04 Gilang Singgih

1017 Words
Aku menatap Ibu dan Bapak, keduanya sudah di sini selama beberapa minggu. Devan sudah mengungsi, dia pergi ke luar kota dan kemudian bersebunyi di apartemen miliknya sendiri. Dia mengatakan dengan keras tidak akan menikah dalam waktu dekat. "Namanya Wenny Kharisma, anaknya baik dan cantik. Orangtuanya teman Ibu dan Bapak," jelas Ibu untuk yang ketiga kalinya sejak Ibu sampai di sini. Wenny Kharisma? Namanya sangat familiar di telingaku. Seketika aku teringat seorang perempuan dengan seragam PNS. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya, besok pun mungkin kami akan bertemu di acara seminar. "Kebetulan rumahnya di komplek sebelah, Lang." Ibu bertkata lagi, sementara Bapak terlihat menyimak saja. Beliau memang jarang sekali angkat bicara soal seperti ini, tapi aku tahu Bapak setuju dengan Ibu. Rumah di komplek sebelah dan namanya Wenny Kharisma, sepertinya aku tahu siapa orangnya. "Wenny ini ..." aku berhenti sejenak berbicara, mengamati raut wajah Ibu yang berbinar. "... dia PNS bu?" tanyaku akhirnya. "Kok kamu tahu Lang?" Ibu bertanya dengan heran. Aku berdeham pelan. "Gilang sepertinya tahu orangnya Bu," kataku membuat Ibu membelalakan matanya. Beliau terlihat sangat senang mendengar perkataanku. "Benar?" Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Kalau begitu setuju kan kamu? Anaknya baik, ibu jodohkan ke Devan mau lah ya dia," lanjut Ibu. Bapak berdeham pelan, membuat aku dan Ibu menatap beliau. "Menurut kamu, Wenny ini bagaimana Lang?" Bapak tiba-tiba bertanya soal Wenny padaku. "Sepertinya perempuan baik-baik Pak," jawabku diplomatis karena aku memang tidak begitu mengenal Wenny Kharisma ini. "Bagaimana kalau kamu saja yang menikah dengan Wenny, Lang?" Bapak menatapku dengan serius. Jujur saja aku kaget mendengar pertanyaan Bapak ini. Ibu juga sama kagetnya dengan diriku. "Bapak rasa, yang lebih membutuhkan istri itu kamu, bukan Devan," lanjut Bapak. Ibu menganggukkan kepalanya setuju dengan Bapak. Keduanya kini menatapku, menungguku memberikan keputusan. "Ibu bisa kabarkan teman Ibu sekarang, Lang. Sejak kemarin dia bertanya terus mengenai Devan, Ibu belum sempat bercerita apa-apa. Hanya waktu itu Ibu diantar Devan ke komplek sebelah," jelas Ibu. "Kalau begitu mereka tahunya Devan dong, Bu. Apa nantinya mereka nggak akan tersinggung Bu?" tanyaku hati-hati. "Nanti Bapak dan Ibu yang akan menjelaskan pada mereka. Kamu tinggal jawab saja," sela Bapak. Aku diam untuk beberapa saat, pikiranku penuh dengan segala kemungkinan yang ada. Bukannya aku tidak ingin menikah lagi, hanya saja ini terasa terlalu mendadak. Aku tidak meragukan pilihan Bapak dan Ibu, karena aku sadar bahwa pilihanku sendiri yang sebelumnya saja sudah salah. "Biarkan Gilang berpikir ya Bu, Pak. Sampai besok," ucapku yang disetujui oleh Bapak dan Ibu. *** Aku sudah selesai mengisi materi dan juga menjawab pertanyaan peserta seminar. Sore ini aku ada jadwal mengajar, sehingga aku sedikit terburu-buru. Takut terjebak kemacetan dan mengakibatkan telat. Beberapa orang peserta seminar yang merupakan ibu-ibu datang menghampiriku. Mereka mengucapkan terima kasih dan aku menjawabnya dengan anggukkan dan senyuman tulus. Pertanyaan berikutnya yang terlontar dari salah seorang ibu-ibu membuatku kaget. "Pak dosen sudah punya istri?" tanya seorang peserta. Pada saat yang bersama aku menangkap sosok Wenny yang sedang berjalan ke arah sini. Aku meliriknya sekilas, tersenyum tipis pada peserta yang bertanya tadi. Aku memang tidak menjawab apa-apa, karena bagiku statusku bukan hal yang bagus untuk dipamerkan. "Saya pamit dulu ibu-ibu," pamitku yang langsung meninggalkan ruangan aula. Aku membuat langkah sedikit lebar memang, sebenarnya aku juga ingin memeriksa beberapa tugas mahasiswaku sebelum memulai mengajar. Tiba-tiba saja aku mendengar seseorang memanggilku, aku langsung berhenti dan menoleh. Wenny, dia menghampiriku dan berkata, "Mau minta dokumentasi foto terakhir bersama panitia, Pak." Aku pun menyanggupi permintaannya, hanya sekedar foto tidak akan lama. Setelah sesi berfoto selesai, aku benar-benar berpamitan untuk pergi. Sebelumnya aku sempat melirik Wenny yang sedang mengobrol dengan seorang temannya. Entah kenapa, semenjak ucapan Ibu dan Bapak semalam aku hari ini banyak memperhatikan Wenny. Aku langsung menyadarkan diri, menghela napas pelan dan kemudian langsung menuju mobilku. Aku mengendarai mobil menuju kampus, sesuai prediksiku jalan menuju kampus cukup padat. Ponselku berdering pelan saat aku sudah setengah jalan, aku melirik pada layar ponselku. Tertera 'IBU' di layar ponsel. Ini Ibu pasti tidak sabar ingin bertanya soal jawabanku. Lebih baik aku tidak mengangkatnya sekarang, aku butuh pikiran yang tenang untuk mengajar, jika tidak semua mahasiswaku bisa kena imbas dari mood-ku. Ketika aku sampai di kampus, Kinanti –dosen muda yang akan berbagi jam mengajar denganku sudah menunggu di ruang dosen. Dia langsung menyambutku dengan senyuman lega. "Saya kira Pak Gilang tidak datang," ujarnya. Aku meliriknya sambil meletakkan tas ranselku di atas meja. Aku mengeluarkan sebuah buku dan tempat pensil kotak-kota berwarna cokelat tua. Hari ini aku hanya akan mendampingi Kinanti mengajar, ini kelas perdananya. "Ayo," ajakku langsung berjalan lebih dahulu dengan buku dan tempat pensil milikku. Aku sengaja tidak membawa ransel yang berisi laptop. Cukup menggunakan laptop dan bahan dari Kinanti, aku akan mengawasinya dari kursi mahasiswa. *** Ibu menungguku di ruang keluarga, beliau langsung berdiri saat mendapati aku masuk ke dalam rumah. Lama-lama aku ingin mengikuti jejak Devan saja rasanya, kabur sejauh-jauhnya dari Ibu. Bukannya durhaka, tapi aku juga masih butuh waktu untuk berpikir dengan baik. "Jadi gimana, Lang? Kamu setuju kan?" Ibu bertanya dengan antusias setelah aku menyalami beliau. Aku meletakkan tas ranselku di atas sofa. Ibu duduk di sofa dan aku pun mengikutinya. "Gilang baru pulang loh, Bu," ujarku. Niatnya ingin Ibu mengendor sedikit, sayangnya Ibu justru berdecak pelan dan memukul pelan tanganku. "Buruan deh, Lang. Jawaban kamu apa?" "Iya Gilang mau," ujarku kemudian. "Alhamdulillah!" Ibu berseru dengan senang. "Kemarin Ibu sempat memang mau jodohkan kamu sama Wenny. Ibu sudah terlanjut bilang kalau anak Ibu duda, tapi Ibu ndak berani ngomong sama kamu," jelas Ibu yang membuatku menghela napas. Aku sudah paham dengan Ibu, aku tahu selama ini Ibu mengejar-ngejar Devan itu hanya sindiran untukku. Agar aku sadar bahwa beliau ingin aku segera menikah. Beberapa kali Ibu sempat ingin mengenalkanku dengan seorang anak kenalannya, tapi aku selalu menolak dan berakhir dengan Devan yang terkena imbasnya. "Untuk acaranya Gilang setuju saja sama Ibu," kataku membuat Ibu menatapku tajam. "Ndak bisa gitu dong!" protes Ibu. Selanjutnya Ibu justru berdiri dari duduknya. Beliau menatapku dengan senyuman yang sangat cerah. "Ibu mau telepon keluarga calon mantu dulu!" ujar beliau yang kemudian berlalu dari ruang tamu, menuju ke arah dapur. Wenny Kharisma, mudah-mudahan keputusanku kali ini benar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD