Minggu pagi aku sudah sampai di Jakarta, subuh tadi aku kembali ke Jakarta dengan pesawat pertama. Hari Rabu nanti aku baru akan kembali ke tempat penelitian, mungkin aku akan lebih sering bolak-balik seperti ini sampai satu bulan setengah ke depan.
"Wenny masih tidur Lang. Dia begadang nonton drama," ujar Ibu –calon mertuaku.
Aku melihat di dalam rumah, bagian ruang keluarga ada Wika bersama Irish. Aku mengikuti Ibu yang membawaku ke belakang. "Ayah ada di belakang dengan Putra. Lagi membicarakan si Keiko yang patah hati, ditinggal mati suaminya," jelas Ibu yang diakhiri dengan tawa geli.
Keiko? Aku mengernyitkan dahiku. Namanya terdengar baru di telingaku, seingatku juga Wenny hanya dua bersaudara.
"Keiko siapa Bu?" tanyaku hati-hati.
Ibu justru menepuk pelan lenganku saat kami sampai di depan pintu ke taman belakang. "Kenalan sendiri, Lang. Calon adik iparmu itu," ucap Ibu yang sepertinya menahan tawa.
Kemudian Ibu meninggalkanku, aku memilih mengangguk sopan dan berjalan menghampiri Ayah dan Putra yang sedang duduk berhadapan di teras belakang ini. Di sini terdapat beberapa kursi dan meja, sepertinya keluarga ini serang berkumpul di sini.
"Yah." Aku menyalami calon mertuaku setelah mengucapkan salam. Aku juga menjabat tangan Putra.
"Duduk, Lang." Ayah mempersilahkanku untuk duduk di sebelah beliau.
Aku duduk di sebelah Ayah. "Kak Wenny hari Minggu jam segini masih tidur," ucap Putra.
Sepertinya anggota keluarga ini sudah tahu dengan Wenny dan rutinitasnya. Calon istriku itu sepertinya punya kegiatan rutinan yang tidak bisa diubah begitu saja. Aku pun hanya mengangguki seadanya.
"Saya memang nggak ngabarin Wenny kalau pulang," kataku.
"Bisa main catur, Lang?" tiba-tiba Ayah bertanya sambil menepuk pundakku.
"Bisa Yah." Aku menganggukkan kepalaku.
"Battle dengan Putra bagaimana? Ayah nggak pernah menang lawan Putra, siapa tahu kamu bisa menang mewakilkan Ayah," tutur beliau yang membuatku melirik ke arah Putra.
Calon Iparku itu terlihat senang mendengar ucapan Ayah, dia bahkan menaikkan alisnya seolah menantangku. Harga diriku terasa tersentil, aku tidak akan membiarkan Putra menang. Walaupun harus kalah, aku tidak akan membuatnya menang dengan mudah.
"Oke!" seruku yang membuat Ayah tersenyum.
Selagi Ayah masuk ke dalam mengambil papan dan buah catur, aku dan Putra mengobrol. Aku yang pertama kali memulai pembicaraan dengan bertanya, "Memang Kekiko siapa sih Put? Tadi Ibu bilang Keiko itu calon adik ipar."
Putra tiba-tiba tertawa, dia sampai memegang perutnya karena terlalu senang. "Tuh si Keiko. Memang adik ipar kita, anak bungsunya Ayah," kata Putra sambil menunjuk ke arah sebuah ayam putih dengan bulu yang bagus. Ayam tersebut sedang bertengger di sebuah tiang khusus.
"Itu si Keiko?" Aku juga menjadi tertawa geli sendiri.
Putra menganggukkan kepalanya. "Ayam Jepang kesayangan Ayah. Pasangannya si Akira baru meninggal kemarin. Janda tuh sekarang," jelas Putra yang membuat aku dan Putra tertawa bersama.
Tawa kami terhenti saat Ayah kembali, aku berdeham pelan. Sedangkan Putra masih senyum-senyum saja. Mungkin Putra sedang menertawaiku yang barusan penasaran dengan si Keiko.
***
Aku mendengar suara langkah kaki terburu-buru, kemudian terdengar suara Wika dan Irish yang menangis dari dalam. Aku melirik Putra dan tersenyum menatapnya. "Sekakmat," gumamku dan Ayah menepuk-nepuk pundakku.
"Mas Gilang kok di sini?" Aku langsung menoleh saat mendengar suara Wenny.
Sepertinya Wenny baru bangun tidur, atau mungkin dia dibangunkan oleh seseorang. Sepertinya aku sudah menjadi penganggu tidur nyenyak dirinya.
"Mandi dulu Kak!" pekikan Wika terdengar.
Aku melihat Irish yang muncul di balik pundak Wenny, tangannya bergerak menarik rambut Wenny. "Sakit Irish," ucap Wenny yang melirik Irish.
"Mandi Kak," tutur Wika yang bekerjasama dengan Irish.
Wenny mendengus pelan, dia menatapku sekilas dan kemudian masuk ke dalam rumah. Aku kembali menatap ke arah Putra. Dia sedang menatap papan catur dengan tatapan memelas. Sedangkan Ayah berdiri dan berjalan menuju Keiko.
"Sepertinya tiap minggu kita akan sering battle." Putra menatapku sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya dan mengangguk setuju. Sebenarnya tidak masalah bagiku, selama aku bisa dan sempat. Lagi pula, main catur dengan Putra sesuatu hal yang langka.
"Sampai kapan di Jakarta, Lang?" Ayah bertanya sambil mengurusi Keiko.
"Hari Rabu kembali ke lokasi, Yah."
"Devan bagaimana kabarnya? Sudah lama saya tidak bertemu dengannya." Putra menanyakan kabar Devan.
"Sepertinya dia baik-baik saja," sahutku membuat Putra tertawa pelan, begitu juga dengan Ayah. Mereka paham bagaimana saudara laki-laki, tidak setiap hari atau 24 jam berbagi kabar.
Selama seminggu sekali Devan masih mencariku, artinya dia masih hidup. Soal kesibukan, aku yakin Devan jauh lebih sibuk dariku. Lagi pula, ada Ibu yang akan mengatur-ngatur Devan. Anak itu sepertinya sudah kembali ke rumah.
"Kalian hanya dua bersudara bukan?" Putra bertanya dan aku kembali mengangguk membenarkan. "Saya ingat Devan pernah cerita jika dia punya Abang yang jauh lebih pintar dalam berbisnis dibandingkan dirinya," ujar kemudian.
Aku berdeham pelan, tidak menyangka bahwa Devan akan mengumbar-ngumbar tentang diriku pada rekan bisnisnya. "Devan hanya melebih-lebihkan saja," kataku sekenanya.
Putra sepertinya tidak puas dengan pertanyaanku. "Kamu pasti usaha. Dibidang apa?" tanya Putra langsung membuatku terkekeh pelan.
Sebenarnya, tidak banyak orang tahu mengenai aku yang mempunyai usaha sampingan. Pekerjaan full time-ku memang seorang dosen, tenaga pengajar. Tetapi, bukan berarti aku tidak bisa berbisnis juga.
"Hanya usaha kecil di bidang kuliner," ujarku.
Ayah meninggalkan Keiko, beliau berjalan kembali ke arah aku dan Putra. Sepertinya Ayah cukup tertarik dengan pembicaraanku dan Putra. Karena, kini Ayah menatapku penasaran. Sama seperti Putra.
"Keripik Pisang Singgih, itu punya saya."
Putra dan Ayah melebarkan bola matanya. Keduanya terlihat sangat kaget saat aku mengucapkan merek dagangku. Tetapi, Ayah tiba-tiba tertawa.
"Kamu memang berjodoh dengan Wenny sepertinya, Lang." Ayah menepuk-nepuk pundakku.
"Bahas apaan sih? Kok seru banget?" Wika datang bersama Irish, dia menyerahkan Irish kepada Putra.
Putra menerima Irish, tangan Irish menggapai-gapai ke arahku. Dia sepertinya tidak mau dipangku oleh Putra. Aku mengulurkan tanganku dan berkata, "Mau sama uncle?"
Wika langsung memberikan Irish kepadaku, membuat Putra mendengus pelan. Ajaibnya, Irish tenang berada di pangkuanku.
"Wika, kamu ingat keripik pisang kesukaan Wenny?" Ayah bertanya pada Wika yang duduk di lengan kursi bagian Putra.
"Lupa mereknya, tapi yang bungkusnya unik itu loh, Yah. Yang ada quote berbeda di setiap bungkusnya," jawab Wika yang mengernyitkan dahinya. Kemudian menepuk tangannya dan berkata, "Ini lucu banget. Kak Wenny pernah bilang dia penasaran dengan yang punya itu keripik pisang, katanya kalau punya suami bisa buat keripik pisang dia nggak payah beli terus."
Aku tertawa pelan, kini aku mengerti kenapa Ayah mengatakan aku dan Wenny berjodoh. Kami semua kompak tertawa, Wika apa lagi. Dia yang paling puas karena sudah membeberkan pikiran konyol kakaknya.
Bahkan, saat Wenny datang dia melihat kami dengan heran. "Wen, do'a kamu terkabul." Ayah berucap disela-sela tawanya.
"Do'a apa?" Wenny bertanya heran.
Aku mengangkat Irish, membuat bocah itu melonjak-lonjak senang.
"Punya suami juragan keripik pisang!" seru Putra yang disambut tawaku, Ayah dan Irish yang menggemaskan.