Bab 8. 4M

1181 Words
"Hallo, Tan. Eh, Mah ... ada apa ya teleponin aku sampe 12 kali?" tanya Leona saat sambungan telepon terhubung. Jasmine yang berada di dalam kamar bersama suaminya bernapas lega karena Leona sudah menghubunginya. "Mamah cemasin kalian, Nak. Semuanya baik-baik aja 'kan?" "Baik, Mah." "Kamu gak berantem sama Ken?" "Enggak, Mah. Aku sama Ken baik-baik aja." "Ken sekarang di mana? Masih sama perempuan murahan itu?" selidik Jasmine, khawatir kalau anak semata wayangnya masih bersama Melisa, mantan kekasih Kenzie dulu. Ekor mata Leona mengarah pada lelaki yang berbaring tengah menatapnya. "Ada. Tuh lagi rebahan di atas kasur. Mamah mau ngomong sama dia?" Leona beranjak, naik ke atas kasur, mendekati Kenzie. Lelaki itu tersenyum bahagia karena Leona sudah naik ke atas ranjang. Sebelah tangan Kenzie langsung merangkul pinggang gadis yang usianya hanya berjarak beberapa bulan dengannya. "Bolehlah. Mamah pengen ngomongin dia. Kalau perlu Mamah marahin, dia udah berani nemuin si Melisa. Cepet, Na. Kasihin handphone-mu," jawab Jasmine ketus. Sangat geram jika mengingat sikap Kenzie sewaktu ingin menemui Melisa. "Iya, Mah." Leona menyodorkan ponselnya di depan Kenzie. Lelaki itu bertanya dengan isyarat mengangkat kedua alis tebalnya. "Mamah mau ngomong. Ambil nih!" Kata Leona mendekatkan handphone. "Loudspeaker aja," ujar Kenzie merapatkan diri pada tubuh gadis yang beberapa jam lalu telah dinikahinya. Leona menuruti perintah suaminya, menekan tombol loudspeaker. "Hallo, Mah," sapa Kenzie. "Kenzieeee ...." teriak Jasmine ketika mendengar suara anak tunggalnya. "Astaghfirullahalazhim, Mah. Kenapa teriak sih?" Kenzie dan Leona terkejut. Handphone Leona sampai terjatuh. "Kamu emang anak kurang aja, suami kurang ajar, bikin malu Mamah dan Papah. Kalau Opa Ben tau, namamu bisa dicoret dari daftar ahli waris, Kenzie." Jasmine sangat geram, meluapkan kekesalannya pada Kenzie. Kevin yang berada di samping Jasmine, terdiam tak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya mengelus-elus punggung istrinya. "Maksud Mamah apa?" Kenzie pura-pura tidak mengerti. "Maksud Mamah, ngapain tadi kamu temuin si Melisa?" "Ya ... ya cuma pengen nemuin aja, Mah. Pengen tau doang, alasan dia dulu ninggalin aku apa?" "Ken, Mamah kan sering bilang ke kamu, jadi lelaki jangan suka menyakiti hati perempuan. Kamu harus ingat, kalau kamu nyakitin hati wanita apalagi wanita itu istrimu, berarti kamu menyakiti hati Mamah. Apa kamu lupa itu, Ken?" "Gak lupa, Mah. Ken inget." "Sekarang jawab jujur. Apa wanita gak tau malu itu bikin menantu Mamah sakit hati? Bikin Leona hatinya tersinggung?" Leona dan Kenzie saling pandang satu sama lain. Baru saja Kenzie hendak menjawab yang sebenarnya, Leona membekap mulut lelaki itu. "Enggak kok, Mah. Si Melisa gak nyakitin hati aku. Tadi tuh, Kenzie pengen ketemu si Melisa cuma kasih tau dia, kalau Kenzie sama aku udah menikah. Kami saling cinta. Kenzie juga melarang si Melisa datang lagi atau muncul di hadapan dia. Gitu, Mah. Jadi, si Melisa gak nyakitin hati aku sama sekali. Lagian mana berani dia nyakitin aku? Kalau berani, bisa ditabok sama si Ken." Terpaksa, Leona berbohong. Dia tak mau kalau Jasmine panik, cemas atau merasa bersalah karena Kenzie berani menemui mantan kekasihnya padahal sudah punya istri. Leona juga tidak ingin Jasmine merasa tak enak pada dirinya dan juga keluarganya. Kenzie terkejut mendengar ucapan Leona. Tidak menyangka kalau gadis itu membelanya dan menutupi sikap buruk Melisa. Padahal sudah jelas, tadi Melisa menyakiti hatinya. "Kamu serius, Nak? Kenzie bilang gitu ke Melisa?" Tampaknya Jasmine tidak percaya akan ucapan yang disampaikan Leona. Gadis itu lagi-lagi berusaha tetap tenang. Sebelah telapak tangannya masih membekap mulut Kenzie. Tidak ingin kalau lelaki itu mengatakan yang sebenarnya. "Serius, Mah. Ya aku bersyukur banget ternyata Kenzie gak kembali lagi sama Melisa. Kalau sampe dia lebih memilih Melisa dari pada aku, mau gak mau aku minta cerai, Mah." Penuturan Leona kali ini membuat Kenzie menurunkan sebelah tangan Leona yang membekap mulutnya. Ia ingin bicara, tapi Leona memberi isyarat agar Kenzie diam saja. Jangan bicara apa-apa dulu. "Astaghfirullahalazhim jangan, Nak ... Mamah gak mau punya menantu lain. Mamah cuma pengen kamu yang jadi istrinya Kenzie. Mamah ingin cuma kamu yang akan melahirkan cucu-cucu Mamah nanti, Nak ...." Harapan Jasmine telah terucap. Tujuannya agar Kenzie dan Leona betul-betul mau mempertahankan rumah tangganya terutama Kenzie. Anak semata wayangnya itu tidak boleh melirik wanita lain apalagi mau kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. "Insya Allah, Mah ... aku sama Ken akan mempertahankan rumah tangga ini. Sekarang Mama tenang, ya? Jangan cemasin kami lagi. Aku dan Ken alhamdulillah baik-baik aja. Ya kan, Ken?" Leona mendekati handphone pada mulut Kenzie agar mengiyakan ucapannya. "Iya, Mah. Aku janji akan belajar mencintai Leona. Aku juga janji akan selalu mempertahankan rumah tangga kami." Akhirnya Jasmine bisa bernapas lega mendengar kata-kata kesungguhan hati seorang Kenzie Ivander Khaled. Kevin yang sedari tadi berada di samping Jasmine tersenyum lebar mendengar ungkapan anak semata wayangnya. Kevin sangat yakin, kalau Kenzie akan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Kenzie bukan lelaki b******k apalagi b******n. Lelaki itu tidak mungkin lebih memilih Melisa meskipun wanita itu cantik atau jauh lebih seksi dari pada istrinya. "Alhamdulillah ... begitu dong, Nak. Kalau gini kan, Mamah sama Papah bisa tidur nyenyak. Ya sudah, sebaiknya kalian istirahat. Mamah tau kalian pasti sangat capek. Tapi, kalau kamu dan Leona udah gak capek lagi, jangan lupa rajin produksi anak, ya? Hehehe ...." Kevin geleng-geleng kepala mendengar permintaan Jasmine. Kenzie semakin mengeratkan rengkuhan pada pinggang Leona. "Mah, doakan aku saja supaya bisa menjinakkan Leona." Sontak, Leona mencubit pinggang Kenzie kedua matanya melotot. Lelaki itu meringis kesakitan. Sedangkan Jasmine dan Kevin, justru tertawa. Mereka bahagia melihat anak dan menantunya bahagia. "Iya. pasti Mamah Papah doakan. Ya udah, kalian istirahat." "Iya, Mah." Leona langsung mematikan sambungan telepon, mendorong d**a Kenzie. "Awas lu ya, berani macem-macem, gue tabok," ancam Leona mengangkat sebelah tangannya ke udara. Bukannya takut, Kenzie justru terkekeh. Ia menarik telapak tangan Leona. "Gue mau tanya, tadi kenapa lu bohong? Gue tau banget kalau lu sakit hati sama ucapan dia." "Terpaksa. Gue cuma gak mau kalau nyokap lu khawatir atau marah sama tuh cewek." Kenzie tersenyum bahagia. Ia lantas mencium punggung tangan Leona, lalu menuntun telapak tangan istrinya ke arah bawah dan menempelkan pada salah satu area tubuh sensitifnya. "Apaan itu? Keras amat?" Leona langsung menarik tangannya ketika menyentuh salah satu bagian tubuh Kenzie yang sensitif. "Keras 'kan? Makanya bantuin lembekin. Mau, ya?" Leona mulai berpikir, menit berikutnya ia mengerti. Sikapnya berubah salah tingkah. Antara takut dan? "Ma-mau apaan sih?" Kenzie mendekati Leona, menempelkan kepala pada lengan gadis tomboy itu, kepalanya agak mendongak dan berucap. "Mau main-mainan. Tadi kan aku udah bilang, kita main-mainan biar punya baby. Mau ya, Kesayangan? Please ...." rengek Kenzie yang kedua matanya sudah berkabut birahi. Leona terdiam, aliran darahnya mulai memanas, jantungnya berdetak lebih cepat. Membayangkan berhubungan suami istri saja dia sudah takut apalagi mengalaminya. "Emang harus malam ini?" "Iya, Kesayangan. Malam ini, please ....." Leona garuk-garuk kepala. Tangan Kenzie mulai bergerilya. Membelai lembut lengan Leona, mengusap perutnya hingga .... "STOP!" Kenzie terkejut. Menarik telapak tangannya yang hampir saja menyentuh bagian tubuh sensitif Leona. "Leo, kita udah suami istri. Udah halal saling 4M." Leona menoleh, keningnya mengkerut. "Apaan saling 4M?" Sungguh, Leona tak mengerti yang dimaksudkan Kenzie. Lelaki itu berusaha tetap tenang, ia mengubah posisi, meletakkan kepala pada pangkuan Leona. Lalu meraih telapak tangannya. "Saling 4 M itu, saling menyentuh, saling meraba, saling memegang dan saling menikmati." "Peak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD