Part 2 : Maya

4545 Words
Mayalisa Abikusno, itu namanya. Usianya 14 tahun dan ibunya meninggal sesaat sebelum meninggalkannya. Para dayang bercerita bahwa ibunya pergi ke suatu tempat yang jauh dan indah. Mereka bercerita kepada Maya kecil bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan ibunya, juga saudari kembarnya yang ikut dengan ibunya. Sesungguhnya ibunya meninggal karena melahirkan bayi kembar. Seluruh mantri dari penjuru Jawadwipa didatangkan, termasuk salah satu amangkurat Kedaton, ki Harsono. Mereka kehabisan akal dan sang ibu kehabisan tenaga untuk mengeluarkan putri keduanya saat itu.   Maya dan Lisa. Itu adalah pesan sang ibu kepada suaminya sesaat sebelum ia melalui proses persalinan panjangnya. Pesan itu berarti nama sang buah hati jika terlahir perempuan. Ibunya tak memikirkan nama lelaki karena itu bagian untuk sang ayah, Adipati Raden Abikusno, penguasa Kadipaten Yudanta dan benteng pertahanan timur Jawadwipa. Namun persalin ibunya hanya menghasilkan satu kehidupan saja, yaitu kehidupan Maya. Sang ayah memberi nama Mayalisa sebagai gabungan antara kedua nama yang diberikan oleh ibunya.   Maya mempunyai mata hitam kecoklatan yang jernih dengan bagian putih yang lentik. Alisnya tebal mirip sang ibu, namun matanya mewarisi sang ayah. Perangainya ramah dan ia dijuluki Raden Roro Ayu yang manis. Kulitnya tak putih namun sawo matang. Bibirnya tipis kecil dengan lesungan pipi yang membuatnya semakin manis jika tersenyum. Hidungnya melengkung dengan lubang kecil di setiap sisinya. Ia tak senang rambutnya di gelung, menurutnya digelung itu membuatnya pegah. Padahal para dayang kadipaten Yudanta menceritakan bahwa para ratu mempunyai gelungan rambut yang indah. Namun ia tetap berdalih bahwa ia lebih cantik dengan rambut terurai seperti ini. Tubuhnya ramping dengan buah d**a ranum yang mulai menonjol di kedua sisinya. Kakinya jenjang dan selalu rapat menutupi daerah keperawanannya.   Ketika berjalan, ia selalu tersenyum manis kepada setiap orang yang berpapasan dengannya. Tak pelak, ia menjadi sosok idola di hati rakyatnya. Maya tak pernah ragu atau malu bergaul dan berbicara dengan siapa saja. Menurutnya, mereka semua sama, hanya berbeda nasib saja. Ia terlahir di rahim seorang Raden Ayu, sedangkan yang lain lahir di rahim sang ibu. Raden ayu dan ibu itu sama-sama wanita. Jadi tak ada bedanya.   Keluarga Abikusno mendiami salah satu rumah besar yang menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Yudanta. Yudanta berada di bawah kekuasan Kedaton Ardaka yang terletak tepat di pantai selatan Jawadwipa. Yudanta mempunyai kota pelabuhan bernama Rabaya karena teluk yang membopengkan Jawadwipa bernama teluk Rabaya. Sang Ayah, Adipati Raden Susno Abikusno merupakan pemimpinya.   Maya memiliki dua orang kakak lelaki, yang pertama bernama Raden Mas Candrika Abikusno dan yang kedua bernama Raden Bagus Candrakanta Abikusno. Namun sang kakak pertama yang bernama Candrika mengabdikan dirinya sebagai prajurit Mangkujiwo dan sekarang hidup matinya di tangan Prabu Aryawangsa di Ardaka sana. Alhasil tahta kadipaten Yudanta berada di tangan kakak keduanya yang berusia 20 tahun, Candrakanta.   Hal itu tak sedikitpun membuat Maya iri. Malahan ia menangis seminggu penuh ketika kakak pertamanya Candrika meninggalkan Yudanta. Sudah 3 tahun kakak pertamanya pergi dan Maya sudah menyibukan dirinya dengan segala aktivitasnya. Candrakanta selalu sibuk menemani sang ayah memimpin Kadipaten. Menurut sang ayah, kadipaten inilah yang menggerakan roda pemerintahan di Jawadwipa. Sedangkan Kedaton Ardaka memberi perlindungan terhadap mereka. Hal itu selalu menjadi perdebatan antara ayah dan anak itu. Menurut sang anak, “kadipaten tak harus mengirimkan upeti-upetinya ke Kedaton. Kedaton juga jarang sekali mengirim prajurit-prajurit mereka. Buktinya kangmas Candrika tidak pernah pulang selama tiga tahun belakangan ini.” Namun sang ayah dengan tenang menjawab, “kadipaten memang cukup kuat dengan prajuritnya sendiri, namun tak cukup kuat untuk menahan musuh dari luar Jawadwipa. Mereka akan mengirim ketika kita benar-benar diserang. Kakanda adalah seorang Mangkujiwo, tugasnya berada disamping Prabu, menjaganya setiap saat dan ia bangga menjadi salah satu dalam torehan sejarah Jawadwipa.” Candra terdiam menanggapi jawaban tegas sang ayah. Adipati Susno justru senang dengan tanggapan sang anak tentang cara memerintah. Namun ia juga takut ketika Candra kelak melawan Kedaton Ardaka dengan perangainya yang keras dan selalu ingin unggul dalam segala hal. Untuk itu sang ayah, Raden Susno mengajarinya cara memerintah dengan sabar.   Setiap purnama, ikan-ikan segar yang diurapi garam harus dikirim dengan arak-arakan panjang menuju Kedaton Ardaka. Semua itu adalah tugas Maya setahun belakangan ini. Ia ditugaskan ayahnya untuk menghitung setiap persediaan ikan-ikan dan bahan makanan untuk seluruh Kadipaten, lalu sisanya harus dikirim ke penguasa. Untung saja,  ikan-ikan tuna dengan ukuran besar selalu berlabuh di teluk Rabaya yang airnya hangat dan tennag. Sepertinya, Dewa telah menunjuk perairan Yudanta sebagai penghasil ikan   yang dapat dinikmati setiap harinya. Disamping itu, pelabuhan teluk Rabaya selalu ramai dengan pedagang dari berbagai tempat, ada yang dari Gujarat, Persia, India dan Tionghoa. Semua berkumpul menjajakan barang-barang langka dan kain-kain sutra. Tentu saja, Kadipaten mengenakan pajak untuk pedagang luar yang ingin berdagang di teluk Rabaya.   Malam itu, ceruk rembulan bersinar begitu terang. Bulan memang berada di tengah purnama dan arakan pedati sudah berangkat sore tadi dari Yudanta menuju Ardaka. Maya dapat tertidur pulas malam ini karena seluruh kebutuhan logistik untuk Kadipaten dan Kedaton sudah terpenuhi, tinggal dilaporkan saja kepada ayahnya. Malam itu, mata Maya mengerjap. Sepertinya gadis belia itu sedang berada di alam mimpinya.   Di alam mimpinya, ia menatap seorang pemuda yang beberapa tahun lebih tua darinya. Namun pemuda itu begitu tampan mempesona. Alisnya tipis dengan mata tajam menipis diujungnya. Bibir pemuda itu tipis menggantung tepat berada di atas wajahnya. Maya tersadar bahwa ia sedang terbaring atas rumput yang lembut dengan aroma bunga melati yang ia gemari. Sinar mentari merekah menembus dedaunan di pucuk pepohonan dan buah-buahan menggantung lebat di setiap tangkai pohon itu.   Maya menerka, dimana tempat seindah ini? Yudanta tak ada tempat seindah ini. Sepertinya tempat ini adalah taman di salah astana dalam mimpinya.   Tatapan Maya kembali tertuju kepada pemuda itu. Wajahnya begitu tampan dan senyumannya membius setiap relung belia Maya. Tak disangka mimpinya begitu nyata, ketika tangan pemuda itu membelai wajahnya. Sentuhannya begitu halus menggeser rambut Maya yang sedikit menutupi wajahnya. Maya tak tahu harus berbuat apa, salah satu tangannya tertekan tubuh pemuda itu dan tangan satunya mencengkeram lengan kekar pemuda itu.   Sejenak mata mereka saling bertemu. Maya semakin terbius manja ketika pemuda itu mendekatkan wajah tampannya. Sekali lagi, Maya menganggap mimpinya ini nyata ketika ia merasakan hembusan lirih pemuda tampan dihadapannya itu.   Lalu, pandangan Maya seakan berputar mengelilingi tempurung kepalanya. Bibir mereka saling bertemu, begitu lembut sampai-sampai Maya memejamkan matanya. Maya tak tahu harus berbuat apa, namun sentuhan bibir pemuda itu membuatnya melayang.   Semakin lama, pemuda itu mulai menggerakan bibir lembutnya. Maya merasakan getaran lembut di bibirnya, sehingga jantungnya terpompa lebih kencang dari biasanya.   Pemuda fantasi mimpi Maya itu mendengus nikmat ketika ia melepaskan balutan bibirnya. Ciumannya berpindah kearah pipi lembut Maya.   Rasa geli menyambut Maya ketika pemuda itu dengan lembut menggesekan bibirnya di pipinya. Lalu bibirnya bergeser ke leher jenjang belia milik Maya. Maya hanya bisa membuang pandangannya, sehingga lehernya menjadi sasaran dengusan nafas sang pemuda. Maya mengerjap ketika bibir sang pemuda menyesap leher Maya, seakan kulit lehernya berupa buah jeruk yang biasa disesap olehnya. Maya melengkuh ringan karena itu.   Perlakuan pemuda dalam mimpinya itu semakin menggila, kali ini ia membiarkan lehernya menjadi sasaran lidah sang pemuda. Maya ingin tertawa geli, namun bibirnya tertutup oleh tangannya sendiri.   Lalu sejenak pemuda itu menghentikan perlakuannya. Ia memindahkan tangan maya sehingga kedua tangannya terlentang tak berdaya. Sesaat pemuda itu melepas blangkon batiknya sehingga rambut lembutnya teruai berantakan, namun tetap nyaman dilihat oleh mata belia Maya.   Pemuda itu menyandarkan kepalanya tepat di d**a Maya, seakan pemuda itu sedang merasakan detak jantungnya yang melantun sempurna. Maya tak tahu harus menggerakan tubuhnya yang mana, ketika wajah sang pemuda terbenam di kedua buah d**a ranumnya.   Maya ingin menjerit namun tertahan oleh kenikmatan ketika kedua tangan pemuda itu merengkuh kedua buah d**a Maya. Pemuda itu mendengus kencang seakan merasakan aroma tubuh Maya lewat belahan d**a ranumnya.   Tangan Maya masih terlentang ketika sang pemuda menatapnya lagi. Lalu membuka setengah bibirnya pertanda kenikmatan melanda tubuhnya. Lalu dengan perlakuan sedikit kasar, pemuda itu merengkuh bibir Maya. Bibir mereka sama-sama tipis, sehingga setiap rengkuhannya akan terasa seiramanya. Maya menutup matanya ketika lumatan bibir sang pemuda begitu kasar mengerjai bibirnya.   Maya melengkuh ketika lidah pemuda itu menjulur meraih lidahnya. Maya tak tahu apa yang terjadi padanya, sehingga Maya hanya bisa mengikuti permainan sang pemuda. Tanpa sadar, Maya mengabaikan tangan sang pemuda. Tubuhnya serasa sejuk karena kancing kebayanya sudah tersingkap dan kembennya sudah lolos dari dadanya. Buah d**a ranumnya yang baru tumbuh mencetak kedua p****g s**u berwarna coklat kemerahan, dengan bulatan kecil membingkai tonjolannya.   Maya tak sempat sesaatpun untuk mengungkapkan keterkejutannya. Ia sedang menghisap lidah sang pemuda yang menjulur kearahnya. Lalu Maya merasakan sentilan jemari lembut di p****g susunya. Tangan pemuda itu membuat Maya semakin menggila. Sejenak ia meremas lembut buah d**a Maya. Pijatannya ringan, tapi terkadang terasa kasar dan membuat Maya yang belia mabuk kepayang.   Peluhnya terasa kental disirami dengan desahan nafas hangat terasa di setiap lipatan tubuh Maya. Ia tersadar, bahwa mimpi indah sedang bergelayut di kepalanya. Di ranjang yang tenang itu, dagunya bergerak seakan ada seorang pemuda tampan yang sedang menggumulinya.   Rasa pegah dan sesak menyeruak dari sela-sela selangkangannya. Matanya setengah terpejam seakan ia akan terbangun, namun sayang dirasa jika Maya memaksa kesadarannya untuk pulih. Jemarinya meremas tepian selimut tebal yang menutupi tubuh ranumnya.   Di alam mimpinya, perlakuan pemuda itu semakin meradang. Tak pernah sekalipun Maya muda melihat pemuda itu, bahkan namanya saja ia tak tahu. Tetapi jemari lembut pemuda itu sekarang bermain diselangkangannya. Jemarinya mengusap lembut mengikuti arah bibir yang dipenuhi bulu halus itu. Maya sontak mendengkurkan lengkuhan panjangnya. Wajahnya menengadah dan mulutnya terbuka ketika sebuah desakan nikmat menjalari setiap ototnya. Desakan itu membuat tubuhnya mengejang dan tidurnya tak tenang. Maya merasakan sendiri reaksinya, ketika cairan lembut mengalir menjalari sela pahanya. Pahanya bergerak, seakan tangan pemuda itu masih berada disana, padahal hanya udara kosong saja yang ia rasakan. Lalu, kejutan-kejutan nikmat dari otot-otot belianya memudar. Nafasnya semakin teratur diiringin dengan aliran darah yang kembali normal. Semburat senyum penuh rasa kepuasan tersirat dari wajah manisnya, lalu ia terlelap kembali dalam mimpi indahnya.   •••   Embun pagi mulai menetes dari daun jeruk purut segar yang melengkung. Seketika embun itu terjatuh menyentuh tanah lembab di pagi yang cerah itu. Langit biru menghampar setiap detil cakrawala dihiasi dengan awan putih transparan yang semu. Burung-burung mulai berterbangan kesegala penjuru untuk mencari bebijian.   Namun pagi yang cerah itu digemparkan oleh teriakan seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya. Teriakan itu berasal dari area rumah Joglo terbesar di Yudanta. Tentu saja rumah Joglo dengan pagar keliling itu adalah kediaman Adipati Abikusno. Teriakan gadis itu menggema dari segala penjuru, sehingga para Dayang-dayang tua kewalahan untuk melangkah cepat dengan kain jarik lusuhnya.     “Kyaaaaaaaaa!” Teriak Maya dari kamarnya. Teriakan histeris, sehingga membuat setiap pejalan kaki berhenti sejenak untuk mencari dimana arah teriakan itu. Dua orang prajurit dengan tombak dan perisai yang berjaga di depan pagar juga menoleh, lalu mereka siap siaga kembali untuk menghalau setiap warga yang kebetulan lewat.   Suasana hiruk pikuk di halaman depan sama halnya dengan suasana di dalam rumah. Tiga orang dayang berlarian dan salah satu diantaranya tersandung oleh kaki meja, sehingga ia tersungkur menyentuh lantai marmer. Para dayang langsung mengetahui, bahwa teriakan itu berasal dari kamar majikan kecilnya yang cantik jelita, Raden masayu Mayalisa Abikusno. Tidak biasanya Maya menjerit seperti itu. Jeritannya bernada ketakutan sehingga membuat geger seantero rumahnya. Biasanya, Maya selalu bangun pagi dan membasuh tubuhnya dengan rendaman kembang Melati yang dipetik oleh para Dayangnya sebelum mentari muncul.   Seorang dayang menyingkap kain batik yang menjadi penghias pintu, lalu membuka pintunya. Matanya memincing ketika melihat Maya sudah terduduk di ranjangnya. Lalu seorang dayang lagi masuk dengan nafas tersengal.   Mata Maya melotot menatap kain sprei yang sudah berlumuran darah segar. Kakinya mengangkang menghindari kubangan darah yang mengerikan itu. Perutnya serasa mual dan berat terasa di keningnya, seakan ia akan pingsan namun belum saatnya. Lalu dayang terakhir memasuki kamar sang putri. Kelihatannya itu dayang yang terjatuh tadi dan ia adalah yang paling tua diantara dua dayang lainnya. Dua dayang yang masuk duluan tak bereaksi apa-apa, namun dayang ketiga mendekati tubuh Maya yang terpukul dengan adanya kubangan darah diranjangnya.   Nama dayang paling itu adalah Nyi Sasmi, ia telah menjadi Dayang dirumah keluarga Abikusno semenjak Adipati Susno Abikusno masih seumur jagung. Sasmi tua duduk disamping Maya dan memapah tubuh mungil Maya dengan sisa-sisa tenaganya.   “Raden Masayu harus mandi sekarang?” ujar dengan suara serak dan dihiasi dengan lengkungan senyum penuh makna.   Maya yang sedari tadi menatap kubangan darah itu beralih ke pengasuhnya. Matanya berubah ketika menatap senyuman di wajah keriput dayang tuanya yang selalu setia. Dengan hati-hati, Maya melangkahi kubangan darah itu dan berjalan dengan dekapan sang dayang. Sang dayang tua merapikan kain jarik yang dikenakan Maya agar tubuh sintal Maya tertutupi. Lalu sang dayang berseru kepada dua dayang muda yang berdiri bersebelahan, “Ranti, Yuli, bersihkan ranjang Masayu! Jemur kasurnya dan rendam spreinya dengan daun sirih!” Kedua dayang bernama Ranti dan Yuli itu mengangguk dan bergegas melakukan tugasnya.   Nyi Sasmi terkekeh pelan sembari memapah Maya ke sumur di belakang rumah. Maya terkejut dengan arti tawa kecil yang dilontarkan dayang tuanya itu.   “Masayu sudah dewasa sekarang, ayahanda dan ibunda disana pasti sangat bangga,” puji Nyi Sasmi sembari memeluk lengan anak asuhnya itu kuat-kuat.   Maya keheranan dengan perkataan dayangnya itu. Ia memang sudah dewasa sekarang, tetapi dayangnya baru sadar bahwa tinggi tubuhnya sudah melewati tinggi dayang tuanya itu. Namun Maya mencurigai maksud lain yang dikatakan sang dayang tua yang sangat setia itu.   “Maksud Nyai?” Tanya Maya ketika baru saja memasuki bilik sumur. Di bilik sumur itu, terdapat sebuah gentong tanah liat besar dengan air yang dipermukaannya dipenuhi bunga-bunga melati segar. Lalu tepat ditengah biliknya terdapat sebuah lubang yang dikelilingi batuan, lubang itu adalah lubang sumur sedalam 50 depa dengan timba terulur ke dasarnya. Butuh tenaga ekstra untuk menarik timba itu dari dasar sumur. Namun rumah Adipati memilik beberapa kacung pria. Mereka cukup kuat untuk menarik ember berisi air dari dasar sumur.   Nyi Sasmi melepas ikatan jarik Maya sehingga tubuh belia nan ranum milik Maya terlihat. Dadanya terlihat sangat sepadan dengan kerampingan tubuhnya. Sejenak Maya mengamati tubuhnya sendiri, ia menatap kedua p****g susunya mencuat kemerahan dan terasa nyeri jika tersentuh. Lalu mata Maya tertuju ke bagian selangkangannya. Betapa terkejutnya ia ketika bulu-bulu halus selangkangannya terlihat kisut karena terlumuri oleh cairan merah kehitaman dan kental. Mendadak perutnya serasa nyeri ketika darah hitam nan kental menetes melalui pangkal pahanya. Darah itu menetes deras ke betis dan bermuara di lututnya.   “Jangan terkejut, nak. Ini adalah darah haid. Mulai hari ini, setiap satu purnama darah kotor ini akan keluar dari bagian kewanitaanmu.” Ujar Sasmi menjelaskan sebuah kodrat yang harus diterima oleh Maya. Sejenak ia memandang ke arah pengasuhnya, lalu mengamati kembali aliran darah yang membuat kakinya bergetar itu.   •••   Hari ini Maya hanya terbaring di kamarnya, darah itu tak henti-hentinya keluar sehingga para dayang tetap siaga di kamarnya. Yuli yang berambut keriting berjaga di depan pintu untuk memperingatkan siapa saja bahwa Raden Masayu sedang haid perdananya. Lalu Ranti harus mondar-mandir ke sumur untuk mencuci kain sprei dan kain jarik yang terkena darah haid Maya. Nyi Sasmi dengan setia mengusap punggung dan perut Maya dengan parutan jahe untuk meredam sakit di perut Nona kecilnya.   Rasa perih, panas, nyeri dan pegal mendera tubuh Maya. Ia terbaring tak nyenyak, jika posisi tubuhnya miring ia merasa selangkahannya perih, jika terlentang Maya merasa mual. Jika ia terduduk, ia akan pusing. Sungguh penderitaan yang melebihi apapun di dunia ini. Nafsu makannya menurun, sehingga Nyi Sasmi menyuruh salah satu kacung untuk membeli buah-buahan segar, kalau bisa yang baru dipetik dari pohonnya. Usahakan yang rasanya masam karena manis akan terasa mual di lidah.   Hari kedua haidnya, wajah Maya sepucat mayat. Semalam ia hanya tertidur sebentar, lalu terbangun karena rasa lengket menyegat mimpi-mimpinya. Kantung matanya menggantung tepat dibawah mata sayu yang tak bertenaga. Kata Nyi Sasmi, Ia akan terbiasa di satu purnama mendatang. Memang seperti ini jika baru pertama kali.   Usia Maya masih 14 tahun dan sekarang ia sudah dewasa, dalam arti seutuhnya. Jika ada seseorang yang membuahinya, maka sekarang jabang bayi akan menghiasi rahimnya. Namun ia bukan gadis segampang itu. Ayahnya, Adipati Susno dahulu adalah seorang Panglima Manggalayuda di Kedaton Ardaka. Di samping otaknya pintar dalam strategi, ia juga seorang pesilat yang handal. Kerisnya dapat menusuk musuhnya tepat mengenai jantungnya, sehingga rasa sakit di tubuh musuhnya cepat berakhir seketika. Maka dari itu, tak ada yang berani menyentuh keluarga Abikusno. Bahkan para berandalan pemerkosa dan perampokpun harus berpikir dua kali jika ingin melukai keluarga Abikusno.   Sudah hari kelima, Maya mulai segar kembali. Walau terkadang perutnya melilit, namun darah haidnya tak lagi mengalir. Nyi Sasmi memberi asupan bubur kacang hijau, rebusan telur ayam dan semangkuk sayur bayam. Maya sangat berterima kasih kepada Nyi Sasmi dan kedua dayang yang telah kerepotan mengurusnya. Namun mereka cukup senang karena jarang sekali ada majikan yang mau berterima kasih kepada dayangnya.   “Apakah yang kedua akan sakit seperti ini, Yul?” Tanya Maya kepada Yuli yang lebih tua beberapa tahun darinya.   Yuli menoleh ke arah Maya dan sejenak meninggalkan pekerjaannya mengupas wortel, “tidak jika sudah terbiasa, Raden Masayu. Tetapi wanita memang dikodratkan untuk merasakan sakit.”   Maya tertegun mendengar perkataan Yuli. Ia penasaran untuk menanyakan sesuatu yang lebih detil kepada Yuli yang satu tahun lalu menikah dengan salah satu prajurit Jagabaya, tetapi masih belum di karuniai seorang anak. Mungkin karena prajurit itu selalu berjaga ketika malam tiba, sehingga mengurangi waktu tidurnya bersama Yuli.   “Maksudnya? Wanita dikodratkan untuk merasakan sakit!?” Tanya Maya.   Yuli meletakan pisau dan wortel yang baru terkupas setengah. Lalu ia menatap Maya yang duduk disampingnya, “ketika darah haid keluar setiap bulannya, kita akan merasakan sakit. Lalu ketika menikah nanti, kita juga akan merasakan sakit ketika pertama kali diperawani oleh seorang suami.” Yuli memberi jeda, “lalu ketika melahirkan nanti, kata Ranti~~sakitnya luar biasa!”   Mata Maya membesar ketika mendengar ucapan ‘Sakitnya luar biasa!’ dari bibir Yuli. Ia tak menyangka bahwa menjadi wanita itu susah. Padahal sepengetahuan Maya, pria justru lebih susah. Para pria harus bekerja menghidupi anak istrinya, menjaga martabat keluarga, atau yang lebih mengerikan mereka harus pergi berperang membela tanah airnya, sama seperti yang pernah dilakukan oleh kakaknya, Candrika.   Mata rantai yang selama ini dipikirkan Maya, seakan tercerai berai ketika ia mengetahui kodrat seorang wanita. Selama ini, ia tak pernah diasuh oleh seorang ibu. Ibunya adalah dayang-dayangnya dan dayang tak pernah sekalipun mengeluh ketika mengasuhnya. Bayangkan jika ibunya seorang diri mengasuh dua atau tiga anaknya. Sudah dipastikan ibunya akan kerepotan tiga perempat mati, bukan setengah mati lagi.   Semerbak air mata menggenang ringan di bawah kelopak mata Maya. Ia teringat ibunya, walaupun Maya tak pernah sekalipun melihat wajah ibunya. Bahkan membayangkan wajahnya saja, ia tak sanggup. Menurut sang ayah, jika ingin melihat wajah ibu, berkacalah! wajah ibu sangat mirip denganmu. Jemarinya mengusap butiran air yang menetes melalui matanya. Tak ada gunanya menangis, menangis hanya akan membuat ibu sedih, itu pesan kakak pertamanya Candrika sesaat sebelum ia meninggalkan Yudanta.   “Sekarang! sudah saatnya Raden Masayu memilih suami.” Suara itu berasal dari Ranti di belakangnya. Maya dan Yuli tak tahu bahwa Ranti sedari tadi sedang menguping di belakang mereka. Di gendongan Ranti, putra pertamanya yang lucu bergelantungan. Lalu Ranti duduk di samping Maya, sehingga Maya dengan sigapnya merebut putra Ranti yang berpipi tembem dan berambut kuncung itu.   Anak Ranti masih belum genap setahun. Namun perangai anak ini sangat ramah dan mudah sekali tertawa jika digoda. Maya mencium pipi putra Ranti, dan seketika bayi itu tertawa terbahak. Maya suka terhadap anak kecil, apalagi masih bayi seperti ini. Anak Ranti sering seakan menjadi mainan untuk Maya.   “Hei!” Mata Maya berbinar ketika menepuk-nepuk ringan pipi merona putra Ranti. Namun Ranti yang duduk disampingnya, sepertinya ingin mengucapkan sesuatu.   “Jika Masayu menikah nanti, apakah Masayu masih tetap disini?” Ungkap Ranti yang sudah berpikir lebih jauh dari apa yang dipikirkan Maya.   Raut wajah Maya berubah, ia sepertinya terpukul dengan pertanyaan Ranti. Ia teringat dengan pelajaran yang diajarkan oleh Nyi Sasmi. Sebagai seorang Raden Ayu, ia sudah dipastikan akan menikah dengan para Ningrat dari Kadipaten yang setara dengan Kadipaten Yudanta. Nyi Sasmi juga berkata bahwa seorang wanita akan mengikuti suaminya~~kemanapun mereka berada. Jika calon suaminya kelak berasal dari tempat lain, dapat dipastikan ia harus meninggalkan Yudanta. Ia akan meninggalkan sang ayah, kakaknya, para Dayang setianya dan tentunya rakyat yang mencintainya. Itulah kodratnya dan tidak ada yang dapat memungkirinya. Dahulu ibunya adalah putri dari Kadipaten Sunda Kelapa. Sunda Kelapa berada di sebelah paling barat Jawadwipa, ibunya diharuskan untuk berpindah ke timur jauh karena dipinang oleh ayahnya. Maya tahu, bahwa segala hal itu akan terjadi; menerima pinangan dari salah satu ningrat, lalu meninggalkan Yudanta dan melayani suaminya di tempat yang asing baginya. Waktu yang akan menjawab seluruh pertanyaan Maya, jika saatnya tiba.   Lalu keheningan Maya tergantikan oleh kedatangan Nyi Sasmi, nenek tua yang telah menjadi dayangnya semenjak Maya masih bayi.   “Raden Masayu,” ujar Nyi Sasmi sopan.   “Ada apa Nyi?” Jawab Maya sembari menatap ke arah Nyi Sasmi yang berdiri di ambang pintu dapur.   “Adipati memanggil, Masayu.” Dengan singkat Nyi Sasmi mengatakan maksud dan tujuannya.   Maya tertegun sejenak untuk memikirkan sesuatu yang akan dibicarakan. Apakah tentang persedian lumbung padi, atau tentang arak-arakan upeti. Maya tak begitu yakin, tetapi yang jelas ia harus bergegas menemui ayahnya.   Maya mengecup pipi putra Ranti sekali. Lalu mengulurkannya ke Ranti. Kemudian ia bangkit sembari mengucir rambutnya dengan tali. Maya tak setuju rambutnya digelung seperti layaknya Raden Ayu di setiap Kadipaten di Jawadwipa. Menurutnya gelungan konde membuat rambutnya kusut.   Maya melangkah cepat di pimpin oleh Nyi Sasmi. Ia keluar dari sebuah bangunan yang difungsikan sebagai dapur dan menapaki jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon sawo yang selalu berbuah setiap musimnya. Lalu Maya memasuki sebuah bangunan beratap Joglo dengan tiang kayu jati. Tiang itu begitu kuat sehingga dapat menopang atap itu selama beberapa generasi. Dindingnya berupa lapisan kayu dengan lantai marmer mengkilat berwarna kelabu. Sehingga telapak kaki Maya terasa dingin ketika menapaki lantainya.    Tirai sutra transparan tersingkap ketika Maya memasuki ruangan luas di pusat rumah itu. Sebuah lampu minyak yang indah berhias lapisan emas menggantung diatas sebuah meja bundar dengan empat buah kursi kayu mengelilinginya. Di kursi-kursi itu, Adipati Susno sudah terduduk sembari menatap sebuah gulungan lusuh di tangannya. Kursi kedua di duduki oleh sang kakak, Raden Bagus Candrakanta yang bermuka masam, sepertinya ia sedang memikirkan hal yang serius. Kursi ketiga berisi Ki Palinggar Jati, ia adalah seorang amangkurat yang bertugas sebagai penasihat adipati. Lalu kursi keempat kosong, Maya memastikan kursi itu tersedia untuknya.   Sesungguhnya, di Kadipaten lain, kursi hanya diperuntukan untuk seorang Adipati dan yang lainnya duduk bersimpuh di lantai. Namun tidak di Yudanta. Adipati Susno mengajarkan sistem pemerintahan dengan Musyawarah, sehingga mereka harus disejajarkan dan memiliki suara yang sama~~bahkan cara duduknya harus sama. Hal itulah yang membuat putra, putri dan penasihatnya duduk dalam satu meja.   “Maya,” sapa sang Ayah. “Duduklah putriku.”   Langkah kecil Maya bergerak perlahan menuju kursi yang masih kosong. Sang kakak yang bermuka masam menatap sejenak adindanya, lalu berpaling kepada sang ayah yang meletakan gulungan kertas itu di meja. Ki Palinggar Jati tersenyum dan menundukan kepala ke arah Maya. Kesantunannya di balas dengan senyuman oleh Maya.   Semua pandangan tertuju kepada sang penguasa Yudanta. Susno menghela nafas panjangnya, lalu ia mulai berbicara, “burung merpati mengirim pesan ini tadi pagi.” Adipati Susno menunjuk gulungan kertas lusuh yang terletak tak rapi di meja itu. Tak ada yang berani menyentuh gulungan kertas itu karena sebuah segel tinta berukir lambang burung Garuda terurai ditepinya. Maya tahu bahwa lambang itu berasal dari Kedaton Ardaka. Jika dari Ardaka, maka pesan itu berasal dari Prabu Aryawangsa. Entah pesan itu merupakan peraturan baru atau apapun itu, Maya tak tahu. Tetapi pesan itu sepertinya membuat sang ayah dan kangmasnya murung.   “Prabu Yudha Aryawangsa akan berkunjung ke Yudanta. Ia akan membawa rombongan besar dan kita harus menjamunya.” Ujar Susno sembari mengusap kumis tipisnya, jemari sawo matangnya menutupi bibirnya.   Tak ada yang berani bergerak atau menjawab, kecuali Maya. “Apa? Itu bagus, apakah kangmas Candrika akan ikut.”   “Hmn,” kakak kedua Maya, Candrakanta menjawab. “Iya, kangmas adalah Prajurit Mangkujiwo, ia pasti ikut adinda. Tetapi bukan itu yang kita permasalahkan.”   Candrakanta memberi jeda sejenak, sehingga membuat pikiran Maya bertanya-tanya, “Rombongan bisa saja berjumlah lebih dari dua ratus orang dan gubuk kita tak akan sanggup menampungnya.”   Maya berubah lesu. Bahunya merendah dan jemarinya terlipat di pahanya. Sepertinya, ia salah dalam menanggapi berita itu. Ia tahu, bahwa orang-orang disekitarnya berjiwa pemimpin, bukan seperti Maya yang selalu memikirkan orang lain.   “Benar kata kangmasmu, Masayu.” Linggar tua menimpali, “belum lagi dengan para berandal yang akan menyusahkan acara kunjungan Prabu. Semoga prajurit Jayabaya sanggup mengatasinya.”   Mendengar perdebatan ringan itu, Adipati Susno mulai angkat bicara. “Berapa persediaan  ikan dan padi kita, Masayu?”   Maya terkejut, sepertinya ia yang diajak bicara oleh ayahnya. “Kita punya seribu karung padi, seratus ekor sapi, lima puluh ekor kerbau, seratus lima puluh kambing, dan untuk ikan,,, aku belum bisa memprediksikannya ayahanda.”   “Sekalian adinda! Hitung kuda-kuda atau anjing-anjing kita jika persediaan daging kurang.” Candrakanta menyela dengan perkataan tak sopan, “daging kuda atau anjing akan terasa sama jika dicampur dengan semur daging sapi.”   “Jaga ucapanmu, Candra!” Bentak sang ayah.   “Ayahanda, belum genap dua minggu kita mengirimkan upeti ke Ardaka! Bahkan arak-arakan masih dalam perjalan pulang ke Yudanta. Sekarang mereka datang untuk merampok kita!” Bantah Candrakanta sembari membanting punggungnya ke sandaran kursi.   “Prabu akan datang kemari dan kita harus menyambutnya!” Tegas sang ayah.   Hal itu membuat Candrakanta naik darah, sehingga ia berdiri dan meninggalkan kursinya. Sebelum pergi ia menyindir. “Baik! Kerahkan seluruh tukang batu dan kayu untuk membangun Astana Yudanta yang baru. Jangan lupa, siapkan ranjang yang terbuat dari emas untuk sang Prabu. Habiskan seluruh kepeng emas kita dan aku tak akan ikut campur!”   Semuanya terdiam ketika Candrakanta meninggal mereka. Sang ayah mengusap keningnya seakan tak percaya sifat putranya sekeras itu. Namun sifat itu mewarisi dirinya dahulu, ia keras sekeras batu jikalau lembut tetap seperti serpihan kayu.   “Biarkan! Candra memang seperti itu,” ujar Susno. “Ki Palinggar kumpulkan seluruh prajurit Jayabaya untuk mengamankan pasar Rabaya dan sekitarnya. Dan engkau Maya putriku, pastikan persediaan makanan kita cukup untuk menyambut sang Prabu. Lalu aku akan menghubungi para tukang kayu untuk menyiapkan padepokan baru untuk Prabu dan rombongannya.”   Maya dan Ki Linggar mengangguk menyetujuinya. Lalu Maya berkata, “apakah Prabu suka dengan tari-tarian dan pertunjukan reog?”   “Hmn, ya...” Susno tersenyum kepada putrinya yang tak juga cantik, tetapi juga cerdas. “Siapkan juga hiburan untuk sang Prabu. Panggil para penari dan pawang reog, mereka pasti bangga bisa tampil di hadapan Prabu.”   “Baik ayah,” jawab Maya yang merasa tersanjung karena pendapatnya didengar oleh ayahnya.   Lalu Ki Palinggar undur diri untuk segera mengumulkan prajurit Jayabaya. Yudanta hanya diberi waktu satu purnama untuk mempersiapkan semuanya. Hal itu diikuti Maya yang juga ingin cepat mendatangi sanggar tari yang terletak di  sekitaran pasar Rabaya.   “Masayu Maya putriku,” panggil sang Ayah. “Kemarilah nak?”   Maya berbalik menghadap sang Ayah. Kali ini ia bersimpuh di pangkuan sang ayah. Saat ini bukan musyawarah lagi, sehingga Maya harus menghormati layaknya seorang anak kepada orang tuanya. Ia berlutur dan menunduk menunggu perkataan sang ayah.   “Kudengar engkau sudah mengeluarkan darah di rahimmu,” bisik sang ayah. “Ayah berjanji akan mencarikanmu pasangan yang baik untukmu.”   Semburat senyum menyungging selebar saung di bibir Maya. Ia tahu bahwa ayahnya tak akan salah memilihkan pasangan hidup untuknya. Maya seakan melayang dan hatinya sumingrah ketika mendengar lantuan perkataan lembut dari sang ayah. Sehingga terbayang olehnya wajah pemuda tampan yang beberapa hari lalu menjamahi mimpinya.   Sang ayah juga mengetahui bahwa putri satu-satunya mempunyai paras nan cantik jelita. Sehingga terbayang olehnya seorang putra dari Kadipaten Sunda Kelapa, tempat kawan lamanya berkuasa. Beberapa tahun lalu Adipati Susno mengunjungi Adipati Karno di Sunda Kelapa dan ia melihat sendiri pemuda yang masih dalam gendongan ibunya itu. Usianya mungkin dua tahun di atas Maya. Susno tahu, bahwa putra dari Adipati Karno akan menjadi seorang pemuda yang gagah dan rupawan. Sehingga ia ingin segera mengirim pesan melalui burung merpati yang terbang melintasi Jawadwipa menuju Sunda Kelapa. Namun alangkah baiknya ia menunda kabar bahagia tersebut. Mengingat saat ini ia dan rakyatnya mempunyai pekerjaan berat, yaitu menyambut kedatangan sang Prabu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD