Gilang menepati janjinya, dia menjemputku pagi ini. Sekarang aku sedang duduk di dalam mobil yang dikendarai Gilang. Sejak tadi tidak ada pembicaraan apa-apa, Gilang juga terkesan sangat pendiam dan tenang.
Aku memilih memainkan ponselku, aku kaget saat membuka grup chat dan menemukan Mbak Mayang dan Mbak Virni sibuk bergosip. Aku membaca dengan seksama chat mereka yang sudah lumayan banyak
Team Cantik Hobi Gibah
Mbak Mayang: Guys! Ternyata Pak Dosen Ganteng itu DUDA!
Mbak Virni: WHAT?
Mbak Virni: Seriusan? Nggak lucu ah bercandanya
Mbak Mayang: Serius ini
Mbak Mayang: Lo semua harus tahu siapa mantan istrinya, ini bakalan buat kalian kejang-kejang
Aku berhenti membaca chat tersebut, melirik ke arah Gilang yang fokus menyetir. Entah kenapa aku jadi tidak sanggup untuk tahu siapa mantan istri Gilang. Bagaimana kalau ternyata mantan istrinya lebih cantik dariku?
"Kenapa lirik-lirik terus?" suara Gilang terdengar tenang dan berat. Aku langsung gelagapan ketahuan sedang meliriknya.
Aku kembali memperhatikan ponselku, saat itu aku mendengar Gilang berdeham pelan. Tidak berapa lama, Gilang pun berkata, "Pulang kerja, mau Mas jemput?"
"Mas nggak ada kelas sore? Kalau ngerepotin, aku bisa pulang sendiri kok," tuturku.
Kini aku menatap Gilang, dia dengan luwesnya mengemudi. Pembawaan Gilang benar-benar sangat tenang, membuatku agak-agak segan dengannya.
"Besok Mas berangkat ..." Gilang berhenti berucap sejenak, sepertinya sedang memilih kosakata yang pas.
"Di depan sini saja Mas," pintaku saat mobil sudah dekat dengan kantor, aku sengaja minta diturunkan di depan saja.
Gilang tidak mendengarkan permintaanku, mobil tetap berbelok masuk ke dalam kawasan kantor. Dia mencari parkiran kosong terdekat dengan pintu masuk.
"Hanya hari ini kita punya waktu." Gilang melanjutkan perkataannya tadi saat mobil sudah terparkir. "Makan malam di luar, bagaimana?" usulnya kemudian.
Aku berpikir sejenak, Gilang benar. Jika dia sudah berangkat kami pasti akan semakin jarang berkomunikasi. Gilang pasti akan sibuk sekali dengan kegiatannya di sana dan aku juga tidak mungkin hanya diam saja di sini, aku harus menyiapkan pernikahan kami.
"Oke," setujuku. Aku menatap Gilang yang juga menatapku. "Terima kasih dan hati-hati di jalan," pesanku sebelum keluar dari mobil.
***
Jam makan siang kali ini aku harus rela diseret oleh Mbak Mayang dan Mbak Virni menuju restoran terdekat. Keduanya berkata sedang ingin ngerumpi secara langsung. Aku hanya bisa mengikuti mereka saja, tidak berdaya untuk menolak.
"Jadi beneran Pak Dosen ini duda?" Mbak Virni memulai acara gosip setelah pelayan pergi dengan catatan pesanan kami.
Aku memasang telinga dengan waspada, mendengarkan perkataan mereka. Sejak tadi pagi aku blm lagi membaca isi grup. Sepertinya mendengar secara langsung seperti ini lebih asik.
"Iya beneran!" sahut Mbak Mayang semangat.
"Tahu dari mana?" Mbak Virni memicingkan matanya.
"Sepupu aku, dia temennya mantan istrinya Pak Dosen Ganteng. Pas aku lihatin fotonya Pak Dosen, dia langsung bilang kalau Pak Dosen itu mantan suami temannya," cerita Mbak Mayang.
"Dan teman sepupu situ seorang model terkenal? Ngaco ah!" timpal Mbak Virni.
Aku langsung menatap Mbak Mayang dan Mbak Virni. Hampir saja aku tersedak saat mendengar ucapan Mbak Mayang yang menyebutkan nama lengkap si model terkenal.
"Beneran ih! Sania Tanjaya, dia mantan suaminya Sania Tanjaya. Pantesan ya kita kayak familiar sama muka Pak Dosen," ucap Mbak Mayang.
"Wow!" Mbak Virni berseru. "Pantes sih tapi ya, cantik dan ganteng gitu. Aku aja heran kok ada gitu dosen seganteng Pak Gilang ini," lanjut Mbak Virni yang mendapat anggukan setuju dari Mbak Mayang.
"Cerai karena apa sih?" Mbak Virni bertanya dengan penasaran pada Mbak Mayang.
Kini aku ikut-ikutan menatap Mbak Mayang, menunggunya menjawab pertanyaan penasaran Mbak Virni. Sayangnya Mbak Mayang memberikan jawaban yang mengecewakan bagi aku dan Mbak Virni.
"Mana aku tahu, yang jelas mereka udah cerai lama," jawab Mbak Mayang.
Sudah lama bercerai? Tanyaku di dalam hati. Sedikit bimbang untuk menanyakan hal ini kepada Gilang atau tidak.
Aku langsung membuka ponselku, ingin bertanya langsung pada Gilang melalui chat. Tapi, aku mengurungkan niatku saat melihat sebuah chat masuk dari Gilang.
Gilang CaSu
Sudah makan siang?
Kuhela napasku pelan, sepertinya aku bisa bertanya soal ini nanti-nanti saja. Aku belum memiliki keberanian untuk bertanya dan mendengar jawabannya. Walaupun aku yakin, apa yang dikatakan Mbak Mayang itu benar.
Wenny Kharisma
Ini sedang makan siang
Setelah membalas chat dari Gilang aku langsung meletakkan ponselku di atas meja. Aku mendengarkan Mbak Mayang dan Mbak Virni yang bergosip dengan setengah hati. Pikiranku melayang kemana-mana, mengenai pernikahanku dengan Gilang, serta sosok seorang Gilang Singgih yang cukup sulit ditebak.
***
"Wen, makan bakso yuk!" ajak Aldi yang kini berdiri di depan mejaku. Mbak Mayang sudah sibuk bersiul menggodaku dan Aldi.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku, sekarang memang sudah saatnya pulang kantor. Saat melihat layar ponselku yang belum juga memberikan tanda ada chat masuk, aku merasa sedikit kecewa.
"Wen!" Aldi melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Gue nggak bisa nih. Ada janji," sahutku akhirnya.
Senyumku mengembang saat ponselku berdering, menampilkan nama Gilang CaSu di layar datar tersebut. Aku langsung mengangkat panggilan tersebut, tanganku yang lain bergerak mematikan komputer milikku.
"Mas sudah di parkiran." Suara Gilang terdengar.
"Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau on the way?" tanyaku yang masih membereskan barang-barangku.
Aku memasukkan charger ponsel ke dalam tasku, dua buah block note dan satu buah pulpen juga menemani si charger.
"Masih lama?" Gilang bertanya saat aku mengeluarkan lipstik dari dalam tas.
Kuambil kaca lipat yang ada di ujung meja kerjaku, membukanya dan mendirikannya bersandar pada layar komputer. "Lima menit lagi," jawabku sambil memulas lipstick di bibirku.
Gilang hanya bergumam pelan. "Mas parkir di depan parkiran kepala dinas," lanjutnya yang aku jawab dengan gumaman juga. Kemudian panggilan diputus sepihak oleh Gilang, membuatku terburu-buru membenahi make up tipis yang aku kenakan.
"Mau kemana Wen? Kok cantik banget?" tanya Mbak Virni.
Aldi, dia masih berdiri di dekat mejaku. Aku melirik mata-mata penasaran yang ada di dalam ruangan. Kemudian, aku tersenyum tipis dan mengibas pelan rambutku yang aku gerai hari ini.
"Kencan dengan calon suami," ujarku.
Mbak Virni dan Mbak Mayang langsung heboh, keduanya berjalan mendekat ke arah mejaku.
"Kenalin dong Wen!" pinta Mbak Virni.
"Ini yang dijodohin sama kamu itu, Wen?" tanya Mbak Mayang.
Aku menjawab rasa penasaran mereka dengan senyuman dan langsung melenggang keluar dari ruangan. Aku tidak bisa menjawab rasa penasaran mereka sekarang, Gilang sedang menunggu di parkiran.