Sampai di rumah, Jasmine masih mencemaskan keadaan anak dan menantunya. Sudah menjelang malam tak juga ada kabar dari mereka mengenai pertemuan dengan Melisa, yang tak lain kekasih Kenzie di masa lalu. Berulang kali Jasmine melihat ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Kevin yang tengah mengerjakan laporan yang dikirim divisi finance Ben Khaled Corp utama, melirik istrinya yang sedari tadi mondar-mandir.
"Hei, kamu ngapain? Dari tadi bolak-balik terus?"
Akhirnya Kevin menegur Jasmine. Wanita itu menoleh, kedua pundaknya menurun, kemudian menghampiri suaminya yang duduk di kursi kerja sudut kamar.
"Aku mencemaskan keadaan Kenzie dan Leona, Pah. Kamu tau sendiri kan, Leona kadang ... kadang sikapnya bar-bar. Aku takut terjadi hal buruk menimpa mereka."
"Hal buruk apa?"
"Misalnya, mereka ribut. Leona maen jambak-jambakan sama Melisa. Duh, Pah ... ngebayanginnya aku ngeri. Tau gini, tadi aku ikut aja."
Kecemasan tergambar jelas dari raut wajah anak tunggal Haris dan Liana yang tak dapat menghadiri pernikahan cucu pertamanya karena mereka sedang berada dalam perjalanan bisnis keliling Eropa. Pernikahan yang mendadak membuat keduanya pulang dulu ke tanah air.
"Kamu tenang aja, Sayang. Di sana kan ada Ken. Dia pasti bisa menenangkan Leona." Kevin berusaha menenangkan wanita yang dicintainya.
"Aku gak yakin, Pah. Masalahnya ini tuh ... astaghfirullahalazhim ... kenapa sih Melisa datang pada saat Kenzie udah nikah? Maunya apa dia? Bikin aku gelisah aja."
Jasmine berjalan ke arah sofa, duduk, sambil menutup wajah. Kevin menarik napas panjang, menyudahi pekerjaannya, lalu menghampiri Jasmine yang sedang memikirkan pernikahan anaknya. Kevin merangkul pundak Jasmine, mengecup lembut pelipisnya.
"Kamu tenang dulu. Aku yakin kalau mereka akan baik-baik saja. Sayang, anak kita bukan laki-laki b******n. Dia pasti bertanggung jawab atas keputusan yang udah diambil. Gak mungkin kalau Kenzie meninggalkan Leona apalagi sampai menceraikannya demi wanita lain. Selama ini, Kenzie sudah berhasil menjaga nama baik keluarga. Aku sangat yakin, kalau Kenzie gak akan kembali menjalin hubungan dengan Melisa."
Sebisa mungkin Kevin berusaha membuat istrinya lebih tenang. Ia mengerti betul kecemasan yang dialami Jasmine. Siapapun orang tua, pasti menginginkan rumah tangga anaknya baik-baik saja apalagi Kenzie dan Leona baru beberapa jam menikah. Masa iya harus bercerai karena kedatangan Melisa yang tak lain wanita yang pernah dicintai Kenzie?
"Semoga aja ya, Pah. Nomor mereka juga gak bisa dihubungi. Aku jadi cemas."
"Gak apa-apa, Sayang. Semuanya pasti baik-baik aja."
***
Masuk ke dalam kamar, Leona langsung membongkar isi koper yang dibawa dari rumah. Koper yang berisi pakaian ganti dan laptop. Ia mengambil laptop.
Kenzie yang masuk kamar belakangan, mengernyitkan dahi, lalu mengunci pintu. Lelaki berwajah tampan itu menghampiri Leona yang menenteng laptop, duduk di sofa.
"Lu mau ngapain buka laptop?" tanya Kenzie, duduk di sebelah anak gadis Jimmy dan Tiara.
"Mau kerjain laporan yang masuk."
Kenzie terkejut mendengar jawaban istrinya.
"Ya elah, Le ... ini tuh malam pertama kita. Lah lu masih ngerjain laporan. Nanti aja nyuruh si Usup," ucap Kenzie menutup laptop tanpa persetujuan Leona. Gadis itu langsung menoleh, melotot.
"Malam pertama? Lu mau malem pertama tapi pikiran lu masih ke si Melisa? Ogah," ketus, Leona berkata. Kedua tangannya bersidekap. Sungguh, ia sama sekali tak menduga kalau wanita masa lalu Kenzie kembali datang di hari pernikahannya. Sekarang pikiran dan perasaan Leona sangat kacau. Ia sadar betul kalau hatinya belum memiliki rasa cinta pada Kenzie. Tetapi, ia juga tidak mau kalau pernikahan mereka berakhir. Meski Kenzie sudah meyakinkannya kalau ia tidak akan pernah kembali pada Melisa, namun hati Leona masih ragu. Tidak dapat dipungkiri, penampilan Melisa semakin anggun dan wajahnya pun semakin cantik. Bahkan kulitnya terlihat semakin putih. Leona memandang kulit lengannya yang agak kecokelatan, atau bisa dikatakan sawo matang.
Kenzie menghela napas berat, ia bingung harus dengan cara apa lagi meyakinkan istrinya.
"Lu masih mikir gitu? Masih mikir gue akan kembali ke dia dan cerein lu?"
Suara Kenzie terdengar dingin. Leona memalingkan muka ke arah lain. Raut wajahnya terlihat muram.
"Le, jawab. Jangan diem aja."
Leona memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang agar emosinya bisa terkendali. Ia tak mau marah-marah lagi. Cukup kejadian di cafe saja. Itu pun rasanya Leona sangat malu karena menjadi tontonan gratis pengunjung lain.
"Gimana gue gak mikir gitu. Buktinya, tadi aja lu masih pengen ketemu dia. Maunya gue, sekarang lu udah punya istri, udahlah gak perlu nemuin dia, pake segala nanyain alesan dia apa ninggalin lu? Gimana gue gak kesel. Okelah, kita emang belum cinta. Pernikahan kita cuma terpaksa, tapi bisa gak, lu hargai perasaan gue sebagai seorang istri walaupun belum bisa lu cintai? Sedikit aja, Ken."
Dengan menggebu-gebu Leona berkata. Kedua matanya menatap tajam lelaki yang duduk di sampingnya. Begitu pula Kenzie, ia menatap lekat kedalaman bola mata Leona.
"Gue minta maaf. Oke, gue emang salah. Gue emang gak bisa hargain perasaan lu. Tapi, maksud gue bukan gitu, Le. Begini, sekarang mau gak lu lupain masalah ini?"
Leona mendelik, kedua matanya memicing. "Lu mau gak lupain dia? Paling gak, belajar lupain tuh cewek."
Kenzie menganggukkan kepala. "Gue akan lupain dia. Akan fokus belajar mencintai lu, menghargai lu, membina rumah tangga bareng lu."
Leona menelan saliva. Kenzie berkata sangat sungguh-sungguh. Satu detik, dua detik hingga satu menit mereka saling memandang. Kenzie agak merunduk, mendekati bibir Leona, hendak menyecapnya, namun yang terjadi justru, "Peak, maen nyosor-nyosor aja. Lama-lama kayak Angsa. Angsa gatel."
Leona membekap bibir Kenzie, mendorong hingga kepalanya menempel di sandaran sofa. Kemudian, Leona beranjak, duduk di kursi meja rias, memeriksa handphone-nya.
"Nyium dikit, Le. Kita kan udah halal. Pelit amat."
"Berisik. Kayak gitu lagi, gue gigit itu bibir."
"Mau ... mau digigit." Kenzie berjingkak, menghampiri Leona, berjongkok di samping kursi rias. Leona menoleh, melihat ekspresi bibir Kenzie yang manyun.
"Nanti gue cari Kecoanya dulu, biar dia yang gigit bibir lu."
"Eh buset, masa Kecoa? Gue kan, maunya digigit sama istri," kata Kenzie, merangkul pinggang Leona, bertingkah sok manja.
"Tingkah lu menjijikan amat, Ken? Sana gih! Lama-lama gue ngeri deket-deket sama lu."
"Emang ngapa sih, istriku? Emangnya suamimu ini laki-laki b******k? Lu kan sekarang jadi kesayangan gue. Gadis tomboy kesayangan CEO," ujar Kenzie memamerkan senyum termanisnya. Kening Leona mengkerut, bibirnya naik ke atas.
"Dih, najis. Pede amat lu. Diem dulu, nih nyokap lu sama nyokap gue dari tadi telepon. Mau telepon mereka dulu."
"Iya dah." Tapi, Kenzie masih jongkok di samping istrinya.
"Lah, ngapain masih jongkok di situ? Awas aja kalau kentut."
"Emang mau, hehehe ...."
"Jorok."
"Jorok di depan lu doang, Le. Ya dah, gue tunggu di kasur. Beres teleponan, ganti baju dinas malem. Kita main-mainan," seloroh Kenzie setelahnya mengecup kening Leona. Yang keningnya dikecup terkejut setengah mati, tubuhnya tiba-tiba menegang.
"Ken?"
"Iya, Kesayangan?" sahut Ken, melipat bibir.
"Kalau mau cium, bisa gak sih izin dulu? Jangan maen nyosor-nyosor aja?"
"Mana bisa? Orang bibirnya sendiri yang pengen nempel. Kesayangan, kita ini udah merried, udah sah jadi laki bini. Gak ada salahnya saling ciuman. Bukannya dosa, tapi jadi pahala. Dah, cepetan lu teleponnya. Gue tungguin di sini. Udah siap nih!"
"Peak, siap-siap apaan coba? Si Ken otaknya mulai gesrek."