Kamipun sampai di butik, kami berjalan bersama. Reno menautkan jemarinya ke jemariku. Sebenarnya aku menikmati kebersamaan ini,, Reno memang seseorang yang aku cintai. Tetapi aku sudah terlanjur kecewa padanya,, perselingkuhannya dengan Sanas benar-benar membuatku terluka.
Kami masuk ke dalam dan ternyata sudah ada Sanas di sana. "Key!" Sanas berjalan mendekatiku, aku tidak ingin melihatnya.
Sungguh hatiku sakit, mengingat kejadian malam itu, dimana mereka berdua-. Ah, sudahlah aku tak sanggup menjelaskannya. Itu terlalu menjijikan dan sangat menyakitiku.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku pada Reno.
"Aku meminta Sanas datang untuk meminta maaf padamu, dia akan membantu kamu memilih gaun pengantin. Dia ingin menebus kesalahannya," ucap Reno.
"Iya Key, aku ingin menebus semua kesalahanku," ucapnya.
"Baiklah," jawabku dan berlalu pergi memasuki butik sendirian.
Aku mulai mencoba memakai gaun pertamaku, terlihat sangat pas di badanku, tetapi aku kurang menyukainya karena telihat glamour. Aku berjalan keluar dimana Sanas dan Reno menunggu. Tetapi apa yang aku lihat, mereka tidak menyadari kehadiranku, mereka terlihat bersitegang.
Ck,, acting yang buruk. Di depanku saja masih terlihat seperti itu,, benar-benar membuatku muak. "Ekhem! Kalian berbicara serius sekali sampe tidak menyadari kehadiranku," ucapku seraya membuang muka dan berhasil membuat keduanya menengok. Dan lihatlah ekspresi kaget kalian,,,
"Apa ada masalah? atau ada yang tidak terima di sini?" Sindirku.
"Aghh tidak Sayang, bukan apa-apa. Hanya ada sedikit masalah pekerjaan." Reno berjalan menghampiriku. "Maafkan aku yah Sayang karena di saat fitting baju pengantin kita, aku masih sibuk dengan pekerjaanku," ucapnya membelai kepalaku dan mencium puncak kepalaku, aku melihat Sanas membuang wajahnya. Lebih tepatnya bukan masalah pekerjaan tetapi masalah kalian berdua. Apa loe mencintai Reno, Sanas? Gue sebenarnya masih tidak paham maksud kalian berdua mengkhianati gue.
" ya tidak apa-apa Sayang." Aku memaksakan diri untuk tersenyum. "Gimana gaun ini?"
"Emmpzz," dia mengamatiku dari atas sampai bawah. "Lumayan, coba yang lain Sayang," perintahnya. Bilang saja kalau kalian hanya ingin terus berduaan.
"Sanas menurut loe gaun ini gimana?" tanyaku padanya.
"Ini terlalu glamour Key," ucapnya tersenyum manis.
♥
Beberapa gaun sudah aku coba dan akhirnya aku dapat juga gaun yang sesuai, kini kami bertiga menuju restoran untuk makan malam bersama. Kami memesan makanan dan akhirnya pesanan kami datang. Kami memilih makan steak, dan seperti biasa Reno memotongkan steak dan memberikannya kepadaku. Manis sekali bukan....
"Selamat makan tuan putri," ucapnya membuatku tersenyum kecil dan aku sempat melirik ke arah Sanas, dia hanya menunduk.
Maafkan aku Sanas,, sebenarnya aku heran kenapa bisa kamu berselingkuh dengan tunanganku, bahkan kamu tau kami berpacaran sudah cukup lama dan aku mencintainya. Tapi kenapa kamu lakuin ini Sanas? Dan Reno, apa kamu bener-bener cinta sama aku? Kenapa kamu buat aku jatuh cinta kalau akhirnya kamu mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri? Siapa yang salah disini? Apa aku yang merebut Reno dari Sanas? Atau memang mereka yang mengkhianatiku? Kenapa kalian begitu manis dihadapanku.
"Sayang," Reno memegang tanganku membuatku tersadar dari lamunanku.
"Agh ya?”
"Kenapa kamu melamun sih Sayang?" tanya nya.
"Emm,, enggak kok." aku langsung memakan makananku.
"Sayang, aku ke toilet sebentar yah," ucap Reno dan aku mengangguk. Iapun beranjak pergi menuju kamar mandi.
"Manis sekali yah," ucapku membuat Sanas menengadahkan kepalanya.
"Siapa?" tanya Sanas menatapku dengan tatapan bertanya.
"Ya Reno lah, siapa lagi. Dia sangat perhatian, baik, romantis apalagi dia juga tampan," ucapku tersenyum dan Sanas hanya terdiam. "Apa loe begitu menyukai Reno?" Sanas menatapku.
"Kenapa loe menanyakan itu?" tanyanya terlihat merasa bersalah.
"Sanas loe tau gak, saat melihat kalian berdua. Hati gue sangat hancur, gue gak nyangka loe melakukan ini sama gue. Gue udah anggap loe sebagai sahabat gue sendiri, tetapi kenapa loe tega lakuin ini sama gue?"
"Key, gue mohon maafin gue. Gue terbuai saat itu, gue sungguh menyesal. Gue mengutuk diri gue sendiri," ucap Sanas dengan tangisannya. "Gue harus bagaimana agar loe percaya kalau gue tidak mencintainya.”
"Gue ingin sekali menampar loe, Sanas, sungguh. Tapi gue tidak bisa, karena loe saudara gue. Loe sahabat gue," ucapku dengan nada yang sangat terluka.
"Kalau itu memang bisa buat loe maafin gue, maka tampar gue sekarang Key," ucapnya menatap mataku penuh keyakinan.
"Sudahlah, sekarang tolong bantu gue menyiapkan segala keperluan pernikahan kami," ucapku memalingkan wajahku ke arah lain.
"itu pasti." jawabannya.
Tak lama Reno datang dan kami kembali menikmati makanan kami, Reno sangat perhatian sekali. Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi, Felix menelponku dan aku segera mengangkatnya.
"Ya Pa?"
"......."
"Saya masih di luar, apa ada masalah?"
"......."
"Iya masih.” Dia memutuskan sambungan telpon secara tiba-tiba, ada apa sih sebenarnya? Hanya bertanya apa aku masih di luar dan apa masih bersama Reno lalu langsung ditutup. Aneh sekali...
"Siapa?" tanya Reno.
"Ohh, pak Felix."
"Apa katanya?"
"Dia hanya bertanya aku ada dimana."
"Ngapain dia tanya-tanya? Mengganggu saja, harusnya jangan kamu angkat!" ucap Reno terlihat kesal.
"Memang ada masalah? Kan kamu tau dia bosku," ucapku tak mau kalah.
"Bosmu kan, bukan pacarmu! Kenapa pake nanya dimana segala lagian ini bukan jam kerja!" ucap Reno meninggikan suaranya.
"Sudahlah Ren, malu di lihatin orang."
"Aku gak suka kamu deket sama dia!" ucapnya penuh penekanan membuat Sanas kaget hingga menjatuhkan garpuh yang sedang dia pegang.
"Maaf," ucapnya.
♥
Kami bertiga berada di dalam mobil untuk pulang, Reno mengantarkan Sanas pulang. Setelahnya menuju rumahku, di dalam mobil tak ada yang membuka suara. Kami berdua sama-sama membisu. Kejadian hari ini membuat kepalaku pening,
Reno...
Sanas...
Pak Felix...
Mereka bertiga membuatku pusing.
Sesampainya di depan rumahku, Reno tidak memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah. "Kenapa?" tanyaku.
"Aku tidak mampir, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, Sayang." ucapnya membuatku curiga. Entahlah, semakin ke sini. Aku selalu mencurigai setiap gerak geriknya.
"Oh begitu yah, kamu kerja keras sekali Sayang," sindirku. Pekerjaan yang belum selesai?
Setelah menuruni mobil, aku berjalan perlahan menuju pekarangan rumahku. Dan saat mengetahui mobil Reno sudah berlalu pergi, aku segera menghentikan taxi yang kebetulan sekali lewat.
"Pa, ikuti mobil di depan itu.” Aku terpaksa mengikutinya, aku hanya ingin memastikan kalau kecurigaanku ini tidak benar.
Mobil Reno berhenti di sebuah rumah sederhana dan aku tau itu rumah bekas peninggalan orangtua Sanas yang sekarang di tempati Sanas. Sebelumnya kami dari sini untuk mengantar Sanas pulang, dan dia kembali ke sini. Aku semakin menaruh kecurigaanku pada mereka berdua. Akupun segera turun dari taxi dan mengendap-endap mengintip dari balik pagar. Terlihat Reno menghampiri Sanas yang berdiri di teras rumahnya. Reno terlihat ingin memeluk tubuh Sanas, tetapi Sanas mendorong Reno.
"Kenapa?" tanya Reno. Aku mampu mendengarnya karena jarak pagar ke teras rumah hampir dekat tapi untung saja ada tanaman tinggi yang menutupi tubuhku
Sanas terlihat menangis. "Ada apa sayang?" tanya Reno. Jadi mereka masih memiliki hubungan? Reno tak sungguh sungguh dengan ucapannya.
"Apa kamu mencintai Keysa?" tanya Sanas.
"Maksud kamu apa Sayang?" tanya Reno.
"Kenapa tadi kamu marah sama Keysa gara-gara dia menerima telpon dari bosnya? Kenapa kamu bilang kamu gak suka liat Keysa dekat sama bosnya? Kenapa Ren? Apa kamu cemburu? Apa kamu mulai mencintai Keysa?" teriak Sanas dengan terisak.
"Hey Sayang, aku sama sekali tidak cemburu. Aku bersikap seperti itu karena aku tidak mau si Felix itu nantinya menghambat rencana kita," ucap Reno menghapus air mata Sanas. Rencana apa maksudnya? Jadi benar dugaanku kalau mereka berdua merencakan sesuatu.
"Aku hanya mencintai kamu, hanya kamu. Kamu tau kan aku tidak suka sama Keysa, aku tidak suka wanita manja seperti Keysa. Percaya sama aku, setelah rencana kita berhasil untuk merebut semua harta Mahesya aku akan meninggalkannya. Dan kita akan menikah sayang."
Deg
Langit seakan runtuh tepat mengenai kepalaku, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku mendengar ucapan Reno yang terakhir. Hatiku seakan terhimpit sesuatu yang berat. Sekuat tenaga aku menahan isakanku, rasanya dadaku sesak sekali. Sesekali aku memukul dadaku yang terasa sangat ngilu dan sakit. Aku tak menyangka ini... Ternyata mereka.... Ya Tuhan.....
"Kenapa tidak berhenti sampai di sini saja Hunny? Kamu kan sudah memanipulasi dana dari perusahaan om Mahesya, apa masih belum cukup? Kita tinggal pergi dan menjalani hidup berdua Sayang," ucap Sanas.
"Tidak sayang, kita hampir selesai. dua tahun ini kita sudah merencanakannya matang-matang kan, jadi kenapa harus berhenti sekarang? Tinggal dua bulan lagi San, setelah aku menikah dengan Keysa," ucap Reno.
Aku tidak menyangka mereka melakukan ini padaku Aku pikir kalian begitu tulus dan baik padaku. Ya Tuhan, orang yang aku cintai dan sahabatku sendiri. Mereka mengkhianatiku dan bersekongkol untuk mengambil harta Papa.
"Tapi aku gak mau kamu menikah dengan Keysa, aku gak bisa lihat kamu menikah dengan wanita lain. Aku juga gak mau buat Keysa semakin hancur. Rencana kita kan cuma untuk merebut harta mereka," teriak Sanas
"Tidak bisa Sayang, aku sudah putuskan akan menikah dengannya. Aku mohon kamu jangan cemburu. Ini hanya acting, aku tidak pernah mencintai Keysa," ucap Reno memeluk tubuh Sanas. "Aku janji akan segera menyelesaikan segalanya, dan kita akan menikah. Kita akan membangun keluarga yang bahagia. Aku mencintaimu," ucap Reno mengecup puncak kepala Sanas dan membawanya masuk kedalam rumah.
Aku benar-benar syok dan kaget, jadi mereka hanya ingin harta Papaku. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat terkutuk ini. Aku berjalan meninggalkan rumah Sanas, Lututku terasa sangat lemas, rasanya aku tak sanggup lagi menahan beban badanku. Aku berjalan gontai menyusuri trotoar jalan. Aku tidak tau harus kemana hingga tanpa terasa sampai di sebuah halte bus.
Kenapa? Kenapa mereka tega lakuin ini sama gue? Kenapa Reno lakuin ini sama gue? Padahal gue tulus cinta sama dia. Gue kira kemarin dia benar-benar menyesal dan akan memperbaiki hubungan kami. Ternyata mereka punya maksud lain. Aku bener-bener tidak bisa terima ini. Tega sekali mereka...
"Apa salah gue sama kalian!" aku sudah tidak tahan lagi. Aku terus memukul dadaku yang terasa sangat sesak. Aku menangis terisak dan sejadi-jadinya. Sungguh rasanya perih sekali, aku sudah sangat tidak tahan lagi.
"Tidak baik seorang wanita malam-malam menangis di pinggir jalan sendirian," ucap seseorang seraya menyodorkan sapu tangan ke arahku. Aku mendongakkan kepalaku ke arah seseorang itu.
"Felix?"
♥