Part 3 : Candrika & Candrakanta

2925 Words
Candrika   “Kau tahu! sebentar lagi kita akan mengunjungi Yudanta.” Ujar Bajang sembari mengasah kerisnya di sebuah batu asahan yang berwarna perak.   “Hmn,” gumam Caadrika. Sepertinya prajurit itu tak begitu tertarik dengan perjalanan sang Prabu. Menurut Candrika, berbahaya jika orang sepenting Prabu Aryawangsa meninggalkan dinding Kedaton, apalagi untuk bepergian jauh ke teluk Rabaya, tempat Kadipaten Yudanta berdiri. Ia bisa saja terbunuh di perjalanan, atau meninggal dalam perjalanan. Perasaan Candrika dipenuhi perasaan was-was akan keselamatan sang Prabu.   Tentu saja ia cemas, Candrika adalah prajurit Mangkujiwo. Mangku berarti memapah, dan Jiwo berarti jiwa. Sehingga dapat diartikan prajurit ini khusus untuk melindungi sang Prabu. Mata-mata mereka selalu menatap curiga kesemua orang, bahkan kepada orang terdekat Prabu sekalipun. Menurut aturan Prajurit Mangkujiwo terikat kontrak mati dengan Kedaton. Jika Prabu terbunuh, maka mereka prajurit-prajurit Mangkujiwo juga harus dibunuh karena gagal menjalankan tugasnya. Kecuali jika mereka berhasil menjaga Prabu hingga sang Prabu mangkat dengan sendirinya karena faktor usia atau sakit. Prajurit Mangkujiwo akan mendapat ganjaran berupa gelar kehormatan beserta harta kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan. Aturan tentang keprajuritan diatur oleh pihak Kedaton. Para Prajurit Mangkujiwo berbeda dengan prajurit Jagabaya atau Manggalayuda. Jagabaya bertugas untuk menjaga kedamaian, Manggalayuda bertugas di medan pertempuran, dan Mangkujiwo berada disekitaran Prabu. Mereka menjadi benteng pertanahan terakhir jika Manggalayuda dan Jagabaya dikalahkan dan juga melindungi Prabu dari para penyusup. Prajurit Jagabaya tersebar di seluruh Kadipaten di Jawadwipa, sedangkan Manggalayuda dan Mangkujiwo hanya ada di Kedaton Ardaka.   Sebagai prajurit Mangkujiwo, Candrika dilarang untuk menikah, punya anak, atau keluarga. Seperti dalam aturan, bahwa hidup dan matinya prajurit ini berada di tangan Kedaton. Mereka akan dipensiunkan ketika Prabu telah tiada atau prajurit ini terlalu tua untuk memegang senjata. Setelah mereka berhenti, kebanyakan dari mereka bersenang-senang dengan harta kekayaan mereka, atau beberapa diantaranya tetap mengabdi kepada Kedaton sebagai pelatih atau abdi dalem Kedaton.   Candrika sadar bahwa keputusannya sama saja mengorbankan kebahagiaan duniawinya. Namun kebanggaan akan membela tanah air, menghapuskan kebahagiaan itu. Ia senang walau sebenarnya sang ayah tak setuju Candrika Abikusno menjadi salah satu pengawal terbaik di Jawadwipa. Ia ditempa di Mayapada dan dibiarkan hidup sendirian di hutan Batara. Sehingga ia berhasil menjadi prajurit Mangkujiwo, yang menjadi kebahagiaan di dalam hatinya.   Di dalam benaknya, keputusan Prabu tentang perjalanannya mengunjungi Yudanta sungguh mengganggunya. Hatinya semakin bergejolak ketika ia teringat rumahnya. Namun tugas harus ia laksanakan sebaik mungkin, agar kehormatan dan nyawanya selalu terjaga.   Dalam keheningan itu, wajah garang yang mewakili ayahnya terlihat murung. Rambutnya yang ikal terasa kebas karena musim kemarau yang tak kunjung reda. Otot-ototnya yang kekar melemas karena perasaan di benaknya yang campur aduk. Belum lagi, ia mendapat berita bahwa guru silatnya, bahwa Tumenggung Bajragini menghilang ketika mengejar sekelompok berandalan di hutan Batara. Bajra sudah menjadi ayah kedua bagi Candrika. Walau sifat Bajra keras dan tak kenal ampun, ialah yang telah menempa Candrika menjadi salah satu prajurit terbaik di Jawadwipa ini. Ditambah lagi dengan persiapan Prabu yang akan berangkat ke Yudanta. Perjalanannya akan memakan waktu dua minggu dan akan melelahkan. Belum lagi jalur pantai selatan yang harus diamankan.   Seseorang prajurit menerobos masuk ke gudang senjata. Prajurit muda dengan wajah polos karena belum sekalipun terlibat dalam pertempuran. Hal itu sontak membuat Candrika dan Bajang terkejut, lalu menatap prajurit muda yang ngos-ngosan itu.   “Raden Candrika, Ksatria Balapradhana.” Sapa Prajurit yang pangkatnya lebih rendah itu kepada mereka berdua. Balapradhana adalah nama asli dari Bajang. Ia dipanggil Bajang karena mukanya terlalu lucu untuk seorang prajurit. Giginya tonggos dengan rambut keriting keribo. Kulitnya hitam dengan tatapan tak meyakinkan, namun keahliannya menggunakan tombak dan perisai jangan pernah diragukan. Berbeda dengan Candrika, sosoknya tegak berisi dengan mata bak seekor elang. Bibirnya sedikit lebar dengan kumis tipis mirip sang ayah. Jika dahinya mengernyit, kedua alis tebalnya akan menyatu, sehingga membuat siapa saja takut kepadanya.   Prajurit muda itu meneruskan titahnya, “anda diminta untuk ke hadapan Prabu? ada kabar dari Tumenggung Bajragini.”   Candrika tak menjawab, ia melempar kerisnya di atas meja dan berlari melewati prajurit muda itu. Hal itu juga dilakukan Bajang setelah sebelumnya berterima kasih kepada sang prajurit belia.   Candrika berlari menyusuri selasar panjang yang diteduhi oleh atap berjerami. Bunga-bunga indah yang mekar di tepian tak dihiraukan oleh Candrika yang terus mempercepat langkah. Di hadapan, terdapat beberapa dayang astana yang memberikan jalan untuk Candrika, seketika wajah cantik mereka tertunduk ketika Candrika melewatinya.   Diujung selasar, terdapat sebuah gerbang yang terbuat dari bunga-bunga yang merambat. Rambatannya membuat lengkungan yang indah disertai aroma mekar yang menggoda. Tak ada waktu lagi bagi Candrika untuk mengitari taman Palasari, taman para Ratu.   Langkahnya menerobos mengabaikan beberapa tukang kebun yang merawat bunga-bunga agar tetap bermekaran. Di tengah taman yang indah itu, terdapat sebuah pohon cendana yang indah dan dibawahnya tertanam batu nisan. Tentu saja nisan itu bukan nisan sembarangan. Candrika tetap tak mempedulikan sekitar, matanya hanya tertuju ke sebuah bangunan rumah joglo terbesar di kompleks Astana Ardaka. Bangunannya dari kayu Ulin beratapkan Joglo yang megah, sehingga dapat dilihat dari kejauhan. Tempat itu adalah singgasana Prabu Aryawangsa, tempatnya menerima tamu dan segala urusan tentang pemerintahan.   Nafas Candrika tak menunjukan rasa lelah sedikitpun, walau peluh membasahi kening dan menetes disela-sela hidungnya. Di benaknya, ia memikirkan salah seorang yang telah menempanya sejauh ini. Guru sekaligus ksatria tumenggung yang menjadi idolanya. Prajurit muda itu menyampaikan kabar bahwa Bajragini telah ditemukan tiga purnama menghilang. Namun bagaimana kondisinya sekarang, seseorang tak akan mampu bertahan selama itu tanpa persediaan dan persenjataan yang cukup. Hanya para brandal yang dapat bertahan, itu saja mereka sesekali mendatangi kota untuk merampok penduduk Ardaka.   Dalam ruangan singgasana itu, beberapa prajurit telah berkumpul. Mereka membentuk barisan sejajar menghadap sang Prabu yang duduk tegak di singgasananya. Lalu tepat di hadapan para prajurit itu, terdapat sebuah bungkusan karung goni yang lembab. Aromanya juga anyir sehingga memaksa sebagian prajurit menahan desah nafasnya.   Candrika tiba disaat-saat terakhir, sesaat ia menunduk menghadap Prabu, lalu berdiri tegak layaknya seorang prajurit. Seharusnya Candrika sedang dalam masa istirahatnya sekarang, namun kabar tentang Bajragini membuatnya berada disini.   Prabu berdiri diiringi empat orang prajurit Mangkujiwo yang melangkah bersamanya. Semua mata tertuju di bungkusan karung yang terletak dilantai marmer kusam itu. “Dimana kalian menemukannya?” Tanya prabu kepada siapa saja yang menemukannya.   “Yodi membawanya kemari, Gusti Prabu.” Jawab salah seorang prajurit. “Ia adalah bawahan Tumenggung Bajragini.”   “Hmn, dimana ia sekarang?” Sambut Prabu.   “Ia berada bersama Ki Harsono, gusti prabu. Ia terpukul dan menjadi sedikit agak ... Gila.” Prajurit itu berkata dengan terbata-bata. Seakan kondisi Yodi menggambarkan kengerian yang menimpa pasukan Bajragini.   “Hmn, siapkan ritual pemakaman untuk Sang Tumenggung dan bawahannya. Kita mengalami kehilangan besar.” Ujar Prabu sembari melangkah keluar dari ruang singgasana.   Sesaat Candrika belum mengerti tentang apa yang terjadi. Namun sekarang ia tahu, bahwa guruny telah pergi. Seketika kakinya bergetar dan darahnya memacu deras disetiap nadinya. Seluruh prajurit berlutut ketika Prabu melangkah meninggalkan ruang singgasana seraya mendengus tak nyaman karena aroma anyir yang membusuk tercium dari hidungnya.   Setelah Prabu tak terlihat lagi, Candrika yang pertama kali berdiri. Ia melangkah cepat membelah barisan prajurit dan sedikit menabraknya karena belum sempat menghindar. Candrika menatap tajam kearah tumpukan karung itu, diikuti dengan prajurit lain yang bergerak mendekat. Lalu, tangan kekar Candrika secara perlahan mulai membuka bungkusan karung itu. Ternyata kepala Tumenggung Bajragini dan bawahannya tergeletak lunglai di dalam karung. Kedua buah kepala tanpa tubuh itu sudah mulai membusuk dan belantung sudah hinggap di kulitnya. Para prajurit lain menutup hidungnya, sebagian prajurit berlari keluar karena mual dengan aromanya. Namun Candrika tak merasakan apapun. Kemarahannya akan siapa saja yang membuat gurunya seperti ini, meluruhkan segala rasa jijik atas daging yang telah membusuk itu.   Candrika menatap tajam ke dalam karung. Mata Bajragini enggan untuk tertutup dan giginya kaku seakan ia menggertak sebelum merasakan rasa sakitnya. Lalu Candrika menutup lagi karung itu dan melangkah pergi.   Sebelum ia pergi, Candrika bertanya kepada prajurit yang menjawab pertanyaan Prabu tadi. “Dimana prajurit yang membawa kepala Tumenggung itu?”   “Ia bersama Amangkurat Ki Harsono, Prajurit.” Jawabnya tegas. ========================= Candrakanta   Matanya tajam seperti elang, hidungnya mancung dengan bibir tipis menyirat di bawahnya. Kulitnya legam sawo matang dan badannya kekar mengikuti tubuh sang ayah. Bahkan Adipati Susno Abikusno berpikir bahwa Candrakanta adalah sosoknya sewaktu muda. Sifatnya tegas dan kritis dalam menanggapi sesuatu, bahkan hal sepele tentang bayaran para kacung dan dayang-pun~~Candra selalu memikirkannya matang-matang. Tidak seperti kakaknya dan adiknya, mereka lembut seperti sang ibu, Nyimas ayu Maranti.   Candra selalu berpikir bahwa Yudanta adalah daerah kekuasaan ayahnya, seharusnya ayahnyalah yang harus memimpin. Namun Kadipaten tetaplah Kadipaten, dan harus mengikuti aturan Kedaton. Sama seperti Kadipaten lainnya.   Candra selalu mendebat keputusan sang ayah, dengan harapan setiap keputusan harus melalui pertimbangan yang agung. Bukan terceletuk dari pikiran dan hati nurani saja. Salah satu contohnya adalah pengiriman Upeti setiap satu purnama ke Kedaton Ardaka. Lebih dari lima puluh gentong ikan segar dari segala jenis dikirim dari Yudanta setiap purnama. Sedangkan Kedaton menjanjikan kedamaian di tanah Yudanta. Kedamaian macam apa? Pikir Candra. Jawadwipa sudah berdamai semenjak ia belum dilahirkan. Peperangan terakhir meletus ketika Tumenggung Bajragini memukul mundur pasukan Adikarya di Pabelan. Akhirnya Adikarya menyerah dan menjadi salah satu bagian dari Ardaka, saat itu sang ayah masih menjabat sebagai seorang Manggalayuda di Ardaka.   Benak Candra menerawang jauh ke belakang. Ia memikirkan kejadian tentang perseturuannya dengan sang ayah. Sang ayah bersih keras menerima sang Prabu untuk berkunjung, namun berbeda dengan keyakinannya. Menurut sang ayah, suatu kehormatan jika Prabu berkunjung ke Kadipaten tempatnya berkuasa, namun baginya itu hanya pemborosan semata. Sang ayah seharusnya tahu bahwa kepengan emas, perak dan perunggu lebih berguna jika digunakan untuk membangun rakyatnya, bukan untuk dihamburkan demi kedatangan Prabu.   Otaknya berpikir keras ketika kepengan di lemari persediaan akan banyak terkuras. Sedangkan, sang ayah bersusah payah mengumpulkannya. Ia tahu, bahwa Prabu memerlukan bangunan baru untuk tempat ia singgah, tentu saja beserta rombongannya yang berjumlah ratusan. Candra hanya terdiam sembari merasakan telinganya yang terus berdengung.   Lalu lamunannya terpecah ketika ketukan pelan terdengar dari luar kamarnya.   Tuk... Tuk... Tuk...   Candrakanta segera menutup lembaran laporannya lalu bergegas menuju pintu setelah sesaat ia merapikan blangkonnya. Di balik pintu, seorang dayang bernama Ranti sudah berdiri menunduk.   “Raden Adipati ingin bertemu dengan anda, Raden Bagus.” Ujar Ranti yang merasa ketakutan dengan tatapan Candra yang bengis.   Candra merasa mual, ketika panggilan sang ayah datang. Ia tahu bahwa perdebatan akan segera hadir di pikirannya.   “Hmn, bicaralah kepada sang ayah. Aku sedang tak ada dirumah, aku akan pergi ke pasar. Setelah pulang nanti, aku akan menemuinya.” Ujar Candrakanta kepada dayangnya.   Ranti sang Dayang mengangguk pelan dan meninggalkan Candra. Lalu dengan langkah mengendap, ia meninggalkan rumahnya.   Berjalan-jalan merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi Candra. Sedari kecil, ia dilarang oleh sang ayah untuk menginjakan kakinya keluar pekarangan rumahnya. Namun seiring bergulirnya waktu dan keberanian Candra untuk menjaga diri, ayahnya berani melepasnya. Terlebih lagi, ia juga mempelajari ilmu beladiri yang cukup mumpuni.   Kerisnya tersepuh emas dengan gagang kayu mahoni terukir indah, selalu terselip di pinggang belakangnya. Beskapnya berwarna hitam dengan jarik coklat bermotif batik membuatnya menjadi pusat perhatian di pasar Rabaya. Ia berjalan sendirian, walau beberapa prajurit Jagabaya menawarkan diri untuk mengawalnya. Ia menolak karena Yudanta terlalu aman untuk dijaga prajurit dengan tombak dan perisai terpasang di setiap genggaman mereka.   Mata elang Candrakanta mengamati hiruk pikuk para pedagang dan pembeli yang berlalu. Sebagian dari mereka yang mengetahui memberi jalan dan membungkuk ke arah putra sang penguasa Yudanta. Sebagian lain mengabaikannya saja.   Pasar Rabaya, berbatasan langsung dengan teluk Rabaya. Disana, kapal-kapal pedagang dari luar Jawadwipa menurunkan dagangan mereka. Perdagangan merupakan tugas yang diberikan Candra untuk sang ayah. Candra diberi tugas menyeleksi barang-barang yang masuk yang lewat dari pelabuhan Rabaya. Pasar Rabaya sangat beragam, barang-barangnya juga beragam dan pedagangnya juga beragam. Terkadang Candra juga bertemu dengan Adipati dari Kadipaten lain disini. Mereka terkadang menyelinap karena enggan untuk mampir ke rumah Adipati Yudanta, dengan alasan tak mau merepotkan.   Candra melewati pasar dengan sejuta hiruk pikuk di dalamnya itu, lalu ia menuju pelabuhan. Angin bertiup kencang dan menerbangkan helaian rambut Candra yang mengintip di sela telinganya. Deburan ombak yang menghantam dermaga mulai terdengar di telinganya. Disana ia disambut oleh bawahan sekaligus orang kepercayaannya.   “Berapa kapal masuk hari ini?” Ujar Candra sembari menatap gulungan kertas yang dibawa oleh Sarjito.   “Ada dua, dan mereka membawa guci-guci antik dari Tiongkok, den.” Ujar Sarjito sembari mengusap wajah hitam legamnya dengan kain yang tersampir di lehernya.   “Pastikan para kuli tidak menjatuhkan Guci-guci mahal itu.” Ujar Candra sembari menggulung kertasnya kembali. Lalu ia berbalik untuk kembali ke pasar Rabaya.   “Tunggu den bagus!” Panggil Sarjito kembali, sehingga Candra berbalik, “ada kapal dari daratan Borneo, tepi entah apa yang mereka bawa!?”   Mata Candra memincing dan bibirnya menggumam pelan, “borneo.”   “Iya, den bagus. Kapal itu disana!” Jelas Sarjito sembari menunjuk sebuah kapal dengan tiang yang mulai usang. “Setelah ini, kita akan membongkarnya.”   “Antar aku melihat isi dalamnya!” Ujar Candra yang mulai melangkah kearah dermaga tempat kapal itu bersandar. Hal itu diikuti oleh Sarjito yang tertatih mengikuti tuannya.   Candra melenggang santai melewati dua kapal pedagang dari tiongkok. Beberapa kuli berhenti sejenak untuk memberi jalan bagi Candra yang melintasi barisan itu. Lalu sampailah ia di kapal tua yang ukurannya tak terlalu besar itu.   Di dalam kapal, tiga orang awak kapal sedang duduk melingkar sembari memainkan dadu di dek kapal. Mereka langsung bangkit ketika Candra mulai menginjak dek kapal dan diikuti oleh Sarjito sang hulubalang pelabuhan.   “Dimana Kapitan kapal ini!” Seru Candra. Salah seorang dari awak kapal menunduk dan berlari ke dalam. Lalu tak lama, seorang tua berjangkut panjang dan perut lebar keluar dari kapal. Mata tuanya memandang kearah Candra dan Sarjito yang sudah berdiri di dek kapal.   “Ah, Raden Bagus Candrakanta, Hulubalang Sarjito. Apa gerangan kalian mendatangi kapal kami!?” ujar pelaut tua itu penuh dengan nada rayuan. “Apakah anda tertarik dengan benda-benda dari daratan Borneo.”   “Jika harga dan barangnya pantas, aku akan membelinya. Namun kedatangan kami kemari hanya untuk melihat benda-benda apa yang kau bawa dari daratan yang jauh disana.” Candra menatap tajam kearah pelaut itu.   “Oh, mari silahkan. Suatu kebanggaan bagi kami jika seorang putra penguasa masuk ke kapal yang hampir tenggelam ini.” Ujar pelaut tua itu merendah.   Rasa pengap menusuk hidung Candra. Aromanya asin air laut bercampur serbuk kayu ketika Candra dan Sarjito menuruni tangga menuju kabin-nya. Memang benar, kapal itu hampir tenggelam. Rembesan air meresap melalui celah kayu di lambung kapal. Air laut juga menggenang setinggi mata kaki sehingga Candra harus melepas selop mahalnya.   Sang pelaut tua tertatih ketika ia membuka kotak pertama. Candra dan Sarjito terkejut ketika melihat isi kotak itu.   “Senjata! Panggil Jagabaya dan tangkap dia!” Seru Candra kepada bawahannya yang ingin bergegas.   “Tunggu dulu,,, tunggu dulu, den” Ujar pelaut tua itu untuk menenangkan Candra dan Sarjito. “Ini mandau, suku di amuntai menggunakan ini untuk memotong kayu. Kayunya ringan dan besinya tajam. Namun tak setajam keris.”   Pelaut itu mengambil salah satu Mandau itu, lalu ia membukanya. Seketika cahaya berkeling dari mandau itu. Candra dan Sarjito memandang aneh ke arah senjata yang baru ia lihat itu. Bentuknya seperti golok, namun ujungnya runcing dan berbentuk bujur sangkar. Candra ragu apakah benda itu dapat memotong kayu, bahkan memotong semak saja tak mampu.   Setelah tenang, pelaut tua itu meletakkan kembali golok berjuluk mandau itu. Lalu Pelaut tua itu beralih ke barang selanjutnya. Kotak kedua berisi kain-kain yang mereka sebut songket. Kain-kain itu tersusun rapi dengan corak aneh di lapisannya. Candra tak begitu tertarik soal kain sehingga ia melewatkannya, mungkin adiknya yang akan tertarik dengan kain-kain ini. Kotak ketika berisi akar-akaran pepohonan. Pelaut tua kembali bercerita dengan kelakarnya, “Ini namanya akar dewa!” Pelaut itu mengangkat salah satu akar itu dengan bangganya.   Candra hanya terdiam dan mendengar gelak tawa yang tertahan dari bawahannya, Sarjito yang tengah berdiri di belakangnya.   Lalu pelaut tua itu berkata kembali, “rendam akar ini dengan air panas, lalu minumlah, maka kekuatanmu akan sekuat dewa!”   “Apa kau pernah mencobanya!?” tantang Candra.   “Hmn,” pelaut itu memberi jeda sejenak. “Pernah, raden! ketika di tengah laut Jawa dan kita terombang-ambing oleh ombak yang dasyat.”   “Apa hasilnya?” Tanya Candra mencecar sang pelaut tua yang ingin menawarkan dagangannya.   “Langsung kumuntahkan karena rasanya sangat pahit!” Ujar pelaut tua itu sembari tertawa.   “Mungkin kau harus campur akar-akar itu dengan tebu. Agar lebih manis!” Gurau Candra diikuti gelak tawa Sarjito dan tentu saja sang pelaut tua.   Lalu mereka beralih ke benda-benda aneh selanjutnya. Kotak selanjutnya berukuran kecil, tak lebih dari kotak penyimpanan perhiasan atau kepengan. Namun benda di kotak itu sepertinya paling berhaga diantara semuanya, karena sang pelaut membawanya dengan hati-hati.   Pelaut tua membuka kotak itu, didalam sana terdapat beberapa botol ramuan yang entah isinya apa. Mata Candra dan Sarjito menatap tajam kearah kotak dengan barisan botol-botol kecil yang setinggi jari kelingking. Sejenak mereka semua terdiam, lalu keheningan terpecahkan oleh kata-kata mengerikan dari pelaut tua.   “Ini adalah ramuan ajaib dari suku yang mendiami hutan pedalaman Borneo, namanya Minyak Bintang.” Ujar pelaut tua itu dengan nada mengerikan bak dongeng untuk menakut-nakuti bocah yang enggan tidur siang. “Konon kabarnya, cairan ini disuling dari tubuh seseorang yang sudah meninggal.”   “Apa gunanya cairan ini?” celetuk pertanyaan dari bibir Candra.   Pelaut tua mengambil salah satu botol yang besarnya sama dengan ibu jarinya, lalu menunjukan cairan berwarna kuning bening di dalam kacanya. “Cairan ini berguna untuk menyembuhkan segala jenis penyakit, pesugihan, memikat wanita, dan kabarnya juga dapat membangkitkan orang yang mati.”   Candra secara tak sadar ingin merebut botol kecil berisi cairan mahal itu dari genggaman si pelaut tua. Namun pelaut itu menggoyangkan tangannya seolah Candra tak diijinkan untuk menyentuhnya.   “Harganya sangat mahal dipasaran, karena efeknya sangat besar. Kata seorang tetua adat, hidup orang yang memakai cairan ini akan bahagia di dunia, namun akan menderita di dunia setelah kematian sana. Jadi gunakanlah dengan bijaksana.” Ujar pelaut tua itu sembari mengulurkan botol cairan itu kepada Candra.   Entah apa yang dipikirkan Candra, sepertinya ia menginginkan cairan itu. Ia meraih sekantung kepengan emas dari sakunya dan mengulurkannya ke arah pelaut tua itu.   “Aku yakin di dalam kantung ini terdapat kepengan emas paduka. Kuharap anda menggunakannya dengan bijaksana, Raden Bagus Candrakanta.” Sang pelaut mengatakan itu seraya menukar botol itu dengan segenggam emas milik Candra. Candra tak mempedulikan lagi sekitarnya, ia hanya menatap cairan kungin bening dengan buih yang menyelinap di permukaannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD