Episode 7

2245 Words
Aku memilih sarapan di kamar hotel, rasanya aku tidak ingin keluar dan bertemu dengan makhluk dingin itu. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Pasti aku akan dipecat. Haduh bagaimana ini. Aku terus saja mondar mandir memikirkan apa yang harus aku lakukan sekarang hingga suara Iphoneku mengagetkanku, aku segera menyambar Iphoneku dan membuka pesan dari Bos dingin itu. Bos Galak :  Cepat keluar kita akan pulang! Kalau kau tidak ingin aku tinggalkan! "Huh, dasar!" Aku segera menggerek koperku keluar kamar dan dia pun baru keluar dari kamarnya. Kami sempat beradu tatapan sebentar, dan  dia berjalan terlebih dulu tanpa menghiraukanku atau mengatakan sesuatu padaku. Ya, dia kembali pada sikapnya yang super dingin, dan seakan tidak merasa bersalah kepadaku. Dasar Ayam Jantan. Aku hanya bisa berjalan membuntutinya. Sesampainya di parkiran, kami sama-sama masuk ke dalam mobil dan aku harus memasukan koperku dulu ke dalam bagasi tanpa bantuan darinya. Di dalam mobil kami berdua sama-sama terdiam, tak ada yang ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Situasi ini terasa sangat canggung. Apa aku harus meminta maaf padanya ? Tetapi dia yang salah main nyosor-nyosor saja. ♥ Di dalam mimpi seperti ada yang menepuk-nepuk ringan kedua pipiku, membuatku mengerjapkan mata. Mataku langsung beradu dengan mata elang milik bosku, aku terlena oleh tatapannya yang tajam. Hingga akhirnya dia mengalihkan pandangannya dan menjauhkan kepalanya dari hadapanku membuatku kecewa. Ah kenapa aku merasa kecewa, memang apa yang aku harapkan, sih? "Dimana rumahmu?" tanyanya terdengar dingin. "Rumah saya?" Oke sekarang aku mulai loading dan tulalit. Sampai akhirnya akupun memberi tahu alamat rumahku padanya. Hingga tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumahku. "Aghh,, akhirnya bisa pulang juga." "Kamu anaknya pa Mahesya?" tanyanya tampak kaget. "Heem,, kamu kenal Papaku?" "Iya, dia juga seorang pengusaha dan salah satu kolegaku. Sudah punya perusahaan sendiri kenapa masih bekerja di perusahaan orang lain." ucapnya membuatku tertegun. Apa maksud ucapannya barusan? Apa dia ingin memecatku? "Saya hanya ingin belajar mandiri, terima kasih Bapak sudah mau mengantarkan saya. Saya masuk dulu." Aku segera turun dengan membawa koperku dari bagasi mobilnya. Dia langsung berlalu pergi setelah aku menutup bagasinya kembali. Huh dasar Bossy! Aku berjalan masuk ke dalam rumah, Papa sudah pulang belum yah, tapi jam segini biasanya sudah ada di rumah. "Bi, Papa sudah pulang?" tanyaku pada seorang pelayan yang baru saja melewat. "Sudah Non, beliau ada di ruang kerjanya" jelasnya dan membawakan koperku. "Baiklah, terima kasih Bi." Aku berlari ke lantai 2 dan hendak memasuki ruang kerja Papa tetapi suara tangisan seseorang menghentikan langkahku. "Pa, saya mohon ijinkan saya bertemu dengannya, sekali saja. Selama 20thn ini saya menuruti anda untuk tidak menemuinya, tapi untuk sekarang saya mohon Pa. Ijinkan saya bertemu dengannya!" ucap wanita itu di tengah isakannya. Siapa wanita itu? Dan siapa yang ingin dia temui? "Saya janji Pa hanya sekali saja, setelah itu saya akan pergi jauh. Saya hanya ingin memeluk putri saya," ucap wanita itu lagi terlihat memelas. Putri? Putri yang mana maksud wanita itu, dan kenapa Papa tidak memberi ijin untuk mempertemukan wanita itu dengan putrinya. "Dia sedang pergi keluar kota, nanti akan saya atur masalah itu," suara Papa terdengar dingin "Baiklah, terima kasih banyak Pa. Terima kasih, saya permisi," ucap wanita itu dan aku buru-buru bersembunyi di balik tembok saat wanita itu keluar ruangan. Wajahnya sangat teduh dan sayu. Siapa putri yang wanita itu maksud? apa dia ada hubungan dengan Papa? Tapi selama ini Papa tidak pernah terlihat dekat dengan wanita lain. Siapa sebenarnya wanita itu. Aku terus mengira-ngira, sampai-sampai tak sadar kalau Papa sudah berada di hadapanku. "Keysa!" panggil Papa menyadarkan lamunanku. Aku menatap Papa yang terlihat kaget, dan terpancar rasa bersalah di pelupuk matanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa sebenarnya? Apa aku harus langsung menanyakannya kepada Papa? "Kamu baru pulang, Nak?" tanyanya kini tatapannya lebih teduh dan hangat. "Iya Pa, aku baru saja sampai." "Kamu bau sekali, cepatlah mandi sana," goda Papa dengan kekehannya. "Baiklah," Akupun beranjak pergi. ♥ Aku berendam air hangat yang dipenuhi sabun untuk membuat seluruh sendiku lebih relaks. Siapa wanita yang bersama Papa tadi? Ada hubungan apa dia dengan Papa? Aku ingin sekali menanyakannya pada Papa. Tetapi aku takut itu malah menyulitkan Papa. Aku memejamkan mata, rasanya nyaman sekali, tetapi sekelebat wajah Bos galakku itu melintas begitu saja membuatku segera membuka mataku. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, aku harus mengupgrade otakku dan menghapus bBos galak itu dari pikiranku. Sebaiknya setelah ini aku pergi ke apartement Reno untuk bisa menghapus pikiranku tentang bos galak itu. Aku baru saja sampai di apartement milik Reno, aku sengaja tak memberi kabar pada Reno karena aku ingin memberinya kejutan. Apalagi Reno tidak tau kalau aku kembali ke Jakarta lebih cepat dari perkiraan. Sesampainya di depan apartement miliknya, aku memasukkan passwordnya. Ting Pintupun terbuka, dan aku segera memasuki apartementnya. Aku mencari Reno di dalam, tetapi tak ada. Sampai aku mendengar suara desahan dan kata-kata yang menurutku frontal dari kamarnya. Jantungku berdetak kencang mendengar desahan dan racauan aneh itu. Perlahan aku melangkah mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka. Aku membuka pintunya, Deg Apa ini maksudnya? "Keysa!" Reno bersama Sanas sedang melakukan hal yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, yang jelas itu sangat menjijikan. Reno terlihat menuruni ranjang dengan memakai celana boxernya. Aku bergegas pergi meninggalkan apartementnya, aku berlari sekuat tenaga meninggalkan apartement Reno. Aku tak mengindahkan panggilan dari Reno, aku terus berlari dan berlari keluar dari apartement dengan tangisku. Aku menghentikan sebuah taksi saat keluar lobby apartement dan menaikinya. Kenapa? Aku tak mampu lagi membendung rasa sakitku. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya mengeluarkan segala kesakitan di dalam hati. Reno dan Sanas? Kenapa mereka begitu tega kepadaku? Apa salahku pada kalian berdua sampai kalian melakukan ini padaku? Kenapa??? Aku menangis sejadi-jadinya tanpa memperdulikan tatapan heran dari sopir taxi. Rasanya sesak sekali di khianati oleh orang yang sangat aku percaya. Sanas adalah sahabat terbaikku yang sudah ku anggap sebagai Kakakku sendiri. Tetapi dia berani dan tega mengkhianatiku dengan tunanganku sendiri? ♥ Aku baru saja tiba di kantor, sepertinya Felix belum datang. Akupun memilih duduk di atas kursiku dengan lesu. Hatiku masih sakit, ya sangat sakit juga sesak. Mungkin rasanya tak akan sesakit ini kalau Reno ketahuan berselingkuh dengan wanita lain. Tetapi ini berbeda, dia berselingkuh dengan sahabatku sendiri, dan rasanya seperti hatiku di tusuk dan di remas dengan paksa. Semalaman aku menangis tanpa henti, aku tidak percaya tunanganku dan sahabatku melakukan ini padaku. Kenapa? Kenapa mereka mengkhianatiku? Dadaku terasa terhimpit sesuatu yang sangat berat. Aku menundukkan kepalaku dan menyandarkannya ke meja kerjaku. Rasanya kepalaku pening sekali. "Pagi-pagi sudah kusut, bukannya bersemangat menyambut atasan!" tegur seseorang. Siapa dia? Aku tidak ngomong apa-apa kan? Tetapi suara itu sepertinya... Astaga!!! Aku mengangkat kepalaku sedikit dan mengintip siapa yang barusan berbicara. Dan benar saja tebakkanku, dia adalah Mr. Felix, Ceo galak sudah berada di hadapanku. Akupun  segera mengangkat kepalaku menghadapnya. "Pagi Pak," sapaku berusaha untuk tersenyum. "Kenapa dengan wajahmu?" tanyanya membuatku spontan memegang kedua pipiku. "Wajahku? memang wajahku kenapa, Pak?" "Bisakah kau menjawab pertanyaanku bukan dengan pertanyaan lagi?" serunya membuatku mengerucutkan bibirku. "Kau sakit?" Aku menggelengkan kepalaku lirih. Setelah bertanya itu, diapun melenggang begitu saja memasuki ruangannya. ♥ Clara datang saat jam makan siang dan mengajakku untuk makan bersama. Dan di sinilah kami sekarang, di cafe dekat kantor. Kamipun mulai memesan makanan. "Key, loe baik-baik saja kan?" tanya Clara dan akupun mengangguk. "Wajahmu pucat, dan matamu terlihat sendu, apa ada masalah?" "Aku baik-baik saja, mungkin ini karena kecapean saja," kilahku dan Clarapun mengangguk paham. "Emm, Oh iya Clar, kok loe bisa pacaran sama temannya pak Felix? Kenal dimana?" Jujur saja aku begitu penasaran dan sempet kaget melihat Clara ada di antara mereka. "Gue temen kampusnya Felix, Remon sama Devan," ucapnya. "Mereka bertiga sebenarnya yang bersahabat." "Mereka bersahabat sejak lama, dan ketiganya begitu menyukai musik. Bahkan mereka membuat group band," ucap Clara. "Band?" Aku sempat kaget mendengarnya. Memang pria sedingin Felix bisa memainkan alat musik gitu? Ku pikir dia hanya pintar memainkan hati para wanita. "Iya, Felix begitu lihai dalam memainkan alat musik. Bahkan dia pegang gitar sama vokal, kalau Devan, dia itu pegang bass dan Remon, dia pegang drum. Makannya kemana-mana mereka selalu bertiga seperti ban bajaj," kekehnya membuatku ikut terkekeh. Tak lama pesanan kamipun datang, kami mulai menikmati makanan kami. "Loe harus melihat penampilan mereka, pasti loe langsung klepek-klepek deh, Key," ucap Clara dengan antusias. Iya gitu? Sehebat apa sih dia saat bernyanyi? Penasaran aku jadinya, sebagus apa suaranya. "Terus apalagi yang loe tau tentang mereka?" tanyaku mulai tertarik dengan pembahasan ini. "Mereka? Sepertinya bukan mereka deh, lebih tepat itu Felix, iyakan?" goda Clara, ketauan deh kalau aku memang penasaran dengan Bos galakku itu. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Clara barusan. "Oke akan gue kasih tau sedikit ke loe tentang Bos loe itu. Sebenarnya gue kenal mereka sudah cukup lama karena gue pacaran sama Remon sudah dari kami masih kuliah, jadi gue sering mengikuti mereka kemanapun. Dan Felix, gue juga sebenarnya kurang tau dia itu orangnya seperti apa. Soalnya dia tertutup orangnya," jelas Clara dan aku hanya menyimak saja "Tapi dia tidak seburuk yang kamu pikirkan, di balik sikap dinginnya, dia itu sebenarnya sangat baik lho Key." Ya, aku tau sebenarnya dia sangat baik hanya saja sifatnya kadang-kadang suka berubah drastis. Dia seperti bunglon, yang cepat sekali berubah. "Loe lagi mikirin pak Felix yah, cie cie," goda Clara membuatku terkekeh. "Apaan sih, ya nggaklah." Kenapa aku bisa sedikit teralihkan dari pikiran tentang Reno dengan pembahasan ini. "Kebanyakan cewek yang dekat sama Felix tuh, menginginkan hartanya. Apalagi Felix susah banget buat jatuh cinta, sepertinya dia memang tidak pernah jatuh cinta sih. Gue berharap sih akan ada wanita yang mampu buat dia jatuh cinta," ucap Clara. "Masa sih dia gak pernah jatuh cinta?" Mustahil sekali dia tidak pernah jatuh cinta, atau mungkin dia kencan dengan para wanitanya hanya karena nafsu bukan cinta? "Kata Remon sih, dia tidak percaya sama cinta," ucapnya membuatku merenung. ♥ Aku berlari saat melihat Felix sudah  berdiri tegap di depan mejaku, dengan kedua tangan yang melipat di d**a. "Se. .lamat si..ang P...ak!" aku masih berusaha mengatur nafasku. "Kebiasaan, ayo kita pergi!" Dia langsung menarik tanganku tanpa membiarkan aku bertanya.    "Mau kemana Pak?" tanyaku heran dan segera menyambar tasku. "Ikut saja!" ucapnya tanpa terbantahkan. Dasar pemaksa... Kami sudah duduk di mobilnya, dan aku gak tau dia mau bawa aku kemana. "Bapak mau ngajak saya makan siang?" "Tidak," jawabnya singkat. Terus sekarang aku mau di bawa kemana? Perasaan gak ada pertemuan client atau meeting. "Kita sudah sampai," ucapnya, aku terlalu fokus dengan pikiranku sampai-sampai tidak tau kalau sudah sampai di tempat tujuan. Aku menelusuri tempat ini, tempat yang banyak pepohonan segar, dengan taman kecil dan  terdapat danau juga. Di sana juga terdapat papan kayu di atas danau. Waw,, sungguh indah sekali. Kami berjalan bersama ke arah papan kayu itu dan bagian paling ujung kami sama-sama duduk dengan kaki yang menggantung di atas air danau. "Kenapa Bapak mengajak saya ke sini?" aku menoleh ke arahnya. "Felix bukan Bapak!" ucapnya tegas seakan tak ingin di bantah. "Iya maksud saya kenapa kamu ajak saya ke sini?" "Aku tidak tau," jawaban yang membuatku speechless. Kami terdiam sesaat menikmati udara sejuk di sini. "Tempat yang indah." Aku menikmati suasana sejuk di sini, dan mampu menenangkan pikiranku. "Aku biasa kemari hanya untuk menenangkan diri," ucapnya membuatku menengok ke arahnya yang masih menatap lurus ke depan. "Di sini sangat sejuk, indah dan sunyi," tambahnya lagi dan aku kembali memandang ke depan. "Ya, sungguh indah," jawabku, dan kini giliran dia yang menatapku dan tersenyum. Senyum yang indah, tapi sayang jarang sekali diperlihatkannya. Aku melihat ke arahnya, dan kami saling bertatapan cukup lama, aku kembali terlena oleh tatapan tajam miliknya. Mata itu seakan memancarkan laser ke mataku, membuatku meleleh dalam tatapannya yang tajam. Dia semakin mendekatiku, wajah kami sudah hampir dekat. "Kalau aku cium kamu, apa kamu akan menamparku lagi?" bisiknya, nafas mintnya menerpa wajahku dan sangat menggelitik, membuatku semakin terlena. Aku tidak tau harus menjawab apa, tetapi tiba-tiba mataku terpejam begitu saja bertolak belakang dengan hatiku yang masih bimbang, dan ingin menolaknya. Aku merasakan deru nafasnya semakin menggelitik wajahku, hidung kami bersentuhan dan aku juga merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh bibirku. Awalnya hanya menyentuh tapi semakin lama, aku merasa bibirku di hisap dan di kulum. Bahkan deretan gigi itu sedikit menggigit bibir bawahku. Aku tak mampu melakukan apapun selain hanyut dan menikmati dalam setiap apa yang dia lakukan. Aku merasakan sesuatu yang basah menerobos masuk ke dalam dan menggoda lidahku. Aku menikmati kelembutan itu, membuat jantungku berdetak semakin kencang. Setelah lama aku menikmati sentuhan dan permainan lidah itu, aku merasakan bibirnya menjauh dariku dan aku perlahan membuka mataku hingga tatapan kami beradu satu sama lain. Bahkan dia masih menangkup wajahku dan hidung kami masih bersentuhan satu sama lain. Dia lalu memalingkan wajahnya dariku menatap kembali ke depan, hatiku terasa tercubit dengan tindakan ini. Lalu apa bedanya aku dengan Reno? kami sama-sama berkhianat. "Maaf," ucapnya singkat dan aku langsung menoleh ke arahnya yang masih menatap lurus ke depan. Aku sedikit meringis mendengar kata maafnya, ntahlah aku merasa sakit hati dan kecewa dia mengatakan kata maaf. Aku kembali menatap lurus ke depan dengan mengayunkan kedua kakiku yang menggantung. "Kamu tau, itu adalah ciuman pertamaku. Sebenarnya aku mengharapkan ciuman pertamaku di ambil oleh pacarku yang aku cintai, tetapi sayangnya Reno tidak pernah melakukannya. Mungkin kamu benar, aku memang tidak menarik di mata laki-laki." Aku tersenyum getir. Dia menatapku, terlihat ekspresi kaget di wajahnya tetapi tak lama dia kembali menatap lurus ke depan, ekspresinya kembali datar. "Dasar laki-laki bodoh!" gumamnya. "Apa?" "Tidak," jawabnya dengan datar. Aku menghela nafas, dan kembali menikmati pemandangan. Cukup lama kami terdiam hingga waktu sudah mulai petang, sungguh indah langit saat petang begini. Langit berubah warna menjadi orange yang begitu indah dan memukau, matahari mulai turun kembali ke persembunyiannya. "Kita pulang," ucapnya beranjak terlebih dulu dan aku mengikutinya dari belakang sambil menenteng sepatuku. Kami kembali menaiki mobilnya dan dia kembali melajukan mobilnya. Dia kembali diam membisu, membuatku bingung sekali. Tapi ada apa yah dengannya, benar-benar seperti bunglon, gampang sekali berubah-ubah. "Mau makan dulu?" tanyanya dengan pandangan masih fokus ke depan "Tidak, aku sudah janji akan makan malam bersama Papa." ♥  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD