Aku mengangkat kardus-kardus berisi buku milik Wenny, membawanya menuju perpustakaan kecil milikku. Beberapa waktu yang lalu aku sudah mengosongkan space untuk buku-buku novel milik Wenny. Menyebabkan buku-buku milikku beberapa harus tertumpuk di lantai, menunggu rak baru yang sedang aku pesan selesai dikerjakan. Saat aku membuka satu kardus, aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Ada banyak buku yang masih rapi terbungkus, artinya belum sempat dibaca. Mungkin ada lebih dari dua belas buku yang berkondisi baru. "Mas!" Suara Wenny terdengar berteriak, aku menoleh dan menunggu Wenny muncul di pintu. "Jadi kan mindahin TV aku?" tanyanya saat dia sudah berdiri di depan pintu. "Minta tolong Devan saja," usulku yang membuat Wenny mendelik. "Kenapa?" tanyaku heran. "Kamu tuh nyuruh-nyuruh

