yang namanya cinta. Aku kembali menatap layar handphoneku. Apa aku telpon saja? Tapi mau menanyakan apa? Pekerjaan sudah selesai semuanya.
"Mulai deh melamun," celetuk Devan.
"Ck, Mulut loe berdua sudah seperti para wanita penggosip saja, berisik!" Aku memilih masuk ke dalam kamar. Di sini lebih tenang, daripada harus terus mendengarkan ocehan mereka berdua tentang cinta.
"Astaga Keysa, apa yang sudah kau lakukan padaku. Kenapa kau membuatku begitu gelisah." Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Aku mencoba memejamkan mataku untuk menghilangkan pikiranku tentang Keysa. Tetapi semakin aku memejamkan mata, bayangan Keysa yang tengah menangis terus menghantuiku.
Shittt !!!
Aku kembali bangun dan mengusap wajahku gusar, aku sungguh gelisah dan khawatir. Apa sebaiknya aku hubungi saja dia. Aku melirik iphoneku yang tergeletak di sampingku. Persetan dengan gengsi...
"Ya Pa?"
"Kamu dimana Key? Masih di luar?"
"Saya masih diluar, apa ada masalah?"
"Masih bersama pria itu?"
"Iya masih,"
Aku langsung memutuskan sambungan telpon secara sepihak, ngapain saja sih mereka sampai malam begini masih belum pulang juga. Aku sungguh kesal mendengar Keysa masih bersama b******n itu. Tanpa pikir panjang aku langsung menyambar kunci mobilku dan berlari keluar.
"Woii mau kemana loe?" Sekilas gue dengar teriakan 2 curut itu tetapi gue malas meladeninya. Aku langsung saja menjalankan mobilku dan menuju ke rumah Keysa.
Sesampainya di depan rumah Keysa, aku melihat belum ada tanda-tanda Keysa pulang. Mungkin dia masih dijalan pikirku. Tak lama sebuah mobil berhenti didepan gerbang rumah Keysa. Sepertinya dia baru pulang.
Aku melihatnya berjalan perlahan menuju pekarangan rumahnya,, dan aku bergegas untuk pulang tetapi saat menyalakan mesin tiba-tiba dia berbalik lagi dan menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat. Mau kemana lagi dia?
Akupun langsung mengikuti taxi itu,, tak lama taxi itu berhenti di sebuah rumah sederhana dan aku tidak tau itu rumah siapa, aku melihatnya turun dengan mengendap-endap mengintip dari balik pagar. "Sedang apa dia?" Karena penasaran, akupun turun dan hendak menghampirinya. Tetapi langkahku terhenti saat mendengar teriakan seseorang membuatku melihat ke dalam pagar, ternyata pria itu. Itu wanita yang ada di kamar apartement itu.
"Kenapa?" tanya pria itu. Aku mampu mendengarnya karena jarakku dengan mereka tak begitu jauh. Wanita itu terlihat menangis. "Ada apa sayang?"
"Apa kamu mencintai Keysa?"
"Maksud kamu apa Sayang?" Cih,, dasar pria b******k itu bilang sayang pada wanita lain. Benar-benar b******n.
"Kenapa tadi kamu marah sama Keysa gara-gara tadi dia ditelpon sama bosnya? Kenapa kamu bilang kamu gak suka liat Keysa dekat dengan bosnya? Kenapa Ren? Apa kamu cemburu? Apa kamu mulai mencintai Keysa?" Oh jadi dia cemburu...
"Hey Sayang, tidak aku sama sekali tidak cemburu. Aku bersikap seperti itu karena tidak mau si Felix itu nantinya menghambat rencana kita."
"Aku hanya mencintai kamu,, hanya kamu. Kamu tau kan aku tidak suka sama Keysa,, aku tidak suka wanita manja seperti Keysa. Percaya sama aku, setelah rencana kita berhasil untuk merebut semua harta Mahesya aku akan meninggalkannya. Dan kita akan menikah sayang."
Pandanganku langsung terarah ke arah Keysa. Dia terlihat begitu syok. Aku melihatnya langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, dia menangis dan memukul dadanya. Dasar pria b******n, ternyata dia hanya memanfaatkan Keysa untuk mendapatkan semua harta Papanya. Rasanya ingin sekali aku meninju wajah b******n itu, tetapi aku harus bisa menahan emosi ini. Aku tidak mau Keysa akan menjadi korbannya.
"Kenapa tidak berhenti sampai di sini saja Hunny? Kamu kan sudah mengambil dana dari perusahaan om Mahesya, apa masih belum cukup? Kita tinggal pergi dan hidup berdua sayang." Aku tidak memperdulikan lagi percakapan mereka berdua. Pandanganku tak lepas dari Keysa yang terus menangis terisak.
"Tidak sayang, kita hampir selesai. dua tahun ini kita sudah merencanakannya dengan sangat matang kan, jadi kenapa harus berhenti sekarang? Tinggal dua bulan lagi San, setelah aku menikah dengan Keysa." Aku tak akan membiarkan dia menikah dengan Keysa. Apapun yang terjadi, aku tak akan biarkan Keysa jatuh ke tangan pria itu. Aku mengepalkan kedua tanganku dengan kuat saat melihat Keysa menangis terisak dan memukul dadanya. Dia pasti sangatlah terluka. Inilah alasanku membenci kata cinta. Karena cinta hanya akan membuat hidup seseorang hancur...
"Tapi aku tidak mau kamu menikah dengan Keysa, aku tidak bisa melihat kamu menikah dengan wanita lain, dan aku juga tidak mau buat Keysa semakin hancur. Rencana kita kan hanya untuk merebut harta mereka."
Gadis yang biasanya terlihat bahagia dan selalu tertawa riang, kini tengah terluka disana. Dadaku rasanya ikut sesak melihatnya seperti itu.
"Tidak bisa sayang,, aku sudah putuskan akan menikah dengannya. Aku mohon kamu jangan cemburu. Ini hanya acting sayang, aku tidak pernah cinta sama Keysa."
"Aku janji akan segera menyelesaikannya, dan kita akan menikah membangun keluarga bahagia kita. Aku mencintaimu." Aku tidak akan pernah biarkan kalian berdua menghancurkan Keysa, aku akan selalu melindunginya bagaimanapun caranya.
Aku melihatnya berjalan meninggalkan rumah itu. Aku terus mengikutinya dari belakang. Dia berjalan dengan gontai menyusuri jalanan. Hingga Dia duduk dihalte bus, aku menghampirinya dan berdiri di sampingnya mengarah kepadanya, bahkan ia tidak sadar dengan kehadiranku saat ini. Apa sesakit itu?
"Apa salah gue sama kalian!" gumamnya dan menangis sejadi-jadinya sambil memukul dadanya.
"Tidak baik seorang wanita malam-malam menangis di pinggir jalan sendirian," Dan barulah dia mendongakkan kepalanya melihat ke arahku.
"Felix..." gumamnya, ternyata dia baru sadar aku di sini.
Aku mengambil duduk di samping Keysa dan menyimpan sapu tangan di telapak tangannya. "Menangislah kalau itu bisa membuatmu lebih lega."
"Felix, mereka berdua. Mereka-" ucapan Keysa tertahan, sepertinya dia sangatlah terluka.
"Ssssttt, aku sudah dengar semuanya." Aku membawa tubuh Keysa ke dalam pelukanku dan menyandarkan kepalanya di d**a bidangku, berusaha membuatnya nyaman.
Cukup lama Keysa menangis dalam pelukanku hingga akhirnya dia berhenti menangis. "Sudah tenang?" Aku membuka suara setelah beberapa menit terdiam. Dia menjauhkan kepalanya dari dadaku dan menghapus air matanya seraya menarik nafasnya cukup panjang.
“Ya, aku merasa lebih baik sekarang,” jawabnya.
"Ya sudah, aku antar kamu pulang." Keysa hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Aku menggandengnya dan membawanya menaiki mobilku yang terparkir di sana.
Di dalam mobil tak ada yang ingin membuka suara, kami sama-sama membisu dan sibuk dengan pikiran kami, walau sesekali aku menoleh kepadanya dan dia tampak fokus menatap keluar jendela. Apa pemandangan di luar sana lebih indah daripada aku?
Hingga tak terasa, kami sudah sampai di kediaman rumahnya, aku memberhentikan mobilku tepat di gerbang masuk rumahnya.
"Emmm, makasih yah," ucap Keysa.
"Ya sama-sama, beristirahatlah."Dia hanya menjawab dengan seulas senyuman, ia berbalik hendak menuruni mobil tetapi aku menahan pergelangan tangannya hingga dia kembali menoleh ke arahku dengan tatapan bertanya.
"Sudah cukup Key, dan jangan pernah temui pria itu lagi!" Aku mengucapkannya dengan penuh penekanan, supaya dia tau kalau perintahku tidak bisa di bantah. Dan sekali lagi Keysa hanya mengangguk. Kini aku membiarkannya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
♥