"Rasa kecewa akan bertambah dua kali lipat jika dari orang yang paling kau percaya." **** Langkahnya kian melambat. Sayup-sayup ia mendengar percakapan sepasang manusia di hadapannya. Tak begitu keras, namun cukup jelas untuk ia tangkap. Lalu, bagai badai yang akan menerjang, dadanya ikut bergemuruh. Serasa ada ribuan petir yang bersaut silih berganti. Ia marah, tentu. Tak hanya sekedar marah, kecewa lebih tepatnya. Ia kecewa untuk kesekian kalinya pada orang yang sama. Pada sesosok wanita yang telah begitu banyak merubah kisah hidupnya. "Aku takut memberi tahu nya Azka. Aku harus bilang apa? Bagaimana caranya aku bilang pada mas Gufran kalo aku gak sakit." "Aku akan bantu kamu mengatakannya." Prok prok prok Gufran bertepuk tangan meremehkan dua orang di hadapannya kini. Baik Sya

