Suara Dani dan Agung yang sedang mengobrol membuatku tersadar. Bau ini. Bau etanol menyeruak ke dalam hidungku. Membuat ku menyadari di mana keberadaan ku sekarang. Perlahan netra ku terbuka, namun rasa sakit di sekujur tubuhku membuatku sedikit mengerang. Saat mata ini terbuka sempurna, ada tangan Adit yang sedang memegang tanganku, ia menempatkan kepalanya berada di pinggir ranjang. Dengkuran halusnya membuatku tidak tega untuk membangunkannya. Aku tidak bisa mengetahui suasana di luar, apakah ini siang atau malam. Karena ruangan ini seluruhnya adalah tembok, hanya lampu sebagai penerangan nya. Dani dan Agung masih asyik ngobrol. Jadi aku tidak bermimpi saat kudengar suara Agung kemarin saat makhluk itu menyerang ku. Aku menggerakan sedikit tanganku yang digenggam Adit. Adit malah ik

