TIGA PULUH EMPAT

1253 Words

Aula kebaktian. Tempat sakral. Kesucian telah pudar, meninggalkan segala berkat yang diberikan kepada kerajaan musim dingin. Darah mencoreng wajah patung Luma, seolah air mata darah dicurahkan kedua manik mata sang dewa agung. Para manusia menangisi sanak saudara yang telah berpulang. Mayat terbujur kaku, tampak bulu-bulu hitam berserakan di sepanjang permukaan lantai aula kebaktian. Segalanya berubah…. Baginda Liam menatap pias. Ia tak mengerti … ia tak akan pernah mampu mencerna alasan di balik pembantaian. Di tengah kekacauan, semua orang terpaku pada satu masa. Mungkin saja di setiap kepala manusia itu, mereka berpikir saat indah yang pernah mereka habiskan bersama jiwa yang telah pergi. Baginda Liam mendengar isak tangis Permaisuri Amelia, wanita itu benar-benar terguncang, sesekal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD