Setelah pertemuan mereka bertiga kemarin, Kala selalu mengembangkan senyumnya. Ikatan darah antara dia dan kedua kakaknya terlalu pekat, sehingga mereka selalu lekat. Tidak ada yang akan pernah mengira mereka adalah pembunuh berdarah dingin, karena saat mereka bersama, mereka akan menampakkan keakraban dan kehangatan. Kala masih bergelung di tempat tidur, bermalas-malasan. Andika sudah berisik dari tadi di kamarnya, menceritakan tentang rumitnya urusan properti mereka yang ruwet. “Aku bahkan tidak paham!” sergah Kala sambil menarik selimutnya. “Harusnya Kirana yang mengambil alih perusahaan ini,” keluh Andika. “Tepat, bagaimana mungkin seorang ahli sejarah mengurusi masakah properti?” imbuh Kala membuat Andika kesal. Dia naik ke tempat tidur dan menendang p****t Kala dengan keras. “S

