TIGA PULUH ENAM

1248 Words

Sacha, bocah berumur tujuh tahun itu menangis tersedu. Kedua pipi dan matanya memerah. Ia terus mengusap matanya seolah dengan melakukan itu aliran air mata akan terhenti. Udara tak terlalu bersahabat. Cuaca bisa berubah tanpa satu pertanda. Dan lihatlah, si bocah berdiri seorang diri di antara tumpukan salju. “Sacha,” panggil Tiago. Ia menepuk pelan kedua bahu Sacha. “Kenapa kau ada di sini?” “Aku benci,” isaknya, “tak seorang pun menyayangiku.” Tiago mengelus puncak kepala Sacha. “Kata siapa?” “Ibu,” jawab Sacha. “Katanya, tak ada seorang pun yang menyayangi kami.” Hening. Tiago tak mengerti ucapan ibu tirinya. “Sacha, itu tidak benar.” “Lalu,” rengeknya, “kenapa Ayah tak mau menemuiku?” “Ia ingin menemuimu,” jelas Tiago. “Kalau kau terus berada di sini, bagaimana mungkin Ayah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD