Aku melihat Wenny, dia terlihat tidak begitu senang mendengar penuturanku. Ya, perempuan mana yang senang diminta mengurusi pernikahan seorang diri, sementara calon suaminya sibuk ke luar kota. Jujur saja, aku tidak pnya pilihan lain juga, aku mencintai pekerjaanku.
"Apa saya diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapat?" tanya Wenny.
"Silahkan, kita masih bisa berdiskusi." Aku menganggukkan kepalaku singkat.
Wenny menghela napasnya pelan. "Begini saja, saya setuju. Tapi, semua urusan pernikahan kita akan diurus oleh, Wika," ujarnya menyebut nama adik perempuannya.
Aku cukup kaget saat mengetahui bahwa Wenny merupakan kakak ipar dari pengusaha sukses. Devan sering sekali menyinggung soal Putra Mahesa, setahuku perusahaan keluarga Singgih juga bekerja sama dengan Mahesa Group.
"Saya mengikuti semua keputusan kamu," kataku tegas tanpa neko-neko. Aku tidak ingin membuang waktu dan cepat pada titik penyelesaian.
Wenny menganggukkan kepalanya, sepertinya dia cukup puas dengan persetujuanku. Dia bangun lebih dulu dari duduknya. Aku menahan tangan Wenny, menatapnya dan kemudian berdiri dari duduku. Posisi kami cukup dekat, kami saling menatap.
"Nomor ponsel." Aku mengeluarkan ponselku dan melepaskan pegangan tanganku di tangan Wenny.
Aku tersenyum tipis saat melihat Wenny terlihat gugup, dia pun mulai menyebutkan nomor ponselnya. Aku mencatatnya di ponselku sambil meliriknya sesekali. Setelah selesai, aku menelpon nomor Wenny, ponselnya yang ada di tangannya berdering.
"Calon istri harus simpan baik-baik nomor calon suami," tuturku sambil menepuk pelan kepala Wenny dan kemudian berlalu lebih dulu masuk ke dalam.
Aku kembali duduk di tempatku, tidak lama Wenny datang menyusul dengan wajah malu-malu. Tidak menyangka bahwa Wenny ternyata cukup memiliki kepribadian yang tenang. Dia bahkan langsung bisa menguasai dirinya lagi untuk turut berdiskusi dengan yang lainnya. Aku, hanya bisa menerima keputusan akhir.
***
Devan
Lo dijodohin Mas?
Sama siapa?
Beneran nih?
Mas
Balas
P
P
P
Aku melihat ke layar ponselku, berisi chat dari Devan. Anak ini sudah mengirimkan spam huruf 'P' ke dalam ruang obrolan. Bener-bener membuatku ingin mengomeli sikap tidak sopannya itu.
Gilang
Iya
Ini gara-gara lo kabur
Pulang nggak lo?
Jaga rumah, gue mau penelitian ke luar kota!
Baru saja aku membalas chat-nya, Devan sudah langsung membacanya. Terlihat Devan sedang mengetik di status atas ruang obrolan.
"Gilang ..." Ibu memanggilku, membuatku melihat ke arah Ibu. "Hubungi Devan, minta dia pulang," lanjut Ibu yang aku jawab dengan anggukkan kepala.
Aku menatap Wenny yang juga melihatku. Dia kemudian mengalihkan pandangannya, membuatku tersenyum tipis. Saat aku melihat ke arah lain, ada Putra Mahesa yang juga melihatku, sepertinya dia melihat interaksiku dengan Wenny.
"Kapan-kapan ngopi bareng?" tawar Putra padaku.
"Boleh," sahutku membuat Putra mengangguk. Anak Putra yang berada di pangkuannya terlihat sedikit kesal, dia menggeliat sepertinya terlalu bosan duduk terus-terusan. "Boleh gue gendong," izinku pada Putra yang memberikan anaknya padaku.
Aku menerima balita cantik itu, membawanya ke dalam gendonganku dan berdiri. "Irish bener-bener mirip gue, tahu aja sama pria ganteng," celetuk Wika membuat semua yang ada di ruangan tertawa.
"Irish mau lihat itu?" Aku membawa Irish mendekat pada lukisan yang ada di dinding. Tidak terlalu jauh dari sofa.
"Gilang, kamu maunya nuansa apa?" Ibu bertanya padaku, membuatku menoleh dan Irish mulai kesal karena kegiatannya melihat lukisan terganggu.
"Warna kesuahaan Wenny saja," ujarku.
"Aku suka warna hitam," sahut Wenny.
Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya yang sepertinya kesal. "Warna hitam? Ya sudah nggak papa, unik juga," ucapku sengaja memanas-manasi Wenny. Aku ingin melihat seperti apa Wenny jika marah.
"Warna putih saja, Bu." Wenny ternyata mengalah, dia mengatakannya pada Ibu. Perasaanku sedikit bergetar saat mendengar Wenny memanggil Ibu dengan sebutan 'Bu'.
Aku, Ibu dan Bapak diantar hingga ke depan rumah. Hari sudah mulai larut, terlalu banyak hal yang dibahas kedua orang tua kami yang sepertinya sedang reuni. Mereka justru banyak membahas masa lalu.
Wenny berjalan di sebelahku, dia menggendong Irish yang tertidur. Sementara Wika dan Putra sedang menyiapkan kamar untuk menidurkan Irish. Aku melihat pada jari manisnya, tersemat cincin yang memang aku beli untuk mengikatnya.
"Besok, aku jemput kamu boleh?" tanyaku hati-hati.
Mata Wenny menatapku, dia mengangguk pelan. Tetapi, kemudian dia berkata, "Aku?"
"Pakai saya itu lebih kaku terdengarnya," jelasku.
"Oke. Mas ..."
Aku menatap Wenny yang kini melihat ke arah Irish yang sedang di alam mimpi. "Jika bicara dengan seseorang, tatap matanya, Wen," kataku.
Wenny akhirnya menatapku, dan aku tersenyum tipis. Sepertinya, malam ini aku banyak tersenyum. Mungkin memang tidak buruk juga menerima perjodohan ini.
"Besok pagi Mas kabarin kalau mau on the way," ujarku saat Ibu dan Bapak sudah selesai berpamitan dengan calon mertuaku.
Gantian aku yang berpamitan kepada mereka satu per satu. Aku langsung menuju mobil dan membunyikan klakson saat keluar dari pelataran rumah Wenny. Ibu dan Bapak sibuk berbincang membahas mengenai Putra Mahesa.
"Pak Gurga itu menantunya hebat ya. Putra Mahesa loh, Gilang." Ibu memang paling antusias soal ini. Beliau menemani Bapak dalam membesarkan perusahaan keluarga, sampai Devan mengambil alihnya. Wajar saja jika Ibu tahu dengan Putra Mahesa, pria itu terlalu terkenal di kalangan pebisnis.
"Anak kita juga hebat, Bu." Bapak membelaku. "Dosen itu profesi mulia. Berbagi ilmu, mengabdi untuk kecerdasan bangsa," tutur Bapak.
Keputusanku menjadi dosen tidak pernah ditentang Bapak, seperti kebanyakan anak-anak pertama yang dituntut melanjutkan usaha orang tua. Bapak dan Ibu membiarkan aku dan Devan memilih jalur kami masing-masing. Devan, dia tidak pernah dipaksa oleh Bapak untuk menggantikan posisi beliau.
"Ibu kan hanya bilang Putra Mahesa hebat, Pak. Bukannya bilang si Gilang ndak hebat, jelas anak kita hebat juga," debat Ibu.
Aku berdeham pelan. "Pak Bu. Kalian ngomongin Gilang kayak orangnya nggak ada di sini saja," selaku.
"Bapakmu ini loh, Lang. Susah sekali diajak cerita. Ibu kan hanya penasaran sama Putra Mahesa ini, mana anaknya Pak Gurga yang paling kecil itu memang cantik juga," jawab Ibu panjang lebar.
"Wenny jauh lebih cantik, Bu." Kali ini aku yang menyahuti Ibu.
Bapak justru tertawa kecil. Aku melirik Ibu dari kaca spion, Ibu mendelik padaku. "Ibu kira kamu itu buta. Dari tadi kok ya diam aja sama si Wenny, lempeng banget kamu itu, Lang," omel Ibu.
Aku tertawa kecil mendengar omelan Ibu. "Alon-alon saja Bu. Kalau buru-buru kaget Wenny, kabur nanti calon mantu Ibu," jawabku.
"Denger tuh, Bu." Bapak menambahi bumbu.
Ibu bertambah kesal karena tidak ada Devan yang akan membela beliau. Untuk urusan selera, aku dan Bapak lebih banyak sepaham, sedangkan Ibu lebih banyak sepaham dengan Devan. Kecuali untuk urusan pasangan hidup, Devan sudah lelah diteror Ibu perihal itu.