"Ganteng ya Wen." Mbak Mayang menyenggol lenganku. Kami sedang mengikuti kegiatan seminar bersama pelaku usaha kecil menengah. Gilang Singgih, pria itu sedang menjelaskan materi tentang strategi pemasaran. Dia juga memberikan beberapa contoh product dengan kemasan yang layak dan menarik.
Mbak Mayang menjawili tanganku, membuatku melihatnya dengan dahi mengernyit. Gerakan mata Mbak Mayang membuat kode ke arah Gilang. Aku hanya diam saja dan kembali memperhatikan penjelasan Gilang.
"Sudah mau selesai Mbak," bisikku pada Mbak Mayang. Aku berdiri dan berjalan sambil menunduk. Aku ingin ke mobil, mengambil beberapa kotak kue yang tersisa untuk diberikan ke aparat kelurahan sini.
"Kamu saja yang tungguin Pak Dosen Ganteng. Urusan kue kotak Mbak saja." Mbak Mayang mencegat tanganku, dia menarikku agar duduk kembali.
Aku mendelik pada Mbak Mayang yang justru cengengesan. Dia berdiri dan berjalan keluar dari aula kelurahan. Aku hanya bisa menggeleng pelan dan menikmati acara tanya jawab sesi terakhir.
Gilang Singgih, namanya terus teringat olehku semenjak kejadian beberapa minggu lalu. Saat itu aku sedang terlibat cekcok dengan Mas Febri. Aku saat itu pergi ke minimarket ingin membeli pembalut, justru bertemu dengan Mas Febri. Gilang lah yang membantuku untuk bisa lepas dari Mas Febri.
Aku bangkit dari duduk saat pembawa acara menutup sesi seminar. Aku langsung berjalan menuju ke depan, sedangkan peserta seminar berbondong keluar aula kelurahan. Ada pula yang menyapa Gilang dan mengucapkan terima kasih.
"Pak Dosen sudah punya Istri?" Seorang ibu peserta seminar bertanya, ada dua orang temannya yang bergabung mendengarkan.
Entah kenapa aku justru menatap Gilang yang tersenyum mendengar pertanyaan si ibu. Aku juga penasaran sebenarnya, bagaimana sosok seorang Gilang. Jika sudah punya istri bagaimana istrinya, pasti sangat cantik.
Gilang tidak menjawab pertanyaan si ibu, dia benar-benar hanya tersenyum dan justru membungkuk sedikit. "Saya pamit dulu ibu-ibu, ada jadwal ngajar lagi soalnya," tuturnya.
Aku langsung membungkuk berpamitan pada para ibu-ibu, menepuk pelan pundak Aldi untuk dia membereskan peralatan kami. Kini aku mengikuti Gilang dari belakang, langkah kaki Gilang cukup lebar sehingga membuatku sulit mengejarnya.
"Pak Dosen," panggilku sedikit keras, aku meringis pelan saat melihat beberapa orang di sekitar koridor aula melihat ke arah kami.
Gilang berhenti berjalan, dia berbalik melihatku. Alisnya naik sebelah saat melihatku berhenti di depannya. Seolah-olah bertanya 'ada apa' tanpa suara.
Aku berdeham pelan. "Mau minta dokumentasi foto terakhir bersama panitia, Pak," jelasku.
Gilang menganggukkan kepalanya. Akhirnya kami kembali masuk ke dalam aula, sudah ada Aldi, Mbak Mayang dan beberapa panitia lainnya. Kami meminta bantuan salah seroang aparat kelurahan yang kebetulan membantu untuk memfoto kami semua di bawah spanduk seminar.
Setelah berfoto, Gilang langsung pamitan untuk pergi. Mbak Mayang kembali menjawili lenganku. "Di jarinya nggak ada cincin Wen. Pepet deh pepet," bisik Mbak Mayang.
Aku tersenyum tipis dan berkata, "Aku sudah dijodohkan Mbak."
"What? Sama siapa Wen? Ganteng? Orang mana?" tanya Mbak Mayang beruntun membuatku menggodanya dengan menaik turunkan alisku. Aku tidak menjawab apa pun pertanyaan Mbak Mayang dan lebih memilih membantu Aldi membereskan aula kelurahan.
***
Aku sampai di rumah saat Ibu sedang menonton televisi, sedangkan Ayah ada di taman belakang. Beliau sepertinya sedang bermain dengan Keiko –Ayam Jepang peliharaan Ayah.
"Wen ..." Ibu memanggilku saat aku sedang melihat beberapa donat kentang di atas meja makan. Aku menoleh pada Ibu yang menatapku dari sofa. "Kamu nggak mau ketemu dulu sama yang dijodohkan dengan kamu Wen? Yakin terima aja nih?" tanya Ibu.
Sebenarnya Ibu dan Wika sudah beberapa kali menanyakan hal ini. Saat aku bertanya pada Ibu, menurut Ibu orangnya baik dan ganteng. Hanya statusnya saja yang membuat Wika sempat menolak usul ibu, kata Wika dia tidak suka aku menikah dengan duda. Tetapi, kemarin dia berubah pikiran dan memintaku untuk langsung menikah saja dengan entah-siapa-yang-dijodohkan-denganku.
"Wenny percaya kok sama, Ibu dan Ayah." Aku berkata sambil membatalkan niatku mengambil donat kentang. Hilang minatku pada si donat, entah kenapa setiap Ibu membahas hal ini aku jadi merasa ingin kabur saja ke kamar. "Wenny ke kamar dulu, Bu," pamitku kemudian langsung naik ke lantai dua.
Aku langsung mandi, langsung naik ke tempat tidur setelah mengenakan pakaian daster yang paling nyaman. Aku mulai melihat isi grup w******p yang berisi diriku, Mbak Mayang, dan Mbak Virni. Kebanyakan isi grup ini 98% gibah dan 2% membahas hal di luar itu.
Team Cantik Hobi Gibah
Mbak Mayang: Pak Dosen tadi ganteng banget loh Mbak Virni
Mbak Mayang: send a picture
Mbak Virni: Pengen jadiin wallpaper deh fotonya, tapi takut laki marah
Mbak Mayang: Sama aku juga pengen ganti wallpaper suami sama foto dosen ganteng. Tapi....
Aku menggelengkan kepala pelan melihat isi chat mereka. Beginilah kelakuan ibu-ibu muda di belakang suami mereka. Jika bukan aktor korea, keduanya sering membicarakan Gilang Singgih. Aku sampai bosan melihat galeri bagian w******p images yang ada di ponselku penuh foto-foto Gilang Singgih. Entah darimana mereka mendapatkannya.
Wenny:
Sadar Mbak-Mbak
Sudah punya suami
Mbak Mayang: Karena kami-kami sudah punya suami, seharusnya kamu yang single maju dong Wen!
Udah punya istri kali si Pak Dosen
Mbak Mayang: Belum kayaknya sih Wen. Yakin deh!
Mbak Virni: Gibahnya dipause dulu dong. Ini anak aku mau nyusu, eh bapaknya ikutan minta nyusu juga
Wenny: Astaghfirullah Mbak!
Mbak Mayang: Gila! Ngakak gue Vir
Aku menghela napasku, memang harus kuat iman jika berteman dengan kedua ibu-ibu ini. Mereka bahkan kerap membicarakan hal-hal delapan belas tahun ke atas di dalam grup. Aku terkadang cukup muncul dengan emot muksetanan dan mereka langsung menyerbu dengan banyak emot tertawa.
Mbak Virni: Minta s**u beneran woy! Perlu sebut merk nih? s**u Cap Nona!
Mbak Mayang: s**u cap Nyonya Virni
Pintu kamarku terbuka saat aku ingin mengirimkan emot-emot setanan. Aku meletakkan ponselku di atas tempat tidur. Melihat Ibu masuk ke dalam kamar dan menghampiriku.
"Ada apa Bu?" tanya yang kini sudah pada posisi duduk di atas tempat tidur.
Ibu tersenyum menatapku, beliau duduk di pinggir tempat tidur. Tangan Ibu menggapai tanganku, menepuk-nepuk pelan di sana.
"Lusa calon suamimu akan datang melamar, Wen," ujar Ibu yang aku jawab dengan anggukkan kepala. Aku tidak masalah, niat baik memang harus disegerakan?
Aku tersenyum pada Ibu, membalas menggenggam tangan Ibu. "Wenny nggak papa kok Bu. Ya mungkin memang sudah jodohnya Wenny anaknya temen Ibu ini," lanjutku. "Memang namanya siapa Bu?" aku bertanya karena memang Ibu belum pernah memberitahuku nama pria yang dijodohkan denganku.
"Gilang Singgih."
Masa sih ini Gilang Singgih yang sama? Apa dunia sesempit ini?