Dari sejak pagi aku sudah di suguhkan setumpukkan pekerjaan. Hingga siang menjelang, aku masih sibuk dengan pekerjaanku.
Drrrt drrrtt
Nama myReno muncul di layar iphoneku. Akupun segera mengangkatnya.
"Halo"
"......"
"Tapi aku masih banyak pekerjaan Ren,"
"....."
"Ya maksudnya Yank,"
"....."
"Ya sudah nanti pulangnya saja, kita ketemu."
"......"
"Iya"
Aku mematikan sambungan telpon, dan kembali fokus dengan pekerjaanku.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, sudah waktunya pulang. Akupun segera membereskan dokumen-dokumen di atas mejaku dan beranjak hendak melangkah, tetapi tiba-tiba seseorang menarik tanganku membuatku terpekik kaget. Siapa sih ini orang, main tarik-tarik saja, memangnya aku ini kambing apa di tarik-tarik. Ternyata dia Bosku yang super galak. Kami sama-sama masuk ke dalam lift.
"Bapak ini apa-apaan sih main tarik-tarik saya? Memangnya saya ini kambing apa di tarik-tarik!" gerutuku dengan kesal. Tetapi dia tidak bergeming dan terus memegang tanganku seakan takut aku akan pergi. "Betah banget Pa, pegangin tangan saya," sindirku dan barulah dia menengok ke arahku, baru sadar yah di sampingnya ada orang.
"Kamu tidak bisa diam yah, berisik sekali," ucapnya dengan datar.
"Tapi kita mau kemana Pak? Ini waktunya pulang, saya sudah ada janji dengan seseorang.”
"Siapa? Reno kan?" ucapnya dengan sinis.
Dia kenapa sih,,? aneh sekali. Adakan yang bisa memberitahuku, ada apa dengan bunglon ini?
"Iya, tapi kita mau kemana Pak?" tanyaku lagi.
"Diamlah, nanti juga kamu tau!"
"Kita kan gak ada meeting atau pertemuan di luar Pak."
"Ishhhh banyak sekali bicara," ucapnya terlihat kesal. Yah, habis bibirku gatal kalau tidak berbicara. aiisshhh pak Bos ini so misterius.
Ting
Pintu lift akhirnya terbuka, dia masih menarikku membuat para karyawan yang baru keluar dari lift khusus karyawan melihat ke arah kami. "Pak tolong lepaskan, semua orang melihat ke arah kita." Aku sungguh malu sekali dengan berbagai tatapan mengarah kepadaku.
Saat kami akan sampai lobby, aku melihat Reno sedang berdiri di sana sambil menghubungi seseorang, sepertinya Reno sedang mencoba menghubungiku karena handphoneku terus berbunyi. Aku hendak mengangkat telpon dari Reno.
"Jangan diangkat" ucapnya tegas membuatku mengernyitkan keningku bingung. Ada apa dengannya? Apa obatnya sudah habis?
Tapi tunggu deh, kok arah kami ke pantri sih? "Pak, kok ke sini sih?" Tetapi dia tidak menjawab. "Pak, itu Reno sudah di depan. Aku harus menemuinya Pak. Lepaskan tanganku," ucapku mulai kesal.
Maksudnya apa sih...
"Kamu pulang dengan saya!" perintahnya penuh penekanan seakan tidak ingin di bantah
"Ta...tapi saya ada janji dengannya, Pak.”
"Kita keluar lewat pintu pantry," ucapnya lagi tanpa menjawab pertanyaanku.
"Lho kenapa Pak? Tumben banget, masa CEO harus keluar lewat pantry sih?" Dia berhenti berjalan membuatku ikut berhenti. Dia melihat kearahku dan berjalan mendekatiku, menghapus jarak di antara kami, membuat jantungku berpacu dengan sangat cepat.
"Saya tidak mau kamu bertemu sama pria itu" ucapnya penuh penekanan membuatku heran. "Dan jangan banyak bicara lagi, rapatkan mulut bawelmu itu kalau tidak ingin aku sumbat!" ucapnya tegas, membuatku replek menutup mulutku dengan tangan kananku.
"Gadis penurut," ucapnya tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.
Kami melewati pantry membuat OB di sana melihat heran dan kaget karena baru pertama kali seorang Ceo melewati jalan ini. Bahkan karyawan biasapun tidak pernah melewati jalan ini.
Akhirnya kami sampai diparkiran dan dia membukakan pintu untukku tetapi saat aku hendak masuk ke dalam mobil, seseorang memanggilku.
"Keysa!"
Aku mengenal suara itu, itu adalah suara Reno. Aku berbalik ke arahnya, ternyata dia sudah berada di belakangku. Membuatku tersenyum kikuk dan aku melirik ke arah Bosku, dia terlihat tegang dan terlihat rahangnya mengeras. 'Dia kenapa yah? Apa dia membenci Reno? Tetapi kenapa?'
"Sayang, aku telpon kamu berkali-kali tetapi gak di angkat," ucap Reno.
"Maaf tadi gak kedengeran Yank.” Aku berusaha mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Reno.
"Ya sudah kita pergi sekarang," ucapnya menarik tanganku tetapi belum sempat aku melangkah, Felix memegang tanganku yang satunya lagi membuatku bingung.
"Dia bersamaku!" ucap Felix penuh penekanan dan memancarkan tatapan permusuhan.
Reno melihat ke arahnya dengan tatapan tajam. Keduanya saling bertatapan tajam seakan sedang perang laser melalui pandangan. Aku harus apa? Suasana menjadi tegang seperti ini.
"Bukannya sudah waktunya pulang? Jadi anda sudah tidak ada urusan apa-apa lagi dengan calon istri saya bapak Felix yang terhormat!" ucap Reno penuh penekanan. Aku melihat Reno mulai kesal.
"Kami ada janji dengan desainer buat fitting baju pengantin kami," tambah Reno membuat Felix terdiam tetapi aku tidak bisa mengartikan eskpresi wajahnya yang datar.
"Maafkan saya Pak, saya harus pergi," ucapku menengahi dan akhirnya Felix melepas pegangannya dan Reno langsung menarikku.
Aku kembali melihat ke arah Felix tetapi dia sudah masuk ke dalam mobilnya.
Akupun masuk ke dalam mobil Reno dan Renopun mulai menjalankan mobilnya.
"Aku tidak suka kamu terlalu deket sama bos kamu!" ucap Reno dengan tegas.
"Aku kan Sekretarisnya, lagipula kita gak ada hubungan apapun, hanya sebatas atasan dan bawahan saja." Tapi apa iya hanya sebatas Bos dan bawahannya saja? Kita kan pernah berciuman malahan dia nyuri ciuman pertamaku
"Kenapa melamun?" tanya Reno membuatku tersadar dari lamunanku.
"Bukan apa-apa," jawabku dengan senyuman kecil.
"Aku pengen kamu jangan dekat-dekat dengannya lagi kalau perlu kamu keluar saja dari sana," ucap Reno penuh penekanan.
"Kenapa kamu jadi mengatur kehidupanku? Aku gak akan pernah keluar dari pekerjaanku. Ini keinginanku!" Aku sungguh tidak menyukai tindakan Reno yang berusaha mengatur kehidupanku.
"AKU CALON SUAMIMU KEYSA, DAN AKU GAK INGIN DIBANTAH! AKU GAK SUKA LIAT KAMU DEKAT DENGANNYA!" bentak Reno membuatku tersentak kaget. Untuk pertama kalinya dia membentakku, apa karena dia sudah berpaling ke Sanas jadi seenaknya dia membentakku.
"Maafkan aku sayang, aku gak bermaksud membentak kamu. Aku cemburu, kamu terlihat dekat dengannya, aku gak mau kamu berpaling dariku," ucap Reno kini memegang tanganku.
"Bukankah kamu juga dekat dengan Sanas!" sindirku.
"Sayang, bukankah aku sudah minta maaf tentang hal itu dan aku juga sudah menjelaskan semuanya padamu. Aku sungguh minta maaf," ucapnya dan aku hanya diam saja. "Aku sungguh tidak mau kehilangan kamu, Key."Reno mencium tanganku.
Apa benar yang dia ucapkan? Haruskah aku mempercayainya?
♥
Kamipun sampai di butik, kami berjalan bersama. Reno menautkan jemarinya ke jemariku. Sebenarnya aku menikmati kebersamaan ini,, Reno memang seseorang yang aku cintai. Tetapi aku sudah terlanjur kecewa padanya,, perselingkuhannya dengan Sanas benar-benar membuatku terluka.
Kami masuk ke dalam dan ternyata sudah ada Sanas di sana. "Key!" Sanas berjalan mendekatiku, aku tidak ingin melihatnya.
Sungguh hatiku sakit, mengingat kejadian malam itu, dimana mereka berdua-. Ah, sudahlah aku tak sanggup menjelaskannya. Itu terlalu menjijikan dan sangat menyakitiku.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku pada Reno.
"Aku meminta Sanas datang untuk meminta maaf padamu, dia akan membantu kamu memilih gaun pengantin. Dia ingin menebus kesalahannya," ucap Reno.
"Iya Key, aku ingin menebus semua kesalahanku," ucapnya.
"Baiklah," jawabku dan berlalu pergi memasuki butik sendirian.
Aku mulai mencoba memakai gaun pertamaku, terlihat sangat pas di badanku, tetapi aku kurang menyukainya karena telihat glamour. Aku berjalan keluar dimana Sanas dan Reno menunggu. Tetapi apa yang aku lihat, mereka tidak menyadari kehadiranku, mereka terlihat bersitegang.
Ck,, acting yang buruk. Di depanku saja masih terlihat seperti itu,, benar-benar membuatku muak. "Ekhem! Kalian berbicara serius sekali sampe tidak menyadari kehadiranku," ucapku seraya membuang muka dan berhasil membuat keduanya menengok. Dan lihatlah ekspresi kaget kalian,,,
"Apa ada masalah? atau ada yang tidak terima di sini?" Sindirku.
"Aghh tidak Sayang, bukan apa-apa. Hanya ada sedikit masalah pekerjaan." Reno berjalan menghampiriku. "Maafkan aku yah Sayang karena di saat fitting baju pengantin kita, aku masih sibuk dengan pekerjaanku," ucapnya membelai kepalaku dan mencium puncak kepalaku, aku melihat Sanas membuang wajahnya. Lebih tepatnya bukan masalah pekerjaan tetapi masalah kalian berdua. Apa loe mencintai Reno, Sanas? Gue sebenarnya masih tidak paham maksud kalian berdua mengkhianati gue.
" ya tidak apa-apa Sayang." Aku memaksakan diri untuk tersenyum. "Gimana gaun ini?"
"Emmpzz," dia mengamatiku dari atas sampai bawah. "Lumayan, coba yang lain Sayang," perintahnya. Bilang saja kalau kalian hanya ingin terus berduaan.
"Sanas menurut loe gaun ini gimana?" tanyaku padanya.
"Ini terlalu glamour Key," ucapnya tersenyum manis.
♥