Tiga hari berlalu semenjak Ana menguping percakapan Yzak. Gadis itu tak berani mengutarakan temuannya pada sang ayah. Sebisa mungkin ia berpura-pura tidak mengetahui apa pun. Terkadang Yzak mencoba memulai percakapan tertentu—yang Ana tebak berhubungan dengan lamaran pihak istana—namun dengan segera pria itu mengurungkan niat. Seringnya di sela makan malam Yzak menanyakan perihal suami idaman Ana. Tentu saja gadis itu tak memberikan jawaban spesifik. Pasalnya Ana tak pernah memikirkan pernikahan, membayangkannya saja tidak. "Tidak ada," itulah jawaban yang dilontarkan Ana. Cinta bukan masalah ketertarikan fisik, setidaknya Ana menyadari akibat buruk dari cinta badaniah. Yang diinginkan gadis itu ialah cinta sejati, seperti milik Yzak dan Selia, istri Yzak. Ana mencoba menjernihkan pikir

