"Suka makanan sunda?" tanyaku pada Wenny yang duduk dengan tenang di sampingku.
Kami masih dalam perjalanan menuju tempat makan. Wenny masih mengenakan seragamnya, hanya saja dia menutupinya dengan outer berwarna hijau tua. Aku benar-benar tidak tahu apa kesukaan Wenny dan memesan tempat di restoran sunda.
"Aku penggemar berat lalapan," sahutnya membuatku tersenyum tipis dan lega juga. Pilihanku tidak salah ternyata.
"Sepertinya untuk selera makan kita cukup satu selera," tuturku.
Aku melirik Wenny yang melihatku, dia menganggukkan kepalanya setuju. Entah kenapa, aku melihat binar wajah Wenny yang sekarang sedikit berbeda. Sebelumnya, aku selalu merasakan Wenny sedikit tertutup dan menahan diri. Sorot matanya terkesan datar dan dingin, kini terlihat lebih hangat.
Kata orang, dari kedua bola mata kita dapat memancarkan sebuah cerita. Jujur aku tidak tahu, cerita seperti apa yang Wenny simpan seorang diri. Ada sesuatu dalam diri Wenny yang membuatku ingin menjaga dan melindunginya. Mungkin terlalu dini jika aku mengatakan bahwa aku menyukai Wenny, tapi aku tahu perasaan ini lah awal mula semuanya.
"Kamu tidak ingin menanyakan apa pun?" Aku membuka suara, memancing Wenny.
Aku ingin Wenny bertanya dengan sendirinya soal diriku, tentang statusku. Maksudku, kami akan menikah. Tidak mungkin Wenny tidak penasaran dengan masa laluku. Karena, aku penasaran dengan masa lalu dirinya.
Wenny, dia bukan perempuan biasa. Dia cantik dan sepertinya supel. Mustahil tidak ada pria yang tertarik padanya. Kesendiriannya saat ini seolah-olah buah dari keinginannya sendiri dan aku penasaran dengan cerita di baliknya.
"Bagaimana kalau kita bahas nanti? Mas sedang menyetir," kata Wenny yang aku setujui.
***
Aku memandangi Wenny yang sedang memesan makanan pada pelayan. "Saya mau sambalnya dibanyakin ya Mba, terus lalapannya juga. Oh iya ada pecak terong juga kan? Saya mau ya ...." Wenny terus menyebutkan pesanannya. "Mas pesan apa?" tanya Wenny kemudian.
Aku berdeham pelan, mengerjapkan mata dan membenarkan posisi dudukku. "Tambahkan ikan bakar saja. Minumnya es teh manis," sahutku.
Wenny langsung memilih menu ikan bakar, dia menyebutkannya ditambah dengan es teh manis. Setelah pelayan pergi, Wenny kembali menghadapku. Kami memang duduk berhadapan.
"Makanan yang paling kamu nggak suka?" tanyaku pada Wenny.
Dia terlihat sedikit kaget mendengar pertanyaanku, terlihat dari bola matanya yang sedikit membesar. "Aku nggak terlalu suka makanan yang manis-manis, lebih suka yang asin-asin gitu," sahutnya. Wenny mmajukan badannya, dia melipat tangannya di atas meja dan bertanya, "Kalau Mas, ada makanan yang nggak disuka?"
"Terong, paling nggak suka terong dan tidak terlalu bisa makan yang pedas-pedas," jelasku. Wenny menganggukkan kepalanya dua kali. "Kamu bisa masak?" tanyaku kemudian.
Wenny terlihat membuat raut wajah meringis, dari situ aku sudah bisa menebak jawabannya. Wenny kemudian menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan sorot mata menyesal.
"Aku nggak bisa masak, nggak bisa bawa kendaraan juga. Kayaknya aku banyak nggak bisanya," gumam Wenny pelan sambil menghela napas di ujung kalimat.
Aku tersenyum tipis mendengar gumamannya. "It's okay, soal makanan kita bisa beli atau sesekali Mas yang masak. Soal kamu nggak bisa bawa kendaraan, selama Mas nggak ada kerjaan di luar kota akan diusahakan untuk selalu diantar kemana pun kamu mau," kataku yakin.
Aku tidak menggombal sama sekali, apa yang aku katakan memang benar. Tidak ada rasa keberatan bagiku, semua permasalahan bisa dihadapi bersama.
"Jangan gombal Mas."
"Mas nggak gombal Wen. Serius ini, kita menikah bukan untuk mencari tukang masak bukan? Bukan untuk jalan sendiri-sendiri juga kan?" Aku melihat Wenny termenung pelan. "Terkadang yang terlihat sangat sempurna dengan semuanya belum tentu yang terbaik," tambahku lagi.
Wenny mengerjapkan matanya, dia menatapku dengan senyuman. Aku juga membalas senyumnya. Kami mengobrol banyak tentang kesukaan dan ketidak sukaan masing-masing sampai makanan datang.
***
Aku memindahkan lalapan daun kemangi yang ada di dekatku ke piring Wenny. Dia sejak tadi melirik ke arah daun kemangi, sepertinya ingin meminta malu. Benar saja, Wenny langsung menatapku dengan malu-malu.
"Terima kasih Mas," ujarnya yang aku jawab dengan anggukkan singkat.
Aku melanjutkan makanku, begitu pula dengan Wenny yang semangat sekali dengan segala macam lalapan dan pecak terong. Aku menemukan sisi baru dari Wenny. Tidak ada lagi pembicaraan sampai kami sama-sama selesai dengan acara makan.
Aku yang pertama kali selesai makan dan mencuci tangan ke wastafel, baru bergantian dengan Wenny. Aku mengecek ponselku, mendapati beberapa chat dari Devan dan beberapa rekan dosen.
Devan
Mas, lo dimana? Katanya mau kenalin calon kakak ipar gue
Dosen Kinan
Maaf mengganggu Pak, saya mau telepon boleh? Ada yang mau saya tanyakan soal materi ajaran
Nilo KWU A
Selamat Malam Pak Gilang, saya Nilo Abraham ingin mengingatkan bahwa besok rombongan akan jalan jam 9 pagi. Sebelumnya terima kasih Pak
Saat Wenny kembali, aku sudah selesai membaca semua chat yang masuk. Aku meletakkan ponselku tanpa membalas chat mana pun. Tidak baik bermain ponsel saat kita sedang bersama orang lain.
"Habis." Wenny mendesah kecewa saat melihat ke dalam tempat tisu yang kosong.
Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil dari saku celanaku. Mengangsurkannya kepada Wenny yang menatapku dengan tatapan heran. "Salah satu kebiasaan Mas, selalu membawa sapu tangan kemana-mana," tuturku sambil memberikan kode pada Wenny untuk menerima uluranku.
"Agak jarang saja di zaman sekarang ini ada yang bawa-bawa sapu tangan begini. Padahal saya ada tisu di dalam tas," jelasnya sambil menerima uluran sapu tanganku.
"Menghemat tisu merupakan salah satu gerakan go green, menyelamatkan alam," kataku.
Wenny mengeringkan tangannya dengan sapu tanganku. "Aku bawa ya Mas. Nanti aku cuci dan aku kembalikan," ujarnya.
"Disimpan juga tidak apa-apa. Jika sudah menikah nanti, sapu tangan itu akan kembali dengan sendirinya ke Mas." Aku berkata dengan lugas, sedangkan Wenny terlihat malu-malu. Sehingga aku tertawa kecil melihatnya.
Ponselku tiba-tiba berdering pelan, aku melihat benda pipih yang ada di atas meja itu dengan dahi mengernyit. Nama Dosen Kinan tertera di layarnya. Aku memilih mengabaikan panggilan tersebut.
"Diangkat saja Mas, siapa tahu penting." Wenny berkata sambil memasukkan sapu tanganku ke dalam tas miliknya.
"Masih bisa dibahas besok, tadi dia sudah chat saya tujuannya apa."
Wenny menumpuk piring bambu yang ada di hadapannya, menggesernya agak menjauh dari dirinya. Dia meletakkan tangannya di atas dan menatapku. Aku menaikkan alisku sebelah menunggu kalimat apa yang kira-kira akan dilontarkannya.
"Boleh Wenny bertanya sesuatu yang sedikit privasi?" tanyanya hati-hati dan aku menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Mas kan duda, kalau boleh tahu cerainya karena apa?" Wenny bertanya dengan nada suara pelan dan sangat halus. Dia mungkin takut aku tersinggung dengan pertanyaannya.