“Ayah, aku tak ingin menikah.” Ana, gadis delapan belas tahun, menangis terisak di hadapan Yzak, pemimpim klan Endimon. Pria berambut pirang itu menyentuh kedua pipi putrinya, tersenyum seraya berkata, “Ana, kau harus.” Menggeleng, Ana menolak. “Kenapa?” tanya Yzak. “Kau akan menikahi seorang raja.” “Raja muda itu sudah memiliki seorang istri,” tutur Ana, sesekali ia menahan nyeri di d**a akibat rasa takut. “Aku tak ingin menikahi lelaki yang sudah dimiliki wanita lain. Aku tidak mau.” Kembali, Ana terisak, “Ayah, izinkan aku menemanimu. Aku tak butuh apa pun. Ayah, tolong, jangan lakukan ini. Jangan jauhkan aku darimu.” Yzak memeluk Ana. Ia mengelus lembut puncak kepala sang putri. “Ana,” katanya. “Ayah tak akan meninggalkanmu.” “Ibu pernah berjanji tak akan meninggalkanku,” sangkal

