Part 14 Teror Kembali

1360 Words
"Len, Bos nggak ngapel nih?" tanya Laras sambil mematutkan diri di depan cermin kamarnya. Aku memandanginya sambil tiduran di ranjang miliknya. Laras akan pergi berkencan dengan Yudha malam ini. Dia adalah pasangan terakhir yang pergi di malam minggu ini. Setelah sebelumnya Rena dan Kukuh lalu Diah dan Fajar, baru beberapa menit yang lalu Nadiya juga dijemput Rio. Mereka sedang melakukan pendekatan. "Adit lagi meeting, Ras, " kataku santai sambil memperhatikannya. "Masa weekend gini masih aja meeting. Patut dicurigai Len," kata Laras mulai iseng. "Enggak ah. Aku percaya dia nggak macem macem. Dia setia kok," ucapku yakin. "Hm. Iya deh. Eh tapi kamu nggak apa-apa aku tinggal sendirian di rumah?" tanya Laras cemas. Mungkin dia masih ingat saat mereka mudik kemarin aku, babak belur di serang oleh sosok itu. "Santai." Ketukan pintu kamar mengalihkan perhatian kami. Aku segera keluar kamar Laras bermaksud membukakan pintu. Dari jendela, bisa kuketahui kalau Yudha yang ada di depan. "Laras lagi dandan, bentar, ya." Yudha yang masih terlihat malu-malu, hanya tersenyum dan mengangguk. Dan tak lama Laras keluar dengan pakaian yang cukup formal, kulihat Yuda juga memakai setelan jas. Mereka akan dinner di Restorant sepertinya. "Len. Yakin kamu nggak apa-apa kutinggal?" tanya Laras yang entah sudah keberapa kalinya. "Tenang aja. Agung nanti mau ke sini kok. Dia lagi libur," ucapku santai. "Ya udah kalau gitu. Kamu hati hati di rumah ya. Aku tinggal dulu." Laras dan Yuda pun pamit. Kulambaikan tangan melepas kepergian mereka. Saat aku menutup pintu, embusan angin di belakangku membuat tengkuk ku meremang. Aku meraba nya lalu menoleh ke belakang. Sunyi. Perasaanku mulai tidak enak. Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Aku meraih ponsel yang diletakan di nakas. Ternyata Agung mengirim pesan kepadaku. Dia bilang, dia tidak jadi datang karena ada undangan dadakan dari temannya. Ah... Sial.... Kini aku terjebak di rumah ini sendirian. Jujur, aku takut. Kalau dia datang lagi ke sini. Karena biasanya dia muncul saat aku sedang sendirian. Aku hendak menghubungi Adit, tapi belum sampai panggilan terhubung, kembali kuurungkan niatku. Rasanya aku tidak ingin menganggu meetingnya malam ini. Lebih baik aku menghubungi Dani saja. Saat aku akan menghubungi Dani, ada panggilan masuk dari Arga. "Ya Arga." Hening. "Halo. Arga?" Kutatap layar ponselku memastikan aku tidak salah lihat kalau memang Arga yang menghubungiku. "Len," panggil Arga pelan. "Iya, Ga. Kamu kenapa?" tanyaku cemas. Suaranya nampak lain, dia tidak seperti Arga yang biasanya. Bagai orang yang sedang tercekik dan menderita. "Kamu lagi di mana, Len?" Nafasnya bahkan terdengar berat sekali. "Lagi di Kos nih. Kenapa?" tanyaku. "Kamu sama siapa di rumah?" tanyanya lagi. "Eum ... Sendirian. Yang lain pergi semua." "Len ... Kamu keluar dari rumah, sekarang!" perintah Arga. "Ada apa? Kamu kenapa sih? Suara kamu aneh!" tanyaku panik. "'Dia' datengin aku, Len. Aku yakin dia juga akan datengin kamu. Jadi kamu lebih baik pergi! Cari tempat ramai. Jangan sendirian!" Panggilan terputus. Dia? Maksud Arga siapa? Jangan jangan ... Sosok itu?! Segera aku berkemas, memakai jaket, ponsel dan dompet kumasukan ke tas, lalu buru buru keluar kamar. Tapi ... Terlambat! Sosok itu sudah ada di depan kamar ku, ia menyeringai sambil memainkan pisau nya seperti biasa. Segera kututup lagi pintu kamarku, lalu ku kunci. Aku berlari ke sudut kamar dan mencari ponselku di tas. Kuhubungi hape Adit. Tidak aktif. Oh. .. s**t! Aku mencoba menghubungi Dani. Ah, tersambung. "Halo Kak Lena." "Dan ... Dani. Kamu di mana? Bisa jemput aku di kos  sekarang?" tanyaku gugup. Pintu kamar ku terbuka kasar. Bahkan sampai daun pintunya terlepas dari tempatnya dan hancur membentur tembok. "Astaga!" jeritku. "Halo Kak Lena. Halo Kak. Kenapa Kak?" suara  Dani di seberang tidak lagi menjadi perhatianku sekarang. Aku makin merapatkan tubuhku ke tembok belakang. Badanku gemetar ketakutan. Bulir bulir air mata jatuh membasahi pipi. Aku sudah tidak bisa berfikir lagi. Apalagi setelah mendengar suara Arga barusan.  Apakah aku akan mengalami hal yang lebih buruk dari Arga? "Mau apa kamu? Pergi!" teriakku. Dia tidak menghiraukan kata kata ku. Malah makin mendekat dan merasa puas melihatku yang ketakutan. Dia menarik tubuhku dengan entengnya, lalu melemparnya menghantam meja. laptopku hancur tertimpa tubuhku sendiri. Oh tidak, kerjaanku ada di sana semua, belum ku copy ke flash disk. Mas Andre bakal ngomel besok. Entah aku ini bodoh atau apa karena aku malah mengkhawatirkan pekerjaanku bukannya nyawaku. Belum hilang rasa sakit di sekujur tubuhku, dia kembali mengulurkan tangan nya mencekik leherku. Diangkatnya aku tinggi tinggi lalu dilemparnya ke tembok dengan kasar. Perlahan pandanganku memburam, aku sudah pasrah jika aku harus mati sekarang. Samar samar aku mendengar suara Dani di luar lalu tak lama aku melihat  Dani ada di sampingku dengan cemas memeriksa keadaanku. Aku sudah tidak kuat untuk berkata kata lagi. Bahkan untuk membuka mata pun aku harus mengerahkan semua tenagaku yang tersisa. Lalu semua gelap. ==== POV AUTHOR Di seberang telepon, Dani gelisah. Apalagi saat ponsel Lena tidak bisa ia hubungi. Dari nada bicara Lena, Dani yakin sekali kalau wanita itu sedang dalam kesulitan. Ia memutuskan segera mendatangi rumah Lena. Dengan memacu mobilnya cukup kencang, kini ia sudah sampai di rumah itu. Segera saja ia berlari menuju rumah Lena. Dani mengintip ke dalam melalui jendela. Ia terkejut saat melihat sebuah pintu kamar yang rusak parah. Sementara pintu rumah ini tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Ia dilema. Apa yang sedang terjadi di sana, apakah pencuri atau sesuatu yang lain. Melihat betapa rusaknya keadaan di rumah itu. Dani mengambil ancang-ancang, lalu mendobrak pintu itu kuat-kuat. "Kak Lena! Kak Lena di mana?!" jeritnya sambil memeriksa tiap sudut rumah ini. Ia mendekat ke kamar dengan pintu rusak itu. Serpihan kayu yang berserakan membuat Dani sangat berhati-hati melangkah. Sampai akhirnya matanya terbelalak. Tubuh mungil yang sudah ia kenal beberapa waktu lalu, membuatnya menjerit dan segera menolongnya. Lena sudah terkapar tak berdaya di lantai. Kamarnya hancur berantakan. Rusak di mana-mana. "Kak Lena kenapa, Kak! Kak, bangun!" Tubuh lemah itu ia rengkuh, Dani sangat cemas melihat kondisi Lena. Ia meraih telepon genggamnya dan Menghubungi Adit. Ponsel sang kakak malah tidak aktif. Semilir angin membuat bulu judulnya meremang. Ia merasakan ada seseorang di belakangnya. Firasatnya itu memang tepat, karena saat ia menoleh, ada sesosok pria dengan wajah mengerikan. Hitam, besar, berbulu, memiliki tarik dan senjata tajam di tangannya. "Siapa kamu?!" tanya Dani, menjerit, dengan tubuh gemetar. Rasanya ia sedang berada di sebuah rumah horor dengan dirimu sebagai tokoh utama yang akan siap dimangsa hantu nya. Sosok pria itu mengeretakan giginya, berjalan cepat ke arah Dani, dan segera mencekik hingga tubuh Dani diangkat tinggi-tinggi. Tulang punggung Dani nyeri karena dibenturkan ke tembok belakangnya. Kakinya meronta, mencoba meraih pijakan. Udara di sekitarnya mulai menipis, ia mulai sesak nafas, dan butuh oksigen saat ini juga. "Hei!" jerit seorang pria yang berada di pintu kamar. Sosok itu menoleh pelan, menyeringai karena mendapat korban lain. Dani dilemparkan jauh-jauh hingga menghantam lempar pakaian Lena. "Kak Lena!" Agung, sang adik satu-satunya kini datang. Ia begitu murka saat melihat kondisi kakaknya yang sekarat. "Kurang ajar!" Agung mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu menggumamkan lantunan ayat suci Al Quran. Sosok itu menjerit kepanasan. Kulitnya mulai memerah, dan tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Setelah memastikan keadaan aman, Agung berlari ke Lena. Dani yang juga termasuk korban, juga berusaha bangkit. "Kamu yang bawa mobil di depan?" tanya Agung. Dani mengangguk sambil memegangi lehernya yang masih sakit. "Kita harus ke rumah sakit!" pinta Agung dengan mata berkaca-kaca. Dia hanya memiliki Lena, sang kakak. Kedua orang tua mereka sudah tiada, jadi wajar saja jika Agung sangat mencemaskan kondisi kakaknya itu. Melihat kondisi Lena yang memprihatinkan, ia takut jika Lena juga meninggalkannya sendirian di dunia ini. Sampai di IGD, tubuh Lena yang sudah lemah ini segera dibopong Agung ke ruangan. Ia terus berteriak pada perawat agar segera menolong kakaknya. "Tolong tunggu di luar, ya," pinta seorang dokter jaga pada kedua pemuda itu. Dani duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan Lena. Agung mondar-mandir gelisah. "Kamu? Adiknya Kak Lena?" tanyanya ragu. Ia tau kalau Agung sangat frustrasi dan mudah terpancing emosinya. Makanya Dani sedikit ragu untuk menyapa sejak awal. "Iya, aku Agung, kamu? Siapanya Kak Lena?" tanyanya menyelidik. "Oh, aku Dani. Adiknya Kak Adit, pacar Kak Lena. Tadi Kak Lena telepon aku, suaranya aneh, jadi aku buru-buru ke rumahnya, ternyata ... Eh tadi itu apa?" Agung menarik napasnya dalam-dalam, "Setan. Entah dari mana Kak Lena bisa ketemu makhluk itu, yang jelas dia berbahaya. Dia berniat mencelakakan Kak Lena." Gawai Dani bergetar, sebuah panggilan masuk membuat kedua netranya membulat sempurna. "Halo, Kak? Kakak ke mana aja sih? Di telepon nggak aktif!" "..." "Aku di rumah sakit! Kak Lena masuk IGD!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD