TIGA PULUH DUA

1326 Words

Aula kebaktian tampak lengang. Lukisan mosaik memaparkan kisah-kisah lama mengenai dewa dan dewi. Kilauan cahaya yang diantarkan kepingan mosaik membasuh lantai pualam. Angin bersiul—memperingatkan manusia agar tetap terjaga hingga matahari mencairkan kebekuan yang dilukiskan Iyaza, sang dewi musim dingin. Patung Luma berdiri menjulang, salah satu tangannya menggenggam cabang pohon apel. Dengan ketiadaan raja yang menduduki singgasana, senyaplah segala kemegahan yang ada dalam aula kebaktian. Sacha memandang kursi kebesaran yang ada di hadapannya. Ia mulai memperhatikan ukiran yang terpahat di sana; serigala yang mencabik tubuh gagak raksasa, bunga-bunga musim dingin yang mengulir indah, dan bebatuan yang menghias sisi singgasana. Tanpa ragu Sacha duduk di kursi kebesaran, dan ia mul

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD