Felix pov
Aku masih bingung dengan hatiku, sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kenapa wajah wanita itu selalu mengusikku. Ada apa denganku?
'Apa aku mencintainya?'
Tidak Felix, kau sangat membenci kata cinta, tidak mungkin kau mencintainya. Tidak ada yang namanya cinta di dunia ini, yang ada hanya kebutuhan. Ya, aku hanya membutuhkannya untuk selalu menemaniku, ini bukan cinta.
"Hai mas Bro, gue telpon, kenapa gak loe angkat?" ucap Devan yang baru datang dan duduk di sampingku.
"Iphone gue di atas, ada apa?" Aku tidak begitu menyukai basa basi.
"Dasar loe, bener-bener Mr. Tanpa basa basi," kekehnya membuatku berdecak kesal. "Minggu depan kita ada acara di Bogor, loe bisa sempetin kan?" tanyanya.
"Iya pasti bisa, loe atur saja semuanya."
"Oke Bos,"ucapnya. "Oh iya ngomong-ngomong Sekretaris loe cantik juga yah," ucapannya membuatku menatapnya dengan tajam supaya dia sadar untuk tidak mengganggu Keysa.
"Relax Bro, gue gak akan embat milik loe kok," kekehnya.
Milik gue? Ya, dia benar. Keysa memang harus menjadi milikku seutuhnya.
♥
Keysa pov
Papa menyuruhku untuk berdandan cantik, karena akan makan malam bersama Reno. Tapi sungguh aku tidak bersemangat sama sekali, aku tidak ingin berdandan untuk laki-laki b******n itu. Aku hanya akan berdandan untuk Felix.
What??? Apa barusan hatiku yang menjawab? Nggak nggak, ngapain juga gue harus berdandan demi Bos galak itu.
Oke, Papa sudah memanggilku dan aku hanya memoles seadanya saja di wajahku. Dan aku segera turun ke bawah. Di sana sudah ada Reno dan Papa, sepertinya sibuk membicarakan masalah pekerjaan.
"Malam Pa, malam Ren," sapaku mencium pipi Papa dan duduk di samping Reno. Kenapa aku masih bersikap biasa saja? Karena ada Papa di sini, aku tidak ingin Papa kepikiran masalahku dan Reno.
"Kamu cantik banget Key," bisik Reno dan aku hanya bisa tersenyum kecil.
"Ayo kita makan," ajak Papa. Aku mengambilkan nasi dan lauk untuk Papa. "Buat calon suamimu juga dong, Sayang."
Cih, ogah banget gue harus ambilin nasi dan lauk buatnya. Akhirnya aku terpaksa mengambilkannya karena Papa, kalau tidak di suruh Papa sih ogah banget.
"Makasih Sayang," sahutnya so manis sekali. Kamipun mulai menikmati makanan kami.
"Papa sudah berbicara dengan Reno. Kalian akan menikah dua bulan lagi," ucap Papa.
Oho oho oho
"Pelan-pelan makannya dong, Sayang," sahut Reno memberikan segelas air putih kepadaku dan aku meminumnya.
"Kenapa secepat itu Pa?"
"Lho memang kenapa Sayang? Bukannya kamu ingin cepat menikah?" ucap Papa.
"Ya maksud aku, jangan secepat itu. Aku kan baru saja memulai karirku, aku masih ingin menikmatinya," ucapku asal.
"Tapi kan meskipun kalian menikah, kamu masih bisa bekerja Sayang," jelas Papa.
"Paaaa!" Aku mulai mengeluarkan rengekanku pada Papa.
"Tidak Sayang, Papa sudah tua. Papa ingin melihat kamu berumah tangga dan bahagia. Setelah kalian menikah, Papa akan langsung menyerahkan semua perusahaan Papa dan tanggung jawab Papa pada Reno," jelas Papa.
"Tidak Om, Om juga masih harus ikut bertanggung jawab. Aku tidak bisa menerima semua ini," ucap Reno dengan ramah.
Sebenarnya apa mau Reno? Apa maksud dia? Di tawari harta sebegitu banyaknya dia tolak.Apa dia hanya berackting? Atau dia punya rencana lain?
"Tidak apa-apa Nak, Papa sudah menganggap kamu sebagai anak Papa. Papa hanya ingin melihat kalian bahagia," ucap Papa.
"Saya tidak bisa menerimanya Om, saya ingin menafkahi Keysa dengan jerih payah saya sendiri," ucap Reno.
"Kamu memang anak yang baik." Papa tersenyum hangat pada Reno dan entah kenapa membuatku geram pada Reno yang jago beracting.
"Sayang, kita harus mempersiapkan semuanya untuk acara pernikahan kita," ucap Reno.
"Bisa kita bicara berdua," ucapku yang sudah tak tahan lagi mendengar bualannya.
"Baiklah," ucap Reno.
Kami berdua berjalan menuju taman belakang, aku melipat kedua tanganku di d**a menatap ke arahnya dengan geram.
"Aku tau kamu marah sama aku, tapi perlu kamu tau. Aku tak ada niat sedikitpun mengkhianatin kamu, Key," ucap Reno menarikku hingga kami berhadapan.
"Sudah jelas semuanya Ren, dan sekarang apa maksud kamu dengan membicarakan pernikahan? Apa kamu ingin membuatku semakin terluka?" tanyaku dengan tatapan kekecewaan.
"Yank, aku mohon percaya padaku. Aku dan Sanas melakukannya hanya karena-"
"Karena apa, hah? Karena kalian saling menyukai? Karena kalian saling cinta? atau apa?" pekikku yang sudah sangat emosi.
"Aku akui aku salah, aku tak mampu menahan diri. Bagaimanapun aku pria dewasa yang perlu menyalurkan gairahku," ucapnya.
"Apa harus dengan Sanas, hah? apa tak ada wanita lain lagi?" pekikku bersamaan dengan tangisku yang luruh.
"Aku menyayangimu, Key. Aku menghargai prinsipmu yang tak ingin melakukan s*x before marriage. Jadi aku melakukannya dengan wanita lain. Aku tau aku salah karena melakukannya dengan Sanas," ucapnya.
"Sudah cukup, aku tak ingin mendengar penjelasan ambigu darimu, Ren." Aku mengusap air mataku. "Aku lelah, sekarang kamu pulang. Dan tolong batalkan pernikahan kita."
"Tidak bisa Key, aku mencintaimu!" ucapnya.
"Reno, aku mohon. Hatiku sakit melihat kejadian kemarin, jadi aku mohon jangan tambah lagi kesakitan itu."
"Aku mempercepat pernikahan kita, karena aku ingin menebus kesalahanku kemarin. Aku ingin memperlihatkan padamu kalau aku serius padamu," ucapnya memegang kedua tanganku. "Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi.”
"Aku tidak tau."
"Ku mohon Key," ucapnya menatapku dengan sendu. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Tetapi akupun merasa bersalah pada Reno karena sudah menerima ciuman dari Felix. Setidaknya ini cukup adil bagi kami. Akupun mengangguk menandakan kalau aku memberinya kesempatan kembali.
Dia mengucapkan kata terima kasih dan memeluk tubuhku dengan erat. Aku tak membalas pelukannya, tetapi aku hanya berharap Reno menepati kata-katanya. Dan aku juga akan mulai menjaga jarak dengan Felix.
♥
Dari sejak pagi aku sudah di suguhkan setumpukkan pekerjaan. Hingga siang menjelang, aku masih sibuk dengan pekerjaanku.
Drrrt drrrtt
Nama myReno muncul di layar iphoneku. Akupun segera mengangkatnya.
"Halo"
"......"
"Tapi aku masih banyak pekerjaan Ren,"
"....."
"Ya maksudnya Yank,"
"....."
"Ya sudah nanti pulangnya saja, kita ketemu."
"......"
"Iya"
Aku mematikan sambungan telpon, dan kembali fokus dengan pekerjaanku.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, sudah waktunya pulang. Akupun segera membereskan dokumen-dokumen di atas mejaku dan beranjak hendak melangkah, tetapi tiba-tiba seseorang menarik tanganku membuatku terpekik kaget. Siapa sih ini orang, main tarik-tarik saja, memangnya aku ini kambing apa di tarik-tarik. Ternyata dia Bosku yang super galak. Kami sama-sama masuk ke dalam lift.
"Bapak ini apa-apaan sih main tarik-tarik saya? Memangnya saya ini kambing apa di tarik-tarik!" gerutuku dengan kesal. Tetapi dia tidak bergeming dan terus memegang tanganku seakan takut aku akan pergi. "Betah banget Pa, pegangin tangan saya," sindirku dan barulah dia menengok ke arahku, baru sadar yah di sampingnya ada orang.
"Kamu tidak bisa diam yah, berisik sekali," ucapnya dengan datar.
"Tapi kita mau kemana Pak? Ini waktunya pulang, saya sudah ada janji dengan seseorang.”
"Siapa? Reno kan?" ucapnya dengan sinis.
Dia kenapa sih,,? aneh sekali. Adakan yang bisa memberitahuku, ada apa dengan bunglon ini?
"Iya, tapi kita mau kemana Pak?" tanyaku lagi.
"Diamlah, nanti juga kamu tau!"
"Kita kan gak ada meeting atau pertemuan di luar Pak."
"Ishhhh banyak sekali bicara," ucapnya terlihat kesal. Yah, habis bibirku gatal kalau tidak berbicara. aiisshhh pak Bos ini so misterius.
Ting
Pintu lift akhirnya terbuka, dia masih menarikku membuat para karyawan yang baru keluar dari lift khusus karyawan melihat ke arah kami. "Pak tolong lepaskan, semua orang melihat ke arah kita." Aku sungguh malu sekali dengan berbagai tatapan mengarah kepadaku.
Saat kami akan sampai lobby, aku melihat Reno sedang berdiri di sana sambil menghubungi seseorang, sepertinya Reno sedang mencoba menghubungiku karena handphoneku terus berbunyi. Aku hendak mengangkat telpon dari Reno.
"Jangan diangkat" ucapnya tegas membuatku mengernyitkan keningku bingung. Ada apa dengannya? Apa obatnya sudah habis?
Tapi tunggu deh, kok arah kami ke pantri sih? "Pak, kok ke sini sih?" Tetapi dia tidak menjawab. "Pak, itu Reno sudah di depan. Aku harus menemuinya Pak. Lepaskan tanganku," ucapku mulai kesal.
Maksudnya apa sih...
"Kamu pulang dengan saya!" perintahnya penuh penekanan seakan tidak ingin di bantah
"Ta...tapi saya ada janji dengannya, Pak.”
"Kita keluar lewat pintu pantry," ucapnya lagi tanpa menjawab pertanyaanku.
"Lho kenapa Pak? Tumben banget, masa CEO harus keluar lewat pantry sih?" Dia berhenti berjalan membuatku ikut berhenti. Dia melihat kearahku dan berjalan mendekatiku, menghapus jarak di antara kami, membuat jantungku berpacu dengan sangat cepat.
"Saya tidak mau kamu bertemu sama pria itu" ucapnya penuh penekanan membuatku heran. "Dan jangan banyak bicara lagi, rapatkan mulut bawelmu itu kalau tidak ingin aku sumbat!" ucapnya tegas, membuatku replek menutup mulutku dengan tangan kananku.
"Gadis penurut," ucapnya tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.
Kami melewati pantry membuat OB di sana melihat heran dan kaget karena baru pertama kali seorang Ceo melewati jalan ini. Bahkan karyawan biasapun tidak pernah melewati jalan ini.
Akhirnya kami sampai diparkiran dan dia membukakan pintu untukku tetapi saat aku hendak masuk ke dalam mobil, seseorang memanggilku.
"Keysa!"